Arsip
Hantu Raksasa Tertangkap Kamera di Saudi

Seorang pelajar asal Arab Saudi, Ibrahim bin Abdullah al-Aini, tidak menyangka akan menangkap sesosok gambar yang dia sebut sebagai hantu raksasa melalui kameranya.
Situs emirates247.com melaporkan, Senin (28/1), kejadian itu bermula ketika Aini sedang jalan-jalan dekat pantai di kota pelabuhan Jeddah akhir pekan lalu. Dia kemudian memutuskan untuk mengambil gambar bulan yang saat itu bersinar terang melalui kamera telepon selulernya.
Pelajar dari sekolah perawat ini mengatakan saat ingin mengambil foto bulan itu, dia memang melihat seberkas cahaya bergerak cepat di atas tubuhnya.
“Saat itu saya mengarahkan kamera ke arah bulan dan mulai mengambil gambar. Namun, tiba-tiba cahaya itu bergerak dan tidak sengaja terambil kamera saya,” kata Aini.
Dia mengatakan saat melihat foto itu dirinya sangat ketakutan. Ini lantaran sesosok hantu raksasa terlihat jelas di gambar itu.
Foto hantu Aini bahkan sempat dilansir di salah satu surat kabar asal Saudi. Pada gambar itu terlihat sesosok hantu besar seperti sedang melayang.
Aini mengatakan dirinya memang pernah mendengar berita menyebut hantu raksasa seperti itu pernah terlihat di beberapa negara lain. Namun, tidak ada satu pun orang yang berhasil menangkap dengan jelas sosok hantu itu.
Alhasil, foto itu akan dia gunakan untuk dimasukkan ke catatan rekor dunia Guiness sebagai orang pertama yang berhasil mengambil gambar sosok hantu raksasa itu.
6 Panglima Perang Perempuan Terhebat di Dunia

Malahayati, adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Nama aslinya adalah Keumalahayati. Ayah Keumalahayati bernama Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya dari garis ayahnya adalah Laksamana Muhammad Said Syah putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah sekitar tahun 1530-1539 M. Adapun Sultan Salahuddin Syah adalah putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530 M), yang merupakan pendiri Kerajaan Aceh Darussalam.
Pada tahun 1585-1604, memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV.
Malahayati memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah tewas) berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda tanggal 11 September 1599 sekaligus membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal, dan mendapat gelar Laksamana untuk keberaniannya ini, sehingga ia kemudian lebih dikenal dengan nama Laksamana Malahayati





FOTO: Duka Simpanse Saat Kematian Temannya
Lebih dari selusin simpanse berdiri dibalik kawat duri tanpa suara sambil menyaksikan dorothy, seekor simpanse yang berumur 40 tahun lebih, sekarat akibat gagal jantung. Ini adalah foto yang sangat menyentuh dan mungkin tidak pernah anda saksikan sebelumnya.
Para simpanse tersebut berasal dari pusat penyelamatan simpanse Sanaga Yong di Kamerun. Para penduduk lokal bekerja ditempat itu sebagai sukarelawan perawat atau “care givers” bagi para simpanse yang telah menjadi yatim piatu akibat perburuan liar.
Foto yang luar biasa ini diambil pada tanggal 23 September 2008 oleh Monica Szczupider yang bekerja di pusat penyelamatan itu. Menurut Monica, Dorothy sudah berada di pusat penyelamatan itu selama 8 tahun dan ia adalah tokoh penting di antara 25 simpanse lainnya.
“Simpanse itu secara alami bukan hewan yang suka berdiam diri. Mereka biasanya suka berteman, suka ribut dan mengeluarkan suara keras dan biasanya sangat sukar membuat mereka untuk memperhatikan sesuatu dalam waktu agak lama.” Kata Monica
“Namun hari itu, mereka tidak bisa melepaskan pandangan matanya dari Dorothy dan kesunyian yang terjadi sangat luar biasa.”
Sebelumnya, para ilmuwan menolak teori bahwa hewan bisa merasakan emosi dan menyebut teori tersebut sebagai “anthropomorphic” yang berlebihan. Anthropomorphic berarti mengenakan atribut atau sifat-sifat manusia kepada makhluk selain manusia.
Namun sejumlah bukti menunjukkan bahwa mungkin hewan juga bisa merasakan emosi.
Contohnya simpanse di pusat penyelamatan Sanaga Yong seringkali terlihat sedang meratapi kematian keluarga atau anggota kelompoknya dengan cara berdiam diri setelah kematian terjadi.
Bahkan menurut Dr Marc Bekoff, seorang ethologist dari universitas Colorado, burung magpies juga menunjukkan hal serupa. Ketika ada seekor di antara kelompoknya mati, mereka terlihat berduka dan mengadakan upacara penguburan dengan cara menaruh sejumput rumput di samping bangkai sahabatnya.
Sementara para simpanse di Sanaga berdiam diri dari balik kawat berduri, Dorothy dengan lembut diselimuti di tempat tidur yang membawanya ke peristirahatan terakhirnya.
Goodbye Dorothy…
Inilah 5 Hal Yang Paling Di Sesali Sebelum Kematian
Kematian adalah akhir dari fase kehidupan yang akan dialami setiap manusia. Namun bagaimana cara manusia menghadapi kematian adalah pilihan setiap individu. Lalu apakah hal yang paling disesali manusia sebelum menghadapi kematiannya?
Perawat asal Australia, Bronnie Ware, yang bekerja mendampingi dan memberi konseling kepada pasien kritis, mencoba mencatat apa saja yang paling disesali manusia sebelum menghadapi kematiannya.
1. Saya berharap bisa mewujudkan kehidupan yang paling saya inginkan, bukan hidup atas keinginan orang lain terhadap saya.
Pernyataan itu adalah hal yang paling disesali oleh pasien, ketika manusia mencoba mengulang kembali ingatan tentang hidup yangtelah dijalani sebelumnya. Mereka baru menyadari bahwa kesehatan telah memberikan segalanya untuk dinikmati, tapi sedikityang menyadarinya dan tidak hidup dengan baik. Pasien baru menyadari itu ketika kesehatan tidak lagi dapat dimiliki.
2. Saya berharap bekerja lebih keras.Pernyataan ini banyak muncul dari mulut pasien laki-laki.
Mereka sangat merindukan masa kecil dan pertemanan mereka. Sebagian pasien perempuan juga mengucapkan penyesalan ini, tapi tidak sebanyak pasien pria. Pasalnya kebanyakan pasien perempuan bukan pencari nafkah. Pasien laki-laki kebanyakan menyesali hidup yang mereka habiskan dalam pekerjaan hanya untuk mencari eksistensi.
3. Saya berharap dapat menyatakan perasaan saya lebih terbuka.Banyak pasien yang merasa tidak dapat mengungkapkan apa yangdirasakannya demi menjaga perasaan orang lain.
Sering pasien merasa tidak mampu menjadi diri mereka sendiri. Mereka baru menyadari sebenarnya banyak penyakit yang bisa timbul akibat terlalu dalam merasakan penderitaan dan kepahitan tanpa bisa dikeluarkan.
4. Saya berharap dapat terus menjalin hubungan baik dengan teman.
Seringkali banyak pasien tidak menyadari manfaat berkumpul dan menghabiskan waktu seharian dengan teman-teman mereka adalah suatu hal yang paling berharga. Banyak pasien merasa mereka terjebak dalam aktivitas rutin bekerja, dan waktu mereka lewat begitu saja. Banyak penyesalan mendalam yang diucapkan pasien kritis tentang persahabatan. Bahkan sebagian pasien merindukan teman-teman mereka ketika tengah sekarat.
5. Saya berharap bisa membuat hidup saya lebih bahagia.
Pernyataan terakhir adalah pernyataan yang cukup mengejutkan dari pasien. Ternyata banyak pasien sekarat yang tidak menyadari bahwa kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Mereka banyak yangterjebak dalam pola dan kebiasaan lama, bahwa mereka takut menunjukkan emosi mereka dengan berpura-pura di hadapan orang lain. Padahal jauh di dalam dirinya, mereka ingin melakukan suatu hal yang konyol dan tertawa lepas .
Mimpi Bocah Tanpa Tangan dan Kaki Ini Menjadi Ustadz

Ceritanya mengalir. Kalimatnya polos. Namun tiap ditanya cita-cita, dia dengan tegas menjawab.
“Pingin jadi ustadz,” kata Hakim (8) setengah teriak saat ditemui detiksurabaya.com di Dusun Krajan, Desa Nanggungan, Pacitan, Minggu (10/6/2012).
Bocah itu bernama lengkap Farid Hakim Baihaqi Marwan. Lahir di Bekasi, Jawa Barat 8 tahun silam tanpa sepasang tangan. Kedua kakinya pun tak sempurna sehingga tak mampu menopang berat badannya.
Endah Budiarti (24), sang bibi yang mengasuh Hakim sejak kecil menuturkan, sejak masih berusia 2 tahun, Hakim kecil terpaksa berpisah kedua orang tuanya.
Uni Wahyudi Marwan, ayah Hakim adalah karyawan sebuah BUMN. Sedangkan ibunya, Siti Kunfaridah, perawat di Ibu Kota.
“Awalnya keluarga khawatir Hakim tidak bisa mengenyam pendidikan. Apalagi ke dua orang tuanya sibuk,” papar Endah.
Karena alasan itulah, Ismi (58) sang nenek membawa Hakim kecil ke Pacitan. Sekarang, Hakim duduk di bangku kelas 2 SLB (sekolah luar biasa).
Mulanya, lanjut Endah, memang butuh kerja keras untuk menumbuhkan rasa percaya diri Hakim. Kultur masyarakat sekitar yang acap kali menjadikan cacat fisik sebagai tontonan menjadi beban berat bagi keluarga.
Saat bertemu orang yang belum dikenal, Hakim spontan bersembunyi dibalik ketiak orang yang menggendongya. Perasaan minder terus menghantui si Hakim kecil.
“Dia sering Tanya, kenapa Hakim nggak punya tangan dan kaki? Trus kami jawab, tangan dan kaki Hakim masih di surga,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Berbekal sikap telaten dalam mendampinginya, kini Hakim tak lagi minder bergaul dengan orang lain. Bahkan di lingkungan maupun sekolah, dia dikenal memiliki banyak teman.
Rutinitas sehari-hari Hakim pun berlangsung layaknya anak normal. Bedanya, untuk kegiatan tertentu, seperti mandi dan makan harus dibantu orang lain. Sedangkan untuk makan dan belajar, Hakim lebih sering didampingi sang nenek.
Keterbatasan fisik tak menjadi alasan bagi Hakim untuk mengasah kemampuan. Dengan posisi duduk dia belajar menulis. Digigitnya sebatang pensil, lantas ditulisnya huruf demi huruf pada kertas diatas meja.
Kemudian dengan posisi tidur miring, Hakim melakukan hal yang sama. Kali ini pensil dipegang dengan dua jari kaki.
“Ini bentuk lingkaran, kalau yang ini kotak,” gumam Hakim sambil bekerja keras menulis.
Hakim tetaplah anak-anak yang menyukai dunia permainan. Selain menonton televisi, bocah gendut itu juga terampil memainkan aneka game. Dengan jari kaki, Hakim begitu tangkas memainkan tombol-tombol laptop pada didepannya.
Dibalik keterbatasannya, Hakim adalah sosok cerdas. Selain mampu menghafal ayat-ayat Alquran, dirinya juga mahir merangkai kata layaknya seorang dai ulung.
Kepiawaian berceramah, menjadikannya begitu dikenal. Hingga sekarang sudah puluhan tempat didatangi si ustadz cilik, termasuk diantaranya tampil didepan menteri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
Bahkan Menteri Linda Gumelar berjanji menghadirkan Hakim pada Peringatan Hari Anak Nasional Tahun 2012.
“Kalau jadi diajak bu menteri ke Jakarta, Hakim cuma mau minta kursi roda yang pakai remote itu lho. Jadi kalau mau ke kamar mandi Hakim bisa jalan sendiri,” harapnya lugas.







Komentar Terakhir