Beranda > revo > Di Bali, Orang Tua Biarkan Anaknya Melakukan Dan Menikmati Seks Bebas

Di Bali, Orang Tua Biarkan Anaknya Melakukan Dan Menikmati Seks Bebas

Para orang tua di Bali, terbiasa membiarkan anak-anaknya menikmati seks bebas meskipun belum ada ikatan pernikahan. Ada anggapan, jika pelaku seks bebas bisa dan mau bertanggungjawab, para orang tua di Bali tidak mempermasalahkan hubungan seks di luar nikah itu.

Fakta itu diungkapkan sosiolog dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Evy Clara 7 Desember 2014, menanggapi terungkapnya arisan seks di kalangan pelajar Situbondo, Jawa Timur.

“Soal seks bebas, tak hanya di Situbondo, di Bali lebih parah. Orang tua di Bali membiarkan anaknya pacaran hingga menginap, padahal belum ada ikatan pernikahan. Saya pernah tanya ke orang tuanya, jawabannya, itu biasa yang penting bertanggungjawab. Jika tidak mau bertanggungjawab dosa,” ungkap Evy Clara.

Evy menegaskan perilaku seks bebas di kalangan pelajar sudah umum terjadi di Bali. “Seorang dosen di UNJ, yang baru pindah dari Singaraja, Bali, pernah saya tanya, mengapa sudah 20 tahun di Bali memaksa pindah ke Jakarta. Dia jawab, khawatir dengan masa depan anak perempuannya. Ia takut perilaku seks bebas di Bali,” ungkap Evy.

Terkait fenomena arisan seks pelajar di Situbondo, Evy menegaskan bahwa, testemoni seorang PSK di Sutobondo itu perlu ditelusuri kebenarannya. “Itu harus diusut, benar atau tidak. Jangan-jangan hanya pengakuan sepihak PSK. Karena perbuatan segelintir pelajar, akhirnya ada anggapan bahwa arisan seks pelajar marak di Situbondo,” kata Evy.

Sebagai solusi atas perilaku seks bebas, Evy menyarankan agar para orang tua dan kalangan pendidik menekankan tentang bahaya perzinahan. “Di sekolah perlu disisipkan pesan bahaya perilaku menyimpang dalam pelajaran psikologi ataupun agama,” kata Evy.

Tak hanya itu, Evy juga meminta para orang tua instropeksi diri, bahwa seks bebas pelajar menjadi bukti para orang tua sudah kecolongan. “Menurut saya ini salah keluarga. Berarti kita kecolongan, anak-anak kita kecolongan adanya faham seks bebas. Itu terjadi salah satunya karena kurangnya pengetahuan tentang efek seks bebas. Sosialisasi di keluarga kurang, ini tanggung jawab keluarga,” pungkas Evy.

(Itoday, Okezone)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: