Beranda > revo > Tanggapan Psikolog Tentang Gaya Pacaran Vulgar Anak Alm. Adjie Massaid 

Tanggapan Psikolog Tentang Gaya Pacaran Vulgar Anak Alm. Adjie Massaid 

Tanggapan Psikolog Tentang Gaya Pacaran Vulgar Anak Alm. Adjie Massaid
  

Masa remaja adalah masa dimana manusia masih mencari jati diri dan masih labih secara fisik dan mental. Masa remaja memang identik dengan hal baru yang berbau aksi dan sensasi. Seperti yang dilakukan Aaliyah Massaid (14 tabun), putri cantik alm. Adjie Massaid,

 

Aaliyah Massaid memamerkan foto dengan pose memeluk sang kekasih. Foto-foto mesranya bersama sang kekasih yang dia pamerkan di akun Instagramnya membuat heboh dan menuai berbagai komentar netizen.

 

Foto-fotonya mendapatkan banyak komentar bernada cibiran pedas bahkan kata-kata yang tak pantas untuk diucapkan. Lalu apakah salah apabila remaja sudah berpacaran?

 

Menanggapi hal tersebut psikolog Efnie Indrianie dari Universitas Kristen Maranatha Bandung memaparkan, “Secara psikologi remaja dengan usia 12 hingga 17 tahun umumnya berada di fase eksplorasi diri dengan mencoba hal-hal baru bahkan hingga menemukan dampak dari tindakan yang mereka perbuat itu seperti apa,” jelasnya.

 

Menurut Efnie, di Indonesia khususnya yang kental akan budaya ketimuran dan nilai-nilai agama menjadikan remaja harus berada dalam satu batasan-batasan perilaku yang berlaku.

 

Aaliyah Massaid

 

Aaliyah Massaid

Gaya pacaran Aaliyah Massaid yang vulgar dan banyak kontak fisik intim seperti ini banyak dipamerkan di akun Instagramnya dan menuai hujatan netizen

 

“Untuk remaja awal diharapkan tidak diperbolehkan mengunggah foto dengan kontak fisik sebab di Indonesia dan budaya barat memiliki standarisasi yang berbeda,” lanjutnya.

 

Ia mengatakan bahwa secara umum orangtua yang memiliki putra-putri remaja haruslah memberikan pendampingan yang tepat. Menurut Efnie bukan hanya pendampingan melainkan anak harus sudah mulai menerapkan nilai sosial yang mereka dapatkan sejak kecil.

 

Tugas pendampingan orangtua tak sebatas memerhatikan atau membatasi gerak gerik atau kegiatan anak saja untuk menghindari kejadian seperti ini. Menurutnya bahkan nilai edukasi seks juga wajib ditanamkan sejak anak masih SD.

 

“Orangtua perlu menindak anak sampai ke kalau anak sudah melakukan kontak fisik terlalu intensif. Dan juga pendidikan seks harus kencang karena sex drive anak remaja pun besar dan eksplorasi mereka bisa lebih gencar lagi,” jelas Efnie.

 

Ketika anak berada pada rasa ingin tahu yang tinggi terkait seks, kesalahan fatal akan terjadi saat anak mencari sumber-sumber yang tidak tepat. “Dari anak SD harusnya sudah mulai diajarkan ya sebatas ‘gak boleh ada yang megang celana ya’.. tapi kalau sudah remaja harus diperkenalkan sampai ke penyakit seksual menular, bukan saja sebatas kehamilan”, tutup Efnie.

(instagram, dan sumber lain)

Kategori:revo
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: