Beranda > revo > Membuatmu Kagum Sampai Geleng-Geleng Kepala

Membuatmu Kagum Sampai Geleng-Geleng Kepala

Indonesia memang surganya keberagaman budaya. Selain kearifan lokal masyarakatnya yang bersahaja, masing-masing daerah selalu punya cara untuk memikat pengunjungnya dengan tradisi unik yang mempesona. Tak jarang, mereka malah bikin kamu heran sampai geleng-geleng kepala.

Nah, sebagai orang Indonesia yang cinta petualangan dan ingin menggali pengalaman, tradisi-tradisi unik berikut ini tentu gak boleh kamu lewatkan. Hipwee akan paparkan beragam tradisi unik Indonesia yang bisa membuka matamu bahwa jika berurusan dengan budaya, Indonesia itu gak ada duanya!

 

 

 

1. Perancis punya La Fête du Baiser, Bali pun punya festival berciuman yang namanya Omed-omedan

Omed-Omedan di Bali.

Berlibur ke Bali bertepatan dengan hari raya Nyepi memang bikin bosan. Selain jalanan sepi dan tempat wisata pada tutup, kamu juga diminta untuk gak meninggalkan penginapan untuk menghormati hari raya ini. Gak usah bete, karena esoknya kamu bisa menonton tradisi menarik yang digelar setiap tahun baru Saka di Desa Sesetan, Denpasar.

Tradisi unik yang ini bernama Omed-Omedan, yang artinya” tarik-tarikan.” Ya, inilah tradisi ciuman massal warisan leluhur yang dilakukan anak-anak muda Desa Sesetan. Konon, tradisi ini sudah digelar sejak abad ke-17.

Pesertanya mulai dari anak SMP sampai mahasiswa yang belum menikah. Muda-mudi akan diarak secara terpisah, sesuai jenis kelamin untuk kemudian saling tarik dan berciuman. Jangan salah sangka terhadap makna di bali ktradisi ini, ya. Omed-omedan memiliki tujuan untuk mengakrabkan muda-mudi sembari membuat mereka punya kesempatan saling meminta maaf sebelum menyambut tahun Saka.

Wah, kok kayaknya asyik, sih? Hipwee boleh ikutan juga gak ya?:D

 

 

2. Tawuran yang satu ini gak berbahaya. Inilah acara Tawur Nasi di Rembang, Jawa Tengah yang justru bikin orang-orang bergembira

Tawur Nasi di Rembang

Mendengar kata ‘tawuran’, apa yang terbayang di benakmu? Mungkin dua kubu massa yang saling hantam dengan batu, kayu, bahkan senjata tajam. Nah, tawuran yang ini memang gak kalah brutal. Tapi, alih-alih menyerang dengan kebencian, mereka justru bergembira. Senjatanya juga gak berbahaya, karena mereka saling serang dengan nasi.

Tradisi Tawur Nasi ini diadakan setiap tahun di Desa Pelemsari, Rembang, Jawa Tengah sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang melimpah. Seusai berdoa, pemuda-pemuda desa saling lempar sambil tertawa gembira. Konon, pernah suatu kali desa ini gak mengadakan tradisi Tawur Nasi, dan hasilnya mereka gagal panen. Nantinya, nasi-nasi yang tercecer ini akan dikumpulkan warga untuk pakan ternak. Mereka percaya, hasil dari ternak yang diberi makan nasi hasil “tawuran” akan melimpah seperti panen mereka.

 

 

3. Di Mentawai kamu bisa menemukan gadis-gadis bergigi runcing yang membentuk kecantikannya lewat prosesi kerik gigi

Kerik Gigi Mentawai

Jika di Bali kamu mengenal upacara potong Gigi, masyarakat adat Mentawai, Sumatera Barat, juga punya tradisi yang serupa. Tradisi ini dilakukan sebagai simbol kedewasaan seorang wanita di suku Mentawai. Selain itu, kerik gigi ini juga dipercaya menambah kecantikan dari si wanita. Wanita yang giginya runcing akan lebih digilai pria-pria di sekitarnya.

Tak hanya menambah kecantikan, modifikasi tubuh dengan kerik gigi dipercaya bisa membuat jiwa berdamai dengan tubuh. Masyarakat Mentawai percaya bahwa untuk mendapatkan kebahagiaan keinginan jiwa harus sejalan dengan bentuk tubuh. Keyakinan ini diwujudkan laki-laki Suku Mentawai lewat tato tradisional, dan bagi wanitanya melalui tradisi kerik gigi.

Bagaimana cara meruncingkan gigi ala Mentawai? Gigi gadis-gadis ini akan dikerikmenggunakan alat dari besi yang sudah diasah sampai runcing. Proses meruncingkan gigi ini sangat menyakitkan dan tanpa menggunakan anastesi sama sekali. Sehingga perlu waktu tidak sebentar untuk meruncingkan seluruh gigi yang ada. Seharusnya cuma gadis Mentawai yang punya hak untuk bilang, “Beauty is pain” – kamu-kamu yang sudah merasa paling menderita saat dibersihkan komedonya waktu facial tidak layak mengeluh. :p

 

 

4. Menyambut Ramadhan ala masyarakat Riau dengan mandi beramai-ramai lewat ritual Balimau Kasai

Balimau Kasai

Sehari menjelang bulan puasa, masyarakat Kabupaten Kampar, Riau, mengadakan ritual besar-besaran yang diikuti seluruh lapisan masyarakat, mulai dari pemuka adat, pemuka agama, pejabat pemerintah, sampai maysarakat umum. Mereka menyucikan diri di sungai Kampar sebagai perwujudan rasa syukur memasuki bulan Ramadhan dalam ritual Balimau Kasai.

Balimau Kasai adalah tradisi mandi beramai-ramai menggunakan limau atau campuran jeruk, dan kasai, wewangian yang digunakan untuk keramas. Masyarakat Kampar percaya, pengharum rambut ini dapat mengusir segala macam rasa dengki yang mendiami pikiran. Sebelum menceburkan diri ke sungai, ada acara santap bersama yang disebut Makan Majamba.

 

 

5. Manusia super itu bukan sekadar cerita komik. Kamu bisa melihat manusia-manusia super beraksi lewat atraksi Debus di Banten

Atraksi Debus di Banten

Kamu pasti gak asing lagi dengan Superman, pahlawan super yang punya kekuatan dahsyat dan kebal terhadap serangan senjata tajam maupun peluru. Di Indonesia, Superman itu, bukan sekadar fiksi. Gak percaya? Saksikan aja atraksi Debus yang ada di provinsi Banten.

Mereka memperlihatkan kemampuan super mereka dengan atraksi-atraksi seperti menyayat atau mengoleskan api di kulit sendiri, berguling di atas serpihan beling, menginjak paku atau bara api menyala, bahkan sampai menyiram tubuh dengan air keras. Hebatnya, mereka sama sekali gak terluka atau merasakan sakit. Praktisi debus ini gak cuma terdiri dari orang-orang dewasa, ada remaja dan anak-anaknya juga, lho. Hiii, mereka memang gak terluka, tapi atraksinya bikin ngilu yang lihat.

 

 

6. Kalau Rembang punya ritual Tawur Nasi, masyarakat Bugis di Bone juga punya tradisi adu betis untuk mensyukuri hasil panen

Malanca, tradisi adu betis di Bone

Masyarakat Dusun Paroto, Desa Samaelo, Barebbo, Bone, Sulawesi Selatan, ini juga punya tradisi menarik untuk mengungkapkan rasa syukur setelah memanen padi. Gak kalah brutal dengan Tawur Nasi di Rembang, mereka saling mengadu kekuatan betis lewat permainan Malanca. Tradisi turun-temurun ini diikuti oleh sejumlah pemuda kampung dan disaksikan oleh ratusan warga lainnya.

Setelah aba-aba, pesertanya akan saling adu kuat menendang betis lawan. Tak jarang, mereka akan meringis kesakitan, bahkan sampai keseleo karena kekuatan tendangan lawan. Tapi, gak ada yang mendendam, mereka tetap bersuka cita karena hasil panen yang melimpah. Hayo, beranikah kamu mencoba mengadu kekuatan dengan mereka?

 

 

7. Tradisi Potong Jari, bukti kehilangan tingkat tinggi yang dilakukan oleh Suku Dani

Seorang sesepuh memperlihatkan jarinya yang tidak utuh

Kamu mungkin pernah menonton film Denias, Senandung di Atas Awan karya sutradara John de Rantau. Kalau iya, kamu pasti gak asing lagi dengan tradisi yang satu ini. Potong Jari adalah tradisi berkabung yang dimiliki suku Dani untuk mengungkapkan kesedihan karena ditinggalkan oleh anggota keluarga.

Kenapa potong jari? Bagi Suku Dani, jari bisa diartikan sebagai symbol kerukunan, kebersatuan dan kekuatan dalam diri manusia maupun sebuah keluarga. Kehilangan salah satu ruasnya saja, tangan kita tidak lagi berfungsi optimal. Itulah nilai filosofi dari tradisi ini. Zaman sekarang, tradisi ini sudah mulai ditinggalkan, tapi kamu masih bisa menjumpai sesepuh suku Dani yang jemarinya sudah tidak utuh lagi.

 

 

8. Saksikan masyarakat Toraja menghantarkan roh leluhur lewat perayaan meriah upacara Rambu Solo

Upacara Rambu Solo Toraja

Upacara Rambu Solo adalah pesta kematian unik dari Tana Toraja. Upacara ini dimaksudkan untuk mengantarkan arwah kerabat yang sudah meninggal menuju alam roh untuk kembali pada leluhur mereka. Bagi masyarakat Toraja, seseorang belum dianggap mati bila belum diantar ke alam roh lewat upacara ini. Mereka cuma dianggap layaknya orang sakit: masih diberi makan, pakaian, bahkan diajak bicara. Nah, Rambu Solo adalah upacara agar kematian mereka sempurna.

Pesta yang meriah ini diadakan sampai berhari-hari dengan sejumlah prosesi yang rumit. Keluarga yang mengadakan upacara juga menyediakan kerbau dan babi untuk dikurbankan, jumlahnya pun mencapai puluhan ekor. Padahal, kerbau yang disembeli itu bukan kerbau sembarangan, melainkan kerbau Tedong Bonga yang harganya berkisar antara 10–50 juta per ekornya. Gak heran kalau upacara Rambu Solo adalah salah satu upacara pemakaman termahal; tradisi ini bisa menghabiskan ratusan juta sampai milyaran rupiah!

Dengan biaya yang fantastis itu, keluarga yang ingin mengadakan upacara Rambu Solo harus menngumpulkan uang sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Makanya, jika kamu bertandang ke Tana Toraja, jangan sampai melewatkan acara yang satu ini, karena bisa menjadi pengalaman sekali seumur hidupmu.

 

 

9. Gak cuma panorama yang mempesona, Bromo juga menjadi tempat masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada

Prosesi upacara Yadnya Kasada

Pemandangan yang disuguhkan Gunung Boromo selalu memikat untuk disambangi. Tapi, kamu tahu gak kalau Bromo juga menjadi tempat masyarakat Tengger menggelar ritual adat Yadnya Kasada? Upacara Yadnya Kasada atau Kasodo ini digelar setiap bulan Kasada hari-14 dalam penanggalan kalender tradisional Hindu Tengger. Masyarakat Tengger memang memegang teguh adat Hindu lama dan mengadakan upacara ini untuk mempersembahkan sesajen pada Sang Hyang Widhi.

Upacara Kasada ini tak lepas dari kisah Rara Anteng dan Jaka Seger yang menjadi cikal bakal penduduk Tengger. Ritual ini bertujuan untuk menghormati putra bungsu mereka yang mengorbankan diri untuk meredakan murka Sang Hyang Widhi. Jika kamu ingin menyaksikan jalannya ritual ini, kamu bisa bersiap dari malam hari saat upacara hendak digelar, karena tempat ini akan dibanjiri oleh penduduk Tengger serta pengunjung dari segala penjuru. Yang menarik, kamu bisa melihat ternyata banyak orang yang sudah bersiap dengan jala di bibir kawah untuk menangkap sesajen yang dilemparkan ke dalam kawah. Wah, berani juga, ya.

 

 

10. Saat kita menyambut tahun baru dengan riuhnya kembang api — tradisi Tapa Bisu Mubeng Beteng di Yogyakarta jadi pengingat untuk selalu mawas diri

Tapa bisu mubeng beteng

Selain punya destinasi wisata dan ragam kuliner yang khas, Yogyakarta juga punya sejumlah tradisi unik. Salah satunya adalah tradisi Tapa Bisu Mubeng Beteng. Tradisi ini diadakan setiap malam Satu Suro alias malam Tahun Baru kalender Jawa. Dalam tradisi ini, para abdi dalem Keraton beserta ribuan warga Yogyakarta berjalan kaki melakukan kirab atau arak-arakan sambil tapa bisu (membisu) selama mengitari benteng Keraton.

Tradisi ini dimaksudkan sebagai sikap mawas diri atas segala perbuatan yang dilakukan selama setahun ini dan mengharapkan kesejahteraan serta keselamatan pada tahun berikutnya. Kalau mau, kamu juga boleh bergabung dengan warga Jogja untuk melakukan tradisi ini. Tapi ingat, selama mubeng benteng kamu dilarang berbicara dan wajib menjaga keheningan.

 

Tradisi unik ini adalah bukti bahwa Indonesia  sarat makna. Kamu mungkin gak bisa menjamahi semuanya, tapi mengenal dan mempelajari mereka akan menjadikanmu pribadi yang kaya. Apa kamu punya tradisi unik lain di daerahmu? Bagikan ke pembaca lain lewat komentar, yuk!

sumber

Kategori:revo Tag:, , ,
  1. Belum ada komentar.
  1. 23 Desember 2014 pukul 10:30 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: