Beranda > revo > Menghadapi Pemimpin yang Pilih Kasih

Menghadapi Pemimpin yang Pilih Kasih

Hai…‘pa kabar calon pemimpin?! Kalo edisi yang lalu kita sudah belajar gimana cara ngatasin keputusan yang salah, nah…kali ini kita belajar ngadepin pemimpin yang suka pilih kasih. Dalam kepemimpinan, nggak menutup kemungkinan akan ada seorang pemimpin yang bersikap pilih kasih. Dimana seorang pemimpin nggak hanya sekedar memiliki relasi yang dekat dengan anggota-anggota tertentu, tetapi juga meng-“anak emas”-kan mereka.

Biasanya, si pemimpin menunjukkan sikap sangat mengasihi, sangat memperhatikan, memberikan fasilitas lebih, memberikan tekanan yang berbeda, dan respon yang berbeda, ketika mereka melakukan kesalahan, atau nggak menyelesaikan tanggung jawabnya, si pemimpin memberikan perlakuan yang berbeda dengan anggota-anggota tertentu, bahkan seringkali mereka “dibiarkan” seakan-akan berlaku memiliki “otoritas” lebih, sehingga turut mengatur yang lain.

Nah, kalo udah gini gak menutup kemungkinan bakal timbul iri hati dan saling membenci satu dengan yang lain. So, itu membuat kepemimpinannya menjadi lemah. Pernah mengalami kejadian seperti ini? Trus apa yang harus dilakukan kalo Boomers nemuin keadaan yang seperti ini, entah di suatu organisasi pelayanan, ato sekolah maupun kampusmu. Berikut ini ada beberapa tips yang harus kita lakukan…

  1. Cek perasaan kita

– adakah perasaan sakit hati?

– adakah perasaan benci?

– adakah perasaan iri hati?

Jika ada, hal ini harus dibereskan terlebih dahulu.

  1. Tetap menghormati pemimpin

Apapun yang terjadi, apapun yang dia perbuat, tetaplah memiliki rasa hormat kepada pemimpin kita.

  1. Bangunlah komunikasi

Belajarlah membangun hubungan dan komunikasi yang baik dengan pemimpin, bukan sebagai upaya untuk “menjilat”, melainkan agar pemimpin tetap memiliki perspektif yang obyektif dan benar dalam mengenal anggotanya yang lain.

  1. Cek kesediaan kita

– apakah kita tetap bersedia memberi diri ketika dibutuhkan?

– apakah kita tetap mau “belain” pemimpin, khususnya ketika dia “sendiri”?

– apakah kita tetap bersedia bekerjasama dengan semua anggota, termasuk mereka yang di-“anak emas”-kan?

Kesediaan diri harus tetap kita lakukan dengan baik, karena seringkali pemimpin memiliki “anak emas”, juga dikarenakan dia nggak melihat orang-orang yang lain bersedia melakukan apa yang diperintahkannya.

  1. Cek pekerjaan kita

– apakah kita sudah bekerja dengan baik?

– apakah kita sudah menyelesaikan pekerjaan kita tepat waktu

– apakah kita sudah menyelesaikan pekerjaan kita sesuai dengan yang diharapkan pemimpin?

  1. Jadilah pengikut yang baik

Pengikut yang baik selalu bersama-sama dengan pemimpin dan siap sedia ketika dibutuhkan.

  1. Selesaikan apa yang menjadi tanggung jawabmu

Apapun yang menjadi tanggung jawabmu, selesaikan dengan baik, bahkan melebihi apa yang diharapkan oleh pemimpin, serta berpikirlah untuk mengembangkannya.

Boomers…apapun yang pemimpin kita lakukan, sekalipun itu pilih kasih dan nggak bersikap adil, nggak usah protes. Lakukan aja bagianmu dengan maksimal. Tunjukin kalo kamu punya sikap yang  fair dan bisa diandalin, sekalipun bukan anak emasnya. Ok?! (*/Elder/Nv)

 

sumber

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: