Arsip

Posts Tagged ‘buku buku’

Asal-Usul Sunda

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/b/b9/Kujang.jpg

Istilah Sunda kemungkinan berasal dari bahasa Sansekerta yakni sund atau suddha yang berarti bersinar, terang, atau putih. Dalam bahasa Jawa kuno (Kawi) dan bahasa Bali dikenal juga istilah Sunda dalam pengertian yang sama yakni bersih, suci, murni, tak bercela/bernoda, air, tumpukan, pangkat, dan waspada.

Menurut R.W. van Bemmelen seperti dikutip Edi S. Ekadjati, istilah Sunda adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menamai dataran bagian barat laut wilayah India Timur, sedangkan dataran bagian tenggara dinamai Sahul. Dataran Sunda dikelilingi oleh sistem Gunung Sunda yang melingkar (Circum-Sunda Mountain System) yang panjangnya sekira 7.000 km. Dataran Sunda itu terdiri atas dua bagian utama, yaitu bagian Utara.yang meliputi Kepulauan Filipina dan pulau-pulau karang sepanjang Lautan Fasifik bagian Barat serta bagian Selatan hingga Lembah Brahmaputra di Assam (India).

Dengan demikian, bagian Selatan dataran Sunda itu dibentuk oleh kawasan mulai Pulau Banda di timur, terus ke arah barat melalui pulau-pulau di kepulauan Sunda Kecil (the lesser Sunda island), Jawa, Sumatra, Kepulauan Andaman, dan Nikobar sampai Arakan Yoma di Birma. Selanjutnya, dataran ini bersambung dengan kawasan Sistem Gunung Himalaya di Barat dan dataran Sahul di Timur.

Dalam buku-buku ilmu bumi dikenal pula istilah Sunda Besar dan Sunda Kecil. Sunda Besar adalah himpunan pulau yang berukuran besar, yaitu Sumatra, Jawa, Madura, dan Kalimantan, sedangkan Sunda Kecil adalah pulau-pulau yang berukuran kecil yang kini termasuk kedalam Provinsi Bali, Nusa Tenggara, dan Timor.

Dalam perkembangannya, istilah Sunda digunakan juga dalam konotasi manusia atau sekelompok manusia, yaitu dengan sebutan urang Sunda (orang Sunda). Di dalam definisi tersebut tercakup kriteria berdasarkan keturunan (hubungan darah) dan berdasarkan sosial budaya sekaligus. Menurut kriteria pertama, seseorang bisa disebut orang Sunda, jika orang tuanya, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu ataupun keduanya, orang Sunda, di mana pun ia atau mereka berada dan dibesarkan.

Menurut kriteria kedua, orang Sunda adalah orang yang dibesarkan dalam lingkungan sosial budaya Sunda dan dalam hidupnya menghayati serta mempergunakan norma-norma dan nilai-nilai budaya Sunda. Dalam hal ini tempat tinggal, kehidupan sosial budaya dan sikap orangnya yang dianggap penting. Bisa saja seseorang yang orang tuanya atau leluhurnya orang Sunda, menjadi bukan orang Sunda karena ia atau mereka tidak mengenal, menghayati, dan mempergunakan norma-norma dan nilai-nilai sosial budaya Sunda dalam hidupnya.

Dalam konteks ini, istilah Sunda, juga dikaitkan secara erat dengan pengertian kebudayaan. Bahwa ada yang dinamakan Kebudayaan Sunda, yaitu kebudayaan yang hidup, tumbuh, dan berkembang di kalangan orang Sunda yang pada umumnya berdomosili di Tanah Sunda. Dalam tata kehidupan sosial budaya Indonesia digolongkan ke dalam kebudayaan daerah. Di samping memiliki persamaan-persamaan dengan kebudayaan daerah lain di Indonesia, kebudayaan Sunda memiliki ciri-ciri khas tersendiri yang membedakannya dari kebudayaan-kebudayaan lain.

Secara umum, masyarakat Jawa Barat atau Tatar Sunda, sering dikenal dengan masyarakat yang memiliki budaya religius. Kecenderungan ini tampak sebagaimana dalam pameo “silih asih, silih asah, dan silih asuh” (saling mengasihi, saling mempertajam diri, dan saling memelihara dan melindungi). Di samping itu, Sunda juga memiliki sejumlah budaya lain yang khas seperti kesopanan (handap asor), rendah hati terhadap sesama; penghormatan kepada orang tua atau kepada orang yang lebih tua, serta menyayangi orang yang lebih kecil (hormat ka nu luhur, nyaah ka nu leutik); membantu orang lain yang membutuhkan dan yang dalam kesusahan (nulung ka nu butuh nalang ka nu susah), dsb.

Strategi budaya

“Silih asih, silih asah, dan silih asuh” (saling mengasihi, saling mempertajam diri, dan saling memelihara dan melindungi), merupakan pameo budaya yang menunjukkan karakter yang khas dari budaya religius Sunda sebagai konsekuensi dari pandangan hidup keagamaannya.

Saling asih adalah wujud komunikasi dan interaksi religius-sosial yang menekankan sapaan cinta kasih Tuhan dan merespons cinta kasih Tuhan tersebut melalui cinta kasih kepada sesama manusia. Dengan ungkapan lain, saling asih merupakan kualitas interaksi yang memegang teguh nilai-nilai ketuhanan dan nilai-nilai kemanusiaan. Semangat.ketuhanan dan kemanusiaan inilah yang kemudian melahirkan moralitas egaliter (persamaan) dalam masyarakat. Dalam tradisi masyarakat saling asih, manusia saling menghormati, tidak ada manusia yang dipandang superior maupun inperior sebab menentang semangat ketuhanan dan semangat kemanusiaan. Mendudukan manusia pada kedudukan superior atau inperior merupakan praktek dari syirik sosial. Ketika ada manusia yang dianggap superior (tinggi), berarti mendudukkan manusia sejajar dengan Tuhan dan jika mendudukan manusia pada kedudukan yang inperior (rendah), berarti mengangkat dirinya sejajar dengan Tuhan. Dalam masyarakat saling asih manusia
didudukkan secara sejajar (egaliter) satu sama lainnya. Prisip egaliter ini kemudian melahirkan etos musyawarah, ta’awun (kerjasama) dan sikap untuk senantiasa bertindak adil. Etos dan moralitas inilah yang menjadikan masyarakat teratur, dinamis dan harmonis.

Tradisi (budaya) saling asih sangat berperan dalam menyegarkan kembali manusia dari keterasingan dirinya dalam masyarakat sehingga citra dirinya terangkat dan menemukan ketenangan. Ini merupakan sumber keteraturan, kedinamisan, dan keharmonisan masyarakat sebab manusia yang terasing dari masyarakatnya cenderung mengalami kegelisahan yang sering diikuti dengan kebingungan, penderitaan, dan ketegangan etis serta mendesak manusia untuk melakukan pelanggaran hak dan tanggung jawab sosial.

Selain itu, dalam masyarakat religius kepentingan kolektif maupun pribadi mendapat perhatian serius melalui saling kontrol, tegur sapa dan saling menasihati. Hal ini dikembangkan dalam budaya atau tradisi saling asuh. Budaya saling asuh inilah yang kemudian memperkuat ikatan emosional yang telah dikembangkan dalam tradisi saling asih pada masyarakat religius. Oleh karena itu, dalam masyarakat religius seperti ini jarang terjadi konflik dan kericuhan, tetapi ketika ada kelompok lain yang mencoba mengusik ketenangannya, maka mereka bangkit melawan secara serempak (simultan).

Budaya silih asuh inilah yang merupakan manisfestasi akhlak Tuhan yang maha pembimbing dan maha menjaga, kemudian dilembagakan dalam silih amar makruf nahy munkar.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa silih asuh merupakan etos pembebasan dalam masyarakat religius dari kebodohan, keterbelakangan, kegelisahan hidup dan segala bentuk kejahatan.

Meski demikian, budaya religius sesungguhnya memberikan peluang dalam penyerapan iptek sebab memiliki sejumlah potensi, etos keterbukaan, penalaran, analisis, dan kritis sebagai upaya perwujudan akhlak Tuhan Yang Maha Berilmu dan Mahakreatif sebagimana dikembangkan dalam budaya atau tradisi saling asah.

Masyarakat saling asah adalah masyarakat yang saling mengembangkan diri untuk memperkaya khazanah pengetahuan dan teknologi. Tradisi saling asah melahirkan etos dan semangat ilmiah dalam masyarakat. Etos dan semangat ilmiah dalam masyarakat religius merupakan upaya untuk menciptakan otonomi dan kedisiplinan sehingga tidak memiliki ketergantungan terhadap yang lain sebab tanpa tradisi iptek dan semangat.ilmiah suatu masyarakat akan mengalami ketergantungan sehingga mudah terekploitasi, tertindas, dan terjajah.

Saling asah adalah semangat interaksi untuk saling mengembangkan diri ke arah penguasaan dan penciptaan iptek sehingga masyarakat memiliki tingkat otonomi dan disiplin yang tinggi.

Dalam masyarakat religius yang saling asah, ilmu pengetahuan, dan teknologi mendapat bimbingan etis sehingga iptek tidak lagi angkuh, tetapi tampak anggun, bahkan memperkuat ketauhidan. Integrasi iptek dan etika ini merupakan terobosan baru dalam kedinamisan iptek dengan membuka dimensi transenden, dimensi harapan, evaluasi kritis, dan tanggung jawab.

Dengan demikian, budaya saling asih, saling asah dan saling asuh tetap akan selalu relevan dalam menghadapi tantangan modernisasi. Melalui strategi budaya saling asih, saling asah saling asuh, manusia modern akan dapat dikembalikan citra dirinya sehingga akan terbatas dari kegelisahan, kebingungan, dan penderitaan serta ketegangan psikologis dan etis.

sumber

Unik, Seni Origami Melipat KALENG!

 

DAILYMAIL.CO.UK – Untuk banyak orang, seniman Jepang, Macaon  memiliki pekerjaan yang sempurna dan itu tidak sulit untuk melihat mengapa. Dia bisa minum bir dan soda kemudian mendaur ulang kaleng dengan memutarnya sehingga terbentuk figur superstar dari buku-buku komik, film dan video game. Macaon mengubah aluminium tua menjadi tokoh ikonik seperti Buzz Lightyear dan Woody dari Toy Story, Decepticon dari Transformers, topeng penjahat  Star Wars, Darth Vader dan  pahlawan videogame, Super Mario.

 

 

 

 

Robot Disney, Wall-E, robot pemadatan sampah, adalah subjek yang sempurna untuk sebuah patung kaleng daur ulang. Sementara favorit anak Pikachu dari serial TV Pokémon dibuat menggunakan minuman Jepang degan kaleng kuning keemasan cerah. Masing-masing dipilih warnanya, dan dengan susah payah memotong-motong dan melipat ke posisi dengan keterampilan seorang master origami. Contoh lain dari pekerjaan menakjubkan artis dapat dilihat di website Jepang-nya.

 

 

 

 

 

Sekilas Tentang arti Keluarga Sakinah, Mawaddah, Warrahmah

Mungkin semua tidaklah asing lagi mendengar kata-kata Sakinah, Mawadah, Warrahmah. Dulu, ketika mendengar ceramah atau doa dari ustadz-ustadz(ah) agar keluarga kita menjadi menjadi keluara yang sakinah, mawaddah wa rahmah saya tidak terlalu paham, apa yang dimaksud dengan keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Saya hanya tahu sakinah artinya tenang, tentram.

Pelan-pelan saya faham, sakinah artinya tenang/tentram, mawaddah artinya bahagia, wa = dan, sedangkan rahmah artinya mendapat rahmah/cinta. Hanya itu.
Sampai beberapa hari yang lalu ketika kami membahas cerita di sebuah buku tentang seorang pemuda yang tidak ingin menikah karena belum menemukan wanita yang sesuai dengan kriterianya ditambah begitu banyaknya persyaratan dari orang tuanya tentang sang calon menantu.
Menurut pandangan pemuda di cerita tersebut, gadis-gadis jaman sekarang banyak yang tidak lagi menjalankan hidup sesuai dengan islam, dari pakaiannya yang tidak menutup aurat, penampilan dan cara bergaulnya yang ‘kebarat-baratan’, bahkan sampai cara berjalannya yang tidak islami. Kebetulan ia dibesarkan dilingkungan teman-teman yang islami yang telah menikah dengan wanita-wanita islami, namun ia sendiri bukan berasal dari keluarga yang harmonis. Orang tuanya selalu ribut, bersikeras dengan pendapat masing-masing dan memiliki sifat yang tidak sabar.
Akhirnya pemuda yang kebetulan seorang dokter terkenal tersebut tenggelam dengan kesibukannya sebagai dokter dan mempelajari Al- quran dan sunnah Rasul saw dari buku-buku dan ceramah-ceramah.
Suatu hari, pemuda tadi mendengarkan radio yang membahas tentang tujuan terbentuknya sebuah keluarga, yakni untuk membentuk keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Selama ini, pemuda atau dokter muda yang berasal dari keluarga yang kurang harmonis tersebut tidak terlalu memperhatikan apa tujuan berkeluarga. Sang penyiar lalu melantunkan sebuah ayat Al-quran.Iapun sering mendengar ayat dari surat Ruum (30:21) tersebut : “Dan dari tanda-tandanya telah Kuciptakan untukmu pasangan-pasanganmu agar kamu hidup tenang bersamanya dengan bahagia dan cinta (mawaddah wa rahmah). Dan itu adalah tanda-tanda bagi orang yang berakal”. Namun baru kali ini ia memperhatikan, merasakan dan menghayati ayat tersebut. Membentuk keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah.
Sejak itu opininya tentang hidup berkeluargapun berubah. Ia lalu mulai memperhatikan dan mencari calon istri. Singkat cerita, akhirnya ia menikahi muridnya yang berpenampilan lain dari murid- murid wanita lainnya, memakai gamis, berjilbab dan menjaga pergaulannya. Kesibukannya mempelajari islam selama ini telah membukakan hatinya dan memperoleh petunjuk dari Allah swt. Di akhir pelajaran ustad kami menanyakan apa perbedaan antara mawaddah dan rahmah. Jawaban kamipun bermacam-macam. Lalu ustadpun menjelaskan, mawaddah adalah cinta dari seorang suami, sedangkan rahmah adalah cinta dari seorang istri.
Sekarang jelas sudah, apa arti keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Bukan hanya berarti keluarga yang tenang dan bahagia saja, tapi ada sesuatu dibalik itu, perlunya cinta yang diberikan oleh suami kepada istri dan keluarga, dan cinta yang diberikan oleh istri kepada suami dan anak-anak.

Ustad lalu menambahkan,tujuan berkeluarga yang lain adalah mengurangi kesalahan bahkan kemaksiatan. Contohnya, jika sebelum berkeluarga pemuda atau pemudi lajang dapat berpergian dengan bebas, maka setelah berkeluarga kegiatan mereka menjadi terbatas. Ada prioritas lain yang harus mereka perhatikan, yakni keluarga. Jadi, bila setiap anggota keluarga sibuk dengan kegiatan diluar rumah tanpa memperhatikan keluarganya, lalu apa bedanya menikah dengan tidak menikah? Mungkinkah tercipta keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah apabila setiap orang jarang bertemu dan berkomunikasi? Karena tujuan berkeluarga sebagian orang telah berbeda dengan yang Allah SWT ajarkan kepada kita dalam surat Ar Ruum, yakni menciptakan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Walau selama ini kita telah sering membaca ayat tersebut dalam undangan-undangan pernikahan. Wallahu ‘alam.

sumber

Kisah Cinta Beda Agama Di Rusia

~ Dampak lain dari meningkatnya populasi Muslim di Moscow juga berpengaruh terhadap urusan asmara.
Ternyata banyak pula perempuan Rusia yang kepincut imigran Asia Tengah. Pasangan Zarif dan Yelena contohnya. Zarif, seorang imigran dari Tajikistan meminang Yelena yang berasal dari Rusia.
Tapi Zarif adalah seorang Muslim yang taat, dan Yelena berasal dari keluarga Kristen Ortodoks. Tidak mudah untuk mendapatkan dukungan orang tua keduanya guna merestui pernikahan mereka. Namun, sekarang ia mengatakan ada yang berubah.
“Saya kadang-kadang membeli pernak-pernik berbau Kristen Ortodoks untuk mertua. Sebaliknya, mertua saya membelikan buku-buku Islam atau kalender,” kata Zarif. “Kita hidup dalam saling menghormati dan harmoni.”
Di sisi lain, semakin banyak orang Rusia masuk Islam, di antaranya Ali Vyacheslav Polosin, seorang pendeta Ortodoks dan mantan politikus. Kini, ia mengelola pusat pembinaan mualaf.
Sementara itu, Aisyah Lárisa, yang bekerja dengan Ali mencatat lebih dari 10.000 perempuan Rusia yang memeluk Islam. “Mereka membutuhkan bantuan kami,” kata Aisyah.
Islam mungkin belum menjadi agama mayoritas di Rusia. Namun, tanda-tanda ke arah itu akan menjadi nyata di kemudian hari.

Anak-Anak, Menggambar, dan Kreatifitas

Yap! tadi saya baru saja merapikan buku-buku di kostan, dan tanpa sengaja saya menemukan buku tulis yang saya gunakan waktu masih belajar di TPB FSRD. Di dalamnya ada sebuah coretan yang mendeskripsikan perkembangan anak-anak dalam menggambar…Check it out!

Skema Perkembangan Anak-Anak Dalam Menggambar
=======================================

2-3 Tahun [coret-coretan tanpa arti, sebagai sensasi jejak jemari]
Pada masa ini, anak-anak sebenarnya sedang asyik-asyiknya menikmati kemampuan tangannya dalam membuat suatu garis, kemampuan tangannya meninggalkan jejak, tanpa ada arti khusus.

3-4 Tahun [coret-coretan mulai ada arti, sebagai ruang angkasa dengan aneka waktu/ruang]. Garis yang mereka buat sudah menunjukkan sedikit gambaran, atau sesuatu yang ada di alam nyata. Namun, posisi gambar masih berantakan, hanya seperti lingkaran-lingkaran benda angkasa tak beraturan.

4-5 Tahun [Mementingkan bagian tertentu objek, masih menggambar ruang angkasa, aneka ruang dengan ditambah dinamika, aneka tampak dan tampak khas]. Pada masa ini seorang anak biasanya menyukai bagian tertentu objek, dan menggambarkannya berulang kali tanpa mempedulikan bagian lain dari objek.

5-6 Tahun [Anak-anak mulai membuat skema, konsep atas bawah, mulai bisa menyusun cerita gambar]. Kemampuan anak makin berkembang dengan menambahkan “story telling” pada coretan yang mereka buat. Kadang gambar yang dibuat tidaklah seperti apa yang mereka katakan (misalkan, mereka berkata, ada ayam sedang mengejar ular, tapi yang mereka gambar hanya satu lingkaran besar berantakan dengan garis panjang keriting, biarpun masih abstrak, tapi mereka tahu, dan mengingat bentuk itu. Apabila suatu saat mereka kembali ditanyakan mengenai gambar tersebut, mereka masih akan menjawab ayam yang mengejar ular).

6-7 Tahun [Perkembangan lanjut dari proses perkembangan sebelumnya dengan integrasi indera-indera, dan juga penambahan perkembangan konsep waktu dan juga ruang]. Di tahun ini, ada proses integrasi indra lain, yaitu penglihatan, perasa, kadang pendengaran, atau pembau. Mereka mulai menyatukan input dari indera-indera itu, sehingga gambar yang dihasilkan lebih kompleks, dengan adanya urutan waktu cerita, keadaan cuaca saat itu, atau penggambaran keadaan yang lain.

7-8 Tahun [Menggambar dengan mengutamakan bagian objek yang dipentingkan, objek yang tidak dimaksudkan biasanya tidak dipedulikan, atau tidak digambar dengan sempurna]. Hampir sama dengan tahun-tahun awal, namun pada 7-8 tahun, anak-anak sudah lebih mampu meanngkap bentuk dari objek itu sendiri. Ketika mereka bercerita tentang tangan yang terluka, maka yang digambarkan oleh mereka adalah tangan yang digambar detail dengan bagian tubuh lain yang digambarkan seadanya, dengan [mungkin] tambahan ekspresi wajah.

—<>—

8-9 Tahun [Menggambar dengan banyak waktu dan ruang]. Tingkatannya lebih kompleks dari tahun sebelumnya, dengan kemampuan menggambar yang mulai lebih konkret, masih dengan cerita ruang dan waktu yang begitu banyak, dan kadang terjadi over-lapping.
undefined
9-10 Tahun [Mata mulai berperan, sehingga mereka berusaha menggambar lebih rinci]. Anak-anak sudah mulai terfokus pada satu indera yaitu mata. Mata mulai mengambil peranan penting dalam pembuatan gambar mereka.

10-11 Tahun [Gambar selain hasil imajinasi, juga sudah mampu memasukkan cerita fakta, atau sebagai catatan peristiwa penting bagi mereka]. Umur 10-11 tahun adalah umur di mana anak-anak sudah mulai mengembangkan kombinasi antara kemampuan imajinasi mereka dengan kisah nyata yang mereka alami, dengan bentuk gambar yang mulai mendetail.

11-13 Tahun [Masa krisis, saat terjadi perang antara indera mata yang telah jadi dengan indera-indera lainnnya]. Umur 11-13 tahun adalah masa krisis, di mana anak-anak sering bingung antara mengikuti imajinasi, atau pun mengikuti apa yang dia lihat, juga dengan adanya indera-indera lain. Mereka menjadi menganggap bahwa mereka “tidak bisa menggambar” atau “bisa menggambar”, dengan parameter, yang bisa menggambar adalah yang bisa membuat gambar sesuai dengan apa yang dilihat.

Bagian paling penting adalah tahun ke-13, berikut penjelasannya

13 Tahun ke atas [Bila pembina gagal mengintegrasikan indera-indera di masa krisis ini, dan cenderung mementingkan mata, yang terjadi adalah:

* yang berbakat akan menjadi naturalis-persepektif-momen opname,

* yang tidak berbakat akan menjadi pesimis dalam menggambar, bahkan sama sekali tidak berani menggambar.

13 Tahun ke atas [Bila pembina berhasil mengintegrasikan indera-indera hingga apayang dilihat seorang anak merupakan hasil kerjasama terpadu indera, yang terjadi adalah :

* yang berbakat akan menjadi senirupawan baik dalam sistem ruang-waktu-datar atau dalam sistem naturalis,
* yang tidak berbakat akan lebih optimis ketika diminta untuk menggambar.

Begitulah catatan kecil yang bermakna luar biasa ini, saya mencatatnya saat Bp. Primadi Tabrani memberikan kuliahnya yang terbilang sangat unik dan menarik, pada saat itu, saya terus terang tidak terlalu memahami, lain halnya dengan sekarang (4 tahun kemudian), ternyata ada makna sangat penting di dalamnya.

—<>—

Adalah bagaimana mencetak anak yang mampu berkreasi bebas, dan berfikir kreatif, sehingga tidak menghalangi potensi anak-anak…karena anak-anak mempunyai potensi yang berbeda dan masing-masing bisa menghasilkan hal yang luar biasa, asalkan kita [sebagai orang dewasa dan pendidik] mampu mengarahkan dengan baik dan benar.

—<>—

Sebenarnya, pilihan kemampuan menggambar pada tahun ke 13 itu sama baiknya, asalkan anak-anak bisa terdidik dengan benar untuk memberanikan diri membebaskan kreasi menggambarnya. Namun kadang, proses pembelajaran menggambar umur itu masih saja didikte oleh guru, ketentuan ini dan itunya, bahwa menggambar haruslah mengikuti guru…itulah yang menghambat kreatifitas.

Menggambar adalah salah satu parameter kreatifitas seseorang, keberanian orang dalam menggambar bisa mempengaruhi kemampuannya mengeluarkan ide-ide baru yang brilian, di bidang yang lain. Bukan bagus tidaknya yang dinilai, tetapi kemampuan mereka mem-visualisasikan yang ada di kepala mereka.

Sekian catatan kecil dari buku saya di tingkat pertama, semoga bermanfaat..:

Tips Berwisata sambil Belajar Bahasa Asing !

Anda telah bersiap untuk berpetualang ke luar negeri baik finansial maupun mental. Namun bagaimana bila Anda pergi ke tempat tujuan wisata dengan bahasa setempat yang kurang Anda kuasai.

Contohnya saja Korea, Jepang, Perancis, dan beberapa negara lain yang sangat mencintai bahasa ibunya. Bahkan terkadang penduduk setempat tidak fasih berbahasa Inggris. Nah Apa yang harus Anda lakukan untuk memudahkan Anda dalam berkomunikasi di sana? Berikut beberapa tips yang bisa Anda praktikkan.

Quote:

Belajarlah bahasa setempat sebelum Anda berangkat.

Dalam hal ini bila Anda ingin cukup fasih dalam melakukan perbincangan dengan penduduk setempat, ada baiknya Anda mendaftarkan kursus bahasa tersebut secara resmi yang memang mengeluarkan kocek yang cukup besar.

Apalagi jika Anda berencana melancong di negara tersebut dalam waktu yang lama. Jika Anda yakin dengan negara tujuan Anda, daftar dan belajarlah dua sampai tiga bulan sebelum keberangkatan.

Bila Anda ingin menghemat biaya Anda, Anda dapat belajar otodidak dengan membeli buku percakapan yang dilengkapi CD belajar secara lisan, agar memudahkan Anda dalam melafalkan bahasa negara tujuan wisata Anda. Buku-buku percakapan seperti itu telah banyak dijual di toko-toko buku.

Harga membeli buku tersebut tentu lebih hemat dibandingkan mengambil kursus bahasa. Namun, Anda harus rajin, disiplin, dan konsisten dalam belajar secara otodidak.

Kuasailah frasa-frasa dasar ataupun percakapan dasar. Hafalkan percakapan-percakapan umum yang biasa dipraktikan bila Anda berada di tempat tujuan tersebut. Kata-kata seperti “di mana”, “tolong”, “terima kasih”, “maaf saya tidak pandai berbahasa …”

Halafkan juga percakapan-percakapan umum di sarana umum.

Misalnya menanyakan harga, menanyakan cara, menanyakan jalan, dan sebagainya. Biasakan menghafalkan kata kerja dibanding kata benda. Kata benda bisa Anda tunjuk atau gambarkan. Sementara kata kerja susah untuk digambarkan.

Bawalah kertas contekan.

Anda dapat menulis kata-kata sifat yang biasanya Anda jumpai di petunjuk jalan. Terutama kata-kata yang berlawanan seperti kata-kata masuk-keluar, atas-bawah, tunggu-pergi, dan sebagainya.

Janganlah ragu meminta bantuan.

Selalu ada orang yang bisa berbahasa Inggris. Bisa jadi Anda berada di situasi saat Anda tidak memahami suatu kalimat yang Anda maksud namun Anda hanya mengerti beberapa kata dalam kalimat tersebut.

Jika hal ini terjadi, Anda dapat meminta bantuan kepada penduduk lokal yang Anda ajak bicara. Katakan padanya, “bagaimana saya mengatakan (kata yang Anda maksud) dalam bahasa setempat?”. Lalu Anda dapat memintanya untuk menuliskan di atas kertas sehingga Anda mendapatkan kosa kata baru bahasa setempat.

Makanlah di restoran lokal.

Sebaiknya Anda hindari makan di restoran yang menggunakan dua bahasa pada menu makanan mereka. Apalagi jika Anda turis berkantong tipis.

Beberapa restoran tersebut biasanya menawarkan makanan yang sama dengan makanan pinggir jalan namun dengan harga mahal. Harga lebih mahal karena yang sasaran mereka adalah wisatawan asing, bukan penduduk lokal.

Oleh karena itu, makanlah di warung atau restoran yang biasa menjadi tempat makan penduduk setempat, bukan yang ramai dikunjungi turis. Carilah seseorang untuk membantu Anda mengartikan menu makanan tersebut dan mendeskripsikannya agar Anda dapat menikmati makanan enak dengan harga terjangkau.

Berwisata sambil belajar bahasa.

Ibarat sambil menyelam minum air. Anda bisa berwisata sekaligus membuat Anda menambah pengetahuan Anda dalam berbahasa asing yang nantinya dapat menjadi modal Anda.

Misalnya saat bekerja di perusahaan asing ataupun membantu teman Anda yang ingin belajar bahasa tersebut. Paling tidak Anda tidak gugup lagi dalam bercakap-cakap bahasa tersebut.

Tersenyumlah.

Hal ini memang bahasa yang paling mudah dan paling dimengerti oleh semua orang di seluruh dunia. Bila Anda meminta tolong atau berterima kasih dengan bahasa lokal sambil tersenyum, maka Anda telah membuat suatu kedamaian sederhana antar budaya dan antar negara

DUNIA MAHLUK HALUS

bukanklikunic.blogspot.com - DUNIA MAHLUK HALUS
Pada kenyataannya banyak orang yang tertarik menelaah pada dunia mahkluk halus, barang kali mereka mendengar beberapa cerita atau membaca tulisan atau dari buku-buku.
Bagi orang yang telah mencapai ilmu sejati dalam kejawen atau mungkin yang sudah menguasai metafisika, dunia mahkluk halus itu biasa adanya, bukannya omong kosong. Dibawah ini digambarkan informasi dari dunia-dunia mereka versi kejawen,dimana ( lebih dari satu dunia ) paling tidak yang terjadi ditanah Jawa.
Banyak ahli kejawen mempunyai pendapat yang sama bahwasanya di dalam dunia yang satu dan sama ini, sebenarnya dihuni oleh tujuh macam alam kehidupan, termasuk alam yang dihuni oleh manusia.
Di dunia ini memiliki tujuh saluran kehidupan yang ditempati oleh bermacam-macam mahkluk. Mahkluk-mahkluk dari tujuh alam tersebut, pada prinsipnya mereka mengurusi alamnya masing-masing, aktivitas mereka tidak bercampur setiap alam mempunyai urusannya masing-masing. Dari tujuh alam itu hanyalah alamnya manusia yang mempunyai matahari dan penduduknya yang terdiri dari manusia, binatang dan lain-lain mempunyai badan jasmani.
Penduduk dari 6 alam yang lain mereka mempunyai badan dari cahaya (badan Cahya) atau yang secara populer dikenal sebagai mahkluk halus – wong alus – mahkluk yang tidak kelihatan.
Di 6 alam itu tidak ada hari yang terang berderang karena tidak ada matahari. Keadaannya seperti suasana malam yang cerah dibawah sinar bulan dan bintang-bintang yang terang, maka itu tidak ada sinar yang menyilaukan seperti sinar matahari atau bagaskoro (Jawa halus)
Konon Ada 2 macam mahkluk halus :
  1. Mahkluk halus asli yang memang dilahirkan – diciptakan sebagai mahkluk halus.
  2. Mahkluk halus yang berasal dari manusia yang telah meninggal. Seperti juga manusia ada yang baik dan jahat, ada yang pintar dan bodoh.
Mahkluk-mahkluk halus yang asli mereka tinggal di dunianya masing-masing, mereka mempunyai masyarakat maka itu ada mahkluk halus yang mempunyai kedudukan tinggi seperti Raja-raja, Ratu-ratu, Menteri-menteri dll, sebaliknya ada yang berpangkat rendah seperti prajurit, pegawai, pekerja dll.
Inilah kenyataannya yang bukan hanya merupakan ilusi atau bayangan semata, alam lain itu antara lain :

1. Merkayangan

Kehidupan di saluran ini hampir sama seperti kehidupan di dunia manusia, kecuali tidak adanya sinar terang seperti matahari.
Dalam dunia merkayangan mereka merokok, rokok yang sama seperti dunia manusia, membayar dengan uang yang sama, memakai macam pakaian yang sama, ada banyak mobil yang jenisnya sama di jalan-jalan, ada banyak pabrik-pabrik persis seperti di dunia manusia. Yang mengherankan adalah, mereka itu memiliki tehnologi yang lebih canggih dari manusia, kota-kotanya lebih modern ada pencakar langt, pesawat-pesawat terbang yang ultra modern dll.
Ada juga hal-hal yang mistis di dunia Merkayangan ini, kadang-kadang bila perlu ada juga manusia yang diundang oleh mereka antara lain untuk: melaksanakan pertunjukkan wayang kulit, menghadiri upacara perkimpoian, bekerja di batik, rokok dan manusia-manusia yang telah melakukan pekerjaan di dunia tersebut, mereka itu dibayar dengan uang yang syah dan berlaku seperti mata uang di dunia ini.
2. Jin-Siluman
Mahkluk halus ini konon suka tinggal didaerah yang ber air seperti di danau-danau, laut, samudera dll, masyarakat siluman diatur seperti masyarakat jaman kuno. Mereka mempunyai Raja, Ratu, Golongan Aristokrat, Pegawai-pegawai Kerajaan, pembantu-pembantu, budak-budak dll. Mereka bisa tinggal di Keraton-keraton, rumah-rumah bangsawan, rumah-rumah yang bergaya kuno dll.
Kalau orang pergi berkunjung ke Solo-Yogyakarta atau jawa Tengah, orang akan mendengar cerita tentang beberapa siluman antara lain: Kanjeng Ratu Kidul – Ratu Laut Selatan, Ratu legendaris, berkuasa dan amat cantik, yang tinggal di istananya di Laut Selatan, dengan pintu gerbangnya Parangkusumo. Parangkusumo ini terkenal sebagai tempat pertemuan antara Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul, dalam pertemuan itu, Kanjeng Ratu Kidul berjanji untuk melindungi semua raja dan kerajaan Mataram.
Beliau mempunyai seorang patih wanita yang setia dan sakti yaitu Nyai Roro Kidul, kerajaan laut selatan ini terhampar di Pantai Selatan Pulau Jawa, di beberapa tempat kerajaan ini mempunyai Adipati. Seperti layaknya disebuah negeri kuno di kerajaan laut selatan ini juga ada berbagai upacara, ritual dll dan mereka juga mempunyai angkatan perang yang kuat. Sarpo Bongso-Penguasa Rawa Pening.
Sebuah danau besar yang terletak di dekat kota Ambarawa antara Magelang dan Semarang. Sarpo Bongso ini siluman asli, yang telah tinggal di telaga itu untuk waktu yang lama bersama dengan penduduk golongan siluman. Sedangkan kanjeng Ratu Kidul bukanlah asli siluman, beberapa abad yang lalu beliau adalah seorang Gusti dikerajaan di Jawa, tetapi patihnya Nyai Roro Kidul adalah siluman asli sejak beberapa ribu tahun yang lalu.

3. Kajiman
Mereka hidup dirumah-rumah kuno di dalam masyarakat yang bergaya aristokrat, hampir sama dengan bangsa siluman tetapi mereka itu tinggal di daerah-daerah pegunungan dan tempat-tempat yang berhawa panas. Orang biasanya menyebut merak Jim.

4. Demit

Bangsa ini bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang hijau dan lebih sejuk hawanya, rumah-rumah mereka bentuknya sederhana terbuat dari kayu dan bambu, mereka itu seperti manusia hanya bentuk badannya lebih kecil.
Disamping masyarakat yang sudah teratur seperti Merkayangan, Siluman, Kajiman, dan Demit masih ada lagi dua menjelaskannya lebih detail, secara singkat kedua masyarakat itu adalah untuk mereka yang jujur, suci dan bijak. Mahkluk halus yang tidak sempurna.
Disamping tujuh macam alam permanen tersebut, ada sebuah saluran yang terjepit, dimana roh-roh dari manusia-manusia yang jahat menderita karena kesalahan yang telah mereka perbuat pada masa lalu, ketika mereka hidup sebagai manusia.
Manusia yang salah itu pasti menerima hukumaan untuk kesalahan yang dilakukannya, hukuman itu bisa dijalani pada waktu dia masih hidup di dunia atau lebih jelek pada waktu sesudah kehidupan (afterlife) diterima oleh orang-orang yang sudah melakukan: fitnah, tidak jujur, prewangan (orang yang menyediakan raganya untuk dijadikan medium oleh mahkluk halus), blackmagic, guna-guna yang membuat orang lain menderita, sakit atau mati dll, pengasihan supaya dikasihi oleh orang lain dengan cara-cara yang tidak wajar, membunuh orang, dll perbuatan yang nista.
Memuja berhala untuk menjadi kaya (pesugihan) yang dimaksud dengan berhala dalam kejawen bukanlah patung-patung batu, tetapi adalah sembilan macam mahkluk halus yang katanya, “suka menolong” manusia supaya menjadi kaya dengan kekayaan meterial yang berlimpah.
Pemujaan terhadap kesembilan mahkluk jahat itu merupakan kesalahan fatal, mereka itu bila dilihat dengan mata biasa kelihatan seperti:
  1. Jaran Penoreh – kuda yang kepalanya menoleh kebelakang
  2. Srengara Nyarap – anjing menggigit
  3. Bulus Jimbung – bulus yang besar
  4. Kandang Bubrah – kandang yang rusak
  5. Umbel Molor – ingus yang menetes
  6. Kutuk Lamur – sebangsa ikan, penglihatannya tidak terang
  7. Gemak Melung – gemak, semacam burung yang berkicau
  8. Codot Ngising – kelelawar berak
  9. Bajul Putih – buaya putih.
Bagi mereka yang telah melakukan kesalahan dengan jalan memuja atau menggunakan “jasa-jasa baik” berhala diatas, mereka tentu akan mendapat hukuman sesudah “kematiannya” badan dan jiwa mereka mendapat hukuman persyaratan sangkan paraning dumadi (datang dari suci, di dunia ini hidup suci dan kembali lagi ke suci)
Berbagai macam hukuman sesudah kehidupan
Ini merupakan hukuman yang teramat berat, tidak ada penderitaan yang seberat ini, maka itu setiap orang harus berusaha untuk menghindarinya.
Bagaimana caranya? mudah saja: bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan melakukan perbuatan yang baik dan benar, berkelakuan baik, jujur, suka menolong, jangan menipu, jangan mencuri, jangan membunuh, jangan menyiksa, jangan melakukan hal-hal yang jelek dan nista.
Ada pepatah Jawa yang bunyinya “Urip iku mung mampir ngombe” artinya hidup didunia ini hanyalah untuk mampir minum, itu artinya orang hidup didunia ini hanya dalam waktu singkat maka itu berbuatlah yang pantas/”bener”.

Sumber

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 302 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: