Beranda > revo > Surat Terbuka Untuk Penutur Bahasa Bengali & Urdu yang Baik Hati. Dari Nilai Kemanusiaan yang Perlu Dijembatani

Surat Terbuka Untuk Penutur Bahasa Bengali & Urdu yang Baik Hati. Dari Nilai Kemanusiaan yang Perlu Dijembatani

Akhir pekan ini terasa berbeda. Linimasa media sosial tidak hanya dipenuhi oleh keluhan standar, “Why does Monday comes so fast?”atau “Ingin kembali Jumat deh rasanya.” 

Ada wajah-wajah asing yang berseliweran di linimasa kita. Mereka yang kulitnya menghitam dan kurus selepas dihajar perjalanan panjang, anak-anak kecil yang tampak menangis karena kurang minum dan kepanasan. Mereka adalahthe boat people, pengungsi dari Bangladesh dan Myanmar yang merapat ke Aceh Utara, demi mencari suaka di sana.

Beberapa menit sebelum tulisan ini dibuat, Febriana Firdaus, seorang rekan sejawat sesama jurnalis dari Rappler Indonesia menceritakan laporan pandangan matanya via Twitter bahwa bantuan yang paling dibutuhkan saat ini adalah kehadiran seorang penerjemah yang menguasai Bahasa Bengali, Urdu, Inggris, dan Indonesia demi bisa menjembatani komunikasi antara petugas dan pengungsi.

Sebab tak ada satu pun dari kami di Hipwee yang punya kemampuan ini, sebagai sesama manusia hanya ini yang bisa kami upayakan demi menyuarakan kepedulian dan mengetuk hati.

Para penutur Bahasa Bengali dan Urdu yang baik hati: hari ini jadi bukti bahwa kemampuan unik kalian amat berarti

Hari Ini jadi bukti bahwa kemampuan kalian amat berarti (Kredit: Chaideer Mahyudin, AFP)

Bertahun-tahun lalu saat mulai belajar bahasa yang masih terdengar asing di telinga orang Indonesia ini, apakah banyak alis yang terangkat tak percaya? Bosankah kalian mendengar pertanyaan berselimut kebingungan semacam,

“Buat apa belajar bahasa begituan?” di telinga?

Yeah, bahkan mungkin kami adalah salah satu penanya sok tahu yang ingin kalian jitak kepalanya.

Kegigihan dan keberanian untuk belajar bahasa ini layak membuat kami mengangkat penutup kepala. Saat kami-kami ini istiqomah merasa bisa menghadapi perkembangan dunia dengan Bahasa Inggris saja, kalian mendobrak batasan berbahasa dengan belajar bahasa unik yang sekilas pandang tak akan mentereng dicantumkan di CV. Bahasa yang negara asalnya tak banyak jadi pilihan tempat melancong ini tetap kalian pelajari dengan sepenuh hati.

Tapi seperti keahlian lain yang pasti berarti, perjuangan dan kegigihan kalian terjawab hari ini.

Ada anak-anak yang tidak bisa mengungkapkan apa yang mereka rasa. Di Utara Aceh sana ada Ibu yang kebingungan mendengarkan penjelasan perawat yang hendak menginfus putranya

Bahkan ada Ibu yang tak mengerti apa yang sedang dimasukkan ke tubuh putranya (Kredit: Chaideer Mahyudin, AFP

Pasti ada alasan mengapa pilihan menebalkan niat belajar jatuh pada dua bahasa yang masih amat asing di telinga orang Indonesia. Agustinus Wibowo memilih belajar Bahasa Urdu sebab ingin menjelajahi negeri-negeri di Asia Tenggara, demi bisa bertahan dan berbincang langsung dengan orang-orang di sana.

Barangkali kalian, para penutur Bahasa Urdu dan Bengali yang baik hati, juga memiliki alasannya sendiri. Demi melancarkan penelitian sampai sebab ditugaskan di negara yang namanya berakhiran “– tan” bisa jadi alasan. Tapi sesungguhnya sekelompok orang yang mampir di ujung utara Sumatera saat ini layak jadi alasan paling kuat kenapa kemampuan langka ini harus dimanfaatkan.

Ada sekelompok anak tak berdosa yang perlu ditanya apakah perjalanan panjang menyisakan rasa pegal dan nyeri di badan mereka. Psikolog pendamping pengungsian perlu tahu: mainan dan pendampingan macam apa yang paling bisa membuat mereka bahagia, sehingga sejenak lupa pada Ayah, Ibu, dan Saudara yang kini tinggal nama.

Di ujung ruang pengungsian yang panas ada pula Ibu-ibu bermuka khawatir yang tak tahu cairan infus apa yang dimasukkan ke badan putra-putri terkasih mereka. Sementara perawat dan dokter yang ada hanya bisa menatap di tengah kesibukan mereka, memohon kepercayaan, sembari menggunakan bahasa isyarat seadanya.

Seandainya kalian ada di sana, seandainya penutur Urdu dan Bengali di Indonesia berkumpul demi memberikan bantuan penerjemahan — beban komunikasi itu tentu akan jauh lebih ringan.

Saat bantuan pakaian dan makanan telah mulai banyak berdatangan, bukankah kini kemampuan bertutur lah yang paling mereka butuhkan?

Bukankah kini kemampuan bertutur yang paling mereka butuhkan (Kredit: Chaideer Mahyudin, AFP)

Meski kini masih dalam tahap pengorganisiran dan belum tertata rapi, sudah banyak anak negeri dari berbagai daerah yang mulai menggalang bantuan. Mahasiswa Aceh Utara di berbagai penjuru dunia cepat bergerak melakukan penggalangan dana. Ajakan menyumbang pun lantang disuarakan oleh penggiat media sosial yang berjibun followersnya.

Masing-masing orang telah mulai menjalankan perannya.

Hanya saja, the boat people ini tetap manusia biasa yang tak hanya butuh diganjal biskuit, mie instan, dan minuman kalengan ‘kan? Bukan hanya pakaian layak pakai dan selimut hangat yang mereka butuhkan: melainkan kemampuan bertutur pada dunia, tentang apa yang dialami sesungguhnya.

Tiga bulan terombang-ambing di kapal bukan dilakukan tanpa tujuan. Ada hak yang gigih diperjuangkan, ada cerita panjang dan keluh kesah yang segera ingin disuarakan. Sayang, hanya segelintir orang di Indonesia yang bisa memahami dan jadi corong mereka untuk mengungkapkan kenyataan.

Kami bisa menyediakan sorotan media. Kami pun bisa dengan cepat menggalang gerakan baik di dunia nyata dan maya untuk mencukupi kebutuhan dasar mereka. Namun hanya kalian, para penutur Bahasa Bengali dan Urdu yang baik hati, yang bisa menjelaskan seluruh kisah mereka dengan cerlang dan sepenuh hati. Bukan kami.

Penutur Bahasa Bengali dan Urdu yang baik hati, semoga panggilan sederhana ini mengetuk hati. Semoga, nilai-nilai kemanusiaan segera terjembatani atas bantuan kalian yang sungguh murah hati

Semoga nilai kemanusiaan segera terjembatani, oleh kalian yang murah hati (Kredit: Chaideer Mahyudin, AFP)

Tentu semua ini perkara panggilan. Jumlah yang tak seberapa ditambah kesibukan yang menggunung layak memunculkan berbagai alasan. Hanya saja, penutur Bahasa Bengali dan Urdu yang baik hati, bukankah kalian pernah merasakan sensasi menjadi the boat people di negeri sendiri? Dipandang berbeda, karena memilih belajar bahasa yang tak lazim diminati?

Perasaan asing di negeri ini juga dirasakan pengungsi yang sedang berjibaku dengan lemahnya tubuh dan panasnya posko pengungsian saat ini. Mereka tak cuma butuh kebutuhan dasarnya dipenuhi. Lebih dari itu, mereka butuh telinga yang bisa memahami kisah yang sudah terendap selama ini. Mereka perlu dunia tahu apa yang sudah terlewati, hingga membawa mereka ke sini.

Dan sayangnya, orang yang bisa memahami mereka sedalam itu — bukan kami. Melainkan kalian, penutur Bahasa Bengali dan Urdu yang baik hati.

Semoga tulisan sederhana ini menggerakkan penutur Bahasa Bengali dan Urdu di Indonesia. Semoga, hak mereka untuk bercerita bisa terpenuhi segera.  

sumber

Kategori:revo
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: