Arsip
Medali Emas pada Olimpiade 2012 Ternyata Hanya Mengandung 1% Emas
Jumlah kadar emas pada medali emas Olimpiade telah turun menjadi 1,34 persen yang disebabkan naiknya harga emas yang telah mencapai puncaknya seharga $1.895 per ons. Dengan harga saat ini, medali seberat 400 gram akan menghabiskan biaya pembuatan sekitar $25.000, dengan jumlah total sekitar $50 juta untuk setiap perlombaan.
Seratus tahun yang lalu, pada Olimpiade musim panas 1912 di Stockholm, Swedia merupakan ajang Olimpiade terakhir yang menggunakan emas murni. Medali emas murni hanya digunakan selama 8 tahun yang diperkenalkan pertama kali di Olimpiade St. Louis tahun 1904.
Medali emas pada Olimpiade 2012 terdiri dari 92,5% perak, 1,34% emas dan 6,16 tembaga. Mematuhi peraturan dari IOC, pada setiap medali harus memiliki komposisi 550 gram perak kualitas tinggi dan 6 gram emas. Setiap medali yang dibuat harus bernilai $500. Untuk medali perak, komposisi emas diganti dengan tembaga dengan nilai sebesar $260. Sedangkan medali perunggu memiliki komposisi 97% tembaga, 2,5% zinc, dan 0,5% timah dengan nilai sekitar $3.
Via: boingboing.com
Harga Yang Harus diBayar di Balik Mewahnya Trans Studio Bandung

Direktur Utama PT Para Bandung Propertindo Wibowo Iman Sumantri pada acara Topping Off Trans Studio Bandung, Preview New Bandung Supermall, Trans Hotel, dan Ibis Hotel, mengatakan bahwa Trans Studio Bandung memiliki luas 4,2 hektare. “Luas area juga dua kali lipat dibandingkan Trans Studio Makassar yang hanya 2,4 hektare, sehingga kami menggelontorkan nilai investasi dua kali lipat dengan terget pengunjung dua kali lipat pula,” ucap Wibowo, di lokasi Topping Off Trans Studio Bandung.

Wibowo mengatakan, Trans Studio Bandung akan lebih menarik dibanding Theme Park dan Amusement Park lain di Asia karena seluruh bangunan berada di dalam ruangan (indoor), sehingga tidak terpengaruh panas dan hujan. Selain itu, yang paling menonjol adalah kehadiran launch coaster yang hanya terdapat tiga unit di dunia. “Dua sudah berada di Amerika, satu lagi di Bandung,” ujarnya.
Trans Studio Bandung juga akan dilengkapi dengan 600 unit kamar hotel bintang tiga, dan 400 unit kamar hotel bintang enam, yang baru pertama kali ada di Kota Bandung. Keberadaan hotel ini juga untuk menampung wisatawan yang berasal dari negara-negara di Asia ke Trans Studio Bandung.
source : http://www.pikiran-rakyat.com
Harga Tiket :

Adapun berbagai informasi yang didapatkan blog info disitus jejaring sosial tentang harga tiket masuk Trans Studio Bandung adalah sebesar Rp220.000 hingga Rp600.000. Belum dapat dipastikan berapa kisaran harga tiket masuk Trans Studio yang pasti. Namun sejauh ini dibeberapa forum internet sudah ada yang mencoba menjual tiket dengan harga kisaran yang sudah disebutkan tersebut.
source : http://ptc-cam.blogspot.com
harga tiketnya:
150ribu senin-jumat
200ribu sabtu-minggu..
7 Penilaian yang Keliru Terhadap Pekerja
Bagi sobat yang masih bekerja dengan orang lain,baik itu perusahaan maupun perorangan,maka tentu sobat pasti pernah merasakan pahit manisnya bekerja. Hampir setiap pekerjaan,tidak ada rasa manisnya selain pekerjaan yang memang kita sukai. Manisnya bekerja dengan orang lain adalah ketika kita menerima upah kerja kita. Berdasarkan teori-teori yang dikemukakan para teoris psikologi terapan, pakar perilaku organisasi dan kinerja individu di organisasi, seperti Nisbett & Wilson (1977), maupun oleh Frank E. Saal, Ronald G. Downey, dan Mary Anne Lahey (1980), ada beberapa kekeliruan penilaian kinerja yang berpeluang dilakukan pada pemberi nilai (atasan atau supervisor) antara lain:

1. Efek halo.
Kecenderungan menilai kinerja hanya berdasar kesan pertama yang diperoleh. Misal, bila pada awalnya anak buah menampilkan kinerja baik, maka supervisor cenderung menilai baik selamanya.
2. Prasangka pribadi.
Misal, karena pernah mengalami suatu pengalaman buruk dengan anak buahnya, maka hal ini terus menerus diingat, berakibat atasa menilai buruk kerja bawahan untuk selamanya.
3. Kecenderungan nilai-tengah.
Kecenderungan memberi nilai “cukup” pada setiap aspek kerja, sebagai “nilai aman”, hingga kurang tajam menilai aspek kelebihan anak buah. Berdampak anak buah senantiasa dinilai “cukup-cukup” saja.
4. Kecenderungan terlalu murah hati.
Cenderung menilai terlalu tinggi, hingga kurang menampilkan kapasitas sesungguhnya dari anak buah.
5. Adanya perbedaan budaya.
Misal, budaya berpandangan bahwa nilai C (cukup) adalah kurang baik, sementara nilai B (baik) atau SB (sangat baik) adalah baik. Sehingga supervisor tertentu cenderung memandang kurang baik, atas kinerja seorang anak buah yang mendapat nilai C dari supervisor sebelumnya.
6. Efek kekinian.
Kecenderungan menilai kinerja anak buah berdasarkan pengalaman terkini atau pengalaman terakhir saat supervisor berinteraksi dengan anak buah. Dampaknya, bila yang diingat adalah kinerja yang kurang menyenangkan, maka untuk seterusnya kinerja anak buah tersebut bisa di-cap kurang menyenangkan.
7. Stereotip.
Aspek kesamaan budaya, ras, usia, jenis kelamin, dan aspek mendasar lain, memungkinkan supervisor memberi penilaian yang lebih baik pada anak buah yang memiliki kesamaan latar belakang dengan dirinya, dibanding anak buah lain yang memiliki latar belakang berbeda dengan dirinya.
(Majalah Chic/Narasumber: Donna Turner, Praktisi Sumber Daya Manusia Experd)
[Sumber]

















Komentar Terakhir