Arsip

Posts Tagged ‘jembatan penyeberangan’

Gila!!! 100 Mobil Tabrakan Beruntun

6 September 2013 1 komentar
Gila!!! 100 Mobil Tabrakan Beruntun

 

 

 

100 kendaraan bertumpukan di sebuah jembatan dalam kabut tebal hari ini menyebabkan delapan orang luka berat dan 200 luka ringan dengan dalam apa yang disebut saksi ‘pembantaian’.

 

Insiden pada baru Sheppey jembatan penyeberangan di Kent dimulai pada 07:15 dan dilanjutkan selama 10 menit sebagai mobil dan truk menabrak satu sama lain.

 

Tidak ada yang diyakini telah tewas dalam A249 tumpukan-up yang melihat visibilitas penurunan hanya 20 meter, tapi ada laporan dari beberapa pengendara mengemudi ‘seperti idiot’.

 

Adegan itu penuh dengan mobil lemas, truk dan bahkan transporter mobil orang menunggu di pinggir jalan untuk menerima bantuan dari layanan darurat.

 

Beginilah Foto- Foto Kejadiannya:

 

 

 

undefined

 

undefined

 

undefined

 

undefined

 

undefined

 

undefined

 

undefined

 

undefined

 

undefined

 

(wb/ daily mail )

 

sumber

Maaf Bu, Saya Mencopet karena Ibu Saya Sakit……..

Satu lagi cerita tentang pelajaran hidup, janganlah melihat sebuah persoalan dari satu sisi yang pada akhirnya akan membuat kesimpulan yang terburu-buru. Dari pinggir kaca nako di antara celah kain gorden, saya melihat anak muda itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya. Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya.

 

ana kmuda

 

Saya pernah melihat anak muda itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu. Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.
Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud anak muda yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Adhi anak saya?
Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri. Kang Dwi, suami saya, ke kantor. Adhi sekolah, Anna yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Dian sudah seminggu tidak masuk.
Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk.
Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi dizaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah?
Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya.
Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul.
Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi. Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.

 

———————-o0o—————————

 

Dan hari ini, anak muda yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang.
Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan?
Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti ini:

 

“Ibu yang baik…, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya.
Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.
Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras.
Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.
Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya?
Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya memukulnya lagi.
Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan.
Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang. Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet.
Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih.
Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter. Tapi Ibu…, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita.
Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu…, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf.”
Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya.
Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Dwi membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya.Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja.
Kang Dwi dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya.
Saya menolaknya meski Kang Dwi bilang tidak apa sekali-sekali. Saat saya ulang tahun, Kang Dwi menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bibi Dian, lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Dwi dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan.
Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Dwi dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir di mata saya. Anna menghampiri saya dan bilang, “Mama, saya bangga jadi anak Mama.” Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.

(Diolah dari berbagai sumber)

Niat Mulia Seorang Pelacur Tuna Rungu Yang Cantik (Laporan Eksklusif)

Tulisan ini, bukan bermaksud untuk pornografi dan pornoaksi. Tetapi hendaklah dilihat secara obyektif.

 

Tulisan ini seyogianya bisa dijadikan bahan renungan, bahwa betapa miris dan runtuhnya sendi-sendi kehidupan (moral) bangsa ini. Bagaimana tidak, Anti (nama samaran) seorang wanita muda berkulit putih bersih yang cantik, yang lebih memilukan lagi dia tuna rungu, terpaksa melacur karena tidak ada pekerjaan lain.

 

Kematian neneknya amat memukul batinnya

 

Cerita ini dibuat berdasarkan wawancara dengannya, berawal dari pertemuan di halte sebuah jembatan penyeberangan busway di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat tempat dia mangkal di suatu malam pada 4 Juni 2012.

 

Cerita mengenai kehidupannya didapat dengan berpura-pura “check-in” di sebuah hotel kecil di kawasan Menteng. Dan ia membeberkan kisahnya melalui media ponsel.

 

Anti saat ini berumur 22 tahun. Dia adalah anak seorang saudagar kelontong di sebuah kota di Pantura Jawa Barat. Secara ekonomi sebenarnya dia tidak berkekurangan karena orang tuanya kaya. Namun karena dia terlahir sebagai tuna rungu, dia sejak kecil hingga berusia 18 tahun dititipkan kepada neneknya. Walaupun dia tuna rungu, dia bisa mengecap pendidikan SMA di sekolah umum dan lulus dengan nilai yang memuaskan beberapa tahun lalu dan sempat mengenyam kuliah di perguruan tinggi swasta ternama di kota B.

 

Selalu berhasil berdalih terhadap orang tuanya

 

Lalu mengapa ia sampai menjadi perempuan malam yang menjajakan dirinya? Semuanya karena salah pacarnya yang menghamili dia dan tidak bertanggung jawab. sebagai anak seorang saudagar kaya, tuna rungu pula hal ini adalah aib yang amat berat apabila diketahui oleh keluarga dan orang sekampung. Oleh karena itu dia tidak melaporkan kasus ini ke Polisi. Hanya neneknya saja yang tahu.

 

Gara-gara hamil diluar nikah, kuliahnya terpaksa drop out karena malu. Dan dalam kesunyian hidupnya, dia hanya mengandalkan uang kiriman dari orang tuanya dan selalu berdalih sibuk bekerja dan magang di Jakarta apabila orang tuanya menanyakan mengapa dia tidak pulang.

 

Ia melahirkan bayinya di sebuah Rumah Sakit Ibu dan Anak dengan ditemani neneknya. Namun seminggu setelah kelahiran bayinya, neneknya meninggal dunia. Kematian neneknya amat memukul batinnya. Ia bagai kehilangan pegangan dan tempat berlindung. Hidupnya benar-benar seperti simalakama. Mau pulang dia malu. selain takut ditanya ini-itu, dia pun merasa tidak tega meninggalkan bayinya.

 

Hingga saat ini, apabila keluarganya menanyakan kabarnya dia selalu menjawab “baik-baik saja”. Rahasianya saat ini belum terbongkar karena ia pernah berdalih kepada orang tuanya bahwa sebelum lulus dia sudah ditawari pekerjaan di sebuah kantor di Jakarta jadi karena sudah enak dan terjamin dia tidak melanjutkan kuliahnya. Sebuah alasan yang cerdik.

 

Saat ini, anaknya sudah berusia 4 tahun. Ia menunjukkan foto anaknya yang dia simpan di dompetnya. Seorang anak perempuan yang manis. Orang tuanya tidak pernah bertemu dengan “cucunya”, karena ia selalu sukses “mengungsikan” anaknya bersama babysitternya apabila orangtuanya datang berkunjung.

 

Sebenarnya, saat ini seharusnya dia tidak melakukan pekerjaan “kotor” ini karena dia sedang menjalin hubungan dengan seorang laki-laki asal Hongkong yang dikenalnya di sebuah tempat hiburan malam. Namun karena kekasihnya ini tidak rutin mengirimkan uang (setiap kali kirim sebesar US$ 700 per bulan) maka dia terpaksa bekerja begini.

 

Saat ditanyakan kenapa tidak belerja di kafe atau bar saja? Jawabnya, “Tidak bisa, sering ada razia dan teman-teman iri kepada saya (karena saya cantik”. Ya, Anti memang cantik walau penampilannya sederhana. “Saya tidak suka tampil berlebihan, mas. Saya lebih suka sederhana”. Benar sekali menurut saya. Bagi saya perempuan yang penampilannya sederhana tanpa polesan sana-sini justru malah terlihat aura kecantikan aslinya.

 

Mengenai pernikahan dia tidak tahu bagaimana nantinya, “Kagak tahu. Jalani saja apa adanya karena saya trauma dengan (komitmen) laki-laki”. Dan laki-laki Hongkong yang menjadi pacarnya ini, dia mengaku tidak bisa memegang komitmen laki-laki tersebut. “Kalau mas bilang saya matre, terserah mas. Yang penting saya tidak pernah meminta uang ke dia”.

 

Ingin berhenti sebelum berumur 25 tahun

 

Tidak terasa sejam berlalu, “Mas waktunya sudah habis”. Ya benar sekali. Sudah satu jam! Dia bersedia untuk difoto asalkan identitasnya disamarkan. “Yakin mas tidak mau main?”. Saya jawab tidak usah karena saya bukan laki-laki hidung belang. Dia berterima kasih seraya mengatakan bahwa saya ini adalah satu-satunya tamu yang sopan dan amat menghargai dirinya. Dan dia pun mengembalikan “tarifnya” yang sebenarnya sudah cukup murah sebesar 25% ke saya.

 

Seraya merapikan pakaiannya dicermin, dia mengetik di HP nya dan menyodorkannya ke saya : “Saya tidak ingin terus-terusan seperti ini. Suatu saat saya pasti akan berhenti sebelum saya berumur 25 tahun”.

 

Kenapa tidak sekarang saja? “Saya sedang mengumpulkan modal usaha”.

 

Salut dengan Anti yang tuna rungu ini, bagaimanapun juga sejelek-jeleknya kita memandangnya ternyata dia mempunyai kemauan untuk bertobat. Tidak seperti para wanita lain sejenis ini yang karena “serba enak” mereka keterusan dan susah untuk berhenti dari dunia ini.

 

“Mas, saya tahu pasti mas memandang rendah saya. Tidak apa-apa mas. Doakan saya. Maaf saya tidak bisa memberitahu nomor HP saya. Terima kasih, mas. Sukses untuk mas. Semoga di lain waktu kita bisa bertemu dalam keadaan yang lebih baik”. Demikian tulisnya di layar ponsel androidnya sesaat sebelum saya pulang.

 

Saya suka kalimat terakhirnya, “Semoga di lain waktu kita bisa bertemu dalam keadaan yang lebih baik”. Ini menunjukkan dia amat cerdas dan memang berniat untuk bertobat.

 

Semoga kisah Anti bisa menginspirasikan “teman-temannya” untuk bertobat.

 

Doaku bersamamu, Anti, dimanapun kamu berada sekarang.

 

 

sumber

Inilah Beberapa Zebra Cross Paling Unik dan Aneh di Dunia

Inilah Beberapa Zebra Cross Paling Unik dan Aneh di Dunia

Zebra cross-zebra cross ini sangat kretif, unik, dan lucu, sehingga moga bisa mengembalikan mood bt penyeberangnya ke mood ceria lagi. Selain itu, bisa sebagai sarana untuk mempromosikan bisnis anda juga. Kreatif sekali orang-orang yang menggukan jembatan penyeberangan (zebra cross), untuk mempromosikan bisnis mereka. Bayangkan kalau ini terjadi di Indonesia, bisa-bisa kita akan lebih tertarik untuk berjalan kaki daripada naik mobil.

Zebra cross piano, didepan sekolah piano
Zebra Cross meniru Zebra, promosi turis di Africa
undefined
Zebra Cross, Mr. Clean, promosi merek pembersih Mr. Clean
undefined
Zebra Cross sepatu, didepan toko sepatu
Zebra Cross lilin, didepan toko lilin
Zebra cross berbentuk bahan material, didepan toko material
Zebra cross alat pembersih, didepan toko alat2 rumah
Zebra cross sisir, Di depan Salon
Zebra cross barcode, didepan Shopping center
Zebra cross diagonal, untuk mempermudah pejalan kaki
Zebra cross berseni, Promosi dari Interior Designer
Sumber. info-apa-sih.blogspot.com

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 309 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: