Arsip

Archive for 2 Desember 2014

7 Trik Mudah Memasarkan Bisnismu yang Baru Seumur Jagung di Media Sosial

Hai entrepreneur muda Indonesia! Kamu pasti udah tahu dan paham betul manfaat media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, sapai Path sebagai alat promo untuk bisnis yang kamu jalankan. Baik kamu seorang penyedia jasa maupun produsen barang-barang bermutu, media sosial memberi kamu kesempatan untuk bertemu dengan calon konsumen.

Tapi ingat cuma “kesempatan’ lho ya, jika kamu masih memakai cara yang biasa-biasa aja di media sosial jangan harap kamu bisa terhubung dengan mereka. Untuk kamu yang masih baru (dan berpengalaman juga boleh) dalam pemasaran media sosial, trik-trik berikut bisa kamu coba untuk meningkatkan interaksi dengan calon konsumen hingga akhirnya kamu bisa memperoleh pelanggan baru. Penasaran apa aja trik-nya?

 

 

1. Coba cari nama bisnismu di kolom “search” atau via Google, lalu tunjukkan empatimu pada pelanggan

sdsd

Menjalankan pemasaran via media sosial gak mengharuskan kamu nge-tweet atau memposting dengan bahasa yang kaku. Semua orang juga tahu kalau kamu bukan robot, jadi jangan bertindak seperti robot. Kamu harus tetap manusiawi, ramah dan mau mendengarkan keluhan pengguna media sosial. Karena dari keluhan tersebut kamu bisa masuk ke dalam percakapan yang membekas di ingatan mereka. Jangan ragu buat memasukkan kata kunci ke kolom “Search” twitter, karena hari ini semua keluhan dilempar ke Twitter.

Misalnya kalau kamu pengusaha restoran baru (sebut saja @restoMawar) dan mengandalkan media sosial untuk pemasaran, masukkan kata kunci “Pesanan lama” atau “pelayanan jelek” di pencarian twitter, dengan jangkauan pencarian disetel untuk radius dalam kota kamu aja. Ketika kamu menemukan tweet semacam “Aduh makan di @restoAAA gak rekomen banget. Pelayannya jelek, pesanan lama diantar #fail” segera respon keluhan tersebut dengan tweet empati (menggunakan akun twitter resmi resto kamu tentunya) dengan, “Sayang bangetlunch kamu jd gak asik, Bob. Semoga hari kamu tetap menyenangkan. Cheers!” 

Apakah Bob langsung pindah ke restoran kamu? Kemungkinan nggak. Tapi besok kalau Bob mau makan siang lagi, resto kamu pasti jadi pilihan pertamanya. Lalu ketika Bob check-in lewat Path atau sekedar ‘Like’ Page resto kamu di Facebook, teman-temannya akan melihat dan bertanya apa restorannya enak? Jika pelayanan dan kualitas yang kamu berikan memang oke, Bob pasti merekomendasikan restomu ke teman-temannya. Cara ini juga berlaku kalau kamu menawarkan jasa di media sosial, contohnya jika kamu seorang fotografer, bubuhkan keyword “Cari fotografer” di pencarian kamu.

 

 

2. Feedback dari pelanggan itu ada buat direspon. Bukan diabaikan!

Jangan malas...

Sekitar 60% brand besar yang udah punya nama gak merespon semua keluhan, pertanyaan, saran, dan pujian yang disampaikan pelanggan serta calon pelanggan lewat beragam media sosial yang mereka miliki. Padahal, dari merekalah kamu bisa mengambil kesempatan untuk meraih perhatian mereka yang terabaikan. Sama seperti contoh kasus restoran di atas. Dengan merespon kamu juga menunjukkan usaha untuk membuat pelanggan datang kembali.

Jika pelanggan complain, jangan abaikan dan hapus tweet/komen dari mereka (jika kamu hapus atau abaikan keluhan mereka, kesan yang muncul adalah pelanggan kamu gak penting), gunakan kesempatan itu untuk melihatkan ke publik bahwa kamu beritikad baik menyelesaikan masalah tersebut. Setelah itu baru minta pelanggan tersebut buat berkomunikasi lewat jalur email atau SMS yang lebih pribadi. Ketika kamu merespon, selalu gunakan brand voice yang selama ini selalu kamu pakai, entah itu santai, lucu atau pake sapaan ‘bro’ atau ‘sis’.

Semua pengusaha dan perusahaannya pasti membuat kesalahan, namun masalah bukan terletak pada kesalahan tersebut. Masalah baru muncul ketika kamu gak punya itikad baik bilang “Kami mohon maaf atas…” dan memperbaiki apa yang dikeluhkan pelanggan.

 

 

3. Gak usah jualan melulu, bercakaplah dengan pelangganmu

Cerita-cerita dong

Tell, don’t sell. Sering-sering menggunakan jargon barusan karena pelanggan cenderung kurang simpati dengan brand yang jualan habis-habisan, promo tiap menit tanpa mau mengenal pelanggannya lebih dekat. Kekuatan utama media sosial mucul ketika kamu menggunakannya untuk menceritakan pengalaman pribadi, bukan buat jualan semata.

Ceritakan pengalamanmu yang masih berkaitan dengan bisnis yang kamu jalankan, kalau mau ambil contoh resto diatas, ceritakan pengalamanmu menyantap sajian Tahiland terlezat yang pernah kamu cicipi waktu berkunjung ke negara tersebut. Atau ceritakan bagaimana Nenek kamu menurunkan resp andalannya hingga menginspirasi kamu untuk berbagi nikmatnya resep nenek pada semua orang.

Dengan menceritakan pengalaman pribadi yang menginspirasi kamu menjalankan usaha, pelanggan kamu bakal ikut menceritakan kisahmu ke calon pelanggan baru. Tidak lupa, kamu ajak juga ‘pengikut’ kamu di media sosial untuk menceritakan pengalamannya masing-masing. Buat apa repot-repot mendengar cerita mereka? Karena dari cerita mereka secara gak langsung kamu bisa mendengar apa yang mereka butuhkan.

 

 

4. Jangan berinteraksi seperti robot. Jadilah otentik. Bicaralah dengan brand voice-mu sendiri

Be your brand

Jika kamu bisa menjadi dirimu sendiri di Facebook dan Twitter, maka kamu pasti bisa menjadi merek kamu sendiri dalam media sosial. Seperti diungkapkan di atas, semua orang tahu kalau kamu bukan robot, jadi jangan bicara seperti robot meskipun tweet/post kamu sudah dijadwal dengan rapi. Di luar jadwal-jadwal untuk posting, sesekali sapa pengikutmu di media sosial, kamu bisa berbagi cerita atau sekedar bertanya kabar mereka hari ini.

Satu hal yang harus kamu ingat adalah tetap menngunakan brand voice atau gaya bahasa dari produk yang kamu coba pasarkan. Jika dari awal gaya bahasa yang kamu gunakan slenge’an dan sesekali melucu, tetap gunakan gaya bahasa tersebut. Jika kamu gak selalu serius dengan gaya bahasa yang santai, terus pertahankan. Di Indonesia banyak sapaan yang bisa digunakan untuk membangun keeratan dengan pelanggan seperti ‘Gan’, ‘sis’,’om’ dan sebagainya.

Karena ketika kamu menjadi otentik, kamu terlihat ramah dan mudah dirangkul, ketika kamu mudah dirangkul pelanggan gak pernah segan untuk berbisnis sama kamu.

 

 

 5. Gunakan Facebook semaksimal mungkin untuk beriklan. Dalam pemasaran online Facebook itu dewa!

Ngiklan di Facebook

Facebook adalah mesin raksasa penyimpan data, terlebih lagi data penggunanya di Indonesia yang sangat banyak. Media sosial ini gak hanya user friendly tapi juga bisa meningkatkan penjualan usaha kamu. Alih-alih sembarangan memasang iklan yang gak kamu tahu kebutuhannya apa, di Facebook kamu bisa menargetkan iklan kamu ke pengguna yang ‘tepat’ berdasarkan jenis kelamin, umur, tempat tinggal dan pekerjaannya. Data yang mendalam Facebook memungkinkan kamu untuk memilih target iklan kamu. Hal yang lebih keren daripada mencapai jutaan orang di Facebook adalah mencapai 1000 calon pelanggan potensial, menemukan 100 orang yang tepat dan mendapatkan orang-orang yang membutuhkan produk/jasa kamu.

Keuntungan lain dari beriklan di Facebook adalah kamu bisa merasakan dahsyatnya kekuatan Word-of-mouth. Kamu tinggal di generasi yang selalu ingin berbagi dan berkomentar. Jika apa yang kamu punya beneran bagus, pengguna Facebook gak segan merekomendasi usahamu ke pengguna Facebook lain. Selain itu kamu bisa menargetkan iklan pada teman-teman pengguna facebook yang udah ‘Like’ Page kamu, ketika mereka lihat iklan kamu, mereka akan yakin buat ‘Like’ karena ada nama temannya terpampang di sana.

 

 

6. Boleh bagi diskon sesekali. Tapi lebih penting, kamu membagikan informasi menarik buat pengikutmu di media sosial

Berbagi gak bikin kamu miskin

Membagikan diskon 10% itu wajar, namanya juga promo. Memberi 50% berarti kamu merendahkan sendiri nilai produk dan jasa yang kamu tawarkan. Ngasih diskon 100% alias ngasih gratisan terus-menerus bikin kamu punya pelanggan ‘loyal’ hingga kamu bangkrut. Alih-alih membagikan diskon maupn produk yang bisa menurunkan nilai dan brand kamu, mending kamu pertimbangkan membagikan info-info menarik lewat media sosial.

Berbagi tips, berita, tutorial dan komentar terhadap suatu isu di media sosial gak akan bikin perusahaan kamu bangkrut. Malah kebiasaan posting informasi bermanfaat bikin pelanggan kamu terbiasa datang kembali untuk mencari ilmu yang berguna. Selain membahas berita dan tips kamu juga bisa berbagi informasi bagaiman unit bisnis kamu berjalan, proses kreatif yang kamu lakukan dan hingga ke proses produksinya. Asal kamu tahu batasannya, berbagi di media sosial gak akan bikin kamu jadi miskin.

 

 

7. Mulai sekarang, sering-seringlah berterimakasih di media sosial

Sering-sering makasih

Dalam post media sosial melalui akun bisnis kamu, selalu luangkan waktu untuk mengucapkan “terima kasih” atau “terima kasih kembali” kepada pelanggan atau rekanan yang menyampaikan feedback-nya. Sama seperti informasi, berterimakasih gak akan membuat kamu miskin malah mempererat hubungan kamu dengan pelanggan maupun calon pelanggan. Mereka merasa diperhatikan dan dihargai oleh toko online yang baru saja dia kunjungi.

Menurut DonorsChoose.org, donatur yang diberi ucapan terima kasih setelah memberi sumbangan punya kemungkinan 38% untuk menyumbang lagi. Coba bayangkan kalau kamu menerapakan kebiasaan berterimakasih ke dalam nilai-nilai perusahaan kamu sejak dini. Biasakan juga untuk menyelipkan “Makasih” meskipun kamu lagi merespon pelanggan yang lagi marah. Semoga saja itu bisa memperbaiki mood pelanggan kamu.

 

Media sosial memiliki potensi sebagai alat pemasaran yang apik, namun kekuatan utama media sosial bukanlah untuk jualan. Gunakan media sosial untuk menarik simpati pelanggan dan memperoleh perhatian calon pelanggan. Gunakan media sosial buat berbagi hal yang bermanfaat pada mereka. Dengan begitu mereka gak akan ragu untuk datang kembali berbisnis dengan unit usaha kamu.

sumber

Kategori:revo Tag:, , , , ,

10 Pertanyaan yang Harus Kamu Jawab Sebelum Resign dari Kantor & Memulai Usaha Sendiri

Modal sudah terkumpul, ide brilian pun sudah dijadikan konsep. Keinginanmu memiliki usaha sendiri semakin menggebu-gebu, dan jalan kesana semakin lama semakin terbuka. Apakah ini saat yang tepat untuk menyerahkan surat pengunduran dirimu sebagai karyawan?

Jangan terburu-buru! Sebelum memutuskan, pastikan dulu bahwa melepas stabilitas finansialmu sebagai karyawan akan jadi keputusan terbaik dalam hidupmu; bukan justru keputusan yang akhirnya hanya akan kamu sesali karena kurangnya persiapan atau pemilihan waktu yang tidak tepat. Nah, untuk memantapkan jalanmu, Hipwee telah merangkum 10 pertanyaan yang wajib kamu tanyakan pada dirimu sendiri sebelum membuat keputusan tersebut. Inilah pertanyaan yang harus kamu ajukan pada dirimu sendiri sebelum akhirnya jadi pengusaha full time:

 

1. Apakah Kamu Yakin Menjadi Pengusaha Akan Membuatmu Lebih Bahagia?

Tutup tab di komputermu dan mulailah fokus

Sebelum mencemplungkan diri ke wilayah asing seperti dunia usaha, pastikan bahwa memulai usahamu sendiri adalah hal yang benar-benar ingin kamu lakukan dalam hidup. Banyak orang yang diam-diam menderita karena pekerjaan yang dilakoninya. Tapi, itu bukan alasan yang tepat untuk serta merta “kabur” ke dunia wirausaha.

Pastikan bahwa kamu percaya bahwa hanya dengan menjadi bos dari dirimu sendiri kamu akan dapat menemukan kebahagiaan dan aktualisasi diri. Jika kamu bahkan tidak yakin atau percaya hal ini, mungkin kamu membutuhkan waktu lebih untuk benar-benar melihat ke dalam dirimu sendiri dan cari tahu apa yang akan membuatmu bahagia.

Menjadi pengusaha bukan pekerjaan yang mudah. Ketika kamu sudah benar-benar yakin bahwa memang ini yang kamu mau, di masa sulit pun kamu akan lebih bisa bertahan. Semua orang berhak mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan dari karier yang akhirnya dapat melengkapi hidupmu.

 

 

2. Bagaimana Kamu Bisa Yakin Bahwa Sekarang Adalah Waktu Yang Tepat?

the_paper_boat_dreams_by_marcodiquattro

Menahkodai usahamu sendiri memang butuh keberanian besar. Tapi bukan hanya asal berani, kamu juga harus tahu waktu yang tepat dan paling kondusif untuk menanggalkan status karyawanmu dan beralih menjadi pengusaha penuh waktu. Artinya, jangan pernah merasa bersalah menunda rencanamu memulai usaha jika kamu yakin semua itu demi hasil akhir yang lebih baik.

Waktu yang tepat tidak hanya soal kesiapan modal atau kematangan rencana bisnis, tapi juga kesiapanmu menanggung semua tanggung jawabmu tanpa sokongan gaji yang selama ini rutin masuk ke rekeningmu. Jika istrimu sedang hamil atau orangtuamu sedang sakit, meninggalkan jaminan finansial yang disediakan kantormu sekarang mungkin bukan keputusan yang tepat.

Bahkan sebelum memulai bisnismu pun, kamu harus sudah mampu membuat keputusan secara realistis dan terbuka.

 

 

3. Apakah Kamu Rela Mengorbankan Kenyamanan Saat Ini Demi Mendapatkan Lebih Di Kemudian Hari?

Relaxing At Work

Liburan keluarga yang rutin kamu lakukan tiap tahun, kredit mobil baru, sampai bahkan waktu istirahat yang rutin adalah kenyamanan-kenyamanan yang harus rela kamu korbankan pada masa-masa awal pendirian bisnismu. Membangun usaha dari nol menuntut semua waktu, sumber daya, dan perhatian yang tidak terbagi. Apalagi ketika semua hal dan keputusan penting ada di pundakmu. Mengalihkan tanggung jawab pada orang lain bisa sulit dilakukan.

Tapi kamu harus mengerti bahwa pengorbanan tersebut memang perlu demi pondasi usahamu. Percayalah bahwa di hari-hari dimana usahamu sudah tinggal landas, kamu akan memiliki keleluasaan, waktu, dan semoga saja keuntungan finansial yang lebih untuk dapat kamu bagi dengan orang-orang terkasih. Namun jika saat ini kamu belum siap merelakan semua kenyamanan tersebut, mungkin kamu memang harus menunggu.

 

 

4. Apakah Kamu Siap Untuk Menghadapi Perubahan Gaya Hidup Yang Ekstrem?

asset

Ada beberapa orang yang memang sangat cocok mengikuti struktur dan aturan yang sudah ada. Bangun pagi, berangkat ke kantor pada jam yang sama tiap paginya, bercengkrama, berbagi tugas dengan rekan kerja, menyelesaikan target hari ini, dan pulang pada jam yang sudah ditentukan pula. Banyak juga orang yang sudah merasa cukup terpenuhi dengan rutinitas tersebut. Namun jika setelah menjadi karyawan selama beberapa tahun, kamu menemukan dirimu bosan dan tidak puas dengan rutinitas tersebut maka kamu harus siap dengan perubahan ekstrem dalam hidupmu.

Memulai usahamu sendiri seringkali berarti kebalikan dari dunia terstruktur tersebut. Lepas dari struktur rutin yang bagimu membosankan itu tidak melulu berarti kebebasan. Kamu justru harus bersiap menghadapi jam kerja yang tak kenal pagi atau malam. Jam-jam panjang tersebut juga kebanyakan akan kamu habiskan sendiri. Butuh banyak upaya memotivasi diri untuk melewati jam-jam penuh kesendirian itu.

Pastikan kamu tidak hanya bosan dengan rutinitas kantor yang selama ini kamu jalani, tapi juga sesuai menjalani petualangan solo yang seringkali sepi dan melelahkan.

 

 

5. Apakah Kamu Sudah Memiliki Dukungan yang Cukup Untuk Menyertai Upayamu Membangun Usaha Sendiri?

Mark Zuckerberg gets married

Pastikan kamu memiliki sistem dukungan yang cukup untuk mengisi kekosongan pendapatan, waktu, dan perhatianmu selama kamu sibuk membangun perusahaan. Dukungan keluarga dan orang-orang terdekat adalah faktor krusial yang mampu memuluskan upayamu meluncurkan usahamu.

Pastikan kamu memiliki tabungan terpisah yang akan mampu menanggung pengeluaran selama usahamu belum menghasilkan keuntungan. Jika kamu adalah seorang kepala keluarga, pastikan juga pasanganmu mengerti pengorbanan waktu dan perhatian yang harus kamu berikan terhadap usahamu mungkin akan mengurangi waktumu dengan keluarga untuk sementara waktu.

Walaupun kamu memang harus memiliki komitmen kuat dan rela mengorbankan banyak hal untuk membangun usahamu sendiri, keseimbangan dalam hidup itu juga penting untuk dijaga. Maka sebelum memutuskan untuk benar-benar mencemplungkan diri sepenuhnya, pastikan kamu memiliki pelampung yang mampu membuatmu tetap mengapung di tengah terjangan ombak.

 

 

6. Apakah Kamu Sudah Cukup Disiplin Untuk Menjadi Bos Bagi Diri Sendiri?

SeanPo1

Banyak orang pasti berpikir dengan menjadi atasan untuk diri sendiri, kehidupan mereka bebas dari tekanan. Tapi jika tujuan akhirmu membangun usaha adalah aktualisasi diri dan kesuksesan, percayalah menjadi atasan bagi dirimu sendiri jauh lebih sulit daripada menjadi bawahan untuk orang lain. Tidak akan ada orang lain selain dirimu sendiri yang akan mengingatkan kesalahan, memuji keberhasilan, atau sekedar berbagi tanggungjawab.

Pastikan kamu memiliki disiplin diri yang tinggi untuk mampu menilai pekerjaanmu sendiri secara objektif dan terbuka. Penilaian tersebut sangat penting dalam menentukan berbagai keputusan penting yang harus kamu ambil sebagai pemimpin perusahaan. Jika kamu tidak memiliki disiplin diri yang cukup, masa depan usahamu juga pasti akan mencerminkan sifat pemimpinnya tersebut.

 

 

7. Apakah Kamu Sudah Siap Melepaskan Egomu?

man-in-suit-relaxing-on-bench-2

Pekerjaan pertamamu sebagai pimpinan dari perusahaanmu sendiri adalah untuk memecat dan meninggalkan egomu jauh-jauh. Jika kamu masih mengikutsertakan egomu dalam tim perusahaanmu, egomu itulah yang akan jadi karyawan terburukmu. Egomu akan menghalangimu berpikir objektif karena ia akan selalu mengingatkanmu bahwa kamu selalu benar, bahwa rencana usahamu selalu brilian. Pastikan kamu mampu menerima segala informasi dan pendapat se-objektif mungkin tanpa merasa terancam dengan kemungkinan bahwa pendapatmu sendiri mungkin salah.

Sebagai pengusaha, kamu harus mampu terbuka dan sanggup menerima masukan yang kamu terima dalam feedback konsumen. Informasi itu krusial dalam upaya meningkatkan produk atau servismu. Kamu tidak akan bisa mendapatkan informasi ini jika kamu membiarkan egomu mempengaruhi tiap keputusan.Tapi kamu juga harus ingat bahwa ada saat dimana kamu harus memutuskan dari berbagai informasi yang pada sifatnya tidak akan selalu seragam. Kamu harus mampu memilih mana informasi yang tepat untuk tujuan akhirmu.

 

 

8. Apakah Kamu Cukup Fleksibel Mengikuti Berbagai Tuntutan Pasar?

shutterstock_158229176

Resep utama dalam kegagalan bisnis adalah ketika bisnis tersebut berhenti beradaptasi. Jika produk awal ternyata tidak menjual, kamu harus terus menyesuaikan diri, mengadakan modifikasi produk, serta mengubah dan memperbaiki produk hingga daya jualnya meningkat. Kamu mungkin harus mengubah spesifikasi, harga, atau target pasar untuk mencapai tujuan tersebut. Bahkan kamu mungkin harus mengubah produkmu secara keseluruhan. Teruslah beradaptasi hingga kamu menemukan formula yang tepat. Kegagalan itu pasti jika kamu berhenti melakukan hal ini.

 

 

9. Apakah Kamu Mampu Mencari Cara Untuk Bangkit Lagi Ketika Gagal?

dreamstimelarge_25503938-e1409766518940

Dalam dunia wirausaha kegagalan bukanlah titik akhir atau kiamat. Seandainya begitu, pengusaha sukses pasti tak akan pernah mengecap manisnya kesuksesan karena sudah mengalami kiamat duluan. Kegagalan hanya merupakan bagian dari prosesmu menemukan kesuksesan dalam usaha. Kegagalan hanya membawa langkahmu lebih dekat mendekati kesuksesan. Jadi janganlah kamu percaya bahwa kegagalan adalah akhir dari semuanya. Bersiaplah untuk gagal dan berdirilah kembali untuk jadi lebih kuat.

 

 

10. Apakah Kamu Sadar Sepenuhnya Bahwa Hanya Kamu-lah yang Akan Bertanggung Jawab Pada Segala Kegagalan, Maupun Kesuksesan, Usahamu?

o-FAILURE-facebook

Ketika kamu memulai bisnismu sendiri, kamu harus mengerti bahwa kemajuan maupun kemunduran, keuntungan maupun kerugian, atau kegagalan maupun kesuksesan semuanya terjadi karena usahamu sendiri. Kamu tidak lagi memiliki atasan, bawahan, atau rekan kerja yang bisa kamu kambing hitamkan. Segala tanggung jawab dan kekuasaan ada di tanganmu.

Jika dalam situasi tersebut pun kamu masih saja menyalahkan orang lain, itu sama saja kamu menghilangkan kuasa atas usahamu sendiri. Bukankah ini kebalikan dari tujuan awalmu membuka usaha? Jadi, pastikan bahwa kamu benar-benar memiliki pengertian menyeluruh tentang tanggungjawab besar yang menyertai keputusanmu memimpin diri sendiri.

 

 

Bagaimana jawabanmu atas pertanyaan-pertanyaan di atas? Apakah kamu mendapatkan dirimu menjawab ya di setiap pertanyaan? Jika ya, ambillah napas panjang dan beranikan dirimu memulai perjalanan yang memang ditakdirkan bagimu.

Sebaliknya, jangan berkecil hati untuk kamu yang masih belum bisa menjawab ‘iya’ untuk semua pertanyaan di atas. Kamu masih membutuhkan waktu untuk mempersiapkan dirimu, dan itu tidak apa-apa. Keberanianmu mengakui kebenaran tersebut saja sudah menunjukkan kemampuanmu membuat keputusan yang realistis dan objektif. Inilah modal yang penting bagi seorang pengusaha. Percayalah bahwa waktumu juga pasti akan segera datang!

sumber

7 Hal Yang Perlu Kamu Tahu Sebelum Bilang “Cinta Tak Harus Memiliki”

Setiap orang pasti pernah merasakan cinta. Cinta dalam berbagai bentuk. Salah satunya adalah cinta kepada lawan jenis, yang seringkali bikin kita galau seharian. Dari cerita cinta yang mulus-mulus saja sampai cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Dalam urusan cinta, terkadang beberapa orang beranggapan bahwa “Cinta tidaklah harus memiliki.” Benarkah seperti itu? Bukankah cinta itu akan tumbuh berkembang ketika kita sudah memilikinya? Lalu, bagaimanakah seharusnya kita menyikapi cinta? Nah, kali ini Hipwee akan memberi pandangan baru bagimu yang terus percaya bahwa cinta tak harus memiliki.

 

 

1. Cinta Selalu Datang Sepaket Dengan Keinginan Untuk Menjaga. Lalu Apa Yang Kamu Jaga Kalau Kamu Tidak Memilikinya?

Lalu apa yang akan kamu jaga?

Rasa ingin menjaga adalah turunan dari rasa sayang dan cinta pada seseorang. Saat kamu mencintai seseorang, harapan atas kebaikan dirinya terus berdatangan. Kamu berharap dia hidup tenang, makan kenyang, hingga menginginkan agar dia setia dan tidak berpaling ke lain hati. Pertanyaannya, bagaimana jika kamu tidak bisa memiliki orang yang kamu sayangi itu?

Kalau kamu tidak  memilikinya, lantas apa yang akan kamu jaga? Bagaimana kamu memperhatikan keadaanya ketika kamu tidak punya hak apa-apa padanya?

Saat ternyata situasi berubah, dia jatuh cinta pada yang lain, kamu ditinggalkan, lantas kamu tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Bisa saja terjadi ‘kan? Lalu bagaimana kamu bisa menjaga hal yang itu tidak kamu miliki? Ibaratnya, bagaimana kamu akan menjaga perhiasan idamanmu, sedangkan kamu tidak berusaha untuk memilikinya dengan membelinya di toko? Imposible. Dengan memilikinya, kamu bisa menjaganya dengan lebih baik. Dengan memilikinya, kamu bisa menjaga cinta agar untuk tumbuh berkembang dengan indah.

 

 

2.  Cinta Itu Ada Untuk Menentramkan Jiwa. Pertanyaannya, Ketika Cinta Itu Tidak Kita Miliki, Apakah Hatimu Akan Tentram?

Cinta untuk menentramkan jiwa

Pada hakikatnya, cinta dan komitmen ada untuk menenteramkam jiwa. Dengan memiliki seseorang yang selalu bisa diandalkan kamu tidak lagi perlu takut sendirian. Selalu ada orang yang bisa diajak berbincang pun dimintai pendapatnya dalam setiap kesempatan. Mengetahui ada seseorang yang selalu setia di sisi memang menenangkan hati.

Keadaan berbeda terjadi ketika kamu merasa bahwa cinta tidak harus dimiliki. Tidak memiliki cinta berarti kamu membebaskan dia untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Tak ada kewajiban untuk saling mejaga hati dan saling memperhatikan. Buat apa? Toh masing-masing dari kalian sama-sama tidak punya ikatan yang melekatkan.

Merasa cinta tidak harus dimiliki menuntut keberanian tinggi untuk rela berbesar hati — saat melihat orang yang kamu sayangi sepenuh hati memperhatikan orang lain, mengikhlaskan perhatianmu tidak mendapatkan tanggapan sesuai harapan. Sesabar apakah dirimu hingga bisa berlaku seperti ini? Cukup lapangkah hatimu hingga mampu terus meredam kekhawatiran dan rasa takut kehilangan?

Jika sudah begini, apa yang dicari dari sebuah cinta — jika ketenangan dan kenyamanan darinya saja sudah tak ada.

 

 

3. Mencintai Apa Yang Tidak Kamu Miliki Terkadang Membuatmu Hanya Fokus Pada Angan Yang Tidak Ada Habisnya.

Kamu menunggu perempuan datang padamu, mas?

Selama ini kamu hanya mencintainya sendirian? Kamu hanya diam dan menunggu dia datang? Lantas kamu lebih sering berlindung pada kata-kata tidak semua cinta harus memiliki. Mungkin itu bukan cinta, tapi kebanyakan ngarep. Kamu selalu dihantui angan-angan, berharap untuk selalu memilikinya, tapi kamu tidak pernah memperjuangankan apa-apa.

Ibaratnya kamu hanya melihat sesuatu yang kamu idamkan di etalase, sedangkan kamu hanya melintasinya tanpa pernah menanyakanya apakah perhiasan itu dijual? Harganya berapa? Boleh dibeli atau tidak? Kalau kamu benar-benar cinta, berarti kamu bukan hanya suka melihat, tapi juga ingin menjaga, memperhatian, merawat, dan semua itu memang butuh pengorbanan.

Meyakini bahwa cinta tidak harus dimiliki sepatutnya membuatmu bertanya:

Apakah ini benar-benar cinta? Atau sekadar angan-angan yang enggan diperjuangkan saja? 

 

 

4. Ungkapan “Kalau Jodoh Memang Tidak Akan Kemana” Seharusnya Bukan Jadi Pembenaran Untukmu yang Malas Berusaha

Kutunggu jandamu saja

Konsep jodoh tidak akan kemana sebenarnya memberikan kita harapan bahwa di luar sana ada 1 manusia yang memang tertakdirkan untuk kita. Tapi keyakinan macam ini harusnya tidak lantas membuat kita merasa sah untuk diam saja tanpa melakukan apa-apa. Memang benar, jodoh tidak akan kemana-mana. Tapi bukan berarti juga kita hanya berdiam diri di rumah tanpa melihat dunia, mencoba mendapatkan jodoh kita dengan membuka hati kita pada orang lain.

Konsep “jodoh tidak akan kemana” seharusnya membuatmu lebih giat berusaha. Bukannya berlindung di balik keyakinan bahwa dia akan datang tanpa perlu banyak usaha di baliknya. Percaya bahwa orang yang tepat pasti datang itu boleh-boleh saja. Hanya, jangan gunakan konsep ini sebagai pembenaran untuk tidak mengusahakan cinta yang sudah menggelora di dada.

 

 

 

5. Kamu Bahagia Melihat Dia Bahagia Dengan Orang Lain. Yakin? Ini Pembelaan Atau Menyerah Pada Keadaan?

kamu cemburu? merasa kehilangan?

Saat kamu mencintai seseorang namun tidak memperjuangkannya, lantas dia mungkin saja akan bersama dengan orang lain. Tameng yang selalu kamu lontarkan adalah

Aku bahagia melihat dia bahagia.” 

Mungkin benar ada beberapa orang yang bisa ikhlas. Mereka yang bener-benar punya hati lapang atau mereka yang cintanya hanya seujung kuku. Coba deh, jujur pada hatimu. Apakah kamu benar-benar tidak keberatan melihatnya menyelipkan jari di sela-sela genggaman orang lain? Tidakkah kamu ingin mendampinginya setiap waktu, melihatnya bercerita dan berbagi pengalaman bersama sepanjang waktu?

Ketika rasa tidak lagi ingin memiliki itu datang, bisa jadi kamu hanya sedang takut atau bahkan malas berjuang. Sehingga berusaha mencari pembenaran yang menenteramkan.

 

 

6. Kalau Kamu Berani Mencintai, Itu Artinya Kamu Harus Berani Memperjuangkannya Untuk Kamu Miliki

Berani mencintai, berani memperjuangkanya

Cinta itu adalah anugerah yang diberikan Tuhan agar kita merasakan ketentraman dari sesama manusia. Jika kamu merasa dia baik, cintamu juga baik, cinta kalian pantas untuk diwujudkan, apa salahnya untuk diperjuangkan? Kalau kamu pasrah-pasrah saja, ya sudah lebih baik kamu urungkan saja niatmu untuk mencintai seseorang.

Berlindung di balik rasa enggan berjuang justru bisa membuatmu tersiksa sendiri karena angan-angan yang tidak pernah selesai diwujudkan. Gak jarang kamu justru menuduh dia mempermainkan hatimu, si Pemberi Harapan Palsu, atau segala macam tuduhan lain. Daripada terjebak perasaan yang menyakitkan macam ini, mulai sekarang cobalah lebih berani.

Jika suka, tunjukkan!

Jika sayang, ungkapkan.

Kalau sudah siap, ajak dia serius.

Saat belum berani, maka ini tandanya kamu harus lebih giat memantaskan diri.

 

 

7. Saat Kamu Memang Tidak Bisa Memiliki Fisiknya — Setidaknya, Milikilah Dia Dalam Doamu.

Yakin?

Ya, setiap apa yang ada di dunia ini memang tidaklah absen dari kehendak Tuhan. Lantas, kita selalu berdiam diri dan bilang, “Biarlah Tuhan yang menjaganya dalam doa.”  Ini tentu tidak ada salahnya. Sah-sah saja jika kamu menitipkannya pada perlindungan paling baik yang bisa diberikan oleh Sang Pencipta.

Tapi ingat, Tuhan juga menyuruh kita untuk berusaha. Usaha yang bisa kamu lakukan adalah memantaskan diri. Serta tak lupa terus membawa dia dalam setiap doa yang kamu panjatkan padaNya. Jika memang kamu belum bisa memiliki fisik dan hatinya dengan nyata, paling tidak kamu mengupayakan ia lewat doa….

 

Nah, masih berdiam diri untuk menutup diri dan berpedoman pada cinta tidak harus memiliki? Barangkali cintamu hanyalah sebesar remah-remah roti yang sebentar hilang terbawa angin. Kalau kamu benar-benar mencintai, itu berarti kamu harus berani memperjuangkan untuk memilikinya. Kalau ternyata setelah kamu berusaha, kamu masih saja tidak memilikinya, itu artinya dia bukan pasangan yang tepat untukmu. Dan pasti akan ada orang yang pas untuk menyeimbangi cintamu itu.

Being deeply loved by someone gives you strength, while loving someone deeply gives you courage. (Lao Tzu)

 

Semoga kamu bisa memiliki cinta terbaikmu ya. Selamat mencari!

sumber

Kategori:revo

5 Hal Sederhana yang Membuat Kebahagiaanmu Tertunda

Apalagi sih yang kita cari selain kebahagiaan? Sepertinya, motif sebagian besar orang di dunia melakukan sesuatu adalah untuk mengejar yang namanya kebahagiaan. Anehnya, terkadang kamu sendiri nggak tahu kenapa sering kali kamu kurang merasa bahagia. Kamu merasa kebahagiaanmu tidak kunjung datang, Tanpa pernah tahu apa penyebabnya.

Kenapa ya hal seperti itu seringkali terjadi? Jangan-jangan karena kamu sendiri yang sering melakukan hal-hal sederhana yang tanpa sadar bikin bahagiamu tertunda! Apa saja hal-hal tersebut? Apakah kamu juga sering melakukannya?

 

 

1. Kerja, kerja, dan kerja — sampai lupa ada aspek hidup lain yang tak kalah pentingnya

Terlalu sibuk menjalani rutinitas

Terlalu sibuk dengan pekerjaan yang wajib kamu lakukan memang adalah sebuah hal yang dapat dimaklumi. Nggak bisa dipungkiri memang, pekerjaan dan tanggung jawab yang ada di pundakmu kerap memakan banyak waktu dalam hidup. Bangun pagi, ke kampus atau ke kantor, beraktivitas, pulang, istirahat, kemudian hari esok pun datang dan aktivitas sama kembali dilakukan.

Tetapi karena sering terlalu sibuk dengan rutinitasmu, kamu jadi lupa dengan segala esensi dari kehidupan yang kamu jalani. Ada hal-hal penting selain pekerjaan yang juga harus dipikirkan: kesehatan, waktu bersama keluarga dan teman-teman, juga kebahagianmu sendiri. Melupakan aspek hidup lain di luar rutinitas sebenarnya setara dengan mengorbankan kesempatanmu untuk bahagia.

 

 

2. Mengeluarkan uang hanya untuk memenuhi kebutuhan, tanpa pernah membeli pengalaman

Membeli pengalaman

Bagi sebagian orang, mengeluarkan uangnya untuk bersenang-senang adalah sebuah hal yang berlebihan dan dianggap sebagai kegiatan foya-foya. Mereka lebih memilih membeli sebuah barang yang mahal yang bisa mereka gunakan dalam waktu lama atau bisa mereka pakai sebagai investasi. Enggan mengeluarkan uang untuk traveling, tapi rela-rela saja beli gadget berharga belasan juta misalnya.

Mereka beranggapan seperti itu seakan-akan mereka percaya bahwa kebahagiaan hanya datang dari sebuah barang mahal yang bisa mereka beli, bukan dari sebuah pengalaman. Menurut hasil riset, menunjukkan bahwa pengalaman lebih bisa membuat kita bahagia daripada sebuah barang yang bagus. Jadi apa salahnya kita memanjkan diri untuk bepergian ke tempat baru atau menonton konser di luar negeri jika kita mampu? Pengalaman selamanya bisa dikenang dan digenggam, sementara barang suatu saat bisa rusak dan harus diistirahatkan.

 

 

3. Tidak pernah memanjakan diri sendiri dengan berlibur

Sempatkalah untuk berlibur

Kalau bekerja terus-terusan tanpa libur bisa bikin kamu bahagia, mungkin kamu nggak perlu yang namanya liburan. Setiap hari kamu rajin bekerja, tapi sambil mengeluh dan menggerutu karena capek dan bosan. Kalau seperti itu terus yang ada kamu jadi makin tambah stress dan jadi pribadi yang negatif.

Sesibuk apapun dirimu, sempatkanlah dan rencanakan untuk berlibur. Kalau kamu udah ngerasa jengah, tandanya kamu butuh hiburan. Berliburlah saat weekend atau kalau kamu mau, kamu bisa menggunakan waktu cutimu. Kalauliburan bisa bikin kamu lebih bahagia, maka selalu sempatkanlah untuk berlibur dan membahagiakan dirimu sendiri.

 

 

4. Enggan melawan rasa takut demi mencoba hal baru

Coba jajal sesuatu yang baru

Mencoba sebuah pengalaman baru yang belum pernah sama sekali kamu lakukan, mungkin membuatmu sedikit takut dan ragu-ragu untuk mencobanya. Ketakutan-ketakutan tersendiri terkadang suka muncul tiba-tiba sehingga menimbulkan banyak pertimbangan yang sering berujung dengan pembatalan. Mau coba surfing — takut gak bisa, takut jatuh, tenggelam, atau cidera.

Ketakutan ini bisa muncul karena kamu enggan melawan rasa takut diri sendiri sehingga dengan mudahnya menyerah tanpa pernah mencoba. Kalau kamu sendiri nggak cukup punya keberanian dan ketangguhan untuk membuat dirimu bahagia, ketika kebahagiaan tidak datang padamu, orang yang harus kamu salahkan adalah dirimu sendiri.

 

 

5. Menunda. Merasa selalu punya “nanti” untuk mulai mengejar mimpi

Suka menunda-nunda kesempatan

Kamu mungkin lupa udah berapa kali menunda-munda mimpimu sendiri. Entah saat ditawari sebuah kesempatan emas, kesempatan liburan atau bahkan hal kecil seperti pulang ke rumah demi bisa berkumpul bersama keluarga. Kamu sering merasa punya waktu lain untuk melakukan hal tersebut. “Nanti akan tiba masanya, gak papa saat ini aku tunda” — begitu pikirmu.

Apakah kamu nggak pernah sadar ketika mengucapkan “Kapan-kapan aja deh”,  itu sama saja kamu sudah menunda-nunda kesempatan yang akan terjadi pada dirimu, termasuk kebahagianmu sendiri? Kesempatan bisa saja tidak akan datang 2 kali. Menunda hal yang bisa kamu lakukan saat ini sebenarnya sama dengan menunda kesempatanmu demi bisa mendapatkan kebahagiaan untuk diri sendiri.

 

Selalu ingat dan percaya, kebahagiaan itu tidak selamanya datang secara tiba-tiba lalu dengan sendiirinya datang menghampirimu. Semua itu kembali lagi pada diri kita sendiri. Yang tahu banget gimana kamu bisa bahagia adalah dirimu sendiri.

Jangan cuma berharap saja tanpa melakukan apa-apa. Ciptakan kebahagiaanmu dan wujudkanlah, jangan sampai kamu menyesal karena sudah terlalu terlambat untuk menyadari.

sumber

%d blogger menyukai ini: