Arsip

Posts Tagged ‘pemimpin’

Menghadapi Pemimpin yang Pilih Kasih

Hai…‘pa kabar calon pemimpin?! Kalo edisi yang lalu kita sudah belajar gimana cara ngatasin keputusan yang salah, nah…kali ini kita belajar ngadepin pemimpin yang suka pilih kasih. Dalam kepemimpinan, nggak menutup kemungkinan akan ada seorang pemimpin yang bersikap pilih kasih. Dimana seorang pemimpin nggak hanya sekedar memiliki relasi yang dekat dengan anggota-anggota tertentu, tetapi juga meng-“anak emas”-kan mereka.

Biasanya, si pemimpin menunjukkan sikap sangat mengasihi, sangat memperhatikan, memberikan fasilitas lebih, memberikan tekanan yang berbeda, dan respon yang berbeda, ketika mereka melakukan kesalahan, atau nggak menyelesaikan tanggung jawabnya, si pemimpin memberikan perlakuan yang berbeda dengan anggota-anggota tertentu, bahkan seringkali mereka “dibiarkan” seakan-akan berlaku memiliki “otoritas” lebih, sehingga turut mengatur yang lain.

Nah, kalo udah gini gak menutup kemungkinan bakal timbul iri hati dan saling membenci satu dengan yang lain. So, itu membuat kepemimpinannya menjadi lemah. Pernah mengalami kejadian seperti ini? Trus apa yang harus dilakukan kalo Boomers nemuin keadaan yang seperti ini, entah di suatu organisasi pelayanan, ato sekolah maupun kampusmu. Berikut ini ada beberapa tips yang harus kita lakukan…

  1. Cek perasaan kita

– adakah perasaan sakit hati?

– adakah perasaan benci?

– adakah perasaan iri hati?

Jika ada, hal ini harus dibereskan terlebih dahulu.

  1. Tetap menghormati pemimpin

Apapun yang terjadi, apapun yang dia perbuat, tetaplah memiliki rasa hormat kepada pemimpin kita.

  1. Bangunlah komunikasi

Belajarlah membangun hubungan dan komunikasi yang baik dengan pemimpin, bukan sebagai upaya untuk “menjilat”, melainkan agar pemimpin tetap memiliki perspektif yang obyektif dan benar dalam mengenal anggotanya yang lain.

  1. Cek kesediaan kita

– apakah kita tetap bersedia memberi diri ketika dibutuhkan?

– apakah kita tetap mau “belain” pemimpin, khususnya ketika dia “sendiri”?

– apakah kita tetap bersedia bekerjasama dengan semua anggota, termasuk mereka yang di-“anak emas”-kan?

Kesediaan diri harus tetap kita lakukan dengan baik, karena seringkali pemimpin memiliki “anak emas”, juga dikarenakan dia nggak melihat orang-orang yang lain bersedia melakukan apa yang diperintahkannya.

  1. Cek pekerjaan kita

– apakah kita sudah bekerja dengan baik?

– apakah kita sudah menyelesaikan pekerjaan kita tepat waktu

– apakah kita sudah menyelesaikan pekerjaan kita sesuai dengan yang diharapkan pemimpin?

  1. Jadilah pengikut yang baik

Pengikut yang baik selalu bersama-sama dengan pemimpin dan siap sedia ketika dibutuhkan.

  1. Selesaikan apa yang menjadi tanggung jawabmu

Apapun yang menjadi tanggung jawabmu, selesaikan dengan baik, bahkan melebihi apa yang diharapkan oleh pemimpin, serta berpikirlah untuk mengembangkannya.

Boomers…apapun yang pemimpin kita lakukan, sekalipun itu pilih kasih dan nggak bersikap adil, nggak usah protes. Lakukan aja bagianmu dengan maksimal. Tunjukin kalo kamu punya sikap yang  fair dan bisa diandalin, sekalipun bukan anak emasnya. Ok?! (*/Elder/Nv)

 

sumber

Tanda-Tanda Kamu Pemimpin Muda yang Luar Biasa

19 September 2014 1 komentar

Kemampuan memimpin adalah salah satu kualitas yang paling dibutuhkan anak muda. Dengan kualitas ini, kita akan bisa mengamankan respek dari mereka yang lebih tua. Kita juga lebih mudah mewujudkan cita-cita, serta menyemai pengaruh baik pada yang sebaya atau lebih muda.

Tiap-tiap dari kita punya pengalaman menjadi pemimpin sendiri-sendiri, baik di tim kecil hingga proyek atau organisasi yang besar. Nah, ada ciri-cirinya lho kalau kamu termasuk pemimpin muda yang luar biasa. Apa saja?

 

1. Kamu memiliki visi

Kamu punya visi

Setiap pemimpin yang baik harus memiliki visi. Hal-hal apa yang ingin diraihnya dengan memimpin tim atau organisasi? Mau dibawa kemana orang-orang, lembaga, atau proyek yang dipimpinnya?

Suatu organisasi atau proyek memang harus punya tujuan jelas. Tujuan ini bisa berupa profit, bisa juga berupa dampak yang ingin kalian berikan pada masyarakat. Ketika sudah tahu apa tujuan lembaga yang dipimpinnya itu, seorang pemimpin pun bisa mengetahui apa saja yang mesti dilakukannya agar lembaga ini mampu mewujudkannya.

Kalau kamu pemimpin yang luar biasa, visi pribadimu akan selaras dengan visi lembaga yang kamu pimpin. Dengan ini, baik kamu maupun lembaga yang kamu pimpin akan bisa saling membangun.

 

 

2. Kamu percaya diri

Kamu tangguh dan percaya diri

Kepercayaan dirimu terlihat terutama saat kamu mengambil keputusan. Kamu tidak ragu menentukan sesuatu, bahkan keputusan sulit sekalipun, jika kamu yakin itu benar.

Kepercayaan diri ini berguna ketika kamu menghadapi orang baru. Kamu tak akan mudah terintimidasi, seberapa tak ramahnya pun orang itu terhadapmu. Ketika tak diberi apresiasi oleh lingkungan pun, kamu bisa tetap santai. Yang terpenting bagimu adalah kecintaan dan keyakinan terhadap apa yang kamu lakukan sekarang.

 

 

3. Kamu tetap bisa bercanda!

Kamu tetap bisa bercanda!

Meskipun karaktermu kuat dan menonjol, kamu tidak akan membuat anggota tim yang kamu pimpin ketakutan. Memang, mereka akan segan dan menjaga tingkah laku di depanmu. Tapi mereka juga bisa nyaman bercerita dan bercanda bersamamu.

Bekerja denganmu tidak harus selalu dibawa tegang. Kalian juga bisa tertawa dan bersenang-senang. Tak hanya rekan sekerja, kalian jugalah teman yang sebenarnya.

 

 

4. Kamu tahu makna kerjasama

Kerjakan bareng-bareng

Salah satu tanda pemimpin yang baik adalah tahu mana hal yang harus dia kerjakan sendiri dan mana yang lebih baik diberikannya pada anggota tim. Dengan mendelegasikan tugas, kamu bisa memaksimalkan kemampuan timmu. Tugas tim pun jadi lebih cepat kelar.

Banyak pemimpin muda yang gagal mendelegasikan tugas kepada tim. Semua hal ingin mereka kerjakan sendiri saja. Bisa karena mereka tak mudah percaya orang lain, bisa juga karena mereka ingin diakui sebagai orang yang paling berkontribusi dalam tim. Tapi kamu tidak begitu. Kamu tahu bahwa beban kerja tim memang tidak seharusnya dilakukan sendiri. Lebih baik tetap “tidak kelihatan” dan rendah hati, asal organisasimu bisa berkembang.

 

 

5. Caramu memperlakukan orang berbeda-beda, tergantung latar belakang mereka

Perlakukan orang sesuai latar belakangnya

Sebagai pemimpin luar biasa, kamu harus punya kemampuan interpersonal yang baik. Tidak semua orang bisa kamu perlakukan sama. Perlakukan seorang individu sesuai karakter dan latar belakangnya.

Misalnya, tidak semua orang bisa kamu tegur di depan anggota tim yang lain. Sebaliknya, ada juga orang yang harus “digembleng” berkali-kali sebelum bisa mengubah kebiasaan buruknya. Ada orang yang butuh motivasi konstan agar bisa maksimal, ada juga yang justru tidak boleh dipuji tinggi-tinggi. Pemimpin yang luar biasa akan bisa mengidentifikasi hal-hal halus seperti ini. Yang tak kalah penting lagi, dia bisa membuat orang dengan karakter dan budaya berbeda-beda bekerja dengan sinergis.

 

 

6. Kedisiplinan dan kerja kerasmu menonjol

Anggia Shitta Awanda/Della Destiara Haris

Mana ada pemimpin sukses yang malas-malasan? Semua anak muda yang berhasil pasti meraih momen manisnya karena disiplin yang tinggi. Mereka tahu haram hukumnya bersantai-santai sebelum memang waktunya. Jika ada kesalahan kecil sedikit saja, mereka akan “gatal” dan langsung ingin menyempurnakan pekerjaannya. Mereka akan selalu bertanya pada diri sendiri: apa lagi yang bisa diperbaiki?

Kualitas ini membuat mereka jadi figur yang inspiratif. Mencontohkan dengan tindakan dan bukan cuma omongan, mereka memacu semangat tak hanya diri sendiri saja, namun juga seluruh rekan yang mereka pimpin.

 

 

7. Kamu berpikiran positif

Kamu berpikiran positif

Jangan dikira memimpin organisasi itu tak banyak cobaannya. Dari urusan mencari dana, mengatur interaksi satu anggota dengan yang lain, membangun reputasi: tiap waktu akan ada saja kendala.

Pemimpin muda yang luar biasa akan berusaha berpikiran positif. Ketika masalah menerpa, dia akan bisa tenang dan percaya: setiap masalah bisa dicarikan jalan keluarnya.

 

8. Kamu berani mengambil risiko

kamu harus berani ambil risiko

Sebuah organisasi bisa maju karena berani menjabani hal-hal baru. Tidak ada organisasi yang bisa melakukannya kalau tak berani mengambil risiko. Pemimpin yang baik tahu kalau dia dan timnya tak boleh bergerak di zona yang itu-itu saja.

Tentu berani mengambil risiko tidak sama dengan sembrono. Kalau kamu pemimpin yang baik, kamu akan mampu mengukur risiko paling besar apa yang bisa diambil tim-mu, kemudian membandingkan apa yang akan kalian dapatkan jika usaha mengambil risiko itu berhasil. Dari situ, kamu akan mampu menentukan apa yang memang seharusnya kalian lakukan.

 

 

9. Musyawarah? Nggak masalah!

Musyawarah? Nggak masalah!

Tinggal di Indonesia, kamu harus mampu menghormati budaya yang ada disini. Dalam mengambil keputusan, kamu nggak boleh semena-mena. Kamu harus bermusyawarah.

Dengan bermusyawarah, kesalahpahaman dalam tim bisa diminimalisir. Semua orang bisa mendengarkan apa yang orang lain pikirkan, dan semua individu berlatih untuk berpendapat. Pada akhirnya, semua dari kita mendapat kesempatan untuk mengembangkan diri. Dan apa lagi yang lebih bisa membuktikan kepiawaianmu sebagai pemimpin, selain fakta bahwa kamu mampu mengembangkan seluruh anggota timmu?

 

Menjadi pemimpin luar biasa bukan hal yang mudah. Kalau kamu sudah termasuk salah satu di antara mereka, selamat, ya!

 

sumber

“Siapa Pemimpin” Tidak Lebih Penting Dari “Dengan Apa Dia Memimpin”

“Siapa Pemimpin” Tidak Lebih Penting Dari “Dengan Apa Dia Memimpin”

Allah telah menurunkan agama Islam sebagai agama yang benar, sempurna dan paripurna. Mengatur segala hal termasuk di dalamnya adalah urusan kepemimpinan dan sistem kepemimpinan, tentang siapa yang layak menjadi pemimpin dan dengan apa dia harus memimpin.

Bila kita melihat di dalam Kitabullah dan Sunnah, ada beberapa syarat dan panduan bagi seseorang agar layak menjadi seorang pemimpin. Disingkat menjadi 7 syarat yaitu, Islam, laki-laki, balig, berakal, merdeka (bukan budak), adil (bukan orang fasik) serta mampu memikul tugas-tugas dan tanggung jawab kepala negara.

Allah misalnya dengan tegas menggariskan bahwa tidak boleh bagi kaum Muslim memiliki pemimpin seorang selain Muslim, karena pasti akan terjadi mudharat di dunia.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin atau peindung) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) (QS An-Nisaa [4]: 144)

Dan tentu banyak lagi dalil lain di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang merinci bagaimana syarat dan keutamaan seorang pemimpin di dalam Islam. Tidak hanya memberikan batasan, Islam pun memberikan contoh nyata pemimpin amanah ini semisal Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Khalifah Umar bin Khaththab, Khalifah Utsman bin Affan, Khalifah Ali bin Abu Thalib dan tentu saja Rasulullah Muhammad saw.

Namun Islam tidak hanya merinci pemimpin seperti apa yang harus ada diantara kaum Muslim. Lebih daripada itu, Islam lebih banyak merinci seperti apa seorang pemimpin harus memimpin, dengan apa dia memimpin. Dengan kata lain, Islam justru lebih menekankan pentingnya sistem kepemimpinan dibandingkan dengan pemimpin. Sistem kepemimpinan inilah yang harus berdasar Kitabullah dan Sunnah, sedangkan pemimpin di dalam Islam adalah orang yang tinggal menjamin pelaksanaan hukum Allah dan Rasul semata.

Misalnya, tatkala Allah memerintahkan ketaatan terhadap ulil amri (empunya urusan atau pemimpin), maka Allah menggandengkan perintah ketaatan tersebut dengan Kitabullah dan Sunnah sebagai syarat wajib ketaatan pada pemimpin.

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS An-Nisaa [4]: 58)

Muhammad bin Ka’ab, Za’id bin Aslam, dan Syahr bin Hausyab berkata “Sesungguhnya ayat ini diturunkan untuk para umara’ (para pemimpin), yaitu mereka yang berwenang memutuskan hukum diantara manusia”. Ibnu Katsir menanambahkan dalam tafsirnya, “Artinya, Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah, menetapkan hukum diantara manusia dengan adil dan hal lainnya, yang mencakup perintah-perintah dan syariat-syariat-Nya yang sempurna, agung dan lengkap”.

Lalu Allah melanjutkan ayat diatas dengan ayat yang lebih khusus lagi, yaitu perintah ketaatan pada pemimpin, dan kewajiban pemimpin dalam menerapkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (QS An-Nisaa [4]: 59)

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang berkata bahwa “Ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Hudzafah yang diutus oleh Rasulullah saw pada sebuah pasukan”.

Imam Ali menceritkan, bahwa Rasulullah saw mengutus sebuah pasukan dan mengangkat seorang Anshar sebagai pimpinan pasukan itu. Ketika mereka keluar, maka ia marah karena suatu hal kepada mereka seraya berkata, “Bukankah Rasulullah telah memerintahkan kalian untuk taat kepadaku?”. Mereka menjawab, “Betul”. Dia berkata lagi, “Kumpulkanlah kayu bakar untukku”. Kemudian dia meminta api, lalu membakarnya, seraya berkata, “Aku berkeinginan keras agar kalian masuk ke dalamnya”. Maka nyaris saja mereka masuk ke dalamnya. Maka seorang pemuda diantara mereka berkata, “Sesungguhnya (jika kalian lari, maka) kalian lari menuju Rasulullah saw untuk menghindarkan diri dari api ini. Jangan kalian terburu-buru hingga kalian bertemu Rasulullah saw. Apabila beliau memerintahkan kalian untuk masuk ke dalam api itu maka masuklah”. Maka mereka pun kembali kepada Rasulullah saw mengabarkan hal itu. Maka Rasulullah pun bersabda,

“Seandainya kalian masuk ke dalam api iu, pasti kalian tidak akan keluar lagi darinya selama-lamanya. Ketaatan itu hanyalah (berlaku) pada sesuatu yang ma’ruf”(HR Ahmad)

Dalam lafadz lain sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari,

“Sama sekali tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan, ketaatan itu dalam kebaikan” (HR Bukhari)

Dalam ayat ini juga secara jelas disampaikan agar setiap pemimpin dan yang dipimpin senantiasa menggunakan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pemutus atas semua pertikaian dan perselisihan. Karena wajib bagi manusia untuk menerapkan hukum-hukum Allah.

Elok kiranya kita membaca uraian Ibnu Katsir berkaitan dengan ayat ini.

Jadi apapun yang ditetapkan dalam Al-Kitab dan As-Sunnah, serta terdapat dalil tentang kebenarannya (dalam Al-Kitab dan As-Sunnah), maka itulah kebenaran. Selain kebenaran itu, tidak ada lagi kecuali kesesatan. Karena itu Allah berfirman “Jika kamu beriman pada Allah dan Hari Akhir”, maksudnya, hendaklah kalian kembalikan berbagai pertengkaran dan ketidaktahuan kalian kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Berhukumlah kalian kepada keduanya, pada berbagai hal yang kalian sengketakan. “Jika kamu beriman pada Allah dan Hari Akhir”, artinya, orang yang tidak berhukum pada Al-Kitab dan As-Sunnah dalam setiap pertikaian, serta tidak merujuk pada keduanya, maka ia tidak termasuk orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir. (Tafsir Ibnu Katsir)

Maka tugas kaum Muslim tidak selesai hanya pada memilih pemimpin, namun juga harus memilih pemimpin yang menjamin penerapan Kitabullah dan Sunnah sebagai pertanda iman dan perlindungan terhadap iman.

Mengenai lebih pentingnya sistem kepemimpinan ini, telah diindikasikan dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummul Hushain, bahwa ia mendengar Rasulullah saw bersabda dalam khutbah haji Wada’,

“Sekalipun yang memerintah kalian adalah seorang budak (sementara) ia memimpin kalian dengan Kitabullah. Maka dengar dan taatlah kepadanya” (HR Muslim)

Maka “siapa yang memimpin” tidak lebih penting dibanding “dengan apa dia memimpin”. Karena benar dan salahnya pemimpin tergantung “dengan apa dia memimpin”. Bila dia memimpin dengan menerapkan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka dia benar dan mulia. Maka taat kepada pemimpin yang menerapkan Kitabullah ini menjadi suatu kewajiban, walaupun dia secara pribadi bermaksiat dan berbuat dosa.

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendoakan kalian dan kalian mendoakan mereka. Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah mereka yang membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka” Beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita memerangi mereka?” maka beliau bersabda: “Tidak, selagi mereka mendirikan shalat bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang tidak baik maka bencilah tindakannya, dan janganlah kalian melepas dari ketaatan kepada mereka” (HR Muslim)

Imam An Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyatakan:

Rasulullah saw memerintahkan untuk menaati ulil amri meski pun pada dirinya terdapat kekurangan tersebut selama ia memimpin dengan Kitabullah. Para ulama berkata, “maksudnya selama ia berpegang teguh kepada Islam dan menyeru kepada Kitabullah Ta’ala walau bagaimana pun keadaan diri mereka, agama mereka dan akhlak mereka” (Imam Nawawi)

Lalu bagaimana dalam keadaan seperti saat ini, ketika kita tidak memiliki pemimpin yang amanah dan menerapkan sistem amanah berupa Kitabullah dan Sunnah? Maka kewajiban kita adalah mengadakannya, mendidik dan memahamkan pada ummat Muslim kewajiban yang agung yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, bukan hanya lalu memilih pemimpin yang paling sedikit mudharatnya, lalu mengabaikan kewajiban yang mengharuskan pemimpin untuk berhukum pada hukum-hukum Allah.

Disinilah pentingnya para ulama, dalam mencerahkan ummat Muslim, bahwa tiada kebenaran dan kebaikan kecuali itu datang dari Allah Swt, dan tiada yang bisa menyelamatkan dan membangkitkan ummat Islam kecuali penerapan syariat Islam. Karena kebangkitan itu telah dicontohkan Rasulullah dengan Islam, dan dengan Islam itu pula semua manusia diselamatkan dan menjadi mulia.

Sehingga tidak adil, bila kita mendukung satu calon pemimpin dengan mengusung ke-Islam-an dirinya yang bisa jadi benar bisa jadi tidak, lalu mengelu-elukannya atas calon pemimpin yang lain yang diposisikan tidak Islami, tapi kita tidak mewajibkan dia untuk menerapkan syariat Islam. Lebih daripada itu malah mendukung agenda-agenda yang tidak sesuai bahkan bertentangan dengan Islam.

Tidak pantas bagi kita mengusung “pemimpin yang ini Islami, yang disana tidak”, sementara hukum-hukum Allah tidak pernah dibicarakan dan tidak pernah disampaikan, lantas dimana letak “Islami”nya?

Mengenai pendapat “akhaffu adh-dhararain” atau “memilih yang paling rendah mudharatnya diantara dua mudharat” tentu masih bisa diperdebatkan dalam sebuah diskusi. Tapi yang sangat berbahaya adalah apabila ummat merasa puas hanya dengan memilih pemimpin, namun santai-santai saja dalam hal “dengan apa pemimpin itu memimpin”. Yang sangat berbahaya adalah apabila ummat merasa sudah melaksakan kewajibannya hanya dengan memilih, namun merasa ringan saat pemimpin itu meninggalkan dan melalaikan hukum Allah.

Padahal mereka mengaku beriman pada Allah dan Hari Akhir.

Karenanya kami berlepas pada hingar bingar pesta yang bukan pesta kami, namanya pesta demokrasi yang terjadi tentu bukan berdasarkan aturan Allah. Satu pihak sibuk mencela dan mencari kesalahan pihak lain dan sibuk mempromosikan dan memuja calon yang dijagokannya. Mencela hal yang belum ada dan menampakkan aib jadi trend, begitupula memuji yang berlebihan dan memuja hal yang tidak ada.

Padahal manusia bisa berubah, apalagi pada masa kini, sangat mudah berubah. Tahun lalu masih berpasangan tahun depan sudah saling mencela. Kemarin masih gandengan sekarang sudah musuhan. Tanpa Islam dan komitmen terhadap Kitabullah dan Sunnah, tidak ada jaminan keselamatan dan kebangkitan.

Tapi tentu dalil bisa didebat dengan dalil yang lebih baik, namun seburuk-buruk sikap dalam perbedaan adalah saling mencela. Dan semoga kita semua yang berjuang mencari ridha Allah —apapun dalil dan caranya— mampu menahan diri dari mencela sesama. Karena perjuangan seseorang dalam berdakwah bisa jadi berpahala atau tidak berpahala, tapi mencela sesama Muslim sudah pasti salah dan dosa.

Semoga Allah segera karuniakan persatuan dan ukhuwah bagi ummat Muslim di seluruh dunia, dan mengaruniakan mereka pemimpin yang tidak hanya siap mati demi bangsa dan rakuyat, tapi siap mati dalam ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya.

akhukum fil Islam

sumber

Apakah Wanita Ini Terlalu Cantik Untuk Menjadi Seorang Pengembang Komputer?

Apakah Wanita ini terlalu cantik untuk menjadi seorang pengembang komputer?

 

Linkedln adalah sebuah jejaring soaial yang tengah sedang dilanda masalah seksisme setelah mereka menghapus sebuah iklan seorang wanita cantik yang dianggap terlalu menarik untuk menjadi seorang ahli web di kehidupan nyata.

 

Kontroversi ini dimulai ketika pengembang platform jejaring sosial Toptal memposting serangkaian iklan ke Linkedln tentang web.

 

Namun Linkedln menghapus iklan tersebut tanpa penjelasan, hal ini menyebabkan CEO Toptal marah besar.

 

“Fakta dari masalah ini adalah masyarakat (pengguna LinkedIn) melihatnya sebagai sesuatu yang tidak mungkin bahwa perempuan bisa menjadi insinyur dan pemimpin komunitas teknologi (LinkedIn) “ tulis CEO Toptal, Taso Du Val dalam posting di sebuah blog menurut The Daily Dot.

 

Pada awalnya Toptal telah mengirim iklan yang sama ke LinkedIn, termasuk dari pengembang web Argentina Florencia Antara, namun LinkedIn menghalangi mereka sampai mereka telah membuat perubahan yang diperlukan.

 

Hari ini adalah hari mengecewakan di Toptal.  Kami melihat seksisme ekstrim dalam komunitas teknologi dari pemimpin industri dan mitra iklan LinkedIn “tulis Du Val dalam posting berjudul ‘In Defence of Engineers Woman’.

 

Sebagai tanggapan balik juru bicara LinkedIn, yang mengatakan bahwa kami sebagai  yang ‘Terbesar di Dunia Profesional Network, iklan yang ditolak karena kesalahan yang disebabkan oleh review di tim layanan pelanggan tidak mengizinkan iklan tersebut dipublish.

 

” Sementara Customer Service harus  proses standar meninjau Iklan LinkedIn, iklan TopTal yang ditolak dikarenakan ada kesalahan. Kami telah mengambil tindakan yang diperlukan untuk menyetujui iklan yang sebelumnya ditolak dan TopTal sekarang dapat menjalankannya pada platform kami sebagaimana yang  dimaksud”.

 

Namun, masalah menjadi rumit ketika hal itu menunjukkan bahwa Toptal tidak menggunakan gambar aktual setiap insinyur mereka di iklan.

 

Mereka menggunakan campuran fotografi  dan gambar nyata dari para insinyur dengan perangkat lunak dengan portofolio di situs web mereka termasuk gambar aktris Amanda Schull, yang muncul di  drama seri Jaringan televisi Amerika Serikat.

 

Terlepas dari itu, banyak komentator yang memihak LinkedIn, meskipun mengkritik raksasa web untuk memblokir iklan yang tidak sesuai.

 

Memang  beberapa dari mereka merasa bahwa gambar itu terlalu terang-terangan, dan sedikit berlebihan juga fulgar.

 

‘Apa arti dari tali bra yang di dalam gambar? Bagaimana tali bra membantu menekankan  bahwa kemampuan wanita ini sebagai pengembang web? ‘ kata Macman 851.

 

‘Kenapa dia menatap kamera seolah-olah dia ingin bercinta?

 

 

   

• Ini gambar web developer Argentina Florencia Antara (kiri dan kanan) dihapus dari LinkedIn selama akhir pekan dan kemudian diizinkan untuk diposting lagi

 

 

• Ini adalah bagaimana iklan muncul di LinkedIn

 

 

• CEO Toptal Taso Du Val mengeluarkan rasa tidak senangnya pada LinkedIn melalui posting blog berjudul ‘In Defense of Engineers Woman’

 

 

• LinkedIn menggambarkan dirinya sebagai  yang ‘Terbesar di Dunia Jaringan Profesional’

 

 

• Toptal juga menggunakan gambar aktris Amanda Schull untuk mewakili insinyur perempuan mereka

 

# TWM | DM

sumber

Kiat Cepat Naik Jabatan

Siapa yang tidak ingin sukses dengan karirnya di tempat kerja. Salah satu tolak ukur suksesnya sebuah karir di tempat kerja adalah mendapatkan jabatan yang lebih tinggi. Berikut adalah beberapa cara cepat naik jabatan yang bisa anda praktikan di tempat kerja anda.

semangat dalam bekerja
Seorang pemimpin atau bos akan melihat karyawan mana yang mempunyai jiwa semangat tinggi dan etos kerja yang tinggi di lingkungan  kerja.Mungkin benar adanya jika skill peran yang sangat penting di dunia kerja.

Namun mempunyai skill yang bagus tanpa diimbangi dengan semangat juang yang tinggi maka hasilnya tidak akan optimal.

Tidak ada prestasi yang berarti yang berhasil diraih jika sang pemimpin hanya mengandalkan skill karyawannya saja. Sang pemimpin membutuhkan karyawan yang mempunyai skill dan semangat yang tinggi.

 

Disiplin
Selain skill dan semangat yang tinggi, seorang staff juga dituntut untuk mempunyai sifat disiplin yang tinggi.  Bahkan sebagian besar orang mengatakan bahwa disiplin adalah modal utama yang harus dimiliki oleh staff.

Ketika seorang staff tidak mempunyai disiplin dalam bekerja, ia kemungkinan besar tidak akan berkembang karirnya di tempat kerjanya. Bahkan kemungkinan besar ia akan dipecat oleh sang bos jika tidak ada peningkatan disiplin.

Oleh karena itu, sebagai seorang staff, datang dan pulanglah sesuai jadwal kantor dan jangan sering memboloskerja.

 

Jujur
Sifat jujur akan sangat dihargai di mana pun dan oleh siapa pun. Terlebih lagi jika ada seorang pemimpin mempunyai staff yang jujur, beliau akan sangat bangga dan menghargai staff tersebut.

Peluang untuk diberi sebuah kepercayaan untuk menghandle sebuah proyek sangat besar. Jika anda berhasil untuk merealisasikan proyek yang diberi oleh pemimpin, maka anda akan sangat mudah untuk menempati jabatan lebih tinggi.

 

mempunyai nilai plus
Mempunyai nilai tambah yang tidak dimiliki oleh staff lain akan menjadi modal utama anda untuk menjadi satu-satunya staff yang akan menjadi staff andalan si bos. Bos akan lebih sayang pada anda.

 

Profesional
Sikap professional bisa terlihat jika anda bertanggung jawab jika melakukan kesalahan. Anda tidak lari dari masalah kantor yang sedang anda hadapi. Dan yang penting adalah anda tidak menyalahkan staff lain ketika anda dihadapkan dengan masalah.

sumber

%d blogger menyukai ini: