Beranda > revo > Ketika 2 Gembong PKI, Muso dan DN. Aidit Dibuat Ciut dan Dipermalukan Oleh Kyai NU   

Ketika 2 Gembong PKI, Muso dan DN. Aidit Dibuat Ciut dan Dipermalukan Oleh Kyai NU   

Ketika 2 Gembong PKI, Muso dan DN. Aidit Dibuat Ciut dan Dipermalukan Oleh Kyai NU

Kisah nyata yang dramatis dan seru mengenai perseteruan 2 gembong Partai Komunis Indonesia (PKI), Muso dan Dipa Nusantara Aidit (DN Aidit) dengan Islam dan ulama NU tidak banyak diketahui oleh rakyat Indonesia. Muso yang merupakan anak kyai terkenal namun memilih menjadi seorang atheis karena ideologi politik yang dipilihnya, merupakan tokoh pemberontakkan PKI Madiun tahun 1948.

Sedangkan DN Aidit yang juga mendapat pendidikan Islam sejak masa kecilnya di Belitung, menjadi seorang ketua Partai Komunis yang berjaya dan disegani di Indonesia dan dunia internasional. Nasib keduanya berakhir tragis dalam pusaran sejarah dan politik negeri ini.

Dilaporkan bahwa setelah tertangkap dalam pelariannya, jenazah Muso dibawa ke alun-alun Ponorogo dan selanjutnya dibakar. Dalam kasus lain pada era 1960-an, perkongsian kaum komunis dengan golongan nasionalis dan agama membawa PKI berada di atas angin. Namun, PKI akhirnya pun jatuh terhempas berkeping-keping pada tahun 1965 karena dituduh menjadi dalang pembunuhan 7 otang Jenderal TNI AD.

Bung Karno amat mengenal dekat Muso sebagai seseorang yang jago silat dan berkelahi karena mereka berdua pernah menumpang tinggal dan berguru kepada pemimpin Serikat Islam, HOS Cokroaminoto. Sulit dipercaya memang kalau Muso yang badannya bebas dan kekar ini takluk dalam adu nyali oleh seorang kyai NU (Nahdlatul Ulama) bernama Haji Hasan Gipo.

Muso-Bung Karno

Bukti kedekatan Muso (kiri) dan Bung Karno. Muso merupakan senior Bung Karno saat berguru kepada ketua Serikat Islam HOS Cokroaminoto. Karena perbedaan ideologi, keduanya lantas berseberangan

Beginilah kisahnya, suatu ketika, Musso terlibat perdebatan dengan KH. Abdul Wahab Hasbullah mengenai adanya Tuhan. Sebagai seorang atheis, Muso tentu saja tak percaya pada Tuhan. Debat ini makin seru namun menjurus kasar karena Muso ini seorang yang berangasan dan emosional.

Muso yang berbadan tegap melawan kiai Wahab yang pendek dan bertubuh kecil. Orang orang yang melihat perdebatan mereka menjadi takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Kiai Wahab pun lalu berpikir bahwa tak ada gunanya juga melanjutkan diskusi dengan Muso yang bengal ini.

Sebenarnya kalau harus, Kiai wahab tidak takut apabila harus melawan Muso yang berbadan besar. Sebab Kiai Wahab yang juga jago silat itu pernah menaklukan 4 penyamun yang tubuhnya jauh lebih besar dari Musso sekaligus ketika melakukan perjalanan angker antara Makkah dan Madinah sekitar tahun 1920-1925. Nah, karena merasa diskusi dengan Muso hanya mengandalkan adu urat dan mulut besar, maka bagi Kiai Wahab itu cuma buang buang tenaga saja. Senjata manusia adalah akal pikiran dan akhlak mulia, bukan kepalan tinju dan perkataan yang memojokkan.

Lalu Haji Hasan Gipo (Tanfidziyah NU tahun 1926) mengambil alih tempat kiai Wahab dalam berdebat dengan Muso. Haji Hasan Gipi terkenal sebagai seorang tokoh NU yang suka mengikuti arus. Cara halus atau cara kasar ia selalu siap melayani dengan senang hati.

Akhirnya Muso pun ditantang untuk bersama Haji Hasan Gipo mendatangi rel kereta Surabaya-Batavia di dekat Krian (antara Surabaya-Mojokerto) untuk adu nyali menyambut kereta api ekspres dengan batang leher masing masing. Aturan mainnya, begitu kereta api muncul dalam kecepatan tinggi, keduanya harus meletakkan leher masing-masing secara berbarengan di atas rel agar digilas kereta api yang melintas tersebut hingga tewas seketika secara berbarengan.

Jenazah Muso

oto jenazah Muso. Ia ditembak dalam pelarian oleh pasukan TNI Divisi Siliwangi di sebuah WC umum karena berusaha kabur. Menurut penuturan Soe Hok Gie, jenazah Muso dibawa ke alun-alun Ponorogo lalu dibakar

Jadi melalui cara tersebut keduanya akan memperoleh keyakinan-ainul yaqin haqqul yakin-tentang adanya Allah SWT. Tapi Musso yang badannya besar dan ditakuti itu ternyata ciut ditantang seperti itu oleh Haji Hasan Gipo. Muso pun gentar dan takut.

KH. Abdul Wahab Hasbullah

KH. Abdul Wahab Hasbullah, membuat Muso, gembong PKI yang berangasan ciut nyalinya

Sedangkan Aidit pernah dipermalukan luar dalam oleh KH. Saifuddin Zuhri yang pada waktu itu sedang menjabat Menteri Agama di kabinet Presiden Soekarno.

Saat itu, dalam sebuah sidang Dewan Pertimbangan Agung (DPA) sedang dibicarakan tentang bagaimana cara membasmi hama tikus yang merusak tanaman padi di sawah. Nah, DN Aidit yang duduk bersebelahan dengan KH Saifuddin Zuhri dengan sengaja melancarkan pertanyaan yang berada menyindir.

“Saudara ketua, baiklah kiranya ditanyakan kepada Menteri Agama yang duduk di sebelah kanan saya ini, bagaimana hukumnya menurut agama Islam memakan daging tikus?”

KH Saifuddin Zuhri merasa ditantang dengan sindiran beraroma penghinaan itu. Sebagai seorang tokoh partai yang pintar tentunya Aidit paham betul jawaban dari apa yang ia tanyakan tersebut. Tetapi Aidit dengan sengaja mendemonstrasikan antipatinya terhadap Islam. KH. Saifuddin Zuhri pun lantas menjawab dengan cerdik.

“Saudara ketua, tolong beritahukan kepada si penanya di sebelah kiriku ini bahwa aku ini sedang berjuang agar rakyat mampu makan ayam goreng, karena itu jangan dibelokkan untuk makan daging tikus!”

KH Saifuddin Zuhri

KH Saifuddin Zuhri (tengah) dan Presiden Soekarno. KH Saifuddin Zuhri pernah balik mempermalukan DN Aidit dalam sidang DPA

Jawaban KH. Saifuddin Zuhri tersebut mengundang gelak tawa para hadirin termasuk Bung Karno yang memimpin sidang DPA. Aidit pun terdiam sejenak karena senjata makan tuan sebelum kemudian ikut pura-pura tertawa untuk mengurangi rasa malunya.

sumber:

1. Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (Soe Hok Gie)

2. Berangkat dari Pesantren (KH. Saifuddin Zuhri)

Kategori:revo
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: