Beranda > revo > Di Balik Jabatan yang Kedengaran Mentereng, Sesungguhnya Kita-kita Ini Juga Buruh

Di Balik Jabatan yang Kedengaran Mentereng, Sesungguhnya Kita-kita Ini Juga Buruh

Kemarin adalah hari perayaan bagi kaum pekerja di seluruh dunia. Hari Buruh atau Mayday bukan sekadar hari libur biasa. Di hari itu kelas pekerja di seluruh dunia merayakan “kebebasannya”, pun jadi saat yang tepat untuk menyuarakan hak-hak yang belum terpenuhi sempurna.

“Macet-macetin jalan aja deh tuh buruh-buruh.”

“Elah, gak sadar diri amat sih? Tuntutannya banyak amat!”

Begitukah komentarmu pada perjuangan mereka? Sebegitu nyinyirkah dirimu pada buruh-buruh yang memperjuangkan haknya di luar sana? Merasa bukan bagian dari mereka? Hehe, padahal kita-kita ini juga buruh, lho…

Setiap hari, kita harus bangun pagi-pagi untuk berangkat ke tempat kerja dan harus masuk tepat waktu. Terlambat sedikit potong gaji resikonya.

Kehebohan tiap pagi

Dari hari Senin sampai Jumat (ada yang sampai Sabtu. Ada.), kita bangun pagi-pagi untuk berangkat ke tempat kerja. Kalau tempat kerja jauh, kita harus bangun jauh lebih pagi agar tidak terlambat. Belum lagi saat harus bermacet-macet di jalan, kita harus mencari jalan agar bisa datang ke tempat kerja tepat waktu. Semua itu kita lakukan agar tidak terlambat bekerja atau lebih tepatnya tidak terlambat datang ke tempat kerja. Kalau terlambat resikonya gaji harus dipotong. Dari pada gaji yang tak seberapa itu dipotong, mau tidak mau sebaiknya datang tepat waktu atau lebih cepat, meski sebenarnya belum ada yang dikerjakan jika datang terlalu pagi.

Seakan kurang percaya pada loyalitas, kita pun diwajibkan membuktikan kehadiran dengan sidik jari yang direkam sesuai jamnya

Tanda kita hadir di tempat kerja

Bukan hanya sekedar datang tepat waktu, kita juga harus mengeksiskan kehadiran kita dengan absen. Ada yang masih sederhana dengan menggunakan check lock, ada yang dengan scan sidik jari, bahkan ada yang dengan mendeteksi wajah. Intinya, kita harus meninggalkan bukti kalau kita benar-benar datang ke tempat kerja tepat waktu. Meskipun tak jarang ada beberapa yang datang hanya untuk absen kemudian pergi sebentar, untuk sarapan atau mengantar anak, lalu kembali lagi. Lagi-lagi, semua itu kita lakukan agar gaji yang pas untuk sebulan itu tidak dipotong tetapi kita masih bisa mengerjakan kebutuhan lain.

Kita diwajibkan berseragam. Ada aturan yang tak boleh dilanggar soal berpakaian

Semuanya sama dan seragam

Harus pakai celana hitam. Harus pakai kemeja. Tidak boleh pakai celana jeans. Tidak boleh memakai kaos. Jumat pakai batik. Pokoknya banyak peraturan tentang pakaian yang boleh dan tidak boleh digunakan saat ke tempat kerja. Bahkan beberapa tempat kerja memberikan seragam khusus untuk karyawannya. Alasannya agar karyawan tampil rapi. Padahal sekeren-kerennya nama perusahaan dalam seragam kita, tetap saja tujuannya memberi tanda bahwa kita bagian dari pekerja di perusahaan itu. Tak jauh berbeda dengan mereka yang bekerja di pabrik, mereka harus selalu memakai seragam. Selain untuk keamanan juga untuk memudahkan pengawasan.

Merasa tuntutan buruh di jalanan kurang masuk akal? Yaelah, kita sering berharap digaji tinggi dalam nominal yang sebenarnya di luar akal sehat (ya kali freshgraduate berharap digaji > 10 juta).

Hanya berharap

Kadang sering berpikir, tuntutan buruh ini banyak sekali dan tidak masuk akal. Padahal kita sendiri kadang juga sering berharap mendapat gaji tinggi yang tak kalah tidak masuk akalnya dengan tuntutan buruh. Tak jarang kita berpikir gaji kita di atas sepuluh juta karena menurut kita biaya pendidikan yang kita tempuh sangat mahal. Biaya hidup kita juga cukup tinggi. Penghasilan dengan standart UMR rasanya tidak pernah cukup.

Bukannya mikirin kebutuhan dasar macam KPR, kita malah mikirin kebutuhan hp baru; motor baru, parfum, sampai jalan-jalan. Apa bedanya sama keinginan buruh yang demo di jalan?

Kalau untuk hidup sih bisa, untuk gaya hidup ini agak berat

Setiap pertengahan bulan, muka kita loyo karena gajian belum juga datang. Namun ketika tanggal jadian, yang kita pikirkan adalah karaoke dimana, nonton film apa, atau barang apa yang harus dibeli. Tak heran kalau kebutuhan kita selalu membengkak dan upah yang ada tak pernah cukup. Tak jauh berbeda dengan mereka yang berdemo di jalan, kita juga selalu kelimpungan karena rasanya gaji tak pernah mampu untuk menyicil rumah.

Meski nggak ada kerjaan, kita tetep harus nunggu jam pulang kantor untuk bisa pulang. Kalau capek nyolong-nyolong tidur di tempat kerja deh.

Belum jam pulang kantor tapi kerjaan sudah selesai

Semua pekerjaan sudah selesai. Tak ada lagi yang harus dikerjakan, tapi jam pulang masih lama. Kalau pulang sekarang, bisa-bisa kena potong gaji lagi. Lagi-lagi, demi gaji yang akan runyam urusannya jika dipotong itu kita rela menunggu jam pulang. Sambil mengisi waktu bisalah kita buka-buka facebook atau main game dari komputer. Kalau memang sedang capek, nyolong-nyolong tidur di tempat kerja juga jadi lah.

Kalau diingat-ingat dari kecil kita memang sudah dilatih untuk menjadi buruh. Sekolah di Indonesia mengharuskan kita bangun pagi-pagi, berseragam, absen, istirahat bareng-bareng, pulang sesuai jam pulang.

Dari dulu sudah biasa pakai seragam

Dari umur empat tahun, kita dibiasakan untuk memakai seragam, rambut dipotong rapi, kuku juga harus rapi untuk pergi ke sekolah.Setiap pagi, guru selalu mengabsen kehadiran kita. Semakin tua, jam pulang sekolah kita semakin sore. Di sekolah kita dihadapan segudang peraturan dan bisa istirahat di jam-jam sudah ditentukan. Jadi sepertinya dari kecil kita memang sudah dipersiapkan untuk menjadi buruh.

Kita yang kerja keras, jungkir-balik gak karuan yang kaya siapa? Ya perusahaan dong! Kurang buruh apa?

Yang penting bos senang

Satu hal lagi yang membuat kita yang bekerja sebagai karyawan ini tak jauh beda dengan buruh, kita bekerja keras, kena omel sana-sini, lembur, pokoknya totalitas mati-matian. Saking totalitasnya bekerja sampai tak ada waktu untuk mencari pasangan, yang akhirnya jadi jomblo abadi. Tapi, yang menikmati hasilnya siapa? Perusahaan! Bekerja setiap hari tapi terima gaji satu bulan sekali. Jadi, kurang buruh apa lagi coba?

Tos dulu sini, sesama buruh!

sumber

Kategori:revo
  1. 25 Oktober 2016 pukul 11:12 am

    Appreciating the time and energy you put into your website and detailed information you offer.

    It’s awesome to come across a blog every once in a while that isn’t the same outdated rehashed material.
    Fantastic read! I’ve bookmarked your site and I’m
    including your RSS feeds to my Google account.

    Suka

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: