Beranda > revo > Foto: Inilah Barang-barang Asli Milik Pahlawan Revolusi Yang Melekat Pada Jenazah Mereka 

Foto: Inilah Barang-barang Asli Milik Pahlawan Revolusi Yang Melekat Pada Jenazah Mereka 

  

Dimulai pada malam 30 September 1965 sebuah tragedi kelam dialami oleh bangsa dan negara kita. Tragedi tersebut mencapai puncaknya pada dinihari 1 Oktober 1965 dimana gerombolan Gerakan 30 September (G30S) yang dituduhkan didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) melakukan penculikan dan pembunuhan keji terhadap para Jenderal Angkatan Darat sebagai upayanya melakukan kudeta.

 

Hingga saat ini, nyaris 50 tahun, tetap saja misteri siapa dalang dibalik tragedi tersebut yang menyebabkan pembantaian besar-besaran terhadap orang yang dituduh PKI, masih belum terungkap.

 

Ada satu hal unik sekaligus ironis dalam tragedi ini, dimana seseorang membunuh saudaranya yang lain. Yang dimaksud adalah Ir. Sakirman, anggota Politbiro Comite Central (semacam Dewan Penasihat Partai/Pengurus Pusat Partai) PKI dan adiknya, Mayjen S. Parman. Mayjen S. Parman menjadi salah satu korban keganasan G30S dan jenazahnya ditemukan di sebuah sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta Timur pada 4 Oktober 1965.

 

Ir. Sakirman PKI

Ir. Sakirman, tokoh penting PKI yang juga merupakan kakak Mayjen. S. Parman yang gugur oleh penyiksaan yang dilakukan gerombolan G30S. Sakirman memang otak penculikan adiknya, namun ada kabar yang menyebutkan bahwa ia berubah pikiran dan berusaha menghubungi adiknya pada saat-saat terakhir untuk menyelamatkan nyawa adiknya tersebut, namun sang adik tak pernah berhasil dihubungi. Entah benar atau tidak.

 

Nasib Ir. sakirman pun tidak jelas. Ada yang bilang ia kabur ke China dan Rusia. Sedang versi lain mengatakan ia tertangkap RPKAD (sekarang Kopassus) dan langsung dieksekusi.

 

Ganasnya kekejaman mereka dapat kita lihat dari barang-barang asli peninggalan para Pahlawan Revolusi yang ditemukan pada jenazah mereka. Mari kita melihat barang-barang tersebut di tempatnya tersimpan, yang tak lain tempat mereka ditemukan gugur, dari jarak yang agak jauh karena pemandangan ini membuat bulu kuduk siapapun yang melihatnya berdiri.

 

K.S. Tubun

Pakaian serta barang peninggalan pada jenazah Brigadir Polisi K.S. Tubun yang ditembak gerombolan G30S saat berjaga di rumah Wakil Perdana Menteri II dr. Johannes Leimena di seberang rumah Jenderal A.H. Nasution yang menjadi sasaran teratas dalam rencana penculikan G30S

 

Memorabilia Letjen Ahmad Yani

Celana piyama berdarah yang dikenakan Letjen Ahmad Yani saat ditembak di kediamannya di Jalan Lembang, Menteng dan barang-barang lain peninggalan beliau. Baju piyamanya sendiri tidak ditampilkan karena rusak dan sobek oleh berondongan peluru

 

Memorabilia Brigjen Sutoyo S.

Ini piyama berdarah yang dikenakan Brigjen Sutoyo Siswomiharjo saat ia disiksa dan dibunuh di Lubang Buaya serta barang-barang lain peninggalan beliau

 

Barang-barang ini ditemukan pada jenazah Brigjen Sutoyo Siswomoharjo. Kiri bawah adalah tali yang mengikat kedua tangannya, serta peluru yang ditemukan pada jenazahnya dan

 

Celana berdarah dan beberapa barang lain yang dibawa dan dikenakan (termasuk cincin pernikahan) oleh Brigjen D.I. Panjaitan saat beliau ditembak membabi buta saat sedang berdoa di rumahnya di Jalan Sultan Hasanuddin (tepat di depan pintu masuk terminal Blok M) oleh gerombolan G30S dan dibawa ke Lubang Buaya

 

Beberapa barang yang dikenakan oleh Mayjen S. Parman saat beliau disiksa dan dibunuh oleh G30S di Lubang Buaya. Yang ironis dan memprihatinkan adalah Mayjen S. Parman ini merupakan adik dari Ir. Sakirman, anggota Commitee Central PKI. Jadi, kakak membunuh adiknya karena perbedaan pandangan politik

 

Ini Jaket dan celana berdarah milik Lettu Pierre Tendean saat ia disiksa dan dibunuh di Lubang Buaya. Ia menjadi korban karenagerombolan penculik mengira ia adalah Jenderal A.H. Nasution yang merupakan target teratas

 

Foto Lettu Pierre Tendean yang tampan karena berdarah bule bersama Ade Irma Suryani, putri Jenderal Nasution. Foto ini dibuat tepat seminggu sebelum tragedi G30S dimana Ade tertembak saat gerombolan berusaha menculik ayahnya. Ade wafat di RSPAD Gatot Subroto pada 6 Oktober 1965 karena luka yang dalam. Foto ini membuat siapapun terharu, karena rencananya pada 1 Oktober 1965 tersebut, Pierre akan mengajak Ade ke Semarang dalam rangka perayaan ulang tahun mama Pierre. Kepada mamanya, Pierre sering menceritakan tentang kelucuan Ade melalui surat

 

Truk Dodge ini merupakan truk yang digunakan oleh gerombolan G30S dibawah pimpinan Lettu Dul Arief untuk menculik para Jenderal. Truk ini dirampas dari PN Artha Yasa (sekarang Peruri). Dahulu truk ini digunakan untuk mengangkut uang.

 

Walau belakangan muncul fakta-fakta yang mengatakan bahwa peristiwa ini merupakan sebuah konspirasi tingkat tinggi yang teramat rapi, namun kita sepakat bahwa peristiwa kelam ini jangan sampai terulang lagi.

(istimewa/Kompas, Tempo, dan berbagai sumber lain)

  1. gilaroda2
    8 November 2014 pukul 7:35 am

    Dari sumber sejarah faktanya G30S dilakukan oleh militer, lettu dul arif adalah anak angkat ali murtopo, yg notabene intelijen suharto, jadi…bs anda simpulkan sendiri…🙂

    Suka

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: