Beranda > revo > Nyawamu Terlalu Berharga Untuk Dipertaruhkan Demi Selembar Foto. Jangan Sampai Ada Erri Yunanto yang Berikutnya!

Nyawamu Terlalu Berharga Untuk Dipertaruhkan Demi Selembar Foto. Jangan Sampai Ada Erri Yunanto yang Berikutnya!

Sekali lagi, dunia pendakian Nusantara kembali dirundung duka karena kematian saudara kita sesama pendaki. Ironis buat saya, karena peristiwa ini hanya berselang dua minggu sejak saya merilis tulisan di Hipwee yang bertajuk“Stop Meremehkan Gunung! Kamu Terlalu Berharga Untuk Mati Konyol di Sana”. Kali ini, korbannya adalah Erri Yunanto, mahasiswa semester 6 Teknik Industri Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang masih berusia 21 tahun.

Kamu sendiri mungkin juga mengikuti beritanya di media. Mulai dari kabar bahwa almarhum jatuh terpeleset dari Batu Garuda di Puncak Barameru Gunung Merapi pada Sabtu (16/5) kemarin, sampai kabar ketika jenazahnya berhasil dievakuasi dari bibir kawah pada hari Selasa (19/5).

Di sini, saya tidak hendak fokus pada almarhum sebagai individu. Bagaimanapun kita semua menyesali kejadian tragis yang menimpanya. Namun sebagai sesama pendaki dan manusia, saya rasa kita wajib belajar dari kejadian yang menimpa Erri di puncak Merapi. Alasannya sederhana: agar di masa depan, tidak perlu ada Erri-Erri yang berikutnya.

Selembar foto di tempat istimewa adalah kenangan yang memang membuat bangga. Tapi, apakah kenangan itu cukup berharga untuk dibayar dengan nyawa?

Foto terakhir Eri Yunanto yang diabadikan oleh rekannya.

Bagi saya, kematian Erri Yunanto bukanlah sesuatu yang sia-sia, selama ini bisa menjadi pengingat bagi pendaki lainnya. Mungkin kita perlu berkaca dari peristiwa ini dan merenungkan kembali, sebenarnya buat apa sih kita susah-susah mendaki?

Dulu sekali, sebelum foto-foto perjalanan di Instagram ngehits seperti sekarang, gunung dimanfaatkan penikmatnya benar-benar untuk menyepi, belajar, dan mengasah diri. Mereka pergi tanpa kamera, tanpa kebutuhan untuk berfoto-foto selfiedi puncak seperti kelakuan para pendaki yang kita temui dewasa ini.

Lalu, apakah mengambil foto di gunung itu sebuah kesalahan?

Tentu tidak. Sama sekali gak ada salahnya mengambil beberapa foto di atas sana. Fofo-foto yang kita abadikan akan menjadi sebuah memento perjalanan yang bisa membuat kita mengingat kembali pendakian yang kita lakukan. Tapi, perlukah sampai harus mempertaruhkan nyawa demi itu?

Selembar foto hanya sanggup bercerita sedikit, sementara sisa kisahnya hanya bisa kamu tuntaskan lewat penuturanmu. Dan tentu saja, kamu wajib pulang hidup-hidup untuk itu.

Tapi, kini berfoto di puncak seakan menjadi tujuan utama. Semua teman di media sosial perlu tahu, kerja keras yang kita keluarkan untuk “menaklukkan” puncak itu

Ketika kebutuhan untuk diakui menjadi pendorong utama mendaki

Kini, kesakralan dari sebuah pendakian yang punya makna untuk mengenal alam lebih dekat telah bergeser menjadi ajang untuk membanggakan diri, ajang untuk menaklukkan tempat-tempat berbahaya demi sebuah pengakuan semu berupa tambahan likes, komentar, maupun followers di media sosial. “Tak apa aturan dilanggar sedikit, yang penting kita bisa membuat foto yang sensasional.” Saya cuma bisa mengelus dada.

Saya pun mengetahui dari seorang rekan yang belum lama ini mendaki ke Merapi, bahwa pendaki Merapi sebenarnya hanya diperbolehkan menapak sampai ke Pasar Bubrah. Jika lebih dari itu, bukankan berarti ada aturan yang dilanggar?

Dua minggu sebelum kejadian tragis yang menimpa Erri Yunanto, peristiwa serupa juga menimpa Yanuru Aksanu Laila, mahasiswa Universitas Negeri Malang yang masih berusia 23 tahun. Dia diduga tewas karena terpeleset dari tebing yang sebenarnya dilarang untuk dilewati. Peristiwa ini terjadi hanya demi mengabadikan sebuah foto di tempat yang gak biasa.

Apakah foto sensasional yang mengundang tambahan jumlah likes dan followers ini segitu berartinya? Lebih berarti daripada orang tua kita yang menanti anaknya pulang dengan selamat sampai di rumah?

Hal yang bisa saya garis bawahi dari kedua kejadian di atas adalah pentingnya untuk bisa menakar kemampuan diri sendiri serta menaati aturan. Ketika aturan dilanggar dan diri sendiri dipaksa untuk melewati batasnya, di situlah bahaya akan mengancam kita.

Sebelum kamu memutuskan untuk berfoto di tempat yang ekstrem di atas gunung, mari pikir kembali, untuk apa kita mendaki.

Pulang adalah tujuan utama

Saya paham, ketika kita berada di puncak gunung, kita tergoda untuk mengabadikan keindahannya dengan berbagai sudut. Tanpa bermaksud pamer lewat foto diri, kita mungkin ingin memvisualkan apa yang kita lihat kepada orang-orang yang tidak sempat mendaki lewat foto yang kita buat: “Ini lho yang saya lihat di atas sana.”

Tapi, lantas saya sadar. Mendaki adalah sebuah perjalanan yang sangat personal. Pemandangan dan pengalaman yang saya dapat tentu akan berbeda dengan orang lain, meskipun yang kita daki adalah gunung yang sama. Sehebat apapun foto kita, akan jauh lebih berarti bila mereka mendaki dan memandangnya dengan mata kepala sendiri.

Terus terang, saya tak punya nyali jika harus berpose di atas batu Garuda seperti almarhum Erri Yunanto ataupun foto-foto di tempat ekstrem lainnya. Buat saya, bisa melihatnya dari jauh saja sudah cukup. Ya, saya takut untuk melakukan hal seperti itu demi selembar foto dengan saya sebagai subjeknya.

Lebih tepatnya, saya tak sampai hati.

Saya tak sampai hati membayangkan wajah ibu saya yang histeris mengetahui kalau anaknya ternyata pulang tinggal nama saat mendaki gunung gara-gara hal sepele. Saya tak sampai hati membayangkan kepanikan di wajah rekan saya yang harus buru-buru turun untuk melapor, dan itu bisa membahayakan diri mereka sendiri.

Saya juga tak sampai hati membayangkan betapa repotnya tim SAR dan relawan yang atas nama kemanusiaan rela kerepotan bahkan sampai mempertaruhkan nyawa demi mengevakuasi jenazah saya yang sudah tak bernyawa. Sementara, saya mungkin sudah lepas raga dan tak lagi memusingkan urusan duniawi.

Saya pun tak sampai hati membayangkan saya mati hari ini. Soalnya, saya belum melakukan sesuatu yang berarti buat masyarakat dan negeri ini.

Saya tak sampai hati, jika sampai ada Erri Yunanto yang berikutnya. Biarlah almarhum menjadi yang terakhir. Sebelum memutuskan untuk berfoto di tempat-tempat ekstrem, mari berpikir lagi, apakah kita masih sampai hati?

Mari kita mendaki, melakukan sebuah perjalanan hati demi mensyukuri karunia berupa alam raya yang diberikan oleh Sang Illahi, bukan karena hasrat ingin diakui sebagai penakluk puncak-puncak tertinggi. Bagaimanapun, menjamah puncak hanyalah bonus dari sebuah pendakian, karena hakikatnya pulang dengan selamat adalah tujuan akhir yang harus kita capai.

Mari kita berduka, tapi jangan sampai ada duka gara-gara hal yang sama.

Salam.

sumber

Kategori:revo
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: