Arsip

Posts Tagged ‘buta huruf’

Suku Cia-Cia, Suku Asli Indonesia yang Menggunakan Tulisan Korea Sejak 1443

Ternyata tidak semua penduduk Indonesia menggunakan Bahasa Indonesia sebagai sarana tulis menulis. Suku di pedalaman Buton, Sulawesi Selatan, Cia-cia misalnya.


Img : indocropcircles.wordpress.com

Suku Cia-cia yang berada di Kepulauan Buton, Baubau, Sulawesi Tenggara ini memang telah lama menggunakan tulisan Korea atau Hangeul ketika mereka menulis dan membaca.

Suku Cia-cia sebenarnya bisa berbahasa dalam Bahasa Indonesia. Namun awalnya mereka buta huruf sehingga tidak bisa menulis.

Huruf Hangeul yang memiliki 24 karakter diperkenalkan oleh King Sejong pada tahun 1443 untuk menggantikan karakter huruf China di Korea.

Fakta ini menjadi berita besar baik bagi orang Korea sendiri, maupun oleh warga Asia, maupun dunia.

Orang Korea amat bangga dengan kebudayaannya.

Menurut seorang teman yang pernah ke Korea, di sana jarang orang pakai mobil-mobil impor. “Kebanyakan orang Korea pakai mobil Hyundai sebab diproduksi Korea sendiri,” katanya.


Img : indocropcircles.wordpress.com

Kebanggaan akan budaya ini menjadi api yang membakar nasionalisme dan menebalkan identitas bangsanya.

Bisa dibayangkan betapa hebohnya orang Korea ketika mengetahui bahwa ada satu etnis kecil di Indonesia, di tengah Pulau Buton, yang belajar alfabet Korea untuk menuliskan bahasanya sendiri. Ini adalah berita besar buat mereka.

Perlu dicatat, hanya alfabet saja yang digunakan bukan bahasanya. Bahasa tetap menggunakan Bahasa Indonesia.

undefined
Aktifitas nelayan di salah satu desa / pemukiman suku Cia-Cia di pesisir Pulau Batuata

sumber

Kisah Bocah Pelaku Bom Bunuh Diri di Afganistan

Begitu sering kita mendengar aksi bom bunuh diri di Afganistan. Tak hanya orang dewasa, kelompok teroris di balik aksi keji itu juga menyasar sejumlah anak kecil sebagai pelaku.

Lewat metode cuci otak, anak-anak dijejali informasi sesat yang membuat mereka dengan rela melakukan aksi bom bunuh diri.


Abdul Samat

Begitu sederhana kaum teroris mencuci otak anak-anak kecil di negara tersebut. “Kami diberi tahu bahwa bom tidak akan membunuh kami, hanya orang Amerika yang akan mati,” kata Abdul Samat, seorang bocah 13 tahun, calon bomber di Afganistan, seperti dikutip harian Inggris, Telegraph.

Abdul sempat begitu percaya dengan kata-kata sang teroris. Ia pun menurut saat matanya ditutup, lalu tubuhnya dipasangi rompi dengan muatan eksplosif.

Namun, beberapa menit sebelum melangkah menuju target serangan di Kandahar, ia tersadar. Bocah asal Quetta, daerah yang berbatasan dengan Pakistan, itu segera menyadari kebohongan sang teroris yang tengah mengubah tubuhnya menjadi bom manusia.

“Ketika membuka mata, saya melihat hal-hal menyesatkan, mereka ingin saya melakukannya (mengebom),” Abdul mengingat. “Saya menangis dan berteriak. Orang-orang keluar dari rumah dan bertanya apa yang salah. Saya lalu menunjuk sesuatu di rompi saya. Mereka pun takut dan menelepon polisi untuk melepasbom dari tubuh saya.”

Pejabat keamanan Afganistan mengatakan bahwa cerita Abdul bukan rekaan. Pada tahun lalu, serangkaian bom bunuh diri melibatkan anak-anak yang sebagian masih berusia 10 tahun. Cara ini dipilih karena anak-anak cenderung lebih mudah melewati pos pemeriksaan daripada pria dewasa.

Seorang pejabat intelijen senior Afganistan memperkirakan bahwa lebih dari 100 anak dicuci otaknya, dalam 12 bulan terakhir. Para teroris berusaha memanfaatkan keluguan mereka untuk direkrut menjadi ‘senjata’.

Anak-anak yang sebagian besar buta huruf itu diambil dari sejumlah keluarga miskin dengan iming-iming pendidikan gratis. Mereka dijejali propaganda antipemerintah dan anti-Barat sampai mereka siap membunuh. “Bagian terburuk adalah anak-anak itu tidak berpikir bahwa mereka itu sedang bunuh diri,” kata pejabat itu.

“Mereka sering diberi jimat yang berisi ayat-ayat Alquran, namun dengan pemahaman sesat bahwa saat bom meledak, mereka akan bertahan dan Allah akan membantu mereka bertahan dari api. Hanya orang-orang kafir yang akan dibunuh, mereka akan diselamatkan dan orangtua mereka akan pergi ke surga.”

Tidak Islami
Sepanjang perang melawan Uni Soviet pada 1980-an, yang diikuti konflik sipil, pejuang Afganistan menolak serangan bunuh diri karena dianggap pengecut dan tidak Islami. Namun, situasi berubah setelah 2001.

Taliban menyangkal menggunakan anak-anak sebagai bomber. Salah satu fasilitator Taliban dari Afganistan Utara mengatakan kepada The Daily Telegraph, “Semua bomber kami adalah laki-laki dan mereka semua relawan. Kami tidak pernah menggunakan anak laki-laki pra-puber.”

Tapi NATO dan pejabat keamanan Afganistan meyakini taktik bom bunuh diri yang melibatkan anak-anak telah diadopsi secara luas. Kelompok teroris yang dicurigai adalah jaringan Haqqani, sebuah kelompok pemberontak yang selaras dengan Taliban.
sumber

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 284 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: