Arsip

Posts Tagged ‘acara televisi’

Manusia-Manusia Mungil dalam Dunia Makanan

19 Desember 2012 1 komentar

mini food christopher boffoli 11“Small stuff is having a moment” adalah seri foto miniatur manusia dalam makanan yang terinspirasi oleh adegan-adegan film, hasil karya fotografer Christopher Boffoli. Menggunakan berbagai macam makanan dan miniatur manusia, Boffoli mampu menghidupkan dan membuat mereka seolah-olah saling berinteraksi.

Dalam berkarya, Boffoli biasanya memulai dengan melihat makanan dan kemudian membayangkan kemungkinan cerita apa saja yang dapat dibuat dengan makanan tersebut. Selanjutnya adalah, melihat berbagai macam benda-benda miniatur koleksinya untuk menemukan kesesuaian yang mendukung ceritanya.

Karya-karya Boffoli banyak terinspirasi oleh film anak-anak dan acara televisi, terutama film fantasi dimana dalam cerita film tersebut terdapat manusia-manusia berukuran kecil.

 

Christopher Boffoli 21 Christopher Boffoli banana christopher boffoli disparity mini food christopher boffoli 9 mini food christopher boffoli 8 mini food christopher boffoli 7 mini food christopher boffoli 10 mini food christopher boffoli 6 mini food christopher boffoli mini food christopher boffoli 2 mini food christopher boffoli 3 mini food christopher boffoli 4 mini food christopher boffoli 5

sumber

 

Via: NPR News

“Bahan Renungan bagi Para Orangtua yang selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya …… Sangat Menyentuh…”

28 Oktober 2012 1 komentar

 

Ranking 23 : “Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan”

Di kelasnya ada 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap
mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan
dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang
sesungguhnya.

Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar,namun
anak kami ternyata menerimanya dengan senang hati.

Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya
atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji “Superman
cilik” di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar
saja.

Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga
memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak nomor 23 di keluarga kami
tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku
menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi,
timbul keirian dalam hatinya sampai matanya bersinar-sinar.

Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9
tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati pilu kepada anak
kami: Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar
biasa? Anak kami menjawab: Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan
kepandaian luar biasa. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya
tanpa tertahankan tertawa sendiri.

Pada pertengahan musim gugur, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk
merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di restoran. Topik
pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak
masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah
cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain
piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut
mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½
tahun juga menyatakan kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi,
semua orang bertepuk tangan mendengarnya.

Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sibuk sekali sedang
membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau
hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang
banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku
dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu
anak-anak menyanyi, menari dan bermain-main.

Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian
menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: Saya
ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan
memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa
mereka ke teras rumah untuk melihat bintang-bintang. Semua sanak keluarga
tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut
muka suamiku menjadi canggung sekali.

Sepulangnya ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan
membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK? Apakah kami tetap akan
membiarkannya menjadi murid kualitas menengah?

Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai
sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di
tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya.
Anak kami juga sangat penurut, dia tidak membaca komik lagi,tidak ikut kelas
origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu juga tidak dilakukan
lagi. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung
menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan tanpa henti. Namun
biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan
lagi dan terserang flu berat.Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang,
dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang
radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat kurus banyak. Akan
tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa
atau menangis, tetap saja nomor 23.

Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan
hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku
semakin pucat saja. Apalagi, setiap kali akan ujian, dia mulai tidak bisa
makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir
hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku
secara diam-diam melepaskan aksi menarik bibit ke atas demi membantunya
tumbuh ini. Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami
mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan
majalah “Humor anak-anak” dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi
tenteram kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami
sungguh tidak mengerti akan nilai sekolahnya.

Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang
mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami
dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan,
ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek. Anak
kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan gembira. Dia
sering kali lari ke belakang untuk menjaga bahan makanan. Merapikan kembali
kotak makanan yang terlihat agak miring, mengetatkan tutup botol yang
longgar atau mengelap jus sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali
bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak
lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa
Inggris. Kedua anak ini secara bersamaan menjepit sebuah kue beras ketan di
atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau
membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali
tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada
hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan
cara sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.

Ketika pulang, jalanan macet dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku
terus membuat guyonan dan membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti.
Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk
binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus
memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan
guntingan kertas hewan shio masing-masing.

Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada
wajah suamiku timbul senyum bangga.

Sehabis ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku.

Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas
menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak
diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama 30 tahun
mengajar.

Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang
paling kamu kagumi dan alasannya. Selain anakku, semua teman sekelasnya
menuliskan nama anakku.

Alasannya sangat banyak: antusias membantu orang, sangat memegang janji,
tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis
adalah optimis dan humoris. Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia
dijadikan ketua kelas saja. Dia memberi pujian: Anak anda ini, walau nilai
sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang,
benar-benar nomor satu.

Saya berguyon pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang
merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir
sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan
sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan
di tepi jalan.” Dia pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi
pahlawan, aku ingin jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku
terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama.

Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda
dipilinnya bolak balik di jarum bambu, sepertinya waktu yang berjalan di
tangannya mengeluarkan kuncup bunga. Dalam hatiku terasa hangat seketika.
Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin
menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita
ingin menjadi pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana
ini. Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak
ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi
seorang biasa yang baik hati dan jujur.

Jika anakku besar nanti, dia pasti akan menjadi seorang isteri yang berbudi
luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja
yang suka membantu, tetangga yang ramah dan baik. Apalagi dia mendapatkan
ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa
senang dan tidak merasa puas? Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang
lain dan lebih menonjol lagi? Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak
di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan
kami?
PESAN : SYUKURI APA YG ADA, BUKAN MEMIKIRKAN APA YG TIADA..

sumber

Video Hot Duangjai Jansaunoi Dalam Acara Thailand’s Got Talent

 

Video Hot Duangjai Jansaunoi 
Dalam Acara Thailand’s Got Talent
Berniat ingin menarik dukungan masyarakat dengan memamerkan bakat uniknya dalam melukis, seorang kontestan pencari bakat justru mendapatkan hujatan dan kecaman. Hal itu tidak lepas dari ulahnya yang melukis menggunakan payudaranya.

Seperti yang dilansir Sowetanlive.com, Senin (18/06/2012), di acara ‘Thailand’s Got Talent’ seorang kontestan wanita menuai kecaman akibat memamerkan kemampuannya melukis menggunakan payudara.

Kecaman itu datang langsung dari Menteri Kebudayaan Thailand, Sukumol Kunplome. Menurutnya ia sangat terkejut dengan aksi yang dilakukan di acara televisi itu. Ia menganggap aksi itu sangat berbau erotis dan tidak pantas dipertontonkan kepada masyarakat Thailand.

“Program ini ditujukan untuk memamerkan talenta masyarakat Thailand dan biasanya mendorong kaum muda untuk menunjukkan bakat mereka,” katanya seperti yang dikutip The Blaze. “Tapi tetap saja harus ada batasannya,”

Sang menteri pun mengatakan akan memanggil pihak produser untuk menjelaskan hal tersebut sebelum akhirnya pihak kementrian mengambil keputusan mengenai kontroversi tersebut.

Berikut Video Hot Duangjai Jansaunoi Dalam Acara Thailand’s Got Talent:

Acara yang disiarkan hari Minggu di saluran Channel 3 Thailand itu menghadirkan seorang peserta wanita berusia 23 tahun bernama Duangjai Jansaunoi. Seniman yang pada awal berpakaian sopan di hadapan juri itu, tiba-tiba saja membuka bajunya setelah berhadapan dengan kanvas.

Perempuan itu menyiram tubuhnya dengan berbagai macam warna cat dan menggunakan tubuhnya sebagai kuas, di saat musik diputar. Penonton dan juri yang ada di sana terlihat terkejut, namun tidak sedikit dari mereka yang meneriakkan dukungan.

“Jika saya melukis dengan cara normal, maka itu akan terlihat biasa saja,” kata Duangjai kepada juri setelah diberikan handuk untuk menutupi bagian dadanya. | memobee.com

 

Aksi Kanibalisme Disiarkan Secara Langsung di TV Belanda

Mungkin kamu semua pernah mendengar berita tentang seseorang yang memakan daging manusia atau biasa kita sebut sebagai kanibal, salah satu yang pernah terjadi adalah kasus Sumanto. Namun, saya jamin kamu pasti belum pernah menyaksikan aksi kanibalisme secara langsung di televisi seperti video di bawah.

Dennis Storm dan Valerio Zeno adalah 2 orang presenter TV Belanda yang menurut saya sudah edan! Mereka membuat sejarah baru dunia pertelevisian dengan melakukan aksi memakan daging satu sama lain di dalam siaran televisi dan mungkin yang pertama kalinya di dunia.

Proefkonijnen, yang artinya adalah ‘Kelinci Percobaan,’ adalah sebuah acara televisi ilmiah di stasiun TV BNN Belanda yang menayangkan aksi yang menyeramkan tersebut. Dalam acara ini, kedua presenter TV mencoba menjawab ‘pertanyaan bodoh’ dengan cara menjalani tantangan-tantangan yang tidak lazim, salah satunya…ya itu tadi, memakan daging manusia.

Storm dan Zeno sebelumnya menjalani operasi untuk mengambil sedikit daging dari tubuh mereka. Storm memilih daging pantatnya untuk dikorbankan. Sedangkan, Zeno memilih daging dari perutnya. Setelah itu, daging mereka digoreng dan dimakan di hadapan para penonton di studio.

Storm dan Zeno bersikeras bahwa aksi yang mereka lakukan adalah legal. Keduanya telah menandatangani pakta kanibalisme secara sukarela. Dalam hukum Belanda, kanibalisme sendiri bukan merupakan tindakan kriminal, tetapi dokter yang melakukan tindakan pembedahan bisa terkena sanksi karena tindakan pembedahan untuk memindahkan daging dari tubuh tanpa keperluan medis adalah tindakan ilegal.

Menurut Zeno, dia memang selalu penasaran bagaimana rasa daging manusia sejak dirinya menonton sebuah film tentang kecelakaan pesawat, dimana para korban memakan satu sama lain untuk dapat tetap bertahan hidup. Storm, awalnya tidak pernah berpikir untuk melakukannya, tetapi dirinya tidak menyesali keputusan yang telah diambil dan memiliki cerita yang bagus bila orang bertanya tentang bekas luka di pantatnya.

 

 

Keduanya mengklaim ‘tidak ada yang spesial’ tentang rasa daging manusia, tetapi enggan menjelaskan rasanya secara lebih detail.

sumber:

Demi Tanggung Jawab Pada Anak, Wanita Ini Rela Difoto Bu9il

5 April 2012 1 komentar

Menjadi single parent bukan pilihan yang mudah bagi siapapun, tak terkecuali perempuan. Maka, kaum perempuan pasti tak habis pikir mengapa ada seorang perempuan yang memilih untuk membesarkan 14 anaknya seorang diri seperti Nadya Suleman.

Perempuan asal La Habra, California, ini menjadi perbincangan dunia internasional ketika melahirkan anak kembar delapan pada tahun 2009. Delapan anak kembarnya ini menjadi kembar delapan kedua yang berhasil hidup seluruhnya di Amerika. Keempatbelas anaknya dilahirkan melalui program bayi tabung karena Nadya tidak mempunyai pasangan. Ia juga tidak bekerja sehingga mengandalkan hidup dengan tampil di acara-acara televisi yang ingin mewawancarainya, serta menerima bantuan dari pemerintah.

Perempuan berusia 36 tahun ini sebenarnya pernah menikah pada tahun 1996, namun bercerai empat tahun kemudian karena tidak kunjung hamil. Sang suami tidak menyetujui niat Nadya untuk melakukan program bayi tabung. Setelah bercerai, Nadya menjalani sendiri program bayi tabung itu dari donor sperma. Semua anaknya, kabarnya juga dihasilkan dari donor sperma yang sama.

Baru-baru ini, Nadya kembali menjadi berita karena menerima tawaran foto telanjang dengan majalah Inggris Closer. Ia berpose hanya dengan celana dalam sewarna kulit, dengan satu tangannya menutupi area payudaranya. Meskipun sudah melahirkan enam kali, tubuhnya masih langsing seperti sebelum hamil. Perempuan yang dijuluki Octomom ini tak malu-malu mengakui bahwa ia melakukannya karena butuh uang.

“Anda tahu berapa honor saya?” katanya saat diwawancara Anderson Cooper dalam talkshow-nya, Anderson, Jumat (30/3/2012) lalu. “Aku dibayar 8.000 dollar. Aku harus melakukannya karena aku harus mengurus keluargaku, dan aku tidak malu. Aku tidak malu sama sekali. Toh aku tidak pernah mengorbankan moral dan nilai-nilai kehidupanku.”

Ia juga tidak menganggap bahwa foto-fotonya yang nyaris telanjang (hanya mengenakan celana dalam) itu agak cabul. “Aku kan masih ditutupi,” kilahnya, sambil menambahkan bahwa ia sudah membahas rencana tersebut dengan anak-anaknya. “Jujur saja, aku melakukannya untuk uang.”

Pada Cooper, Nadya mengaku kesulitan melakukan pembayaran hipotek untuk rumahnya yang bobrok di La Habra, bahkan harus keluar dari rumah itu. Namun ia berusaha keras agar anak-anaknya bisa hidup dengan layak di rumah tersebut.

“Aku tak merasa pantas membebani anak-anak dengan tekanan semacam itu,” paparnya. “Aku berusaha sebaik-baiknya memberikan kehidupan bagi mereka setiap hari, sebahagia mungkin. Kami bermain bersama, menikmati momen-momen yang kami miliki bersama, hanya itu yang penting.”

Oleh karena itu Nadya, yang drop out dari program master di California State University, Fullerton, merasa tak menyesal difoto telanjang. Ia mengaku lebih baik difoto telanjang untuk sebuah majalah daripada telanjang di hadapan pria yang tidak berniat serius dengannya. Katanya, perempuan harus benar-benar cinta dengan seorang pria sebelum menyerahkan tubuhnya pada pria tersebut. Mengenalnya selama beberapa bulan saja tidak cukup.

Karena kepopulerannya, perempuan yang hidup selibat selama 13 tahun ini mengaku banyak mendapat perhatian dari para pria. Hanya saja, ia belum berniat berkencan lagi sampai anak-anaknya mencapai usia 18 tahun (saat ini anak sulungnya masih berusia 10 tahun).

“Aku hidup untuk mereka saat ini. Aku bukannya tak menginginkan hubungan di masa depan. Tapi untuk saat ini, ketika pria menatapku, aku akan memalingkan muka, sehingga mereka sadar untuk tidak mendekatiku. Aku tahu aku cantik, aku tidak butuh seorang pria untuk memberitahuku soal itu.” Sumber

Pertanyaan Anak yang Paling Ditakuti Orang Tua

30 Januari 2012 9 komentar

 

Dari mana asalnya bayi? Pertanyaan itu sering membuat resah para orangtua sebab meski tahu jawabannya, mereka bingung cara menjawabnya. Nah, survei terbaru menunjukkan, pertanyaan yang benar-benar sulit adalah yang memang tidak diketahui jawabannya.

Contoh pertanyaan yang sering ditanyakan anak:

http://www.kingsporthopevi.com/images/mom_children.jpg

“Kenapa bulan kadang-kadang keluar di siang hari?”
“Bumi beratnya berapa?”
“Kenapa pesawat bisa terbang?”
“Apa kita kelak akan menemukan alien?”

“Kenapa air itu basah?”
“Pelangi terbuat dari apa?”
“Ke mana burung-burung terbang ketika musim dingin?”

Dan, tentu saja, pertanyaan favorit anak-anak: “Kenapa langit warnanya biru?”

http://www.parenting-with-purpose.net/wordpress/wp-content/uploads/2012/01/mom-and-child-reading.jpg

Pertanyaan umum di atas sebenarnya dapat dengan mudah dijawab oleh para ahli cuaca, insinyur, ilmuwan, serta rujukan sejuta umat: Wikipedia. Sebenarnya terdapat data yang cukup untuk menjawab pertanyaan. Tapi banyak orangtua enggan melakukan itu.

Demi menjaga wibawa, mereka lebih suka mengalihkan pembicaraan, atau mengarang sesuatu, ketika ditanya sesuatu yang mereka tak tahu jawabannya.

Berkat acara televisi yang inovatif dan alat pembelajaran interaktif, anak-anak memang cenderung lebih paham soal sains ketimbang orangtuanya. Hasil survei menunjukkan, para orangtua percaya bahwa anak mereka lebih pandai dalam hal matematika dasar dan ilmu alam. Temuan lain: para ibu tidak memahami pertanyaan matematika sang anak — sebab dulu mereka tidak diajarkan itu di sekolah.

Tidak mudah merawat anak-anak “Generasi Facebooker”, tetapi ada juga keuntungannya. Akses untuk mencari jawaban sekarang lebih mudah, dan proses penelitian dapat menjadi momen pembelajaran baik untuk orangtua dan anak.

Seorang ayah yang memiliki anak yang sangat kritis berusaha mencari semua jawaban atas pertanyaan sang anak. Ketika anaknya bertanya mengapa polisi suka makan donat, sang ayah meminta pertolongan petinggi polisi di Miami. Dijawab: “Karena toko donat ada di mana-mana, mudah dimakan dan cepat didapat. Jika dimakan di mobil dan ada panggilan darurat, bisa langsung disingkirkan.”

Dan itulah jawabannya.Menggunakan sumber dari para ahli bukanlah metode yang mudah, tetapi mungkin lebih sulit lagi untuk mengakui kepada anak Anda bahwa ada hal-hal yang Anda tidak ketahui jawabannya.
http://cdn.sheknows.com/articles/2010/11/A_mom_and_daughter_talking.jpg


sumber :

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 298 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: