Arsip

Posts Tagged ‘kelas’

Wanita Seksi Australia Ini Pernah Tidur Bersama 10.091 Pria Dan Kini Kaya Raya

Gwyneth Montenegro, seorang perempuan seksi asal Melbourne, Australia, yang berprosesi sebagai pelacur kelas atas atau escort membuat sensasi dengan meluncurkan buku yang mengisahkan perjalanan kariernya.

Dalam buku berjudul “10.000 Men and Counting” itu, secara gamblang Gwyneth menceritakan kisah hidupnya, termasuk pengakuannya telah tidur dengan  10.091 pria sejak dia menjadi escort sejak berusia 21 tahun.

Dalam bukunya, Gwyneth yang kini telah menjadi seorang pebisnis sukses dengan banyak aset mewah menceritakan, dia mengawali hidupnya sebagai seorang anak yang “liar”. Gwyneth menjadi korban perkosaan pada usia 18 tahun dan menjadi penari erotis pada usia 19 tahun.

Pada usia 21 tahun, perempuan asal Melbourne ini memulai karier escort-nya yang saat itu masih berkutat di sekitar kota kelahirannya itu. Selanjutnya, wilayah kerja Gwyneth semakin luas ke seluruh Australia dan seluruh dunia yang melegalkan profesi escort seperti yang dijalaninya.

 

Gwyneth Montenegro

Ini salah satu fotonya untuk mempromosikan dirinya. Tarif kencan dengan Gwyneth adalah US$ 500-US$ 1.000 per jam

 

Selama menjalani kariernya itu, Gwyneth mengaku menggunakan banyak nama. Bahkan, nama Montenegro diakuinya hanya sekadar nama pena untuk kepentingan penulisan bukunya.

Gwyneth mengatakan, klien utamanya adalah para pekerja pekerja kerah putih, termasuk para pengacara, politisi, dan musisi. Di masa puncak kariernya, Gwyneth bisa mendapatkan 500-1.000 dollar atau sekitar Rp 5-10 juta per jam.

Namun, dalam pekerjaan ini pula, Gwyneth mulai berkenalan dengan narkotika dan obat-obatan terlarang. Perkenalannya dengan kokain ini membuatnya kecanduan. Kokain sudah menjadi gaya hidupnya ketika itu. Dia sadar gaya hidup seperti itu bisa menghancurkan siapa saja. Inilah yang membuatnya memantapkan diri menuliskan pengalamannya menjadi seorang escort kelas atas.

 

Gwyneth Montenegro

Gwyneth mengaku sulit lepas dari pekerjaannya sebagai pelacur kelas atas ini karena pekerjaan nista tersebut memberinya penghasilan ribuan dollar dengan mudah setiap pekannya

 

Gwyneth mengakui sulit untuk melepaskan diri dari industri yang memberinya penghasilan hingga ribuan dollar setiap pekannya itu. Meski sepanjang 15 tahun kariernya sebagai escort Gwyneth hampir tak memiliki pengalaman buruk, dia bertekad tidak akan pernah lagi berkecimpung di dalam profesi itu lagi.

 

Lady Escort

Gwyneth Montenegro berpose di rumahnya yang besar seperti istana yang ia beli dari uang hasil melacurkan diri
Salah satu momen yang membuatnya memutuskan berhenti menjadi escort adalah saat dia nyaris tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas beberapa tahun lalu. “Saya mengendarai VW Golf dan mengalami kecelakaan. Beruntung saya selamat meski menderita sedikit luka dan memar,” kenangnya.

 

Gwyneth Montenegro

Gwyneth Montenegro di atas kapal pesiar (yacht) pribadinya

 

Saat terbaring di rumah sakit, Gwyneth akhirnya mengakui profesi dia kepada kedua orangtuanya. Awalnya ayah dan ibunya mengira Gwyneth bekerja sebagai seorang model.

Dia juga menceritakan kepada orangtuanya bagaimana dia menyembunyikan sebagian besar uang yang diperolehnya sehingga ayah ibunya tidak menaruh curiga.

Setelah kecelakaan itu, kondisi berangsur-angsur membaik, apalagi setelah Gwyneth berhasil meraih lisensi pilot pesawat terbang komersial pada usia 29 tahun.

 

Gwyneth Montenegro

Gwyneth mempunyai lisensi sebagai pilot namun karirnya sebagai pilot tak lama karena gagal gijal akibat sering mengonsumsi narkoba dan minuman keras ketika masih berprofesi sebagai escort. Walaupun demikian, ia kini mempunyai pesawat pribadi
Namun, kariernya sebagai pilot pesawat sewaan berusia pendek setelah dia didiagnosis menderita gagal ginjal yang membuatnya tak bisa mempertahankan lisensi terbangnya.

Akibatnya, Gwyneth kembali menerjuni profesi lamanya sebagai escort dan baru berakhir setelah dia bertemu seorang pria yang kini menjadi rekan bisnisnya saat ini. Dia hanya menyebut pria itu dengan nama Roger.

(Daily Mail, Mirror)

Saat Anak Atau Adikmu Main iPad, Anak-Anak Bos Google dan Apple Asyik Main Tanah di Sekolah

5 Desember 2014 2 komentar

Di Indonesia, mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) adalah salah satu muatan lokal yang umum ditemui. Banyak juga sekolah yang mengizinkan murid-muridnya membawa laptop untuk kepentingan mencatat ataubrowsing informasi saat di kelas. Selesai sekolah, anak-anak ini pun bukannya pulang ke rumah untuk istirahat; mereka justru kembali akrab dengan iPad ataugame konsol mereka dengan alasan refreshing setelah seharian belajar. Saking sudah umumnya, sebagian dari kita mungkin menganggap fenomena ini sah-sah saja.

Tapi tunggu! Mari sejenak jalan-jalan ke Silicon Valley, sebuah kawasan di Amerika dimana perusahaan-perusahaan teknologi top dunia berkantor. Di tempat ini terdapat fakta yang akan membuat kita berpikir ulang,

“Apakah keputusan mengenalkan komputer pada anak sejak usia dini itu tepat?”

 

 

Para petinggi Google, Apple, Yahoo, HP hinggaeBay mengirim anak-anaknya ke sekolah yang sama sekali tak punya komputer

petinggi perusahaan teknologi mengirim anak-anaknya ke sekolah tanpa komputer

Ketika sekolah-sekolah lain memasukkan komputer dalam kurikulum dan berlomba membangun sekolah digital, Waldorf School of the Peninsula justru melakukan sebaliknya. Sekolah ini dengan sengaja menjauhkan anak-anak dari perangkat komputer.

Sekolah Waldorf justru fokus pada aktivitas fisik, kreativitas, dan kemampuan ketrampilan tangan para murid. Anak-anak tak diajarkan mengenal perangkat tablet atau laptop. Mereka biasa mencatat dengan kertas dan pulpen, menggunakan jarum rajut dan lem perekat ketika membuat prakarya, hingga bermain-main dengan tanah setelah selesai pelajaran olahraga.

Guru-guru di Waldorf percaya bahwa komputer justru akan menghambat kemampuan bergerak, berpikir kreatif, berinteraksi dengan manusia, hingga kepekaan dan kemampuan anak memperhatikan pelajaran.

 

 

Para petinggi di dunia IT ini membela keputusan sekolah Waldorf untuk tak memperkenalkan komputer ke anak-anak mereka

metode belajar tanpa komputer justru mendapat kritikan

Banyak yang menganggap bahwa kebijakan yang dibuat Waldorf itu keliru. Meski metode pembelajaran yang mereka gunakan sudah berusia lebih dari satu abad, perdebatan soal penggunaan komputer dalam proses belajar-mengajar masih terus berlanjut.

Menurut para pendidik dan orangtua murid di Sekolah Waldorf, sekolah dasar yang baik justru harus menghindarkan murid-muridnya dari komputer. Ini disetujui oleh Alan Eagle (50), yang menyekolahkan anaknya Andie di Waldorf School of the Peninsula:

“[Anak saya baik-baik saja, meskipun] tak tahu bagaimana caranya menggunakan Google. Anak saya yang lain, yang sekarang di kelas dua SMP, juga baru saja dikenalkan pada komputer,” tutur Eagle, yang bekerja untuk Google.

Eagle tak mempermasalahkan ironi antara statusnya sebagai staf ahli di Google dan kondisi anak-anaknya yang gaptek.

“Misalkan saja saya seorang sutradara yang baru menelurkan sebuah film dewasa. Meski film itu didaulat sebagai film terbaik yang pernah ada di dunia sekalipun, saya toh tak akan membiarkan anak-anak saya menonton film itu kalau umur mereka belum 17 tahun.”

 

 

Tanpa perangkat komputer atau kabel, kelas-kelas di Waldorf punya tampilan klasik dengan papan tulis dan kapur warna-warni

Waldorf punya tampilan klasik nan unik

Sekolah Waldorf tampil dengan gaya ruangan kelas yang klasik. Tak banyak perangkat elektronik, layar-layar komputer, atau kabel-kabel yang menghiasi ruangan. Berhias dinding-dinding kayu, kamu hanya akan menemukan papan tulis penuh coretan kapur warna-warni. Ada rak-rak penuh berbagai jenis ensiklopedia hingga meja-meja kayu dengan tumpukan buku-buku catatan dan pensil.

Andie yang duduk di kelas 5 mendapat pelajaran membuat kaos kaki. Ketrampilan merajut dipercaya membantu anak-anak belajar memahami pola dan hitungan. Menggunakan jarum dan benang bisa mengasah kemampuan memecahkan masalah dan belajar koordinasi. Saat pelajaran bahasa di kelas 2, anak-anak akan diajak berdiri melingkar. Mereka diminta mengulang kalimat yang diucapkan guru secara bergiliran. Gilirannya ditentukan dengan melempar penghapus atau bola. Ternyata, metode belajar ini bisa jadi salah satu cara untuk mensinkronkan tubuh dan otak.

Guru kelas Andie, Cathy Waheed, mengajarkan anak-anak mengenal pecahan dengan metode yang sangat sederhana. Yup, Waheed menggunakan buah apel, kue pai, atau roti yang dipotong-potong lalu dibagikan pada murid-muridnya.

“Saya yakin dengan cara ini mereka bisa lebih mudah mengenal hitungan pecahan,” ujar Waheed, yang merupakan lulusan Ilmu Komputer dan sempat bekerja sebagai teknisi

 

 

Menurut guru-guru Waldorf, mengajarkan siswa memakai komputer tak akan membuat mereka bertambah pintar. Sampai saat ini belum ada penelitian yang bisa menjelaskan kaitan keduanya.

belum ada fakta yang mengaitkan penggunaan komputer dan prestasi siswa

Selain dari pengajar dan orang tua murid, para ahli pendidikan pun menegaskan:

“Penggunaan komputer di ruang kelas sebenarnya tidak ada alasan ilmiahnya. Sampai saat ini toh belum ada penelitian yang membuktikan bahwa keterampilan menggunakan komputer akan berpengaruh pada nilai tes atau prestasi mereka.”

Nah, apakah belajar hitungan pecahan dengan memotong apel atau merajut jauh lebih baik? Bagi Waldorf, pertanyaan ini sulit dibuktikan. Sebagai sekolah swasta, Waldorf tak berpedoman pada tes-tes dasar yang serupa dengan sekolah-sekolah lain. Mereka pun memang mengakui bahwa murid-muridnya tak akan dapat nilai setinggi anak-anak sekolah negeri jika diminta mengerjakan soal-soal tes umum. Bukan karena mereka bodoh, namun karena murid-murid Waldorf memang tak dijejali teori-teori matematika dasar sesuai kurikulum.

Namun, ketika diminta membuktikan efektivitas pendidikan di Waldorf,Association of Waldorf School di Amerika Utara menayangkan hasil penelitian yang tak main-main:

“94% siswa lulusan SMA Waldorf di Amerika Serikat di antara tahun 1994 sampai 2004 berhasil masuk di berbagai jurusan di kampus-kampus bergengsi seperti Oberlin, Berkeley, dan Vassar.”

Selain faktor minimnya teknologi, kualitas pengajar yang baik di Waldorf juga dinilai berpengaruh pada keberhasilan sekolah tersebut mengirim anak-anaknya ke universitas-universitas bergengsi di Amerika. Waldorf memang tak sembarangan dalam memilih guru. Selain berpendidikan tinggi, mereka harus memiliki jam terbang yang mumpuni. Wajar saja jika Waldorf kemudian berhasil mengembangkan anak didik mereka menjadi hebat dan berprestasi.

Kualitas inilah yang kemudian membuat para orangtua percaya pada metode pengajaran Waldorf. Salah satu orangtua tersebut adalah Pierre Laurent (50), pendiri startup yang sebelumnya bekerja di Intel dan Microsoft. Bahkan saking terkesannya dengan metode Waldorf, Monica Laurent, istri Pierre, bergabung menjadi guru di sekolah ini sejak tahun 2006.

 

 

Waldorf memegang filosofi bahwa belajar-mengajar bukan perkara sederhana. Ini tentang bagaimana seharusnya menjadi manusia.

belajar adalah pengalaman yang berharga

Sebenarnya menurut Waldorf, memilih menggunakan teknologi komputer atau tidak bisa jadi sifatnya subyektif  atau perkara pilihan. Terserah saja, menurut kebijakan sekolah masing-masing. Namun yang harus dicatat: ketika anak sudah dibiarkan lekat dengan komputer sejak dini, bisa saja ia akan ketergantungan dan sulit melepaskan gawai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Ann Flynn — petinggi National School Boards Association yang membawahi sekolah-sekolah negeri di Amerika — tetap bersikeras bahwa pelajaran komputer itu penting. Sementara Paul Thomas, mantan guru dan profesor pendidikan yang sudah menulis lebih dari 12 buku tentang metode pendidikan publik, lebih setuju pada Waldorf. Baginya, pendekatan yang minim teknologi di dalam kelas justru sangat bermanfaat.

“Mengajar adalah pengalaman manusia. Teknologi justru bisa jadi gangguan ketika mengenal huruf dan angka, belajar hitungan, dan berpikir kritis, “ ungkap Thomas.

 

 

Keahlian di bidang IT adalah modal untuk bersaing di dunia kerja. Tapi, haruskah itu menjadi alasan untuk mengenalkan komputer pada anak sejak dini?

apakah mengenalkan komputer sejak dini itu tepat?

“Komputer itu sangat mudah. Kami di Google sengaja membuat perangkat yang ibaratnya bisa digunakan tanpa harus berpikir. Anak-anak toh tetap bisa mempelajari komputer sendiri jika usia mereka sudah dewasa.”

– Alan Eagle.

Singkatnya, Eagle menjelaskan bahwa komputer itu mudah dan bisa dipelajari lewat kursus kilat sekalipun. Jadi buat apa “membunuh” kreativitas alami anak dengan memaksa mereka mempelajari komputer sejak dini?

Bukan berarti anak-anak di Waldorf dan Silicon Valley sama sekali tak melek teknologi. Siswa-siswa kelas V di Waldorf mengaku sering menghabiskan waktu mereka dengan menonton film di rumah. Seorang siswa yang ayahnya bekerja sebagai teknisi di Apple mengaku sering diminta mencoba game baru ciptaan sang ayah. Sementara seorang murid biasa berkutat dengan flight control system di akhir pekan bersama orang tuanya.

Justru anak-anak ini sudah mendapat pengetahuan teknologi dalam porsi yang pas, mengingat kebanyakan orangtua mereka adalah penggiat industri teknologi. Berkat didikan di Waldorf, anak-anak Silicon Valley mengaku tak nyaman saat melihat orang-orang di sekitarnya sibuk dengan gadget mereka.

“Aku lebih suka menulis dengan kertas dan pulpen. Ini membuatku bisa membandingkan tulisanku saat kelas I dengan yang sekarang. Kalau aku menulis di komputer ‘kan… gaya tulisannya sama semua. Dan kalau komputermu tiba-tiba rusak atau mendadak mati listrik, pekerjaanmu jadi tak selesai ‘kan?” ungkap Finn Heilig, yang ayahnya bekerja di Google.

Sekali lagi, metode pendidikan tanpa komputer bukannya bermaksut menutup akses anak untuk mengenal teknologi. Kelak, di usia tertentu mereka tetap punya kesempatan untuk mempelajarinya. Sementara di masa kanak-kanak, mereka berhak mendapat kesempatan menjadi sebenar-benarnya anak-anak.

 

Bagaimana nasib adik-adikmu atau anak-anakmu sendiri kelak? Apakah lebih baik mereka dikenalkan dengan gadget dan perangkat teknologi sejak dini, atau lebih baik menunggu sampai saat yang benar-benar tepat?

sumber

[NOSTALGIA TERLUCU] 15 Hal yang Paling Kita Takuti Saat SD tapi Sekarang Terasa Konyol

Di masa SD saat kita masih lugu dan polos, ada banyak hal yang bisa membuat ketakutan setengah mati. Hal-hal seram itu justru terasa konyol kalau kita pikirkan di usia dewasa sekarang ini. Ternyata hidup jauh lebih banyak tantangan seiring berjalannya waktu.
Apa saja 15 hal yang paling menyeramkan saat SD tapi sekarang terasa konyol? Simak daftarnya di bawah ini untuk bernostalgia keluguanmu di masa lalu.
1. Guru galak.
 
 
Tidak ada yang lebih menyeramkan daripada belajar di kelas dengan guru yang galak. Pelajaran jadi terasa tegang, PR tidak boleh lupa dikerjakan, dan sikap harus benar-benar dijaga.
2. Lupa mengerjakan PR.
Lupa mengerjakan PR bisa menjadi hal yang sangat menyeramkan karena bisa membuatmu disetrap/ dipermalukan di depan kelas, dilaporkan ke orang tua, dan kena marah guru.
3. Tidak membawa atribut lengkap saat upacara.
Atribut upacara seperti topi, sepatu hitam, dan kaus kaki putih wajib dibawa ketika upacara berlangsung. Jika kita melupakan salah satu atribut tersebut, sudah dijamin akan ada hukuman menyeramkan yang menanti seperti lari keliling lapangan upacara, dll.
4. Bully.
Bully sangat mengancam kehidupan tenangmu di masa SD karena mereka bisa memukulmu, memalak uang sakumu, mengejekmu dengan kata-kata kasar, dll.
5. Lupa potong rambut. 
Buat para siswa cowok, rambut gondrong bisa menimbulkan banyak masalah di sekolah. Kamu bisa kena marah dan dipanggil ke ruang kepala sekolah, atau bahkan dicukur secara brutal saat itu juga.
6. Nungguin jemputan lama.
Menunggu jemputan sekolah yang terlalu lama bisa jadi sangat membosankan dan menyeramkan kalau suasana sekolah sudah mulai sepi.
7. Vaksinasi di sekolah.
Vaksinasi di sekolah adalah momen ketika teman-teman kita menangis dan menjerit-jerit. Sensasi ditusuk jarum suntik juga meninggalkan kenangan menyeramkan tersendiri.
8. Maju nyanyi di depan kelas.
Bagi sebagian besar anak SD, maju menyanyi di depan kelas bukanlah hal yang gampang. Dibutuhkan rasa percaya diri yang tinggi untuk bisa menyelesaikan ujian menyanyi di depan kelas.
9. Dijodoh-jodohin sama orang yang nggak kita suka.
Waktu SD dulu, dijodoh-jodohkan dengan orang yang tidak kita suka akan menjadikan hari-harimu terasa berat. Teman-teman kita akan bertingkah heboh tiap kali kita dekat dengan orang itu dan tingkah laku kita jadi serba salah.
10. Belum belajar waktu ulangan.
Belum belajar waktu ulangan tentu saja sangat menyeramkan karena bisa membuat panik, bingung mengarang jawaban, dan tentu saja mendapat nilai jelek.
11. Dapat nama julukan yang aneh.
Semasa SD, teman-teman kita banyak yang suka memberikan nama julukan yang aneh-aneh seperti Si Hitam, Si Kerempeng, Si Bencong, dll. Parahnya, kadang guru kita ikut memanggil dengan nama itu.
12. Terlambat masuk sekolah.
Terlambat masuk sekolah tentu saja menyeramkan karena kita bisa dikunci dari pagar sekolah, dihukum, kena marah guru dan ortu, bahkan disuruh pulang ke rumah.
13. Jawaban konyol waktu ulangan dibacakan di depan kelas.
Kalau guru kita suka iseng, jawaban konyol kita waktu ulangan terkadang dibacakan di depan kelas sehingga teman-teman kita akan meledek selama berhari-hari.
14. Kerja kelompok bareng anak-anak nakal.
Tugas yang harus dikerjakan secara berkelompok kadang berkali-kali lipat lebih berat daripada tugas individu. Apalagi jika dikerjakan bersama anak-anak nakal yang tidak tahu tanggung jawab. Ujung-ujungnya pasti kena marah guru.
15. Diajarin merokok dan hal-hal negatif sama teman.
Teman bisa membawa pengaruh baik dan buruk, terutama di masa kecil kita. Kalau waktu SD dulu kita tidak bisa menolak ajakan merokok dan melakukan hal-hal negatif, sudah pasti hingga dewasa kebiasaan itu terus berlanjut.
Kategori:revo Tag:, , , ,
%d blogger menyukai ini: