Beranda > revo > Karena Uang Tak Menentukan Segalanya, Tinggi-Rendahnya Gajimu Bukan Standar Bahagia!

Karena Uang Tak Menentukan Segalanya, Tinggi-Rendahnya Gajimu Bukan Standar Bahagia!

Banyak hal yang bisa dijadikan pertimbangan ketika menentukan pilihan karir. Gengsi, renjana, hingga latar belakang pendidikan misalnya. Tak bisa dipungkiri, perkara gaji seringkali salah satu jadi pertimbangan yang paling utama.

Tentu ini bukan tanpa alasan. Usia dewasa mengharuskan kita untuk bisa mandiri – mampu memenuhi segala kebutuhan kita sendiri. Jika saat kuliah kita masih bergantung pada uang bulanan dari orangtua, hal yang sama tak boleh terjadi setelah kamu sudah bekerja. Gaji yang kamu terima sebisa mungkin harus mencukupi segala kebutuhan yang ada.

Tapi seberapa jauh kamu harus merisaukan tinggi-rendahnya gaji? Apakah kamu harus membatasi diri untuk mencari kerja dengan gaji selangit, atau seharusnya kamu bersyukur saja punya gaji yang bisa membuat kebutuhanmu tercukupi?

 

 

Sebagai mantan mahasiswa yang biasa hidup seadanya, mungkin kamu dibutakan sejenak oleh “pesona” gaji pertama

gaji pertama = bahagia

Jika di masa-masa kuliah kamu terbiasa “berpuasa”, kondisi keuanganmu setelah bekerja akan jauh berbeda. Pikirmu, gaji pertama yang kelak kamu terima akan mampu mencukupi segala kebutuhanmu sehingga momen gajian memang layak untuk ditunggu-tunggu.

Jauh-jauh hari kamu sudah membayangkan betapa banyak hal yang bisa kamu lakukan dengan gaji pertamamu. Belanja kebutuhan sehari-hari, membeli setelan kerja baru, alat mekap, hingga menyambangi restoran-restoran yang selalu bisa membuatmu menelan air liur sendiri ketika melewati gerainya saat masih jadi mahasiswa.

Tapi tunggu! Apakah kenyataan selalu sama persis dengan apa yang kamu bayangkan?

 

 

Gaji pertama memang bisa membuat hatimu berbunga-bunga. Keinginan memberi sebagian pada orangtua hingga bersedekah demi sesama sudah kamu putar berulang-ulang di kepala

berharap bisa berbagi dengan sekitarmu

Gaji pertama memang selalu datang sepaket dengan romantismenya. Kamu tentu masih ingat betapa bahagianya kamu saat akan menerima gaji pertamamu. Saking senangnya, kamu ingin berbagi kebahagiaan itu dengan orang-orang yang kamu sayangi.

Orangtua adalah prioritas utama. Ingin rasanya memberikan sebagian hasil keringatmu sendiri pada mereka yang sudah demikian berjasa dalam hidupmu. Kamu menyadari bahwa tanpa jasa-jasa mereka, mustahil kamu bisa jadi dirimu yang sekarang. Selain orang tua, mereka yang hidupnya serba kekurangan pun akan kamu pikirkan. Bayanganmu, sebagian gaji kelak akan kamu sisihkan untuk mereka.

Sayangnya, niat baik pun tak melulu bisa berjalan dengan mulus. Meski sudah menyusun rencanamu matang-matang, kadang kamu harus kecewa karena segala rencana baikmu tak berjalan sebagaimana mestinya.

 

 

Setelah menerima gaji dan mengalokasikannya untuk berbagai kebutuhan, barulah kamu sadar bahwa kenyataan belum tentu sesuai dengan harapan

kenyataan ternyata tak sesuai harapan

Yup, kenyataan memang tak selalu sesuai dengan apa yang kamu harapkan. Setelah menerima gaji dan mengalokasikannya untuk berbagai kebutuhan, barulah kamu merasa kelimpungan. Menekuni pekerjaan baru dan tinggal sendiri di tempat yang baru nyatanya menjadikan kebutuhanmu pun bertambah banyak.

Tak disangka, gaji yang baru saja kamu terima nyatanya sudah habis begitu saja. Kadang, kamu hanya bisa bertanya dalam hati: kok cepet banget sih habisnya? Emang aku pakai buat apa aja ya?

Penasaran, kamu pun mulai menghitung-hitung kembali pengeluaranmu. Struk belanja yang masih tersimpan di dompet buru-buru kamu keluarkan. Berharap rasa penasaranmu akan terjawab setelah kembali menghitung semua pengeluaran. Tapi nyatanya, tak ada hitungan yang meleset atau keliru. Gajimu memang habis lantaran digunakan untuk berbagai kebutuhan.

 

 

Ketika merasa pendapatanmu pas-pasan, kamu pun mulai membandingkan-bandingkan gajimu dengan gaji teman-temanmu yang lain

membandingkan gajimu dengan teman-temanmu

Saat berbagai kebutuhan tak bisa baik-baik terpenuhi, kamu akan merasa bahwa gajimu pas-pasan. Tak jarang, kamu jadi merasa tak puas karena pekerjaan yang tengah dilakoni. Parahnya lagi, kamu mulai membandingkan pendapatanmu dengan gaji yang diperoleh teman-temanmu.

Mendengar temanmu punya gaji yang lebih tinggi kamu dilanda kepanikan. Pikirmu, kenapa dia bisa mendapat gaji lebih tinggi padahal kalian sama-sama sarjana dan dari jurusan yang sama pula. Dalam kondisi seperti ini, kamu cenderung tak bisa fokus bekerja karena pikiranmu tersita untuk mempertanyakan keadaan. Kamu sibuk membayangkan; betapa hidupmu akan jauh lebih bahagia jika gajimu bisa setinggi atau sebesar gaji teman-temanmu.

 

 

Keinginan untuk bergaji lebih tinggi kadang membuatmu berpikir untuk mengundurkan diri dan mencari pekerjaan baru

ingin mencari pekerjaan baru

Akrab dengan gaji yang pas-pasan, ada kalanya kamu merasa jengah. Kamu berharap bisa segera resign dan menemukan pekerjaan baru yang gajinya lebih tinggi. Pikirmu, jika gaji yang lebih tinggi bisa kamu dapati dan segala kebutuhanmu terpenuhi, kamu pun bisa lebih bahagia dan menikmati hari-harimu.

Gaji yang tinggi akan membuatmu lebih bersemangat berangkat ke kantor setiap harinya. Segala pekerjaan pun bisa kamu tuntaskan karena kebutuhanmu sudah tercukupi. Segala permasalahan di kantor tak akan menjadikanmu malas atau patah arang untuk menyelesaikannya.

Tapi, apakah gaji yang tinggi adalah satu-satunya yang mempengaruhi kinerja dan produktivitasmu? Adakah pekerjaan jadi lebih ringan dan masalah bisa lebih cepat dituntaskan karenanya?

 

 

Tapi jangan salah kira. Gaji yang tinggi pun akan berbanding lurus dengan munculnya berbagai kebutuhan tambahan yang juga harus dipenuhi!

tinggi gaji berbanding lurus dengan kebutuhanmu

Dalam kondisi ini, kamu mungkin lalai bahwa setiap pekerjaan pastilah punya karakteristiknya masing-masing. Semakin tinggi gaji seringkali berbanding lurus dengan tingginya kebutuhan yang juga harus dipenuhi.

Kenapa teman-temanmu yang bekerja di bank punya gaji yang lebih tinggi? Ternyata, yang menjadikan gaji mereka lebih tinggi lantaran ada tunjangan kecantikan yang mereka terima. Pegawai perempuan diwajibkan membeli alat-alat mekap, sedangkan yang laki-laki harus membeli aksesoris penunjang, dasi misalnya. Hal ini lantaran pekerjaan mereka memang menuntut penampilan fisik nan prima setiap harinya.

Seorang temanmu yang bekerja sebagai staf marketing pun mengalami hal yang sama. Hampir setiap hari harus bertemu klien, mereka dituntut selalu berpenampilan rapi demi bisa jadi representasi perusahaan. Tidak salah jika gaji mereka lebih tinggi karena kebutuhan akan penampilan jadi salah satu yang diperhitungkan oleh perusahaan.

 

 

Tempat kerja baru juga belum tentu menjamin penghasilan yang lebih tinggi. Untuk menentukan besaran gaji, semua perusahaan tetap harus berkalkulasi dengan hati-hati.

gaji tinggi diberikan perusahaan dengan pertimbangan

Mencari pekerjaan dengan gaji tinggi juga bukan perkara mudah. Tanpa perhitungan yang matang, buru-buru meninggalkan pekerjaan yang lama justru bisa membuatmu menganggur. Pasalnya, gaji tinggi akan diberikan oleh perusahaan pada karyawan dengan berbagai pertimbangan.

Lamanya masa kerja, tingkat produktivitas, besar kecil tanggung jawab yang harus diemban, bahkan hingga aspek kepribadian. Yang pasti, semakin tinggi gaji yang kamu peroleh biasanya akan berbanding lurus dengan beban kerja dan tanggung jawab yang tinggi pula. Jika berharap gaji tinggi dengan tanggung jawab dan beban kerja yang minim, maka bersiaplah untuk gigit jari.

 

 

Dan ketika kamu sudah menyentuh titik kedewasaan, tinggi-rendahnya gaji bukan lagi perihal yang harus dirisaukan.

perkara gaji tak harus dirisaukan

Gamang perkara gaji yang menurutmu pas-pasan, kelak kamu akan sampai pada satu kondisi. Dimana kamu akan menyadari bahwa perkara tinggi atau rendahnya gaji bukanlah sesuatu yang harus kamu risaukan. Satu-satunya yang bisa kamu lakukan adalah melakoni pekerjaanmu dengan hati dan loyalitas yang tinggi.

Selain itu, kamu dituntut untuk piawai dan pintar-pintar mengatur keuanganmu sendiri. Sesuaikan pendapatan dengan jumlah kebutuhan atau pengeluaranmu. Pastikan untuk tidak melakoni peribahasa; besar pasak daripada tiang. Mungkin, di level ini kamu memang sedang ditempa habis-habisan agar bisa hidup hemat. Agar kelak saat hidupmu sudah berkecukupan, kamu bisa lebih bijaksana “memperlakukan” uangmu.

 

 

Sebelum mengklaim kamu underpaid, tanyakanlah diri sendiri. Apa gaji yang kamu terima memang tak sesuai dengan beratnya beban kerja? Apakah perusahaan memang tak bisa memberikan sesuatu yang menjamin perkembangan pribadimu?

apakah sesuai dengan beban kerjamu

Ada kalanya kamu memang pantas merenungkan; apakah perusahaan memang sudah cukup menghargai kinerjamu? Pikirkan tentang beban kerja dan tanggung jawab yang selama ini kamu emban, adakah mereka sudah menggajimu dengan sepadan?

Jika sudah, kamu sepatutnya menghargai pekerjaanmu sendiri beserta gaji yang saat ini kamu terima. Tapi jika belum, mencari pekerjaan baru bisa jadi solusi yang sebelumnya harus kamu pikirkan matang-matang.

Sambil menjalani pekerjaanmu yang sekarang, temukan pekerjaan-pekerjaan lain yang memberikan gaji sesuai keinginanmu atau boleh dibilang lebih layak. Ketika akhirnya menemukan pekerjaan yang menurutmu sesuai, meninggalkan pekerjaan lama tentu tidaklah dilarang.

 

 

Baik-tidaknya pekerjaan tak hanya ditentukan oleh gaji yang kamu terima. Ini juga tentang kenyamanan dan kesesuaian dengan renjana.

apakah pekerjaan itu membuatmu nyaman?

Meskipun sulit, menemukan pekerjaan dengan gaji tinggi bukanlah sesuatu yang mustahil. Tapi ingat, segala yang kamu dapatkan akan sesuai dengan beban kerja yang kamu lakoni. Apa artinya gaji tinggi jika setiap hari kamu tak bisa hidup tenang karena selalu dikejar-kejar target penjualan?

Selain itu, perkara minat dan bakat, rasa nyaman pun tak bisa diabaikan begitu saja. Yakin kamu bisa bekeja dengan atasan yang galak atau rekan kerja yang tidak bersahabat? Apakah kamu masih bersikeras bertahan demi gaji tinggi jika pekerjaan yang harus kamu lakoni tak sesuai minat dan bakatmu sendiri?

“Money is numbers and numbers never end. If it takes money to be happy, your search for happiness will never end.”

 

Jika saat ini kamu masih mengakrabi gaji yang pas-pasan, yakinlah bahwa kamu tidak sendirian. Di luar sana, banyak orang melakoni hal yang sama. Percayalah, kelak akan tiba saat dimana kita bisa tertawa dan menyadari bahwa uang bukanlah satu-satunya yang membuat kita bahagia.

sumber

Kategori:revo Tag:, , ,
  1. Belum ada komentar.
  1. 12 Februari 2015 pukul 3:41 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: