Arsip

Archive for 31 Januari 2015

Tentang Melepas Keperawanan dan Konsekuensi yang Tak Ringan di Baliknya

31 Januari 2015 1 komentar

Berbicara mengenai keperawanan dan seks adalah hal yang tabu di negeri ini. Tak banyak orang punya keberanian untuk menyuarakan pemikiran dan pengalamannya mengenai seks. Padahal seks tak melulu tentang pornografi, ada banyak pengetahuan lain yang bisa kita petik dan pelajari demi kehidupan yang lebih baik.

Seperti salah satu pembaca Hipwee ini. Dirinya (yang meminta namanya disamarkan) punya keberanian untuk berbagi cerita kepada kita tentang pengalamannya melepas keperawanan sebelum menikah. Dalam artikelnya, ia jujur berbagi cerita dengan harapan agar pengalamannya bisa dijadikan sebuah pembelajaran bagi kita semua.

Aku kembali menyesap teh jahe di hadapanku. Memandang cairan hangat dalam cangkir yang kini setengah kosong seraya berpikir keras. Haruskah aku menceritakan kesalahan besarku pada dunia yang belum tentu dapat menerimanya? Haruskah aku membuka sebuah aib yang seharusnya aku jaga karena Tuhan pun telah menutupnya rapat-rapat? Atau seperti yang sudah lama aku pertimbangkan, menulis kisahku agar bisa dijadikan perenungan bagi orang lain?

Setelah melalui pertentangan batin dan logika yang melelahkan, akhirnya aku memutuskan untuk berbagi sepenggal perjalanan hidupku agar bisa dijadikan sebuah pelajaran bersama. Aku yakin, di luar sana banyak perempuan yang masih bisa diselamatkan dan menyelamatkan diri mereka sendiri setelah membaca pangakuanku. Atau paling tidak jika mereka bernasib sama denganku, mereka mengetahui apa yang harus mereka lakukan.

 

 

Aku tidak sedang mencari pembenaran. Sebelum menghakimiku lebih jauh, izinkan aku menceritakan pengalamanku lebih dulu

jgvrkvg

Aku adalah perempuan yang aktif secara seksual sebelum menikah dan kehilangan keperawanan di usia yang belum lagi genap 19 tahun. Entah siapa yang harus disalahkan, namun di usia yang bukan lagi remaja tanggung itu, aku sama sekali tidak mengerti pentingnya sebuah keperawanan. Yang aku tahu, berhubungan seksual di luar pernikahan adalah dosa besar — titik.

Aku tak pernah mendapat pendidikan seksual yang benar di keluarga maupun sekolah. Pun tidak ada yang mengatakan padaku bahwa selain perihal dosa, melepas keperawanan adalah pertaruhan hidup yang tak mudah konsekuensinya.

Aku tidak sedang mencari pembenaran. Akan tetapi, berkaca dari pengalamanku dan pengalaman banyak perempuan sepertiku di luar sana, bahwa pendidikan agama saja tidaklah cukup. Kata “dosa“ terlalu abstrak sekaligus terlalu mudah dilemahkan oleh hawa nafsu.

Karenanya, aku tidak akan menggunakan dalil-dalil agama untuk mengajakmu menjaga keperawanan dan berhubungan seksual hanya setelah ijab qabul atau janji suci di atas altar. Cukuplah orang tuamu atau para pemuka agama yang fasih melafalkan ancaman dosa dan api neraka bagi mereka yang melakukan hubungan seksual sebelum pernikahan.

Sebaliknya, aku akan memberitahumu apa yang tidak pernah mereka katakan tentang melepas keperawanan dan menjadi seorang yang aktif secara seksual sebelum menikah. Apa yang aku tulis disini adalah pengalamanku sendiri, pengalaman orang-orang  dan hasil observasi dari beratus-ratus jam curhat dan obrolan santai bersama beberapa teman, baik perempuan maupun laki-laki.

 

 

Seks bisa menjadi sebuah candu, kawan. Sekali kamu melakukannya ia akan terus jadi kebutuhan

Seks

Saat kamu memilih untuk melepas keperawananmu sebelum menikah, kamu tidak akan menjadi orang yang sama lagi dengan dirimu yang sebelumnya. Kegiatan seksual akan menjadi sebuah kebutuhan baru bagimu yang harus terpenuhi.

“Gak semangat banget gue. HBL (Haus Belaian Lelaki). Pacar gue udah hampir sebulan gak ngapelin.“

–Bunga, seorang teman

Seperti halnya rokok, seks pun dapat menjadi candu. Kebutuhan seksual yang tak terpenuhi dapat mengganggu mood-mu dan membuatmu merasa tidak bersemangat sehingga dapat menurunkan produktivitasmu.

Jika seks sudah menjadi sebuah kebutuhan bagimu, secara naluriah kamu akan berusaha mendapatkannya dan mencari pemenuhan. Masalahnya, dari mana kamu bisa selalu memenuhi kebutuhan seksmu jika kamu belum menikah?

 

 

Hubungan seks yang harusnya sakral bisa terasa makin kasual. Pertimbanganmu tak lagi panjang saat diajak berbagi peluh dan saling merengkuh otot yang pejal

Pert

”Dia bukan pacar gue. Kita ngelakuinnya cuma sekali, kok. Karena kita terbawa suasana malam itu. Semua ngalir gitu aja.“

– Mawar, seorang teman

Jika kamu sudah pernah berhubungan seks sebelumnya, pertahananmu terhadap godaan untuk berhubungan seks akan semakin lemah. Kamu tidak akan berpikir seribu kali untuk melakukannya lagi dengan dalih:

“Lagi pula aku sudah gak perawan, kok.”

Hal ini disebabkan seks yang telah menjadi kebutuhan yang harus selalu kamu penuhi.

Sudah lama aku ingin berhenti menjadi seorang yang sexually active sebelum menikah. Tapi hal itu sangat tidak mudah. Butuh waktu satu setengah tahun untukku benar-benar berhenti, sehingga saat ini aku free from sexual activity.

Pertahananku mudah goyah karena melakukan hubungan seksual bukan lagi hal yang berarti. Lain halnya jika kamu belum pernah melakukan hubungan seksual sama sekali, menahan hasrat biologismu yang satu ini akan jauh lebih mudah.

 

 

Akan ada ketakutan yang selalu menghantuimu. Tak ada jaminan bahwa dia 100% setia padamu. Risiko tertular Penyakit Menular Seksual terasa makin mengganggu

Risiko penyakit seks menular akan menghantuimu

Yang satu ini memang terdengar sangat klise. Aku yakin pasti kamu sering mendengarnya. Tapi apakah kamu benar-benar menyadari bahwa kamu bisa saja tertular penyakit yang berbahaya karena seks bebas? Apa kamu yakin, dia, laki-laki yang bersih dan selalu tampil klimis itu tak membawa kuman Treponema penyebab raja singa?

Jika kamu berdalih bahwa kamu hanya melakukannya dengan cowokmu dan begitupun cowokmu hanya melakukannya denganmu, apakah ada jaminan bahwa ia setia di belakangmu? Nope, dear!

 

 

Berhubungan seks selalu sepaket dengan kemungkinan hamil di luar nikah. Memilih melahirkannya atau aborsi sama-sama akan mengubah hidupmu selamanya

Kehamilan di luar nikah mengubah hidupmu

 “Bayi yang dulu merupakan hal yang aku anggap lucu sekarang berubah menjadi hal yang menakutkan. Setiap malam aku selalu dihantui oleh suara tangis bayi.“

–Marry, pacar seorang teman.

Ketika kamu hamil di luar nikah, pilihanmu ada dua. Aborsi atau menikah dengan kesiapan mental yang belum mumpuni. Dari dua pilihan itu, Marry dan pacarnya memilih untuk aborsi. Saat ini luka aborsi Marry sudah sembuh dan ia bisa beraktifitas seperti sedia kala. Namun luka psikologisnya? Belum sama sekali.

“Ibu mertua gue selalu maki-maki gue karena kesalahan sepele. Padahal waktu gue dan suami masih pacaran, dia baik banget sama gue. Tapi setelah nikah (karena hamil duluan) dia benci banget sama gue, karena katanya gue ngerusak masa depan anaknya. Padahal, kalo mau ngomongin siapa yang hidupnya paling rusak ya gue! Umur segini gue udah harus momong anak sana-sini.”

–Karin, teman dari seorang teman

 

 

Kepekaanmu pada perhatian pria juga harus makin teruji. Kadang kamu tak tahu lagi — perhatiannya memang bukti ketulusan, atau sekadar ingin menjadikanmu objek pelampiasan?

Kamu tak tahu laki-laki yang tulus

Jika kamu berhubungan seksual dengan seorang cowok atau pacarmu, kamu akan sulit mengenali motif cowok itu kepadamu. Apakah perbuatan baiknya murni karena kasih sayang, atau hanya untuk memenuhi kebutuhan seksualnya darimu.

Cewek: “Aku gak enak badan, nih. Mana di rumah lagi nggak ada siapa-siapa…“

Cowok: “Loh, orang rumah pada kemana emangnya?“

Cewek: “Ke luar kota“

Cowok: “Aku ke rumah ya. Sekalian aku bawain bubur panas buat kamu“

Cewek: “Tapi di luar hujan deras loh, masa kamu mau kesini jauh-jauh cuma buat anter bubur aja?“

Cowok: “Gak apa-apa, sayang. Buat kamu apa aja aku lakuin“

Mari majukan ceritanyaasatu jam kemudian. Dia akan datang ke rumahmu setengah basah karena menerobos hujan dengan motor sport-nya. Menyuapimu bubur dengantidak sabar. Lalu mengatakan padamu bahwa ia kedinginan dan butuh dipeluk (yang berakhir dengan kamu harus memenuhi kebutuhan seksnya).

Mungkin akan ada pula satu keadaan dimana sebenarnya cowokmu sudah tidak lagi mencintaimu namun ia tetap bertahan denganmu hingga ia mendapat cewek lain yang bisa memenuhi kebutuhan seksualnya.

“Gue udah nggak cinta sih. Tapi ngga niat juga untuk mutusin dia. Nantilah kalo udah ada pengganti yang bisa ngasih gue jatah.”

–Black, seorang teman

Aku yakin tidak semua laki-laki berpikiran sejahat itu. Namun kemungkinan bahwa kamu hanya  dimanfaatkan selalu ada, ‘kan?

 

 

 

Melepaskan pria yang sudah mengambil keperawananmu bukan perkara mudah. Sebrengsek apapun dia tak jarang kamu memilih bertahan dan menyerah

Kamu tak bisa lepas darinya

Ketika kamu memberikan keperawananmu kepada seorang cowok, kamu akan terikat sangat kuat dengannya. Itulah alasan, mengapa banyak pasangan yang tidak juga berpisah walaupun hubungan percintaan mereka seperti neraka. Memang tidak bisa digeneralisir, namun dari pengamatanku, banyak sekali pasangan yang berpacaran bertahun-tahun dengan hubungan yang tak harmonis dan tak bahagia tetap mempertahankan hubungannya.

Cewek yang sudah menyerahkan keperawanannya akan sangat takut kehilangan sang pacar. Hal ini sangat tidak sehat untuk sebuah hubungan. Karena cewek tersebut akan sangat permisif terhadap sikap cowok yang semena-mena sehingga hubungan mereka tidak seimbang.

Aku pun mengalami hal ini. Aku menyadari banyak cowok yang lebih baik dan lebih mencintaiku dari pacarku dulu. Namun aku merasa seperti tak memiliki pilihan lain karena aku sudah memberikan semua yang aku miliki kepada pacarku. Sehingga mau tak mau, aku bertahan dengannya.

 

 

Masa lalu bukan tisu sekali pakai yang mudah dibuang. Dalam hubungan barumu status “tidak perawan” akan tetap dikenang

korban

“Kemaren pacar gue nampar gue lagi pas kita berantem hebat. Dia cemburu banget gue dikasih cokelat sama cowok. Padahal lo tau sendiri kan, kalo gue dan cowok itu gak ada apa-apa. Itu Cuma hadiah ulang tahun yang biasa banget.”

–Melati, seorang teman

Setelah melakukan hubungan seksual, kamu akan lebih protektif dan memiliki rasa cemburu yang lebih besar satu sama lain. Aku banyak menjumpai kasus dimana seorang cowok melakukan kekerasan kepada pacar yang sudah disebadaninya, namun tidak pernah melakukan kekerasan serupa pada mantan pacar lain yang tidak pernah berhubungan seksual dengannya.

Menurutku, hal ini disebabkan karena rasa sayang dan cemburu yang berlebihan serta rasa memiliki secara utuh sehingga dapat memunculkan sikap semena-mena.

”Setiap kali kita bertengkar, pacarku pasti menyinggung soal ketidakperawananku. Sehingga, apapun masalahnya akulah yang akhirnya meminta maaf. Dia seolah-olah tidak pernah bersalah dalam hubungan kami hanya karena aku sudah tidak perawan dan dia masih perjaka”

–Aku

Ya, itu adalah pengalaman pribadiku. Pacarku yang masih perjaka selalu menyiksaku secara psikologis dengan bersikap seolah-olah aku sangat hina dan dia telah memuliakanku karena dia tetap memilihku walaupun aku tak lagi perawan. Sakit? Sudah pasti.

 

 

Tentu ada laki-laki yang bisa menerimamu apa adanya. Tapi ada juga yang tak bisa berbesar hati ketika tahu kondisimu yang sudah tak perawan lagi

Pilihanmu jadi terbatas

 

Ketika kamu menyadari bahwa hubunganmu dengan pria yang telah kau berikan keperawananmu dengan suka rela ternyata tak dapat dipertahankan, kamu akan menemukan masalah ini.

Tidak semua cowok mau menerima cewek yang sudah tidak perawan sebagai istri. Kalaupun ia menyatakan akan menerimamu apa adanya, bukan tidak mungkin di kemudian hari dia akan mengungkit-ungkit kembali masa lalumu yang kelam.

Kamu bisa saja tidak memberitahukan masa lalumu kepada sang calon suami. Namun, apakah sebuah ikatan pernikahan yang awalnya dilandasi kebohongan akan berjalan dengan baik? Ku rasa tidak sama sekali.

 

 

Pandangan orang tidak lagi hanya ditentukan oleh perilakumu. Melainkan  juga keputusan menyerahkan keperawanan yang kamu ambil di masa lalu

kamu sudah pasti dicap cewek nakal

 A: “Si Anggrek cantik, ya! Baik lagi, jago masak, suka sama anak-anak”

B: “Iya istriable banget. Tapi tau nggak sih lo kalo dia udah nggak perawan?”

A: “Hah, masa? Tau dari mana lo?“

B: “Jadi dia itu mantannya si C. Si C  cerita bla…bla…bla..”

A: “Wah, sayang banget ya, mau aja si Anggrek kaya gitu”

Tidak semua cewek yang rela melepaskan keperawanannya sebelum menikah adalah cewek nakal. Tapi dalam budaya Indonesia yang masih kental unsur religiusnya, keperawanan adalah suatu yang sakral, dan melakukan hubungan seks sebelum menikah adalah hal yang tabu. Sehingga bagi para pelakunya akan mendapatkan penghakiman sosial.

Dipandang rendah, dicaci, atau paling tidak, dikasihani seperti contoh dialog di atas adalah hal yang akan kamu hadapi jika kamu melakukan hubungan seks  sebelum menikah.

 

 

Pada akhirnya, mereka yang menjaga keperawanan sebelum menikah akan dinilai sebagai perempuan yang lebih istimewa dan terhormat. Kamu harus terima, walau tak sepenuhnya sepakat

istimewa

Banyak sekali cowok yang mengaku bahwa keperawanan bukan suatu hal penting yang harus diributkan. Dari obrolan ringanku dengan mereka, hampir semua cowok dengan gentle-nya mengatakan mereka dapat menerima cewek yang sudah tidak perawan sebagai pacar atau istrinya kelak. Namun, benarkah semurni itu penerimaan mereka? Benarkah pandangan mereka tentang perawan atau tidak, bukan lagi menjadi masalah penting?

“Aku nggak akanlah making love sama pacarku. Dia masih perawan. Aku emang rusak, tapi aku gak mau merusak sesuatu.”

–Red, seorang sahabat

“Aku have sex sama beberapa cewek, tapi bukan sama pacarku yang sekarang. Aku terlalu sayang sama dia. Enggak tega juga karena dia masih perawan.“

–Blue, seorang teman

Apa yang bisa kita tangkap dari pengakuan cowok-cowok di atas? Ya, mereka lebih menghargai perempuan yang bisa menjaga dirinya sehingga mereka terdorong juga untuk ikut menjaga. Mengambil sebuah keperawanan adalah sebuah beban dan diidentikkan dengan merusak sesuatu bagi mereka.

Hal itu juga lah yang mendasari mengapa cowok dengan mudahnya have seks dengan perempuan yang tidak lagi perawan. Karena mereka merasa tidak punya beban dan tidak merasa merusak!

Cewek-cewek menyukai bad boy yang menjadi good boy hanya karena dirinya. Sementara cowok-cowok menyukai good girl yang menjadi bad girl hanya karena dirinya.

Mengapa bisa begitu? Karena dua-duanya menciptakan rasa diistimewakan. Cewek-cewek akan merasa dirinya berbeda dan istimewa ketika dapat mengubah bad boymenjadi good boy. Sementara cowok-cowok akan merasa sangat tersanjung jika dia bisa mendapatkan cewek baik-baik yang menjadi nakal hanya untuk dirinya.

 

 

Namun pada akhirnya, semua pilihan tetap berada di tanganmu. Bagimu yang masih mempunyai pilihan, memilihlah dengan bijak. Karena jika saja waktu tak terlalu jauh, aku pun ingin kembali untuk dapat menganulir pilihanku. Dan bagimu yang bernasib sama denganku, kuatlah!

Renungkanlah kembali jalan hidup yang kamu ambil dan sedang kamu tapaki. Jika kamu merasa kacau, mungkin tandanya kamu harus kembali pada Tuhan. Hanya Dia yang tidak akan pernah mencampakkan dan memandangmu rendah.

Ingin menulis untuk Hipwee? Yuk, kirimkan karya tulisanmu ke redaksi Hipwee! Untuk informasi lengkapnya, silakan mampir ke sini!

sumber

Gadis Ini Mengecup Ratusan Tentara Demi Membantu Mereka Menang Perang

Kalau kamu tentara, kamu pasti tahu bahwa mental baja adalah hal yang krusial. Gadis asal New York bernama Marilyn Hare ini tahu banget apa yang bisa membuat mental para tentara “tahan banting”: suasana hati yang riang. Dia pun punya ide brilian untuk menjaga hati para tentara tetap senang: dia bakal mencium mereka satu-satu! Di bulan Februari tahun 1942 pun, gadis 18 tahun itu memulai misinya untuk mencium paling tidak 10.000 tentara Amerika — yang saat itu akan berangkat dalam misi Perang Dunia II.

Misi Marilyn ini diliput oleh majalah fotografi LIFE edisi Maret 1942. Pagi buta tanggal 5 Februari di California, di hadapan para tentara yang sudah berbaris rapi, Marilyn naik podium, dan memulai misinya dengan menyanyikan lagu balada “Kiss the Boys Goodbye”. Selesai bernyanyi, ia turun dari podium dan mulai beraksi.

Marilyn Hare

FOTO: Seorang tentara, akibat terlalu gugup, pingsan setelah diberi ciuman. Marilyn Hare tertawa geli, lalu mengutip kalimat dari drama Troilus dan Cressidakarya Shakespeare: “Ciuman yang kamu terima memang jauh lebih manis dari ciuman yang kamu beri!”

Marilyn Hare

FOTO: Marilyn Hare dalam aksinya mencium tentara Amerika yang akan landas ke medan perang. Reaksi para tentara? “Kami nggak akan cuci wajah sampai sebulan ke depan!”

 

LIFE melaporkan bahwa di hari itu, Marilyn sukses mencium lebih dari 700 tentara. Tidak ada laporan lebih jauh tentang apakah ia berhasil mencium sampai 10.000, tapi hei, 700 saja sudah termasuk angka mencengangkan.

Marilyn yang memang berambisi jadi aktris ini kemudian tercatat membintangi beberapa serial TV sebagai figuran: di antaranya The Dick Van Dyke Show, The Wild Wld West, dan Family Affair. Ia wafat tahun 1981 di California, pada usianya yang ke-57.

Artikel ini adalah saduran dari “Meet the Actress Who Set Out to Kiss 10,000 Soldiers to Boost Morale” yang dimuat di LIFE Magazine bulan Maret 1942. Artikel asilinya bisa dilihat disini.

sumber

Max Gunawan: Pengusaha Asal Indonesia yang Idenya Sukses Diperebutkan 5 Investor Amerika

Memulai bisnis bukan cuma soal seberapa besar modal yang kamu punya atau betapa sempurna rencana yang sudah kamu susun sebelumnya.

Ada modal lain yang lebih penting dari itu semua: keberanian, kenekatan — yang tetap terencana. 

Max Gunawan, seorang pebisnis asal Indonesia telah membuktikan prinsip ini dalam bisnis uniknya. Keberaniannya memulai bisnis di pasar yang masih jarang dilirik orang justru membawanya mendapatkan suntikan dana dari pebisnis ulung di Amerika Serikat lewat reality show Shark Tank. Ingin tahu kisah kesuksesan Max dan pelajaran di baliknya? Hipwee menulis artikel ini khusus untuk menjawabnya.

 

 

Max Gunawan adalah seorang arsitek yang besar di Jakarta. Keterbatasan semasa kecil membuatnya “terpaksa” mengembangkan kreativitas demi mainan yang diinginkan

Lumio muncul dari ide Max Gunawan bahwa hidup adalah tentang kesederhanaan

Dalam sebuah sesi TEDx Talks Max menceritakan masa kecilnya di Jakarta yang memotivasinya mengambil jalur arsitektur sebagai jalan hidupnya.

“Saya adalah anak tunggal. Kamu pikir dengan menjadi anak tunggal saya bisa dengan mudah mendapatkan perhatian orangtua? Nope. Ayah dan ibu saya harus bekerja 10 jam sehari, 7 hari seminggu untuk bisa menyekolahkan saya di sekolah swasta. They didn’t see me growing up.

Semasa kecil saya selalu iri pada hal yang tidak bisa kami miliki. Liburan ke luar negeri bersama keluarga, mainan Transformer milik teman yang terkesan wow, dan masih banyak hal lain yang tidak bisa kami punya. Suatu hari ayah saya datang dengan sebutir jeruk Bali. I got excited, bukan karena apa yang bisa saya makan. Melainkan apa yang bisa saya lakukan setelahnya.”

Max kecil kemudian menggunakan kulit jeruk Bali sebagai bahan untuk membuat mobil-mobilan sederhana.

“Saya menggunakan kulitnya sebagai badan mobil, 4 tutup botol sebagai roda, dan seutas tali sebagai penariknya.”

Penonton TEDx Talks yang kebanyakan orang Amerika sedikit tergelak mendengar cerita Max. Namun inilah awal mula ketertarikan Max pada desain produk. Yang kemudian mendorongnya mengambil jurusan arsitektur saat kuliah di Connecticut, AS.

 

 

Menetap cukup lama di Amerika Max sadar bahwa sekarang kita menggunakan lebih banyak hal dari yang sebenarnya kita butuhkan

Max menyadari bahwa kita menggunakan lebih dari yang kita butuhkan

“Suatu hari saya mengantre di sebuah gerai kopi ternama. Tiba-tiba orang di depan saya meminta stopper (sebuah alat untuk mencegah kopi tumpah) untuk gelasnya. Sebagai anak yang dibesarkan oleh orangtua yang bahkan akan menghukum saya jika membuang kemasan pasta gigi yang masih ada isinya, saya menahan tawa.

Berapa banyak items yang kita butuhkan untuk minum kopi? Kejadian ini menginspirasi saya untuk menciptakan desain produk yang lebih efisien. Bukankah menyenangkan jika kita bisa menikmati kenyamanan yang sama dengan lebih sedikit barang?”

Tapi ide Max tidak begitu saja bisa diwujudkan. Sebuah tawaran kerja dari korporasi datang, Max memutuskan mengambil kesempatan yang cukup menggiurkan itu dan melupakan ide yang sempat membuatnya bersemangat.

 

 

“Saya akhirnya menyadari bahwa saya bekerja demi tujuan yang salah. Saya tahu bahwa inilah saatnya saya membuat perubahan.”

Sebuah momen dalam meeting bugeting membuat Max sadar akan panggilannya

Pekerjaan di korporasi besar memang membuat Max tercukupi secara finansial. Tapi jauh dari rasa tergenapi. Sebuah pertemuan budget planning membuatnya tersadar bahwa dia harus segera hengkang dari pekerjaannya dan menggeluti hal yang menarik hatinya selama ini.

“Saya suka menciptakan dan mendesain sesuatu. Tapi pekerjaan ini tidak memberikanku kesempatan untuk melakukan hal itu.

Gajinya besar, it looks good on paper, good title.Dalam pekerjaan ini satu-satunya yang harus saya lakukan adalah memastikan pekerjaan berjalan cepat, dengan biaya serendah mungkin. Akhirnya dalam sebuah pertemuan perencanaan anggaran saya merasa tidak bisa lagi melanjutkan semua ini. Inilah titik balik dalam hidup yang membuat saya menciptakan Lumio.”

 

 

Berangkat dari ide yang muncul di rumah, laman crowd funding Kickstarter memberi Max modal 10 kali lipat lebih banyak dari yang sebenarnya ia butuhkan

Kickstarter adalah batu loncatan bagi Max Gunawan

Lumio, produk andalan Max adalah sebuah lampu portable yang diciptakan dalam bentuk menyerupai buku. Lampu ini bisa digunakan di manapun, ditempelkan di manapun — selama diletakkan di atas permukaan berbahan dasar metal.

“Pada tahun 2013 akhirnya saya memutuskan mengambil resiko dengan menekuni Lumio dan meninggalkan pekerjaan di korporasi.

Karena tidak memiliki modal yang cukup saya berusaha mengumpulkan modal lewat laman Kickstarter. Pada awalnya saya hanya ingin mengumpulkan 6o ribu dolar saja, tapi berakhir dengan 580 ribu dolar, 10 kali lipat lebih besar dari yang saya butuhkan.”

Max kemudian hijrah sesaat ke Cina, demi proses produksi Lumio. Ia menunggui proses produksi langsung di pabriknya, agar tidak ada standar yang lepas dari pengamatannya.

 

 

Shark Tank, reality show yang digawangi pebisnis sukses Amerika Serikat memperebutkan ide brilian Max untuk mereka danai

The Sharks jatuh cinta pada Lumio

Shark Tank adalah sebuah reality show yang bertujuan menemukan investor bagi ide para pendiri startup. Pada 21 Januari lalu Max muncul dengan Lumio-nya untuk mendapatkan modal sebesar 250 ribu dolar dengan share 8% untuk perusahaannya.

The Sharks, sebutan bagi para investor yang akan menggelontorkan dana, tampak tertarik dengan prototype produk yang ditunjukkan oleh Max. Ketertarikan tersebut makin terlihat ketika Max mengeluarkan prototype terbarunya, Lumio dalam ukuran handy yang bisa dibawa dalam tas dan dapat digunakan sebagai pengisi daya bagi gawai.

“Aku bisa melihat visinya. Dia bahkan pergi ke Cina demi melihat proses produksi. Anak ini detil.”

Lori Grenier, billionaire pemilik QVC TV

Ketertarikan The Sharks semakin terlihat pasca Max menjelaskan bagaimana bisnis ini bisa berkembang. Dalam setahun Max bisa mendapatkan 1 juta dolar tanpa advertising dan strategi marketing.

“Produk ini jelas bisa membawa senyum pada dirimu. Dan kerjasamamu dengan museum adalah strategi yang sudah sangat baik.”

Robert Herjavec, CEO The Herjavec Group

Robert adalah orang pertama yang menawarkan investasi sebesar 250 ribu dolar dengan 10% bagian untuk Lumio. Tapi persaingan terus berlangsung, keempat Sharks menawarkan investasinya dalam nominal yang beragam. Di akhir proses tawar menawar Robert akhirnya merevisi tawarannya dengan meningkatkan investasinya sebesar 100 ribu dolar menjadi 350 ribu dolar dengan share bagi Lumio tetap 10%.

Max memilih Robert sebagai investornya setelah tawaran terakhir tersebut dikeluarkan. Datangya tawaran dari 5 Sharks merupakan momen yang langka dalam reality show ini.

Max menunjukkan bahwa bisnis bukan sekadar soal ide brilian saja. Kegigihan, keuletan, dan visi yang jelas lah yang membuat Lumio tak bisa dianggap remeh

Max membuktikan bisnis tidak bisa sukses dalam semalam

Max adalah contoh nyata bahwa bisnis tidak bisa hadir dan sukses dalam semalam. Max pernah masuk ke pekerjaan yang akhirnya ia sadari sebagai arah yang salah dalam hidup. Ia pernah merasa bimbang dan mempertanyakan idenya sendiri: apakah ide ini cukup layak membuatnya meninggalkan pekerjaan, atau hanya harus dikerjakannya secara paruh waktu.

Bahkan ketika ia sudah yakin menekuninya Max harus pergi ke Cina agar bisa secara langsung mengamati proses produksinya. Lumio adalah bukti nyata bahwa tak peduli sebrilian apapun ide yang kamu miliki, semua tak akan berarti tanpa adanya visi.

Keberhasilan Max menarik mata investor tak bisa dilepaskan dari kerja keras dan visi yang ia miliki selama ini. Jika kamu adalah pemilik bisnis yang juga ingin mengikuti kesuksesan serupa langkah Max yang teguh bekerja keras dan fokus pada visinya layak kamu terapkan dalam praktek sehari-hari.

Max Gunawan hanyalah salah satu contoh pebisnis Indonesia yang berhasil menarik perhatian dunia. Dulu dia juga hanya bocah Jakarta biasa, menjalani harinya seperti aktivitas sehari-hari kita.

Maka bukan tak mungkin kamu juga bisa mengikuti jejaknya ‘kan setelah membaca kisah Max?

sumber

 

%d blogger menyukai ini: