Archive

Arsip Penulis

Benarkah Sunda Pajajaran Adalah Kerajaan Hindu?

10 Februari 2016 1 komentar

Pajajaran 

Pajajaran, sebuah kerajaan yang pernah eksis di tatar Sunda, dikenal oleh khalayak sebagai kerajaan Hindu. Bila merujuk pada buku-buku pelajaran Sejarah yang digunakan di sekolah maupun instansi pendidikan umumnya, maka Pajajaran akan diletakkan dalam kategori kerajaan Hindu-Budha yang pernah berjaya di bumi nusantara. Mungkin tidak terpikir oleh kita bahwa sejarah resmi yang diyakini oleh mainstream masyarakat tersebut sebenarnya masih menjadi perdebatan hingga kini.

Sebagian masyarakat Sunda yang menganut agama Sunda Wiwitan (agama asli Sunda) justru meyakini bahwa agama yang dianut oleh masyarakat Sunda Pajajaran maupun Galuh (kerajaan yang ada sebelum Pajajaran muncul) adalah agama Sunda Wiwitan, bukan agama Hindu. Beberapa sejarawan dan budayawan Sunda pun berpendapat sama, yakni ada kesalahan interpretasi sejarah dengan menyebut Pajajaran sebagai kerajaan Hindu. Pendapat yang tentunya disertai argumentasi rasional dan dapat dipertanggung jawabkan.

Pajajaran dan Agama Sunda

Sumber-sumber sejarah yang penulis ketahui memang menunjukkan adanya kepercayaan asli Sunda yang telah mapan dalam kehidupan masyarakat Sunda pra maupun pasca Pajajaran terbentuk.[1] Naskah Carita Parahyangan, misalnya, mendeskripsikan adanya kaum pendeta Sunda yang menganut agama asli Sunda (nu ngawakan Jati Sunda). Mereka juga disebut mempunyai semacam tempat suci yang bernama kabuyutan parahyangan, suatu hal yang tidak dikenal dalam agama Hindu.

Naskah Carita Parahyangan juga menceritakan mengenai kepercayaan umum raja-raja Sunda-Galuh adalah sewabakti ring batara upati dan berorientasi kepada kepercayaan asli Sunda.[2] Selain naskah Carita Parahyangan, keberadaan agama asli Sunda pada masa lampau juga diperkuat oleh karya sastra Pantun Bogor versi Aki Buyut Baju Rambeng episode “Curug Si Pada Weruh.” Dalam pantun tersebut diberitakan begini:

Saacan urang Hindi ngaraton di Kadu Hejo ogeh, karuhun urang mah geus baroga agama, anu disarebut agama Sunda tea..”

Artinya : “Sebelum orang Hindi (Hindu-India) bertahta di Kadu Hejo pun, leluhur kita telah memiliki agama, yakni yang disebut agama Sunda.”

Yang dimaksud dengan “urang Hindi” dalam pantun tersebut adalah orang Hindu dari India yang kemudian bertahta di tanah Sunda (Kadu Hejo). Bila kita menelusuri sejarah Sunda hingga masa ratusan tahun sebelum Kerajaan Sunda-Galuh ataupun Pajajaran berdiri, maka akan dijumpai Kerajaan pertama di tatar Sunda yang bernama Salakanagara. Kerajaan inilah yang dimaksud dengan Kadu Hejo dalam pantun Bogor tersebut. Naskah Wangsakerta mencatat kerajaan ini sebagai kota tertua di Pulau Jawa, bahkan di Nusantara.

Konon, kota yang kemudian berkembang menjadi pusat kerajaan ini terletak di daerah Pandeglang, Banten. Kerajaan Salakanagara yang pusat pemerintahannya terletak di Rajatapura telah ada sejak abad 2 Masehi. Aki Tirem merupakan penguasa pertama daerah ini. Penguasa Salakanagara berikutnya adalah Dewawarman, imigran sekaligus pedagang dari India yang kemudian menjadi menantu Aki Tirem.[3] Dewawarman inilah yang dimaksud sebagai “urang Hindi” oleh Pantun Aki Buyut Baju Rambeng. Jadi dapat disimpulkan bahwa sebelum kedatangan Dewawarman dan rombongannya ke Salakanagara, penduduk Rajatapura telah memiliki agama sendiri, yakni agama Sunda. Dewawarman sendiri bertahta di Salakanagara dari tahun 130-168 M. Sedangkan dinastinya tetap berkuasa hingga akhirnya pusat kekuasaan dipindahkan ke Tarumanagara pada tahun 362 M oleh Jayasingawarman, keturunan ke-10 Dewawarman.[4]

Masih menurut naskah Pustaka Wangsakerta, agama Sunda pada masa Sunda kuno memiliki kitab suci yang menjadi pedoman umatnya, yaitu Sambawa, Sambada dan Winasa. Hal terpenting yang perlu diingat adalah bahwa ketiga kitab suci tersebut baru ditulis pada masa pemerintahan Rakean Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu, yang berkuasa di tatar Sunda pada periode 1175-1297 M.[5] Menarik untuk disimak, bahwa agama Sunda yang telah berumur sekitar 1000 tahun atau 1 Milenium, baru mempunyai kitab suci tertulis pada masa pemerintahan Prabu Sanghyang Wisnu. Penulis berasumsi, mungkin selama era sebelum Prabu Sanghyang Wisnu berkuasa, kehidupan beragama di tanah Sunda belum mendapat perhatian yang serius dari penguasa kerajaan. Setelah masa Prabu Sanghyang Wisnu pulalah agama Sunda menjadi agama resmi kerajaan.

Beberapa bukti sejarah itu menunjukkan keberadaan agama Sunda asli atau Sunda Wiwitan sebagai sebuah agama yang dianut oleh masyarakat maupun penguasa Sunda kuno adalah fakta tak terbantahkan. Lalu bagaimanakah kedudukan agama Hindu di era Sunda kuno atau Sunda Pajajaran? Bukankah cikal bakal kerajaan Sunda kuno berasal dari orang-orang India yang notabene beragama Hindu? Bagaimana pula perbedaan mendasar antara agama Hindu dan agama Sunda Wiwitan?

Perbedaan Hindu dan Sunda Wiwitan

Konsepsi teologis Sunda Wiwitan berbasiskan pada faham Monoteisme atau percaya akan adanya satu Tuhan yang dikenal sebagai Sanghyang Keresa atau biasa juga disebut Batara Tunggal. Dalam menjalankan “tugasnya” mengatur semesta alam, Sanghyang Keresa dibantu oleh para Sang Hyang lainnya seperti Sanghyang Guru Bumi, Sanghyang Kala, Sanghyang Ambu Jati, Sunan Ambu, dan lainnya.

Agama Sunda Wiwitan juga mengenal klasifikasi semesta alam menjadi tiga bagian, yakni Buana Nyungcung (tempat bersemayamnya Sanghyang Keresa), Buana Panca Tengah (tempat hidup manusia dan mahluk hidupnya) dan Buana Larang (neraka). Selain itu, dalam ajaran Sunda Wiwitan juga dikenal adanya proses kehidupan manusia yang harus melalui sembilan mandala di dunia fana dan alam baka. Kesembilan mandala yang harus dilalui manusia tersebut adalah (secara vertikal): Mandala Kasungka, Mandala Parmana, Mandala Karna, Mandala Rasa, Mandala Seba, Mandala Suda, Jati Mandala, Mandala Samar dan Mandala Agung.

Bila kita merujuk pada ajaran Hindu, akan ditemukan perbedaan mendasar dengan ajaran agama Sunda terutama menyangkut konsep teologis. Hindu merupakan agama yang memiliki karakteristik Politeisme atau meyakini adanya lebih dari satu Tuhan atau Dewa. Dalam agama Hindu dikenal banyak dewa, diantaranya tiga dewa yang paling utama (Trimurti) yakni dewa Wisnu (pelindung), Brahma (pencipta) dan Siwa (perusak). Tidak dikenal istilah Sanghyang Keresa dalam ajaran Hindu.

Perbedaan lainnya adalah mengenai sarana peribadatan dari kedua agama. Pada era Sunda Pajajaran, agama Sunda Wiwitan mengenal beberapa tempat suci yang juga dijadikan sarana peribadatan seperti Balay Pamunjungan, Babalayan Pamujan serta Saung Sajen. Hampir semua tempat ibadah tersebut berbentuk punden berundak yang terdiri dari kumpulan batu-batu besar dan arca.[6] Sementara pada masa kejayaan Kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sarana peribadatan yang banyak didirikan justru candi yang hingga kini masih dapat kita temui peninggalannya. Bahkan candi juga terkait dengan simbol kekuasaan penguasa tertentu.

Sedangkan budaya keberagamaan masyarakat Sunda yang menganut Sunda Wiwitan pada masa Sunda kuno sungguh berbeda. Mereka tidak mendirikan candi untuk beribadah, melainkan memusatkan kegiatan keagamaannya pada beberapa punden berundak yang dikenal sebagai kabuyutan. Di punden berundak inilah ritual atau prosesi keagamaan khas Sunda Wiwitan dilakukan oleh masyarakat Sunda. Beberapa peninggalan tempat ibadah era Pajajaran yang masih dapat kita temukan kini adalah kabuyutan Sindang Barang (kini menjadi kampung budaya Sindang Barang, Bogor) dan Mandala Parakan Jati di kaki Gunung Salak.

Hal inilah yang juga dapat menjawab pertanyaan sebagian orang mengenai “kelangkaan” candi di tatar Sunda. Fakta sejarah memperlihatkan bahwa masyarakat penganut Sunda Wiwitan memang tidak membutuhkan candi sebagai sarana peribadatan, melainkan kabuyutan yang masih kental tradisi megalitiknya. Jadi sedikitnya candi di tanah Sunda bukan karena “kemiskinan” peradaban Sunda di masa lampau, melainkan kondisi sosio-religiusnya yang berbeda dengan masyarakat Jawa-Hindu.

Bukti lainnya yang juga menunjukkan kelemahan klaim sejarah yang berhubungan dengan ke-Hindu-an kerajaan Sunda Pajajaran adalah tidak ditemukannya stratifikasi sosial khas masyarakat Hindu atau kasta pada masyarakat Sunda Kuno. Naskah Sanghyang Siksakanda ng Karesian serta sumber-sumber sejarah lainnya tidak menunjukkan adanya strata sosial yang didalamnya terdapat kasta Waisya, brahmana atau Sudra sebagaimana masyarakat Hindu di Jawa dan Bali. Disamping itu, tidak ditemukan pula konsep raja adalah titisan Tuhan atau Dewa (God-King) pada sistem pemerintahan Sunda Pajajaran atau Galuh sebagaimana dijumpai dalam sistem kerajaan Hindu-Budha di Jawa Tengah dan Timur.

Tidak tertutup kemungkinan memang, terjadi akulturasi antara agama Sunda Wiwitan dengan agama Hindu, mengingat leluhur keluarga kerajaan Sunda kuno sebagian berasal dari India. Namun akulturasi tersebut tidak terjadi dalam aspek sistem nilai. Bila merujuk pada konsep kebudayaan menurut Koentjaraningrat, terdapat tiga jenis budaya dalam satu unsur kebudayaan, yakni sistem nilai, perilaku dan kebendaan (artefak). Akulturasi dalam kasus ini hanya terjadi dalam aspek kebendaan dan perilaku, itupun tidak seluruhnya. Hal ini dapat terlihat dari nama-nama raja dan beberapa istilah dalam agama Sunda Wiwitan seperti Batara dan Resi. Namun untuk substansi ajaran, tidak tampak adanya akulturasi yang menjurus pada sinkretisme.

Sunda Wiwitan di Masa Kini

Sudah jelaslah kini bila kategorisasi kerajaan Sunda Pajajaran ataupun Galuh sebagai kerajaan Hindu merupakah hal yang perlu dikoreksi. Bukti-bukti sejarah justru menunjukkan bahwa masyarakat Sunda kuno telah menganut suatu agama lokal yang mapan dan relatif mandiri dari pengaruh teologis Hindu-Budha, yakni agama Sunda Wiwitan.

Pada masa kini, Sunda Wiwitan masih dianut oleh sebagian etnis Sunda terutama kalangan suku Baduy di desa Kanekes, Banten. Selain  itu, penganut Sunda Wiwitan juga terdapat di Ciparay Bandung (terkenal dengan nama aliran Perjalanan Budi Daya), Cigugur Kuningan (Paguyuban Adat Cara Karuhun Urang), dan kampung adat Cireundeu Cimahi. Masing-masing komunitas memiliki penjabaran dan karakteristik ajarannya sendiri namun tetap berbasiskan inti ajaran agama yang sama, Sunda Wiwitan.

Namun nasib mereka tidak seberuntung penganut agama lainnya di negeri ini, karena agama Sunda Wiwitan bukanlah agama yang secara resmi diakui keberadaannya oleh negara.[7] Akibatnya berbagai perlakuan diskriminatif dari aparatur negara kerap mereka terima, khususnya yang berkaitan dengan pemenuhan hak-hak sipil mereka sebagai warga negara. Alangkah lucunya negeri ini, ketika kekuasaan politik berhak menentukan mana yang termasuk kriteria agama dan mana yang bukan. Yang pasti diskriminasi terhadap penganut Sunda Wiwitan masih terus langgeng hingga detik ini. Jangan-jangan, penulisan buku sejarah resmi yang masih memasukkan Pajajaran sebagai kerajaan Hindu juga bernuansa diskriminatif, yang orientasinya ingin menghapukan jejak kebudayaan Sunda Wiwitan dalam sejarah? Wallahualam

HISKI DARMAYANA, kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Sumedang dan alumni Antropologi FISIP Universitas Padjajaran.

 


[1] Nama Pajajaran sendiri resmi digunakan pada masa pemerintahan Prabu Jayadewata (1482-1521), yang juga bergelar Prabu Siliwangi dan Sri Baduga Maharaja. Pusat pemerintahannya terletak di Pakuan, daerah Batutulis Bogor sekarang. Sementara sebelum nama Pajajaran muncul, kerajaan yang ada di tatar Sunda dikenal dengan nama Sunda-Galuh, yang berdiri  sejak runtuhnya Tarumanagara dan berkuasanya Tarusbawa di tahun 669 M.

[2] Hal ini pernah dipublikasikan dalam tulisan Antropolog Nanang Saptono yang berjudul Di Jateng Ada Candi, Di Jabar Ada Kabuyutan. Tulisan beliau pernah dimuat di harian Kompas edisi 3 September 2001.

[3] Sejarah Salakanagara atau Rajatapura diuraikan secara rinci dalam naskah Wangsakerta Cirebon, Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara.

[4] Jayasingawarman juga merupakan pendiri kerajaan Tarumanagara yang berkuasa hingga tahun 382 M.

[5] Dalam beberapa cerita Pantun, beliau  dijuluki Prabu  Resi Wisnu Brata. Julukan ini diberikan karena beliaulah raja Sunda yang gencar menyiarkan agama Sunda di kalangan penduduk Sunda dan yang pertama kali membuat kitab suci Sunda dalam bentuk tertulis.

[6] Ulasan tentang sarana ibadah agama Sunda Wiwitan pada masa Pajajaran terdapat dalam tulisan budayawan Sunda, Anis Djatisunda yang berjudul Fenomena Keagamaan Masa Sunda Kuno Menurut Berita Pantun & Babad.

[7] Melalui UU No.1/1965 beserta aturan turunannya, Negara hanya mengakui 6 agama yang berhak hidup di Indonesia, yakni Islam, Katolik, Protestan, Hindu ,Budha dan KongHuChu.

Sumber Artikel:

Kategori:revo

Wawancara Eksklusif: Ini Pengakuan Jessica Kumala Wongso Dalam Kasus Kopi Maut Sianida     

Wawancara Eksklusif Ini Pengakuan Jessica Kumala Wongso Dalam Kasus Kopi Maut Sianida

Kasus kopi sianida maut yang menewaskan Wayan Mirna Salihin di Kafe Olivier, Grand Indonesia masih terus bergulir dan semakin heboh. Jessica Kumala Wongso (27), teman Mirna dituduh sebagai pelaku pembunuhan Mirna.

 

Hal tersebut semakin mengemuka karena tim penyidik di Polda Metro Jaya mengaku memiliki 4 bukti kuat untuk menjerat seseorang menjadi tersangka, dalam hal ini adalah Jessica.

 

Jessica Kumala Wongso

Jessica Kumala Wongso saat ditemui di kediamannya, Kamis 28 Januari 2016

 

Saat ditemui di kediamannya di Jalan Selat Bangka Blok J1, Sunter Jaya, Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Kamis 28 Januari 2016 ia mengatakan bahwa dirinya yang berniat berlibur di Indonesia justru malahan mengalami kejadian ini hingga dituduh sebagai tersangka akan kasus tersebut.

 

“Saya awalnya ke sini (Jakarta) itu mau liburan mas, sekalian coba coba cari kerja, tapi malah kena masalah begini” ucapnya sambil duduk di kursi di ruang tamu rumahnya. Ia pun menuturkan, pekerjaan apapun yang didapatnya di Jakarta, akan dilakoninya. Ia pun mengaku lelah karena terus ditanyai pertanyaan yang sama berulang-ulang oleh para wartawan.

 

Saat ditanyakan reaksinya perihal rencana polisi yang akan menggeledah kediamannya, Jessica menanggapinya dengan santai, “Silahkan saja.”

 

Menanggapi pernyataan polisi tersebut, dalam sebuah wawancara eksklusif, Jessica bereaksi dengan mengatakan bahwa polisi tidak adil.

 

“Kalau saya dijadikan tersangka itu tidak adil, karena saya tidak berbuat, kalau tidak berbuat dijadikan tersangka, saya enggak tahu kenapa begitu,” ujar Jessica dalam wawancara dengan I-News TV, Rabu 27 Januari 2016.

 

Sebelumnya diberitakan, Jessica memesan tiga minuman sebelum Mirna dan Hanny tiba di lokasi. Selain itu, Mirna juga mengatur posisi duduk bagi dua temannya tersebut. Mirna pun kejang-kejang usai minum kopi khas Vietnam yang dipesan Jessica.

 

Berikut ini ada rekaman video wawancara eksklusif dengan Jessica. Coba simak mimik wajahnya secara saksama:

 

Bagaimana menurut Anda?

(Okezone, Tribun, Bintang)

Kategori:revo

Mengharukan: Ini Isi Surat Tukang Becak Yang Dirazia Petugas Kepada Presiden Jokowi 

Mengharukan Ini Isi Surat Tukang Becak Yang Dirazia Petugas Kepada Presiden Jokowi
  

Rasdulah, seorang tukang becak paruh baya yang sudah puluhan tahun mencari nafkan dengan mengayuh becaknya di sekitaran kawasan Muara Baru, Jakarta Utara, menuliskan surat untuk Presiden Joko Widodo setelah ia dirazia oleh petugas.

 

Surat Tukang Becak Kepada Presiden Jokowi

Rasdulah menunjukkan surat yang dia tulis untuk Presiden Joko Widodo

 

Dalam suratnya kepada Presiden Jokowi, Rasdullah meminta perlindungan kepada Presiden Jokowi. Ia meminta agar para pengayuh becak yang beroperasi di Jakarta diperlakukan sama seperti tukang ojek online.

 

Berikut ini adalah isi surat Rasdulah kepada Presiden Jokowi:

 

“Kepada Bp Presiden Jokowi. Kami narik becak itu bukan mencari kekayaan. Hanya kebutuhan hidup dan kami narik becak bukan di jalan raya. Tapi di gang-gang, lorong-lorong, dan pasar tradisional atau sekolah komplek-komplek. Go-Jek pernah dilarang Bapak Menteri Perhubungan. Waktu itu, Bapak Presiden membela tukang Go-Jek lalu diizinkan. Sekarang kami becaknya digaruk Ahok. Kami minta perlindungan Bapak Presiden. Kami mendukung Jakarta Baru dan maju. Tapi kami warga kecil jangan dipinggirkan. Terimakasih atas perhatiannya. Rasdulah tukang becak Jakarta”.

 

Rasdulah mengatakan bahwa ia didorong oleh teman-temannya untuk berani menulis surat untuk Presiden Jokowi. Terlebih lagi, katanya, Jokowi dekat dan peduli kepada wong cilik, terutama ketika masih menjadi Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta.

 

“Becak itu tidak berpolusi, kendaraan ramah lingkungan, dan bisa jadi tempat ngobrol sama teman-teman. Becak juga selalu dipakai kalau lagi kampanye sama pas pelantikan. Jadi gimana lah Pak Jokowi, supaya orang kecil jangan selalu dipinggirkan, tolong kami Pak Jokowi,” kata Rasdulah dengan suara tercekat, saat menggelar aksi demo bersama ratusan tukang becak lainnya di Balaikota Jakarta pada Kamis pagi 28 Januari 2016.

 

Dalam aksi demo yang tertib ini, para tukang becak tersebut meminta agar Satpol PP DKI tidak mengangkut becak mereka yang tidak beroperasi di jalan raya.

 

Keberadaan becak melanggar Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum serta Pasal 29 Perda Nomor 8 Tahun 2007.

 

Dalam aksinya ini, para tukang becak juga meminta Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) melalui surat agarb tetap boleh beroperasi di wilayah pemukiman warga serta pasar.

 

Surat Tukang Becak Untuk Ahok

Seorang tukang becak bernama Aziz ini menunjukkan isi suratnya yang ditujukan kepada Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Ia menulis “gubernur” dengan “gupernur”

 

Tukang becak yang rata-rata berpendidikan rendah bisa tertib dan santun saat berdemo, mengapa para mahasiswa yang (katanya) cerdik cendekia selalu anarkis dalam melakukan demonstrasi?

(Kompas, Liputan 6)

 

Kategori:revo

Ini Cara Untuk Memblokir Postingan Konten Asusila Di Facebook   

Ini Cara Untuk Memblokir Postingan Konten Asusila Di Facebook

Akhir-akhir ini kita sering melihat banyak akun pengguna Facebook yang memposting dan membagikan link, foto dan video tidak senonoh yang diduga berasal dari Vietnam di beberapa group Facebook. Hal tersebut amat mengganggu para anggota dan pengguna yang lain.

 

Kalau ditelusuri, hal ini bukan sepenuhnya salah pemilik akun yang menyebarkan konten “jorok” tersebut, karena biasanya video dan link tidak pantas tersebut dibagikan pengguna secara tidak sadar atau tidak disengaja dan tanpa diketahuinya.

 

Akibatnya, pemilik akun yang bersangkutan nama baiknya menjadi rusak, tercemar, dibenci dan dijauhi oleh orang-orang yang dikenalnya.

 

Penyebab para pengguna tidak menyadari akunnya menyebarkan konten tersebut biasanya adalah virus atau malware sebab di Facebook memang ada program atau aplikasi yang membuat pengguna membagikan konten tertentu.

 

Nah, para pelaku yang menjadi biang penyebar konten ini mengeksploitasi rasa keingintahuan si korban (yang kebanyakan remaja tanggung) untuk men-klik tautan tertentu di beranda Facebook mereka, terutama konten-konten, link, atau gambar asusila.

 

Padahal link atau foto-foto tersebut adalah jebakan yang membuat pengguna membuka celah untuk virus menginfeksi akun mereka dan membagikan konten tidak pantas di Facebook.

 

Sebenarnya ada cara untuk menghentikannya, namun kalau sudah terlanjur kena maka rasanya susah dan ribet karena nama yang bersangkutan sudah terlanjur rusak.

 

postingan mesum di Facebook

Ikuti saja langkah-langkah seperti dibawah ini melalui aplikasi facebook di tablet atau smartphone Anda untuk menanggulangi postingan menjijikkan ini

 

Apabila tidak ingin mengalami hal memalukan ini, cobalah ikuti langkah-langkah sederhana berikut ini:

1. Bukalah aplikasi Facebook di ponsel atau tablet Anda. Karena dibandingkan dengan platform Web, aplikasi mobile Facebook ini amat rentan terjerat penipuan ini. Lalu kemudian masuk ke menu setting.

 

2. Setelah masuk ke panel Setting, geserlah ke bawah dan temukan menu Pengaturan Akun. Tap di sana dan tunggu hingga Anda disampaikan ke panel pengaturan akun.

 

3. Pada pengaturan akun, pilih menu Aplikasi > Platform. Kemudian klik. Di sini Anda akan dapat mengakses menu untuk memperketat pengaturan keamaan di Facebook Anda.

 

Kemudian pada menu Pemberitahuan Undangan Permainan dan Aplikasi, pilih pilihan tidak. Dan pengaturan akan tersimpan secara otomatis.

 

Perlu diketahui bahwa pada dasarnya virus di Facebook ini adalah aplikasi ‘nakal’ yang dibuat untuk menghack akun Anda agar membagikan konten-konten tertentu di beranda Facebook.

 

Aplikasi-aplikasi nakal ini selalu memakai kedok sebagai aplikasi ‘baik’, atau game menarik. Dan ketika Anda mencoba membukanya, Anda akan dimintai izin akses terlebih dahulu.

 

Masalahnya, sekali Anda mengizinkan, maka Anda akan mendapat rasa malu yang tak tertanggungkan di media social. Karena aplikasi ini akan langsung membagikan konten tidak pantas di beranda Anda, teman atau group yang Anda ikuti tanpa disadari oleh Anda.

 

Karena, suka atau tidak, bisa dipastikan 100% bahwa pemilik akun yang membagikan konten tak senonoh tersebut pernah atau suka membuka konten-kontek “jorok” di internet, khususnya Facebook.

(istimewa)

Kategori:revo

Pelajaran Berharga yang Dapat Dipetik dari Kisah Aga, Siswa SMP yang Tewas Gantung Diri

27 Januari 2016 2 komentar

 

Aga atau Rangga, kls 2 SMP Global Islamic School, bunuh diri menggantung di lemari baju kamarnya.
Korban broken home, ayah ibunya berpisah, dan masing-masing sudah menikah lagi.
Ayahnya di Jakarta tapi sudah berkeluarga lagi. Berkali-kali berjanji ketemuan dengan Aga, tapi ditungguin oleh si anak ternyata jarang datang.
Ibunya sejak menikah tinggal di Surabaya dengan keluarga barunya, meninggalkan Aga kecil dengan nenek dan tante-nya.
Anak ini depresi, merasa ayah ibunya nggak mencintainya lagi.
Copas cerita tentang Aga:
Anak ini ternyata sudah merencanakan kematiannya, karena merasa ibu dan ayahnya sudah tidak mencintainya.
Jadi, dia ingin kembali kepada pencipta Nya yang pasti lebih mencintainya.
Dia bahkan sudah memberikan mainan2 kesukaaannya kepada teman-temannya. Pada hari minggu dia trial kekuatan lemari dan memperkuat lemari supaya kuat mengantung tubuhnya.
Sejak minggu dia puasa, supaya ketika ia menggantung diri tidak keluar kotoran. Detail perencanaan ia tulis dalam smartphone-nya. Dan dia melaksanakannya pada hari selasa pagi tgl 13 Januari.
Sebenarnya tanda tanda si anak depresi sudah terlihat, tetapi orang tua, nenek dan tantenya tak menghiraukannya.
5 tahun sebelumnya, ketika orang tuanya bercerai sudah diperingatkan bahwa si anak sangat depresi dan cenderung suicidal.
Bayangkan, untuk menggantung dalam lemari, maka dia harus menekuk kakinya.
Bayangkan, di butuhkan waktu 1 menit sambil nafasnya tercekik dia harus terus menekuk kakinya.
Dibutuhkan konsentrasi dan niat yang kuat luar biasa untuk itu…. karena depresi.
Masya Allah..
****
Aga, adalah contoh anak yang berjiwa kosong, haus kasih sayang orang tuanya. Secara materi berkecukupan, sekolah di sekolah elite, pandai secara intelektual, berkomunikasi dengan ibunya memakai bahasa inggris…
Ternyata…. Nun jauh di lubuk hatinya, ia rindu belaian kasih sayang ayah ibunya. Rindu bercengkerama bersama seluruh keluarganya. Rindu bermain dan bermanja-manja bersama sosok yang telah melahirkannya…
Keluarga, adalah benteng yang tangguh bagi perkembangan jiwa anak-anak kita. Tempat yang paling nyaman untuk pulang.
Seruwet dan sepelik apapun permasalahan yang kita miliki, keluarga tetaplah tempat berteduh yang paling indah bagi jiwa dan hati kita.
Jangan sampai anak-anak kita bernasib seperti Aga.
Jangan lewatkan waktu yang hanya sebentar bersama mereka, karena usia mereka terus bertumbuh…
Jadikan masa kecil-nya bersama kita, menjadi kenangan terindah yang akan terus mereka kenang sepanjang usianya.

 

 

Kisah pilu diatas menjadi contoh yang sangat berharga bagi siapapun orangtua, baik keluarga utuh maupun tidak !!!!
SUMBER: facebook

 

Kategori:revo

Inilah 4 Ranting Muhammadiyah Sebagai Percontohan Indonesia panawuan garut masuk nominasi

Dari sekian banyak Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) di Indonesia, berikut ada 4 ranting yang bisa dijadikan percontohan untuk ranting se-Indonesia :

1. PRM SUMBERSARI, Cabang Ciparay, Kab.Bandung: memiliki 4000 ribu jamaah, GJDJ terlaksana degan baik dan rutin, memiliki KMM (Korps Mubaligh Muhammadiyah) yg anggotanya Ustadz Muda, mampu menyekolahkan Anak-anak mudanya ke Pesantren Muhammadiyah hingga PTM, Memiliki Ambulance gratis, seluruh ortom dan AMM-nya hidup dan Aktif, kesadaran ZIS dan wakafnya sangat tinggi, warganya sangat loyal pada Muhammadiyah, selalu ada Kultum setiap sholat subuh, memilki tanah wakaf 6,5 hektar, membagikan beras kepada seluruh warga sebanyak 9 kali dalam satu tahun, memiliki Pesantren/SMP Muhammadiyah Boarding school.

2. PRM PANAWUAN, Kab.Garut: Menjadi Percontohan Perkampungan Pemuda tingkat ASEAN, Menjadi Tempat Pertemuan Pemuda Sedunia yang hasil pertemuan tersebut (Deklarasi Pemuda sedunia) dibacakan di PBB, Memiliki Pusat Pelatihan Bahasa Inggris, seluruh ortom dan AMM-nya hidup dan berkembang, ada PR IPM di PRM, Madrasah Diniyah sorenya sangat maju (sekitar 500 siswa), pada waktu maghrib hingga isya tidak boleh ada anak anak dan remajanya yg keluyuran. Semua anak anak dan remaja wajib pergi dan mengaji di Masjid- dan musholla milik PRM.

3.PRM AL MUHAJIRIN, Banjarmasin: PRM para perantau dari Kota ALABIO (Pusat Bebek alabio), Memiliki Masjid Ranting yg makmur dan sekaligus menjadi asrama bagi Para Mahasiswa yg dibiayai kuliahnya oleh PRM AL Muhajirin, Berdaya dan Kuat secara Ekonomi.

4. PRM PLOMPONG Sirampog Brebes: memiliki AUM pendidikan yg lengkap (TK, SD, MTs, MA, SMK Pesantren), Jamaahnya sekitar 3000 orang yg terbina dg baik dan loyal pada Muhammadiyah, memiliki Radio Komunitas.

Mohon Bapak Ibu bisa ditambahkan (PCM mana di PDM bpk ibu tinggal yg kita nilai bagus dan bisa jadi contoh bagi PCM lain). Selanjutnya akan bisa jadi masukan bagi LPCR PP Muhammadiyah untuk persiapan pelaksanaan SEKOLAH CABANG dan RANTING.

sumber

Kategori:revo

Ingin Koneksi Internet Anda Lebih Cepat? Begini Nih Caranya

komputer1

TERKADANG permasalahan koneksi internet sering menjadi kendala bagi kita. Terutama bagi kita yang setiap harinya berurusan langsung dengan media sosial, sungguh menjadi hal yang merepotken jika koneksi internet tidak berjalan dengan baik. Lalu, bagaimana caranya agar koneksi internet lebih cepat?

Cara membuat koneksi internet lebih cepat adalah faktor yang banyak dicari semua pengguna internet tapi kadang mereka tidak tahu bagaimana arti kata cara membuat koneksi internet lebih cepat. Untuk itu di sini akan dijelaskan faktor yang berhubungan dengan cepat atau tidaknya koneksi itu, karena secepat apapun koneksi Anda kalau komputer Anda tidak seimbang ya percuma. Sebagai contoh, speed Anda 512 KB/s kalau menggunakan jaringan LAN atau Local Area Network tapi komputer yang Anda gunakan mungkin speck-nya tidak standar atau dari berbagai faktor, jadi benahi dulu sistem operasi Anda kalau perlu komputer yang Anda gunakan harus di upgrade terlebih dahulu.

Cara membuat koneksi internet lebih cepat kali ini, yaitu tentang setting bandwidth komputer yang Anda gunakan. Sebelum dipraktekkan periksa dulu apakah komputer Anda bermasalah atau tidak, kalau sudah simak baik-baik berikut ini:

• Klik Start Menu.
• Klik RUN.
• Lalu isikan kata “gpedit.msc”.
• Setelah masuk pilih Administrations templete pada Computer configurations, lalu double klik pada Network.
• Klik dua kali pada Qos pochet scheduler.
• Klik pada Limit resevable bandwidth dan pilih Enable.
• Pada kotak bandwidth % isikan nol.
• Lalu klik Apply dan OK.
• Terakhir restart komputer atau laptop Anda.

Kategori:revo
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.678 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: