Arsip

Arsip Penulis

Kisah Kehidupan Yang Menguras Air Mata

Waktu yang yang kita miliki dalam menjalani hidup tidaklah selamanya, yang terkadang hal hal penting seperti mengasihi sesama terlewati karena kesibukan pribadi. Setiap kelahiran manusia dibekali oleh Tuhan perasaan yang harus kita pupuk dan suburkan yaitu mengasihi sesama dalam kehidupan ini. Sahabat anehdidunia.com semoga Kisah Nyata Kehidupan dan Cinta yang Menguras Air Mata ini dapat menjadi inspirasi bagi anda untuk lebih peka dalam mengasihi sesama kita. Karena ada beberapa manusia yang sampai tidak mampu menjerit untuk minta pertolongan tanpa kita menyadarinya.
Kisah Mengharukan Aisyah, Bocah yang merawat Ayahnya di Becak
Hidup terlalu keras untuk bocah perempuan selembut Siti Aisyah Pulungan (8). Lebih dari setahun, ia tinggal nomaden di becak bersama ayahnya yang sakit. Dari satu tempat ke tempat lainnya di Medan Sumatera Utara. Mengharukan! Sejak usia setahun, Aisyah berpisah dengan ibunya. Maka itu, sehari-hari, ia hanya bersama ayahnya, Muhammad Nawawi Pulungan (56), yang sakit komplikasi paru tiga tahun belakangan. Uang habis untuk biaya pengobatan. Satu-satunya barang berharga hanya becak yang dibeli dengan cara mengangsur. Aisyah ditemui detikcom di trotoar depan Masjid Raya Al Mashun, Jalan Sisingamangaraja, Medan.
Tampak jelas, dalam kondisi sulit, ia tidak menyerah. Ia terus merawat sang ayah yang layuh didera penyakit. Pagi hingga siang, ia menjaga sang ayah dan mengayuh becak dari satu tempat ke tempat lain. Jika malam tiba, mereka transit di teras rumah warga untuk tidur.
Berdasarkan usia, seharusnya Aisyah sudah berada di kelas 2-3 sekolah dasar. Sayang, urutan hidupnya tidak sesederhana itu. Ia terpaksa drop out dari sekolah karena uang habis untuk pengobatan ayahnya. Jika diberi kesempatan, Aisyah ingin sekolah lagi. Tapi apa daya, kondisi tidak memungkinkan. Sepanjang hari, ia hanya merawat sang ayah. Sekolah yang digembar-gemborkan gratis, menjadi barang mahal baginya.
Tidak mudah hidup di jalanan. Aisyah dan ayahnya kadang diusir saat ‘transit’ di teras rumah warga atau Masjid Raya Medan. Mungkin karena keduanya dianggap gelandangan, hidup di becak dari satu tempat ke tempat lainnya. Aisyah sering memanfaatkan Masjid Raya sebagai ‘transit’ pada pagi hingga sore. Dia akan membasuh ayahnya yang terkulai. Penjaga masjid memakluminya, tapi kadang ia diusir jika di masjid ada tamu penting.
Ayah Aisyah, Nawawi, bukan tukang becak, juga bukan pengangguran. Dulu ia bekerja sebagai sopir mobil boks. Ketika penyakit mendera tiga tahun lalu, otomatis ia tak bisa bekerja. Bahkan kondisinya kian mengkhawatirkan. Tabungan habis untuk biaya pengobatan. Untuk mengontrak rumah pun tidak bisa. Akhirnya ia hidup di becak bersama anak semata wayangnya. Di becak itu, perlengkapan hidup dibawa ke mana-mana. Mulai dari ember, selimut, pakaian, dan lain sebagainya.
Aisyah mengaku bukan pengemis. Tapi kadang ia menerima sumbangan saat mengayuh becak. Ada beberapa pengendara mobil atau motor yang memberinya uang. Dari situlah, bocah dan ayahnya ini menyambung hidup. Kisah mengharukan Aisyah dan ayahnya didengar banyak orang, termasuk Pemkot Medan. Plt Wali Kota Medan Dzulmi Eldin mendatangi tempat ‘parkir’ Aisyah di depan Dhea Salon, Jalan Sisingamaraja. Ia meminta ayah dan anak yang beralamat di Sei Putih Barat Kecamatan Medan Petisah itu dirawat.
Malam itu, ambulans datang dan membawa keduanya ke RSU Pirngadi Medan. Dzulmi juga menjanjikan akan menyekolahkan Aisyah. Detik ini, mungkin kehidupan Aisyah dan ayahnya akan lebih baik. Tapi jelas, mereka tak mudah menghapus kisah sedihnya beberapa tahun terakhir: hidup di atas becak, tidur di jalanan, pernah diusir, dan berharap belas kasihan orang. Selama itu, ke mana orang-orang yang kini peduli?
Pria yang mengayuh Becak sambil Mengasuh Bayinya
Hati siapa yang tidak tersentuh melihat seorang pria menarik becak di siang hari yang panas sambil menggendong bayi? Hal ini benar-benar terjadi di India. Pria ini mengasuh bayinya karena sang istri meninggal setelah melahirkan dan tidak ada yang bersedia merawat sang bayi. Dilansir Dailymail, nama pria ini adalah Bablu Jatav, 38 tahun. Dia dikaruniai seorang bayi perempuan yang diberi nama Damini setelah menikah selama 15 tahun dengan istrinya, Shanti. Pak Bablu mengatakan bahwa dia sangat senang diberkati seorang putri, tetapi dia menyimpan kesedihan mendalam karena sang istri meninggal sesaat setelah melahirkan.
“Shanti meninggal tidak lama setelah melahirkan di rumah sakit pada tanggal 20 September,” ujar pak Bablu. “Sejak saat itu, belum ada seorang pun yang mau merawat putri saya, sehingga saya yang merawatnya, bahkan pada saat saya menarik becak,” lanjutnya.
Pekerjaan pak Bablu sehari-hari adalah penarik becak di kota Bharatpur. Dia tidak memiliki saudara yang bisa merawat bayinya, sehingga jalan satu-satunya adalah merawat sang putri sambil bekerja. Pak Bablu menggendong bayinya dengan kain yang dililitkan di leher. Hal ini terpaksa dia lakukan, bahkan di tengah hari yang sangat panas.
Kondisi ini memang memprihatinkan, terutama bagi Damini yang masih sangat kecil. Panasnya matahari dan kondisi jalanan membuatnya harus dilarikan di rumah sakit Jaipur beberapa waktu yang lalu. Sang bayi mengalami septikemia, anemia dan dehidrasi akut. Untungnya, kondisi sang bayi membaik setelah dirawat. Berita ini dengan cepat menyebar di India, sehingga banyak tawaran bantuan yang diterima oleh pak Bablu.
Besar kemungkinan bahwa pemerintah India setempat sedang memproses cara untuk membantu merawat sang bayi. Semoga bantuan segera datang, sehingga bayi perempuan ini mendapat perawatan yang lebih baik. Ladies, jangan remehkan cinta seorang ayah. Sudahkah Anda berterima kasih pada beliau?
Gadis yang merawat Tunangan lumpuh selama 3 tahun
Seorang gadis di China dipaksa untuk meninggalkan pacarnya, jika pria itu tidak bisa berjalan lagi dalam kurun waktu tiga tahun. Orang tua Yang Nan mengizinkan gadis 23 tahun itu tinggal bersama kekasihnya, Yan Hongbo, dengan syarat pria itu harus bisa berjalan lagi dalam waktu tiga tahun. Jika tidak, Nan harus kembali tinggal bersama orang tuanya dan memutuskan hubungannya dengan Hongbo, yang kini hanya bisa terbaring lemas di tempat tidur.
Nan telah memohon kepada orang tuanya, agar dia diberi lebih banyak waktu, karena kondisi Hongbo yang hampir tidak memiliki harapan lagi untuk bisa berjalan. “Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya tahu dia bisa disembuhkan, tapi kami tidak punya uang untuk biaya berobat. Kami bahkan tidak punya cukup uang untuk kebutuhan makan sehari-hari. Kami perlu keajaiban,” kata Nan kepada China Daily.
Meski Hongbo sangat mencintai Nan, dia ingin kekasihnya mendengarkan perintah orang tuanya dan segera meninggalkannya. Dia juga sangat tahu bahwa hubungannya dengan Nan sama sekali tidak memiliki masa depan. “Nan memiliki masa depan yang cerah, sementara saya tetap tidak bisa berjalan,” ungkap Hongbo. Hongbo, 27, kini menderita kelumpuhan dari pinggang hingga kaki, setelah mengalami kecelakaan motor yang mengerikan pada tahun 2009. Ketika itu, Nan dan Hongbo belum menjadi sepasang kekasih, namun hanya bersahabat.
Kecelakaan tragis itu terjadi ketika Hongbo, yang dulunya bekerja sebagai mekanik mobil, itu mengendarai sepeda motornya di tengah hujan deras di jalan sekitar pegunungan. Dia kemudian tergelincir dari tebing dan jatuh dari ketinggian lebih dari 100 meter ke bebatuan di bawahnya. Namun, kecelakaan itu bukan lah satu-satunya cobaan yang harus dihadapi oleh Hongbo. Setelah kecelakaan itu, orang tuanya terlibat pertengkaran dan tanpa diduga, ayahnya memukul ibunya hingga tewas. Ayah Hongbo pun akhirnya harus meringkuk di penjara, dan meninggalkannya sendirian.
Ketika Nan membaca tentang cerita Hongbo di koran, dia langsung pergi untuk mengunjunginya. Merasa kasihan pada penderitaan yang dialami sahabat baiknya, Nan memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan merawat Hongbo. Kedekatan itu pun akhirnya membuat benih-benih cinta tumbuh di antara mereka. Nan kemudian menelepon orang tuanya untuk memberitahu mereka tentang hal itu, namun orang tua Nan tidak setuju dengan keputusan yang telah diambil oleh putri mereka. Hongbo kini berharap bahwa ayahnya bisa dibebaskan dari penjara untuk merawatnya, sehingga dia tidak perlu merepotkan Nan lagi.
Nenek 66 tahun gendong cucu sejauh 4 km Ke Sekolah
Banyak penduduk kota yang mengeluhkan ketepatan waktu dan kenyamanan pada moda transportasi umum, yang biasa mereka tumpangi ketika hendak pergi sekolah atau bekerja. Namun, mereka sering lupa bahwa sebenarnya mereka sangat beruntung karena dapat bepergian dengan berbagai jenis moda transportasi umum yang tersedia di daerah perkotaan. Beberapa anak yang tinggal di pinggiran kota atau pedesaan menghabiskan waktu berjam-jam dengan berjalan kaki, beberapa bahkan harus menyeberangi gunung atau sungai hanya untuk sampai ke sekolah.
Di suatu tempat di kota Yibin, Provinsi Szechuan, China, seorang nenek berusia 66 tahun berjalan sejauh empat kilometer – 2 km sekali jalan – setiap harinya untuk mengantar cucunya yang cacat ke sekolah. Tanpa lelah, dia menggendong cucunya sembari menyusuri jalan setapak di sekitar pegunungan. Dan, mereka tidak pernah terlambat ke sekolah!
Fang Qiu Mei, yang kini berusia 14 tahun itu, lahir dengan kondisi kaki yang tidak normal, yang membuatnya merasa sakit saat berdiri. Fang bahkan hanya mampu berdiri selama beberapa menit dengan bantuan kruk. Karena kondisinya, dia memiliki kesulitan berjalan, dan selalu membutuhkan bantuan untuk bergerak. Seperti dikutip dari ETtoday, ketika Fang baru berusia dua tahun, ayahnya meninggalkan rumah, dan ibunya menikah lagi. Fang kemudian diserahkan kepada kakek-neneknya untuk dirawat.
Sayangnya, nasib malang seperti tidak ingin pergi dari kehidupannya. Kakeknya yang sudah tua dan sakit-sakitan, membuat Fang dan kakeknya sangat tergantung pada neneknya. Jam masuk sekolah Fang adalah pukul 08.30. Agar tidak terlambat, nenek biasanya bangun pukul 05.00 dan kemudian mempersiapkan semua yang dibutuhkan Fang dan dirinya selama perjalanan. Nenek meninggalkan rumah bersama Fang tepat pukul 07.00.
Demi bisa melihat cucunya menuntut ilmu seperti anak sebayanya, nenek rela menggendong Fang selama hampir satu setengah jam. Dia bahkan harus menempuh rute sejauh sekitar dua kilometer untuk sampai ke sekolah Fang. Sahabat anehdidunia.com berjalan kaki sejauh 4 km di jalan-jalan pegunungan yang tidak rata tentu akan menjadi tugas yang sangat melelahkan, bahkan bagi seorang pemuda yang sehat sekalipun. Apalagi jika itu harus dilakukan oleh seorang nenek yang sudah berusia 66 tahun. Belum lagi, dia juga harus menggendong Fang, yang beratnya sekitar 40 kg, dan belum termasuk berat tas sekolah gadis itu.
Sang nenek rupanya telah melakukan rutinitas itu selama lima tahun terakhir, sehingga jika dihitung dia telah menempuh perjalanan sejauh lebih dari 4000 km. Sebab kondisi tubuh nenek yang tak lagi bugar, dia dan Fang akan berhenti untuk beristirahat setidaknya lima kali selama perjalanan. Dan, mereka selalu mengambil rute yang sama untuk kembali ke rumah. Kebesaran cintanya pada cucu semata wayangnya diungkapkan sang nenek dengan mengatakan bahwa dia selalu merasa khawatir dengan masa depan Fang, karena dia dan kakek sudah tua.
Nenek bahkan mengaku sering terbangun di tengah malam karena mimpi buruk yang terus berulang. Di mimpinya, sang nenek melihat Fang tergelincir ke dalam sebuah genangan air berlumpur dalam perjalanan ke sekolah dan dia mencoba untuk menarik cucunya, tetapi Fang tidak dapat meraih tangannya. Fang bukannya tidak tahu bahwa perjalanan tersebut tentu sangat melelahkan bagi neneknya yang sudah tua. Untuk itu, dia mencoba untuk menahan berat badannya dengan dua kruk bambu yang dibuat oleh neneknya. Kruk itu akan menahan tubuhnya saat sang nenek mulai merasa kelelahan.
Untuk membayar perjuangan neneknya, Fang berjanji untuk belajar lebih keras, agar upaya neneknya tidak sia-sia.Untungnya, setelah kisah mereka dipublikasikan ke media, pemerintah setempat telah memindahkan keluarga tersebut ke sebuah rumah yang berada di dekat sekolah Fang. Mereka juga menyiapkan sebuah kursi roda untuk Fang, sehingga dia bisa lebih leluasa bergerak, tanpa harus terus bergantung pada neneknya. Pemerintah juga telah meminta lembaga medis lokal untuk melihat apakah ada harapan untuk Fang bisa berjalan lagi.
Suami Istri Ini Rela Hidup 10 Ribu/Hari Demi Beli Rumah
Mengharukan, itu satu kata yang pas menggambarkan pasangan suami istri di China ini. Dalam empat tahun terakhir mereka menjalani hidup dengan biaya kurang dari 5 yuan (sekitar Rp 10.000) per hari demi membeli rumah. Dalam wawancara dengan stasiun televisi CCTV seperti dikutip AsiaOne, Rabu (11/2/2014), kedua pasangan ini bercerita tentang bagaimana mereka bisa bertemu. Keduanya merupakan buruh pabrik di daerah Baoding. Si wanita Hao Ranran, berasal dari Hebei, sedangkan si pria Qiu Guoying, berasal dari Mongolia. Keduanya jatuh hati setelah Hao terkesan akan sifat Qiu yang jujur dan pekerja keras.
Sayangnya, keluarga Hao tidak merestui hubungan keduanya karena Qui dianggap terlalu miskin. Sampai suatu hari Qui mencurahkan semua perasaannya terhadap Hao dan berniat bekerja sekeras mungkin demi membahagiakan calon istrinya itu. “Sejak saat itu, saya tahu saya tidak akan meninggalkan dia,” kata Hao dalam wawancara tersebut.
Keduanya pun sepakat untuk menikah. Karena tidak punya uang untuk menikah, mereka pun terpaksa meminjam gaun pengantin yang dipakai untuk pernikahan. Meski tak punya banyak uang, Qui tetap bertekad menafkahi dan memberinya istrinya rumah yang layak. Ia bersumpah akan membelikan rumah tak peduli ia harus bekerja banting tulang
Sang istri pun menyambut niat baik Qui dan ikut berjanji tidak akan jajan, makan di luar maupun pergi berlibur. Setelah menyisihkan uang untuk bayar sewa, tabungan, dan lain-lain, dua sejoli ini hanya punya sisa uang sekitar 5 yuan saja untuk bertahan hidup. Qiu pun bekerja keras tanpa henti, sementara Hao berhemat habis-habisan mengatur uang rumah tangga. Tak jarang Hao harus meminta sayuran bekas yang tidak laku dari supermarket setempat supaya menghemat uang. Dana yang dibutuhkan untuk uang muka rumah mereka itu sekitar 100.000 yuan (Rp 200 juta), dan mereka bisa menabung sekitar 3.500 yuan (Rp 7 juta) tiap bulan.
Setelah empat tahun lebih akhirnya dana untuk uang muka rumah terkumpul juga. Tapi ceritanya tak berhenti sampai di situ, rumah baru tidak bisa langsung ditempati dan harus ada sedikit perombakan. Qui memutuskan untuk melakukan renovasi sendiri demi menghemat uang. Bahkan saat pindahan pun pasangan ini meminta bantuan dari teman-temannya untuk mengangkut perabotan ke dalam rumah. Hati Qui tersentuh atas ketabahan sang istri yang mau melalui suka duka bersama. Qui pun berniat memberikannya hadiah, yaitu foto-foto mereka berdua sejak pertama kali bertemu yang disusun dalam beberapa bingkai kecil.
Setiap fotonya ia sertakan kata-kata yang menyentuh hati istrinya. Qui juga meminta maaf kepada istrinya karena harus menunggu lama sebelum ia bisa membelikan rumah. Kunci rumah tersebut Qui serahkan kepada istrinya dalam amplop merah berbentuk hati. Sampai saat ini Qui dan Hao sudah bisa menjalani hidup bahagia bersama di dalam rumah hasil perjuangan keras mereka berdua.

5 Bule yang Berprofesi Tak Lazim di Indonesia

Indonesia dikenal kaya akan keindahan alam dan budaya. Tak heran jika selama ini banyak dilirik para wisatawan mancanegara bahkan tak sedikit dari para warga asing yang ingin mengadu nasib bahkan menetap lama di Indonesia.

Namun, kelima ekspatriat (bule) di bawah ini mempunyai cara yang unik cenderung tidak lazim yang mereka lakukan selama berada di Indonesia. Alasan mereka untuk tinggal di Indonesia karena untuk mencari uang serta mengais rejeki bahkan beberapa diantaranya karena mengaku cinta pada tanah air.

Jika dirunut dari asal mereka, Indonesia tidak lebih maju dari negaranya. Namun, menariknya kelima ekspatriat ini rela memilih pekerjaan yang tidak lazim bagi seorang warga asing. Kegigihan dan perjuangan kelima pria ini patut dicontoh

Quote:1.Sergei Litvinov, Penjual Es Jus di Solo

Pria asal rusia harus bertahan hidup dengan mencari uang sebagai pedagang es jus di salah satu sudut Kota Solo. Sergei bukan pria asing biasa yang datang ke Indonesia. Ia merupakan pemain sepakbola profesional yang bergabung di PSLS Lhokseumawe dan berlaga di kompetisi Indonesia Premier League sejak 2013. Sialnya selama membela PSLS mulai dari Maret hingga Desember 2013, ia belum menerima gaji. Sebelumnya, Sergei pernah memperkuat tim Solo FC do Indonesia Premier League pada tahun 2011.

Piutang Sergei pada PSLS Lhokseumawe mencapai Rp 124 juta. Tak ada kejelasan kapan kesebelasan itu akan membayarnya. Tanpa gaji, Sergei kesulitan makan, dan tidak bisa pulang ke kampung halamannya karena terpentok biaya bahkan kini ia juga pusing karena sang istri meminta cerai.

Kini Sergei kembali ke kota Solo dan tak lagi merumput. Selain tak punya pekerjaan, Sergei juga tak membawa uang sebab gajinya selama membela PSLS belum juga cair. Untuk bertahan hidup, Sergei melakukan pekerjaan serabutan termasuk berjualan jus di kedai jus. Selain itu, ia ikut membuat kanopi untuk rumah di kawasan Banyuanyar.

Ia mengaku membutuhkan uang sebesar Rp20 juta untuk bisa pulang ke Rusia. Selama ini mengaku kesulitan mengumpulkan uang karena digunakan untuk keperluan hidup sehari-hari.

2. Fabrizio Urzo, Pedagang Gorengan di Surabaya

Gorengan sudah menjadi makanan ringan yang tak asing bagi lidah orang Indonesia, namun ada yang berbeda dengan gorengan yang berada di Jalan Manyar, Kertoarjo, Surabaya. Gorengan yang biasa dijual oleh orang pribumi kini diracik oleh pria asal Italia bernama Fabrizio Urzo.

Demi mengais rejeki di negara orang, Fabrizio memilih menjual gorengan di pinggir jalan utama di Kota Kertoardjo ini karena di wilayah tersebut ramai dilewati kendaraan melintas.

Pria asal Italia ini sudah 10 tahun tinggal di Indonesia. Siapa sangka dulunya ia bekerja sebagai General Manager salah satu restoran Italia di jalan Imam Bonjol, Surabaya. Namun sejak awal 2014, dirinya memutuskan berhenti bekerja meski posisi pekerjaannya sudah tinggi, ia lebih memilih berwirausaha sendiri dengan berdagang gorengan.

Gorengan yang ia jual bermacam-macam dan terhitung harganya cukup terjangkau. Terbukti, gorengan milik Fabrizio selalu ramai dikunjungi para pembeli. Selain membeli gorengan, pembeli juga dapat menikmati kopi robusta yang bisa dipesan selagi menunggu gorengan matang. Maklum, gorengan bikinan Fabrizio cepat sekali habis. Meski memiliki riwayat sebagai bos restoran, Fabrizio tidak merasa malu jika sekarang profesinya adalah seorang pedagang gorengan.

3. Glen, Penjual Burger dan Donat di Purwokerto

Burger dan Donat dikenal sebagai makanan ringan khas orang barat, namuna, bagaimana jadinya jika yang berjualan burger dan donat di pasar tradisional benar-benar orang barat? Hal itu yang terjadi di Purwokerto, Jawa Tengah.

Demi memenuhi biaya berobat istrinya, Purwita yang terserang penyakit kanker serviks, pria asal Amerika Serikat ini rela berjualan burger dan donat bikinan sendiri yang berlokasi di pinggir pasar. Hal ini juga sebagai wujud cinta kasihnya terhadap istri yang dicintainya.

Glen tinggal di Kelurahan Kober, Kecamatan Purwokerto, Kabupaten Banyumas, harus berjualan burger dan kue donat setiap hari. Glen memang harus bekerja keras membantu istrinya berjualan burger dan donat demi mengumpulkan uang untuk berobat.

Sejak istrinya divonis mengidap kanker serviks, Glen bertambah giat dan semangat untuk berjualan. Sebelumnya Glen bekerja sebagai tenaga pendidik di salah satu lembaga pendidikan swasta. Namun kini dia harus bekerja sebagai pedagang burger dan donat.

Glen juga dibantu salah satu anaknya, Jasmine. Glen dan Purwita berjualan burger dan donat sejak pukul 16.00-20.00 WIB. Untuk burger mereka menjualnya mulai harga Rp7.500-Rp10 ribu. Sedangkan untuk donat mereka menjualnya dengan harga Rp2.500-Rp3.500.

Yang unik, Glen berjualan burger dan donat ini sambil memasang papan bertuliskan ‘Jual Burger dan Donat, Mohon Doakan Istriku yang Sakit’.

4. Andre Graff, Penggali Sumur di Sumba Barat

Pria bernama Andre Graff, seorang warga Prancis, memilih meninggalkan segala kemapanan hidup di negerinya untuk mengembara dan menetap di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. Ini demi menjalani kehidupan sebagai tukang penggali sumur bagi warga yang hidupnya terdera kekeringan berkepanjangan.

Pria yang akrab disapa Andre ‘Sumur’ ini menjadi salah satu ‘pahlawan’ bagi warga di tempat tinggalnya, Lamboya, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur karena perjuangannya mengadakan sumur gali bagi warga Sumba dan Sabu Raijua.

Keputusan pergi dari Prancis dan akhirnya tinggal di bawah langit Sumba Barat, menurut Graff, memiliki rentetan kisah sejarah tersendiri.

Graff berlatar belakang seorang pilot balon udara. Selama puluhan tahun ia juga memimpin perusahaan balon udara di Perancis untuk pariwisata. Dia suka menerbangkan balon udara melewati Pegunungan Alpen.

Graff dan beberapa temannya memilih berlibur ke Bali. Setiba di Pulau Dewata dan melewatkan hari-hari dalam atmosfir budaya serta alam lingkungan yang eksotis, mereka menyewa sebuah kapal dan melakukan perjalanan wisata hingga ke kepulauan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kepulauan Riung, Sabu Raijua, Sumba, dan Lembata, menjadi persinggahan wisata Andre dan teman-temannya.

Tertarik dengan kehidupan penduduk lokal, Andre langsung memutuskan tinggal sejenak untuk mengabadikan aktivitas keseharian warga dalam menjalankan roda kehidupan menggunakan kamera. Namun sejak Juni 2005, ketika dia singgah di Sabu Raijua dan menetap di kampung adat Ledetadu. Ia melihat bahwa warga di kampung tersebut kesulitan air bersih. Setiap hari mereka harus berjalan 2 kilometer untuk mengambil air sumur di dataran rendah. Ia pun merasa prihatin, lalu bertemu dengan Pastor Frans Lakner, SJ yang sudah 40 tahun mengabdi di Sabu. Dia mengajari saya bagaimana mencari air tanah, menggali sumur, dan membuat gorong-gorong dari beton agar air tak terkontaminasi lumpur. Gorong-gorong itu bertahan sampai bertahun-tahun kemudian.

Berkat air sumur, warga bisa menanam sayur, jagung, buah, dan umbi-umbian di sekitar rumah. Mereka bisa menjual hasil kebunnya ke pasar untuk membeli beras dan kebutuhan lain. Akhir 2007, ia memutuskan pindah ke Lamboya, Sumba Barat, setelah warga Sabu Raijua bisa membuat sumur sendiri. Ia tinggal dengan Rato (Kepala Suku) Kampung Waru Wora, Desa Patijala Bawa, Lamboya. Di sini, ia membentuk kelompok pemuda beranggota sembilan orang untuk membuat gorong-gorong yang disebut GGWW (Gorong-gorong Waru Wora).

Selain pembuatan sumur, Andre juga berkeinginan membuat filtrasi air di Lamboya, agar masyarakat bisa langsung menikmati air sumur tanpa memasaknya lebih dulu. Selain hemat waktu, adanya filtrasi juga mengurangi kerusakan dan pencemaran lingkungan karena masyarakat tidak terlalu banyak masak menggunakan kayu bakar.

Andre berharap pemerintah memiliki kepedulian terhadap langkah-langkah yang telah dilakukan terhadap masyarakat, agar selanjutnya bisa saling berkolaborasi ketika melakukan program kegiatan. Salut!

5. Gavin Birch, Pemungut Sampah di Lombok

Sama halnya dengan Andre Graff, hal luar biasa juga dilakukan oleh Gavin Birch, pria asal Perth, Australia. Selama 24 tahun, dia bekerja membersihkan sampah di Pantai Senggigi, Lombok Barat tanpa pamrih.

Bahkan, lelaki berusia lebih dari 70 tahun ini telah berganti nama menjadi Khusen Abdullah. Kini ia dikenal sebagai turis pemulung di daerah Senggigi.

Meski warga Lombok menyebut dirinya sebagai bule gila karena pekerjaannya yang bergumul dengan sampah, tapi Khusen tidak peduli dengan penilaian orang. Yang jelas, dia yakin dengan perjuangannya untuk mengajak orang hidup bersih.

Khusen pertama kali menginjakkan kakinya di Pulau Lombok pada tahun 1986 sebagai turis. Niatnya untuk berlibur dan menikmati keindahan alam di Lombok berujung kekecewaan karena yang dilihatnya bukan pantai biru nan indah, namun tumpukan sampah. Bahkan di Pantai Ampenan, yang menyimpan potensi wisata, penuh dengan kotoran manusia.

Namun, Khusen tak langsung beranjak dan pergi menjauh. Dia mengaku yakin pantai yang disinggahinya saat itu akan berubah menjadi indah jika masyarakat peduli kebersihan. Sejak itu lah Khusein bergerak sendiri, memungut sampah di sekitar pantai dan mengumpulkannya. Tindakannya menarik perhatian.

Berpredikat sebagai ‘turis gila’ atau ‘pemulung’ tidak membuat Khusen menjadi rendah diri. Meski, di negeri asalnya dia adalah pengusaha rumah makan di Perth dan Dampier Broome, Australia. Saat itu Khusein juga memiliki rumah singgah di Bali yang dibeli atas nama istri pertamanya, yang asli Jakarta.

Khusen tak sekedar memungut sampah. Dia mengolahnya. Khusen memiliki teknik tersendiri untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos. Sedangkan limbah plastik yang dikumpulkan dihancurkan dengan mesin penghancur yang dibelinya dengan dana sendiri.

Program lingkungan bersih yang diterapkannya di Indonesia merupakan program yang diadopsi dari gerakan bersih di Australia yang dikenal sebagai ‘Keep Australia Beautiful’. Tahun 1996 melalui Yayasan Sosial Cinta Lingkungan, Khusein menerapkan programnya di Kecamatan Kediri Kabupaten Lombok Barat.

Kini di usia senjanya Khusein dibantu oleh seorang pemuda bernama Edi Bakin yang mulai bergerak di kampung-kampung untuk mengangkuti sampah dari perkampungan. Kini sepanjang pantai yang berada disekitar tempat tinggal Khusein di Senggigi tampak bersih dari sampah, baik dedaunan apalagi sampah plastik.  

sumber

Kategori:revo Tag:, , , ,

Gila, Nenek Tua Ini Kendarai Nissan GT-R Untuk Ke Supermarket

Gila, Nenek Tua Ini Kendarai Nissan GT-R Untuk Ke Supermarket
   

Kaum wanita kebanyakan menyukai kendaraan yang mudah dikendarai. Namun nenek tua yang satu ini benar-benar menantang arus dan tidak biasa, sebab dia suka berbelanja dengan supercar Nissan GT-R.

Kalau kebanyakan para pemilik Nissan GT-R hanya menggunakan mobil kencang ini di akhir pekan atau untuk balapan (baik liar maupun resmi), maka nenek ini sering mengendarainya untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.

Walaupun tidak digunakan untuk mengebut, menggunakan sebuah Nissan GT-R oleh seorang nenek tentu menarik banyak perhatian.

 

Nissan GT-R milik nenek tua

Sang nenek tua ketika keluar dari supercarnya untuk berbelanja

Nissan GT-R bukanlah sebuah mobil sembarangan. Pada GT-R terbaru dilengkapi mesin 3.8L VR38DETT TwinTurbo V6 yang sudah ada peningkatan di sisi tenaga.

GT-R 2014 mampu mengeluarkan tenaga hingga 550 hp, lebih besar 5 hp dari generasi sebelumnya. Torsi maksimumnya juga mengalami peningkatan hingga mencapai 632 Nm, lebih besar 5 Nm dari generasi sebelumnya.

Dengan mesin tersebut, GT-R mampu melesat dari diam sampai 100 km/jam dalam waktu hanya 2,7 detik saja atau setara dengan sebuah Lamborghini Aventador. Padahal kebanyakan supercar masih sedikit yang bisa berakselerasi di bawah angka 3 detik. Angka tadi juga 0,1 detik lebih baik dibanding GT-R versi sebelumnya.

(Auto Evolution)

Kategori:revo Tag:, ,

Kisah Agen KGB Soviet Yang Seksi Ingin Memfitnah Bung Karno Tapi Malah Dikadali Bung Karno

Kisah Agen KGB Soviet Yang Seksi Ingin Memfitnah Bung Karno Tapi Malah Dikadali Bung Karno
   

Kasus penyadapan terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan sejumlah pejabat membuat hubungan Indonesia dan Australia menghangat beberapa waktu lalu. Presiden SBY langsung menghentikan pertukaran informasi, latihan militer dan kerja sama di bidang people smuggling.

Sadap menyadap sejatinya merupakan kegiatan intelijen. Dunia intelijen dan spionase penuh intrik, tipu daya dan strategi. Spionase atau mata-mata juga tak bisa dipisahkan dari para agen rahasia yang cantik.

Saat perang dingin di era 1960an, Uni Soviet dan Blok Timur terkenal dengan mata-mata cantik berkode Burung Layang-Layang. Para wanita cantik ini menggoda diplomat asing hingga naik ke atas ranjang. Si korban tak sadar, wanita yang sangat memikat itu agen rahasia.

Para pria baru sadar saat beberapa hari kemudian video atau foto rekaman mesum mereka dikirim melalui surat khusus. Plus permintaan’ untuk bekerja sama atau video mesum itu akan disebarluaskan.

Nah, Presiden Soekarno pun pernah hampir jadi korban salah satu mata-mata cantik ini. Cerita ini ditulis Roger Boar dan Nigel Blundell dalam buku The World’s Greatest Spies and Spymasters.

Zaman Orde Lama, hubungan Soekarno dan Rusia sangat dekat. Presiden pertama ini cukup sering berkunjung ke Rusia dan negara-negara Uni Soviet. Suatu hari para petinggi KGB mencoba memeras Soekarno .

“Presiden Indonesia Achmed Soekarno mempunyai reputasi dunia sebagai pengagum wanita, sehingga pantas saja KGB mencoba memfitnahnya dengan perangkap seks ketika ia berkunjung ke Moskow,” tulis Boar dan Blundell.

Saat itu kecantikan wanita-wanita Rusia juga sudah tersohor ke seluruh dunia. Seorang wanita yang luar biasa cantik dan seksi dipilih untuk melayani Soekarno . Tentu saja kemesraan mereka direkam oleh KGB.

Para agen KKB pun mencoba menggertak Soekarno dengan memperlihatkan film rekaman mereka. Tapi jawaban Soekarno membuat para agen terperangah.

“Bisa berikan lagi beberapa copy? Rakyat saya pasti akan benar-benar bangga melihat saya!” jawab Soekarno santai.

Para agen KGB pun tak jadi memeras Soekarno . Mereka lupa Soekarno tak bisa digertak dengan cara apa pun.

(Merdeka)

Tukang Sate Penghina Jokowi Disiapkan Pengacara Oleh Fadli Zon   

Tukang Sate Penghina Jokowi Disiapkan Pengacara Oleh Fadli Zon

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Fadli Zon, berjanji  membantu  Muhammad Arsyad dan keluarganya untuk menjalani proses hukum yang sedang  dihadapi. Bantuan itu berupa pendampingan pengacara kepada Arsyad. “Kami berikan secara gratis untuk membantu menyelesaikan permasalahan sampai tuntas,” kata Fadli  di kediaman Arsyad, Ciracas, Jakarta Timur, Jumat, 31 Oktober 2014.

 

Ibu Arsyad, Mursyidah, mengaku telah menyiapkan kuasa hukum sebelum  Fadli Zon memberikan tawaran itu. Meski demikian, Mursyidah berharap bantuan Fadli  dapat mempercepat kebebasan putra pertamanya itu. “Ya pengennya cepat bebas, itu saja,” kata Mursyidah dengan nada datar dan tatapan linglung.

 

Saat ini, Mursyidah beserta sang suami, Syafrudin, menuju ke Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia. Mereka ingin mengunjungi putranya karena dikabarkan sakit. “Ingin nengok, mumpung jam besuk. Kemarin katanya sakit,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

 

Polisi menangkap Arsyad pada 23 Oktober lalu.   Penangkapan itu terkait dengan tuduhan penghinaan yang dilakukan Arsyad terhadap Joko Widodo saat masa pemilu bergulir. Arsyad memasang gambar-gambar cabul di dalam akun facebook-nya dan mengganti wajah di gambar itu dengan foto Jokowi.

Polisi menetapkan Arsyad sebagai tersangka dan menjerat pemuda itu menggunakan  Undang-Undang ITE dan UU pornografi. Ancaman hukuman untuk Arsyad mencapai 10 tahun penjara.

(Tempo)

Gila, Laptop Mahal Ini Dibanting Dan Diinjak Di Indocomtech 2014 Namun Tetap Berfungsi Mulus  

Gila, Laptop Mahal Ini Dibanting dan Diinjak Di Indocomtech 2014 Namun Tetap Berfungsi Mulus
 

Y.C. Tsai, direktur Kantor Dagang dan Ekonomi Taipei, berbicara sambil dua mengayun-ayunkan sebuah laptop tipis. Dia lalu mengundang seorang pengunjung untuk naik bersama ke panggung. Sesaat kemudian, laptop Acer Aspire S7 dalam genggaman Tsai itu dijatuhkan dengan sengaja.

“Brakk!” bunyinya ketika mencium lantai panggung. Sejumlah pengunjung lain berteriak kaget, tapi Tsai belum selesai. “Sekarang, ayo injak laptop itu!” seru dia kepada orang yang diajaknya ke ikut serta dalam “penyiksaan”. Sebanyak dua kali sepatu mendarat di bagian punggung layar laptop.

Perangkat “malang” itu kemudian diambil kembali oleh Tsai, lalu dinyalakan di depan hadirin. “Nah, masih baik-baik saja kan?” ujarnya riang. Acer Aspire S7 di tangan Tsai memang terlihat masih menampilkan antarmuka Windows 8 di layar.

 

Y.C. Tsai (berbatik) membanting dan menginjak laptop di Indocomtech 2014, Jakarta.

“Acer Aspire S7 dilapis material khusus Gorilla Glass bikinan Corning. Eksteriornya pun dirancang sangat kuat sehingga melindungi komponen internal,” ujar Tsai menjelaskan alasan di balik ketangguhan laptop tersebut.

Di samping itu, perangkat ini memang menggunakan deretan hardware yang tangguh dan tahan guncangan, seperti media penyimpanan solid state drive atau SSD.

(Kompas)

Ahmad Dhani Ingin Bentuk Kementerian Tandingan, Ini Alasannya

Ahmad Dhani Ingin Bentuk Kementerian Tandingan, Ini Alasannya
   

Ahmad Dhani ingin membentuk kementerian tandingan Kabinet Kerja yang dibentuk Presiden Jokowi. Apa alasannya?

Ia mengaku ingin membentuk kementrian industri kreatif dan seni karena ia dan beberapa musisi merasa kementrian yang dibentuk oleh Presiden Jokowi tak mengakomodasi industri tersebut.

“Kemarin saya didatangi beberapa musisi, nggak bisa sebut namanya siapa, dan salah satu anggota DPR yang juga artis. Mereka mengatakan bahwa ternyata industri kreatif dan seni tidak jadi bagian penting pemerintahan sekarang,” ujar Dhani saat menggelar jumpa pers di kediamannya, Pondok Pinang, Jakarta Selatan, Jumat 31 Oktober 2014.

“Dengan tidak adanya kementerian seni dan industri kreatif, teman yang kemarin berkunjung, kami merasa perlu membuat konsorsium,” lanjutnya.

Dhani pun membandingkan pemerintah Indonesia dengan pemerintah Korea Selatan yang sangat mendukung industri musik K-POP.

“Konsorsium ini tugasnya untuk memberikan support untuk pelaku industri kreatif Indonesia supaya bisa go international seperti pemerintah Korea yang mensukseskan K-Pop di dunia,” tutur Dhani.

Dhani kemudian juga menyebut Agnes Monica sebagai contoh kasus. Menurut dia, Agnes harus kerja keras sendiri agar bisa go international“.

 

Agnes Mo itu nggak dibantu pemerintah. Pemerintah nggak urus, entah cuek atau nggak ngerti. Seyogyanya pemerintah membantu, sesuai janji Mas Joko saat debat. Nyatanya di kabinetnya Mas Joko nggak ada kementerian itu,” ucapnya.

 

Dhani menegaskan, ‘kementerian bayangan’ yang digagaskan itu membutuhkan dana yang cukup besar. Oleh karena itu, ia menggaet pengusaha-pengusaha untuk memberikan bantuan modal.
Dana yang besar itu nantinya untuk memodali musisi atau seniman agar bisa bekerjasama dengan produser-produser besar internasional. Seperti diketahui, beberapa grup K-POP menggaet produser top Amerika Serikat untuk membuat album.

“Dananya mungkin 100 Miliar untuk operasional, kalau di bawah itu cuma cukup untuk dana karyawan saja, nggak bisa buat untuk rekaman di luar negeri,” tandasnya.

sumber

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 319 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: