Arsip

Archive for 11 Januari 2015

Malaysia Gerebek Dan Sita Ratusan Injil Karena Menggunakan Kata “Allah”

Bukan hanya di Indonesia, kasus intoleransi pun juga terjadi di Malaysia. Otoritas Islam Malaysia menggrebek kelompok Kristiani dan menyita lebih dari 321 Kitab Injil (Alkitab) karena menggunakan kata Allah.

Pengadilan Malaysia Oktober lalu menetapkan bahwa kata Allah hanya dapat digunakan oleh warga Muslim saja.

 

Injil dalam bahasa Melayu itu disita dari komunitas Injil di negara bagian Selangor, di dekat Kuala Lumpur.

 

Malaysiia Sita Injil Karena Gunakan Kata Allah

Cover Alkitab/Injil dalam bahasa Malaysia

 

Umat Kristiani di Malaysia menggunakan kata Allah selama berabad-abad sebelum menjadi sumber perpecahan.

 

Keputusan pengadilan untuk melarang penggunaan kata Allah itu disambut pihak konservatif Muslim namun memicu keprihatinan di antara umat Kristiani.

 

Sebagian besar Injil yang disita diimpor dari Indonesia. Sebagian di antaranya menggunakan bahasa Iban, salah satu bahasa yang digunakan suku asli setempat.

 

Malaysia Sita Injil Karena Kata Allah

Salah satu kelompok ormas Islam (semacam FPI-nya Malaysia) di Malaysia yang berujuk rasa mendukung pelarangan penggunaan kata Allah

 

Dewan Gereja Malaysia mengatakan dalam satu pernyataan mereka ‘prihatin’ atas penggerebekan itu. Mereka mendesak pemerintah untuk “melindungi hak agama warga seperti yang ditetapkan dalam Konsitutsi Federal”.

 

Sengketa penggunaan kata ‘Allah’ oleh non-Muslim muncul awal 2009 dipicu sengketa di surat kabar Katolik. Saat itu Kementerian Dalam Negeri mengancam akan mencabut izin surat kabar Katolik Herarld karena menggunakan kata Allah.

 

Penggerebekan ini membuat hubungan antar agama di Malaysia menjadi memanas.

(BBC, Reuters, Islam Pos, DW)

Kategori:revo

Suasana Saat Diberlakukan Aturan Para Mahasiswi Di China Dilarang Mengenakan Bra

China memang tidak main-main dalam pembangunan sumber daya manusianya. Mereka memberlalukan aturan gila dan sedikit nyeleneh yang berlaku di semua sekolah dan Universitas.

 

Pemerintah China memberlakukan kebijakan ketat dan keras untuk mencegah terjadinya kecurangan, semisal joki ujian atau mencontek. Para siswi dan mahasiswi dilarang mengenakan bra, khususnya bra berkawat saat mereka mengikuti ujian.

 

Ujian Dilarang Pakai Bra

Para polisi berjaga di gerbang kampus.

 

Salah satu pemeriksaan dimana terlihat mahasiswi ini tidak mengenakan bra, terlihat dari (maaf) payudaranya yang “kempis” dan menerawang

 

Polisi dan para pengawas menggeledah siswi wanita sejak di gerbang sampai sebelum memasuki ruang ujian. Kebijakan ini diberlakukan karena banyak terjadi kecurangan yang menggunakan alat komunikasi wireless (tanpa kabel) dan menyimpan contekan di bra yang mereka pakai

 

Yang nekat memakai bra digeledah tanpa ampun

 

Apakah ini melanggar Hak Asasi Manusia? Nampaknya tidak, sebab kita harus bisa bersikap proporsional dalam menyikapi ini. Memang kebijakan ini membuat para siswi di China merasa was-was karena payudara mereka dibiarkan tanpa penyangga.

 

Suasana salah satu ruang ujian sebuah Universitas di Shenyang dimana semua mahasiswi tidak mengenakan bra

 

Namun itu semata-mata dilakukan demi tercapainya level kedisiplinan yang tinggi bagi para kaum muda China di saat banyak kaum muda di banyak negara yang bersikap manja dan mudah menyerah.

 

Bra Cheat

Salah satu bentuk kecurangan klasik saat ujian dengan menggunakan bra

 

Ujung-ujungnya hal ini dilakukan demi kemajuan China. Apakah pantas apabila diterapkan juga di Indonesia?

(China News, Straits Times, National Post)

%d blogger menyukai ini: