Arsip

Archive for 26 Februari 2015

Apakah Seragam Baru Pramugari Royal Brunei Ini Sesuai Syari?   

26 Februari 2015 1 komentar

 

Dalam bisnis industri penerbangan, sosok pramugari yang melayani penumpang di atas pesawat merupakan ujung tombak terdepan bagi maskapai. Sosok pramugari harus bisa dan wajib mencerminkan citra maskapai yang bersangkutan.

 

Pramugari Royal Brunei

Seorang pramugari Royal Brunei berpose dengan seragam barunya

 

Maskapai penerbangan milik Kesultanan Brunei Darussalam, Royal Brunei, resmi memperkenalkan seragam baru untuk para pramugarinya per 1 April 2014 dengan mengimplementasikan “Hudud” yang merupakan busana muslim tradisional wanita Brunei sebagai seragam resmi pramugarinya.

 

pramugari royal brunei

Dua pramugari ini dengan senang hati diambil gambarnya saat menyambut penumpang menaiki pesawat di Bandara Internasional Kuala Lumpur

 

Pramugari Royal Brunei

Pramugari Royal Brunei berpose setelah bertugas di Bandara Jeddah, Arab Saudi

 

Dalam seremoni peresmian ini, Deputy Chairman and Deputy Chairman of Abacus Royal Brunei Mr. Dermot Mannion yang mewakili maskapainya menegaskan bahwa pihak maskapainya ingin secara berkesinampungan memperkenalkan nilai-nilai islami dalam setiap aspek.

 

Pramugari Royal brunei Jilboobs

Para netizen suka membicarakan sosok para pramugari cantik dan manis, dan pramugari Royal Brunei kerap menjadi bahan pembicaraan

 

Namun, apabila kita memperhatikan model seragam baru pramugari maskapai negara yang tegas menjalankan syariat Islam ini maka sepintas kita akan terhubungkan dengan fenomena jilboobs, yang menjadi tren olok-olok di tanah air karena selain terbuka pada bagian lengan, kadang terlihat pramugari yang kebetulan berpayudara besar terlihat menonjol.

 

Royal Brunei Flight Attendant Uniform

Salah satu foto yang menjadi kontroversi hangat di internet: bagian lengan pramugari Royal Brunei tidak tertutup

 

Bisa dikatakan seragam baru pramugari royal brunei ini masih menonjolkan lekuk tubuh sang pramugari. Keadaan ini sempat memicu kontroversi dan perbincangan hangat di social media.

(Airliners.net, Royal Brunei, Twitter, Instagram, Pinterest)

Ini Bukti Bahwa Wanita Gemuk Bisa Menarik Di Mata Pria

Kecantikan dan daya tarik wanita erat kaitannya dengan stigma. Stigma yang berlaku sampai saat ini adalah “wanita bertubuh ramping dan cenderung kurus merupakan sosok wanita yang seksi”. Oleh karena itu, dalam peragaan busana dan pemotretan (apalagi kalau tanpa busana) yang menjadi model pastilah wanita cantik yang bertubuh ramping.

 

Namun stigma mengenai wanita seksi itu dipatahkan oleh 2 orang model gemuk (plus size model) yaitu Denise Bidot dan Marina Bulatkina terlihat menawan saat tubuh mereka hanya tertutupi cat berwarna putih.

 

Denise Bidot dan Maria Bulatkina

Denise Bidot dan Maria Bulatkina

 

Kedua model bertubuh ukuran besar ini sengaja diminta untuk berpose seksi tanpa busana oleh fotografer Victoria Janashvili demi proyek buku fotografi terbarunya, “Curves”.

 

Maria Bulatkina

Salah satu pose Marina Bulatkina bagaikan dewi-dewi zaman Yunani Kuno dalam balutan gaun putih dan cat body painting

 

Tujuan proyek pemotretan ini adalah agar mata publik terbuka bahwa tubuh wanita yang ideal, tak melulu harus digambarkan dengan tinggi, langsing, putih. Karena tidak sedikit wanita bertubuh gemuk yang memiliki paras cantik dan menawan.

 

Denise Bidot

Salah satu pose Denise Bidot yang mengingatkan bahwa wanita harus bisa menerima dan menghargai tubuhnya sendiri secara apa adanya

 

Victoria Janashvili mengemukakan bahwa walaupun kebanyakan tubuh wanita Amerika memiliki ukuran 14 (yang berarti bertubuh besar dan agak gemuk atau plus size), tapi mereka selalu akrab dengan stereotip tubuh langsing sebagai tubuh ideal wanita. Oleh karena itu, ia ingin menginspirasi wanita untuk mencintai setiap lekuk tubuh mereka.

 

Yang dikatakan Victoria bisa dibenarkan, sebab wanita masa kini yang berpikiran modern lebih suka melakukan operasi plastik dan prosedur rekayasa lainnya pada tubuhnya agar bisa tampil cantik menurut versi mereka sendiri.

 

Ini bukan pornogarfi karena ini adalah murni sebuah seni.

(Daily Mail, Rima)

Tepatkah Kita Marah Kepada Australia Yang Mengungkit Bantuannya Kepada Aceh

Masyarakat Aceh dan lainnya di Indonesia sungguh tersinggung akan ucapan PM Abbot dari Australia yang mengungkit bantuannya kepada Aceh. Hal ini dianggap seperti menghina kedaulatan Indonesia karena hukum Indonesia tidak dapat diintervensi oleh negara mana pun di dunia ini. Masyarakat Indonesia dan Aceh khususnya malah sudah mengumpukan koin untuk mengembalikan uang kepada Australia.

 

Namun mari kita renungkan, bayangkan anda menolong seseorang dengan tulus hati, misalkan anda memberikan uang si A saat ia kehilangan uang dan mobilnya. Anda merasakan bantuan ini sangat membantu seorang teman di dalam kesusahan.

 

 

Kemudian A hendak menjual sebuah barang milik anda dan anda memohon kalau bisa barang tersebut anda beli untuk keperluan yang sangat penting. Namun anda ingin menjualnya kepada mereka yang memberikan penawaran tertinggi dan tidak memenuhi permintaan A. Coba kita bayangkan anda adalah orang tersebut. Apakah anda tidak merasakan kalau A sama sekali tidak mempertimbangkan kebaikan dan ketulusan anda? Apakah anda tidak merasakan kalau A sama sekali tidak memberikan simpati kepada anda? Apakah anda tidak akan mengatakan kalau dulu anda pernah menolong A dan memohon agar anda bisa bersimpati kepada permintaan anda?

 

Apakah A kemudian marah besar saat anda mengatakan kalau A sungguh tidak tahu menghargai orang lain walaupun anda sudah pernah memberikan kebaikan tulus kepada A? Atau paling tidak apakah hal ini tidak terlintas di dalam pikiran dan benak anda? Secara jujur saya katakan, hampir 100% daripada kita pasti akan marah dan menuduh A tidaklah tahu diuntung dan mempunyai simpati mempertimbangkan permintaan kita.

 

Kemudian apakah pantas kemarahan berlebihan daripada masyarakat Aceh dan Indonesia kepada PM Abbot? Bukankah apa yang dilakukan oleh PM Abbot adalah manusiawi dan bisa dimengerti? Apakah kita mempunyai rasa syukur dan tahu berterima kasih kepada mereka yang telah menolong kita? Apakah kita adalah manusia beradab yang tahu menghargai setiap bantuan dari siapa saja. Bukankah memberikan grasi menjadi seumur hidup dari hukuman mati sebuah tindakan yang memberikan kebaikan dan mempertimbangkan kemanusiaan. Bukankah kita mau menjadi bangsa besar yang suka memberikan maaf. Apakah tidak baik untuk memberikan kesempatan kepada mereka yang jatuh dalam dosa untuk bertobat akan mulia di hadapan Allah?

 

AS

%d blogger menyukai ini: