Apple Wacth Dari Apel Sungguhan

15 September 2014 Tinggalkan komentar
apple wacth dari apel sungguhan

 Produsen Apple baru saja merilis gadget terbarunya, iPhone 6, iPhone 6 Plus dan jam tangan pintar yang diberi nama Apple Watch. Apple Watch yang kabarnya akan dipasarkan awal tahun 2015 ini akan dijual seharga 349 dollar Amerika.

Dilansir dari en.rocketnews24, seorang pria asal Jepang membuat jam tangan yang terbuat dari buah apel sungguhan! Shoji Hiromichi, mengubah apel berwarna merah, menjadi mirip dengan Apple Watch dan diunggahnya ke sosial media.

Tak hanya mengunggah foto ia mengenakan jam tangan buatannya saja, namun ia juga memberikan spesifikasi dari jam tangan apel tersebut. “Tidak hanya memberi tahu waktu saja, jam tangan ini juga sangat lengket dan tak akan bergerak dari tangan,” tulis Shoji di akun sosial medianya.

Ternyata tak hanya Shoji saja, tapi seseorang dengan akun @wellbelove di Twitter mengunggah foto ia menempelkan apel kecil di jam tangannya. Ada juga kreasi jam tangan apel milik @Christonation mengunggah foto buah apel di jam tangannya!

 

 

sumber: dreamersradio

Belajar Membaca Spesifikasi Headphone

14 September 2014 2 komentar

Screen Shot 2014-09-04 at 7.37.20 PM

Rata rata headphone yang lumayan keatas selalu memiliki spesifikasi berupa angka-angka yang mungkin agak sulit untuk dimengerti. Disini saya akan mencoba untuk membantu menjelaskan…

Misalnya ini spesifikasi dari headphone Sennheiser PX100-II

Screen Shot 2014-09-04 at 7.37.20 PM

4 Baris pertama (Colour, Article Number, EAN, UPC No.) adalah spesifikasi umum produk untuk memudahkan pencatatan di gudang. Misalnya disini Colour adalah variasi warna, article number kode produk Sennheiser, EAN dan UPC adalah kode barcode yang dipakai untuk keperluan inventory dan logistic (pengiriman barang, transfer barang dsb).

Mulai baris ke-5 kita mulai dengan spesifikasi yang menjelaskan driver unit yang ada di headphone tersebut. Mari kita telusuri satu satu:

Transducer principle: Dynamic, Open
Teknologi apa yang dipakai untuk menghasilkan suara. Yang paling umum untuk headphone adalah Dynamic. Jika untuk Earphone atau In Ear Headphone, dynamic juga adalah tipe yang paling umum, tetapi belakangan teknologi Balanced Armature (sering disingkat BA) adalah tipe kedua yang mulai populer. Disamping dua teknologi ini, ada juga teknologi yang lebih tidak umum seperti Planar — mencakup Orthodynamic dan Electrostatic.Secara umum, dynamic driver adalah tipe driver yang paling banyak dan paling populer. Ini tipe driver yang ditemukan di rata2 earphone murah/gratisan, tapi jangan salah karena banyak headphone high-end seperti Sennheiser HD800 juga menggunakan dynamic driver.

Open berarti housing atau rumah headphone ini tidak tertutup. Artinya suara dari luar tetap bocor ke kuping anda, dan suara yang dihasilkan driver headphone juga bocor keluar. Selain open, tipe housing Closed berarti tertutup — suara tidak keluar dan tidak masuk; yang anda dengarkan hanya suara yang dihasilkan driver headphone.

Open driver biasanya menghasilkan suara yang lebih natural, tetapi untuk penggunaan di outdoor kurang praktis karna suara bocor. Closed housing lebih sulit menghasilkan suara yang natural, tetapi lebih mudah mendapatkan bass yang kuat dan juga isolasi dari keributan suara luar.

 

Ear coupling: Supra-aural
Bagian ini menjelaskan bagaimana posisi headphone ini duduk di kuping anda. Kebanyakan headphone kecil adalah Supra-aural atau sering juga dibilang On-Ear. Maksudnya headphone tersebut “duduk” persis diatas telinga kuping. Karena persis diatas kuping, seringkali kurang nyaman, tapi nilai plusnya adalah headphone tipe ini rata2 kecil/compact ukurannya.

Kebalikan dari Supra-aural adalah Circum-aural atau Over-Ear. Headphone tipe Circum-aural atao Over-Ear adalah bantalan headphone akan “duduk” diluar telinga kuping. Biasanya model over-ear ini lebih nyaman dipakai karena tidak persis di telinga kuping, tetapi rata2 headphone agak besar ukurannya.

 

Frequency-response: 15-27,000 Hz
Ini adalah seberapa luas driver headphone dapat memproduksi frekuensi suara. Angka yang kecil (15 Hz) adalah bass, dimana makin rendah berarti lengkap frekuensi bass. Angka yang kecil (27,000 Hz) adalah treble, dimana makin tinggi adalah berarti makin lengkap frekuensi treble. Bila kita perhatikan, headphone kecil Sennheiser ini meng-claim memiliki range frekuensi yang lebih luas dari pendengaran manusia. Apakah benar seperti itu? Kebanyakan angka ini tidak dapat dibuktikan secara empiris, dan dari pengalaman saya mencoba bermacam-macam headphone, banyak sekali false-claim di angka ini. Maksudnya, angka yang ditulis seringkali tidak terbukti waktu kita coba mendengarkan. Cara terbaik untuk mengetahui frequency response adalah dengan mencoba langsung headphone tersebut.

 

Impedance: 32 Ω
Angka impedance, atau impedansi menggambarkan karakter tahanan dari driver headphone. Menerjemahkan angka ini agak rumit, karena ada faktor2 lain yang perlu kita ketahui sebelum kita dapat menggunakan informasi angka impedansi.Umumnya headphone kelas consumer, yang mudah di drive dari Ipod atau Smartphone anda, memiliki impedansi sekitar 32 Ω. Tapi bukan berarti semua headphone 32 Ω mudah di drive dari smartphone atau Ipod.
Disisi lain, headphone kelas professional sering kali memiliki impedansi yang tinggi diatas 100 Ω. Mulai dari 100 Ω sampai 600 Ω rata-rata akan memerlukan Headphone Amplifier. Beberapa headphone di angka 55 – 70Ω masih dapat di “angkat” oleh Ipod/Smartphone, tapi di level volume hampir maximum.
Dari pengalaman saya, lebih mudah menentukan keperluan amplifier sebuah headphone dari ukuran fisik headphone tersebut. Rata-rata headphone yang over-ear berukuran besar, memiliki driver yang relatif besar (40mm s/d 58mm), dan memerlukan daya yang lebih kuat untuk dapat mendapatkan suara yang baik. Jadi rata2 headphone over-ear akan lebih baik jika ditambah headphone amplifier. Diantara headphone-headphone “besar” ini ada lagi tingkatan kesulitan yang berbeda-beda, dimana headphone tertentu dapat diangkat dengan amplifier headphone yang relatif kecil, tetapi ada juga tipe headphone yang memerlukan amplifier dengan daya lebih besar.

 

THD < 0.1 % (1 khz/100dB)
Angka distorsi ini juga agak sulit untuk di terjemahkan. Secara prinsip, makin rendah angka distorsi makin baik, tetapi mirip dengan angka frequency response, agak sulit membuktikan seberapa akurat angka distorsi yang ditulis oleh pabrikan di kardus headphone.

 

Sound Pressure Level: 114dB (1kHz / 1 Vrms)
Sering juga disebut “Sensitivity”, ini adalah nilai yang menggambarkan keperluan daya yang diperlukan headphone ini untuk menghasilkan suara. Biasanya angka ini dapat dipakai untuk menjadi ukuran yang lebih reliable untuk menentukan apakah kita memerlukan Headphone amplifier.Secara umum, angka ini bisa di artikan sebagai berikut:
– dibawah 100dB (1Hz / 1 Vrms) memerlukan amplifier yang lumayan kuat.
– antara 100dB s/d 110dB memerlukan amplifier, tapi amplifier kecil juga sudah cukup.
– diatas 110dB, sangat ringan dan tidak memerlukan amplifier.

 

 

Sisanya adalah penjelasan yang lebih umum mengenai aksesoris, packaging, panjang kabel, yang saya relatif mudah untuk dimengerti, tetapi saya akan tambahkan dua hal lagi dari bagian akhir ini

 

Cable Length: 1.2mm single-sided OFC copper cable.
Disini maksudnya panjang kabel headphone adalah 1.2 meter. Single-sided berarti kabel hanya keluar dari satu sisi (biasanya dari sisi headphone sebelah kiri). Single-sided lebih ringkas dan praktis, tetapi headphone yang serius dengan kualitas suara biasanya menggunakan double-sided dimana kabel keluar dari sisi kiri dan sisi kanan headphone. OFC copper cable berarti “Oxygen-Free-Copper” yang menunjukan tipe (Copper) dan kualitas (Oxygen-Free) kabel yang dipakai. Ada beberapa macam tipe kabel yang dapat dipakai, mulai dari Copper, Silver, dan Silver Plated Copper (SPC), dimana tiap-tiap tipe tadi memiliki kadar kualitas yang berbeda-beda.

 

Kesimpulan
Sebetulnya mencoba menilai headphone dari tabel spesifikasi adalah seperti mencoba memilih mobil dari angka-angka spesifikasi mesin, suspensi, chasis, dimensi mobil dan sebagainya. Misalnya di brosur mobil tertulis tipe mesin yang dipakai adalah “Four-cylinder, 2.000cc”, itu hanya memberikan gambaran kecil dari mobil tersebut. Begitu juga dengan angka-angka lain di brosur mobil, semua itu tidak dapat memberikan penjelasan yang cukup untuk mengambil keputusan kita membeli mobil.

Tentu saja cara terbaik untuk mengetahui adalah dengan melakukan test-drive, dan kalau bisa test-drive di medan2 yang berbeda. Ada mobil yang sangat kencang, tapi tidak bisa dipakai untuk antar jemput anak sekolah atau berbelanja. Ada mobil yang sangat mewah, tapi sulit untuk dibawa masuk keluar jalan sempit. Ada mobil yang begitu nyaman, tapi tidak bisa dipakai di medan off-road. Demikian juga dengan headphone, ada bermacam-macam headphone untuk peruntukan berbeda-beda. Ada headphone untuk studio monitoring, ada headphone untuk music listening, ada headphone khusus untuk mendapatkan bass yang besar, ada headphone untuk keakuratan suara, ada headphone untuk gaya, dsb.

Cara terbaik untuk menentukan headphone yang tepat adalah dengan mencobanya sendiri di kuping anda. Itulah yang kami sarankan, oleh sebab itu kami mengundang anda mampir ke Headfonia Store untuk mencoba sendiri macam2 headphone yang kami sudah sediakan demo-unit nya.

 

Selamat mencoba!

sumber

Sekretaris Ini Ketahuan CCTV Membuat Kopi Susu Dengan “Susu”-nya Sendiri

14 September 2014 1 komentar
Sekretaris Ini Ketahuan CCTV Membuat Kopi Susu Dengan "Susu"-nya Sendiri

Netizen di Amerika Serikat sedang dihebohkan oleh ulah seorang sekretaris yang mengerjai bosnya. Ulahnya ini terekam video CCTV dan tiba-tiba menyebar di internet dan jadi perbincangan banyak orang.

 

Di sebuah kantor yang dirahasiakan, adalah sebuah kantor real estate di Oklahoma City, Oklahoma. Seorang Sekretaris diminta membuatkan kopi susu oleh bosnya, memang ini adalah salah satu tugasnya setiap hari untuk melayani bosnya membuatkan kopi susu panas.

 

Ruangan tempat membuat kopi sebelum dimasuki oleh sang sekretaris

 

Sang sekretaris memasuki ruangan

 

Si Sekretaris adalah seorang ibu, 2 orang anak, dan anaknya yang kecil memang baru berusia 6 bulan. Entah apa yang ada di pikiran si sekretaris ini, awalnya dia terlihat di kamera memasuki ruangan dimana terdapat kulkas dan termos air panas.

 

 

Awalnya dia melakukan dengan normal, dia mengambil gelas, mengisi dengan bubuk kopi dan dan mengambil air serta susu di kulkas

 

 

Ia menyempatkan diri meminum susu yang diambilnya dari kulkas

 

Tiba-tiba dia tergoda melakukan sesuatu yang jahil, dia kebetulan masih menyusui anaknya yang kecil dan air susunya memang berlimpah, dibukalah bajunya, dan diperasnya susunya masuk ke dalam gelas kopi, mungkin supaya lebih lezat.

 

Ia membuka bajunya

 

Ia memeras susunya dari payudara kanannya

 

Ketika susu dari payudara kirinya sudah habis, ia memeras payudara kirinya

 

setelah selesai, ia membawa segelas kopi susu penuh gizi ini untuk diberikan kepada boss nya

 

 

Rekaman CCTV ini kemudian dijadikan alat bukti bagi sang bos untuk memecatnya tanpa ampun.

(Youtube)

5 Langkah Menjadi Bos Idaman

14 September 2014 Tinggalkan komentar
5 Langkah Menjadi Bos Idaman

Menjadi seorang atasan yang disegani dan disukai oleh bawahan sudah pasti menjadi idaman bagi para bos. Terkadang dalam mewujudkan keinginan tersebut, banyak atasan yang menerapkan langkah-langkah yang salah seperti bertindak sangat disiplin dengan tolenrasi yang minim untuk membuat bawahannya patuh, menerapkan peraturan yang kaku, dan menghindari perilaku bersenang-senang untuk tetap menjaga wibawa.

 

Namun, jika Anda seorang pemimpin yang benar-benar hebat, hal-hal di atas bisa Anda lakukan tanpa harus menyakiti karyawan dan bukan tidak mungkin justru disukai dan dihormati dengan segala perintah tersebut.

 

Ada 5 langkah yang bisa dilakukan oleh para bos agar dapat menjadi idola bagi para bawahannya seperti yang dikutip dari Business Insider, Sabtu (13/9/2014):

 

1. Punya visi yang jelas dan efektif dalam membuat keputusan

Kapten harus mengarahkan kapal, sejatinya begitu. Para manajer terbaik memiliki visi yang jelas dari departemen atau masa depan perusahaan yang ia sampaikan kepada karyawannya.

Bos juga pengambil keputusan yang efektif. Mereka tidak melebih-lebihkan setiap hal kecil. Mampu membuat keputusan dengan cepat dan tegas dan kemudian mengambil tanggung jawab untuk hasilnya. Ini merupakan keterampilan bisnis yang penting, terutama ketika mengelola orang lain.

 

2. Menahan diri dan bertanggung jawab

Kebanyakan bos harus bertanggung jawab terhadap stafnya, tapi yang terbaik menahan diri untuk bertanggung jawab juga. Ini berarti berpegang pada pedoman yang sama yang ditetapkan untuk karyawan dan diri Anda sendiri. Serta mengambil tanggung jawab untuk keberhasilan maupun kegagalan tim.

 

3. Tidak micromanage

Para bos terbaik memahami seni delegasi. Mereka tidak ikut campur dalam kegiatan kerja sehari sehari dari menit ke menit. Intinya, belajar untuk mendelegasikan, jadi micromanage adalah tentang kepercayaan.

 

4. Dahulukan karyawan untuk menunjukkan penghargaan.

Manajer besar memahami bahwa harus ada keseimbangan antara perusahaan atau kebutuhan klien, dan kebutuhan karyawan mereka.

Para bos terbaik bersedia untuk mendengarkan dan berbicara tentang masalah seorang karyawan mungkin akan mengalami karena mereka memahami bahwa karyawan yang bahagia adalah karyawan yang lebih produktif.

5. Berdedikasi, tetapi memiliki keseimbangan kerja dengan kehidupan pribadi

Anda tidak bisa menjadi seorang manajer yang benar-benar efektif dan dihormati kecuali bergairah tentang pekerjaan.

Bos terbaik hidup dan bernapas dengan pekerjaan mereka dan berusaha untuk melakukan pekerjaan sebaik mungkin.

 

(Liputan6)

Kategori:revo

Para Apple Fanboy, Cuma Kalian yang Paham Hal-Hal Ini!

13 September 2014 7 komentar

Tanggal 9 September kemarin adalah hari besar bagi Apple dan seluruh penggemar penggila mereka. Ada beberapa inovasi baru yang diluncurkan, mulai dari iPhone 6, 6 Plus, sampai Apple Watch. YES!

Tapi bukan fanboy namanya jika hanya merasakan girang. Kamu juga pasti merasakan pedihnya jadi fans setia Apple di Indonesia. Apa saja suka dukanya jadi Apple Fanboy Indonesia? Lebih lengkapnya, simak artikel di bawah ini.

 

 

1. Awalnya, Kamu Sama Aja Kayak Orang Lain yang Menganggap Apple Itu Buah

Apel kali?

Bagimu dulu, ‘Apple’ itu ya bahasa Inggrisnya buah apel. Wajar aja sih, apalagi kalau kamu generasi 90-an. Ketika mulai mengenal komputer kita langsung direcoki PC bermuatan Windows.

 

 

2. Tapi Begitu Tahu Fitur-Fiturnya, Kamu Pun Mulai Naksir dan Ngidam Pengen Punya

Mau dapat sekarang juga!

Baru begitu agak gede dikit kamu mulai mengenal produk-produk Apple. Layaknya mengenal cewek cantik/cowok ganteng, awalnya kamu cuma tertarik sama penampilan produknya.

Baru deh kemudian kamu kenal fitur-fitur ciamiknya. Mulai dari iTunes, iMessage, kemampuan desain yang mumpuni, SIRI, sampai daya tahan baterainya yang panjang.

Kamu pun mulai berharap bisa punya mereka.

 

 

3. Tapi…Barangnya Mahal, Bo’!

iMac G3

Wajar aja kalau dulu produk Apple jarang ada di pasaran. Harganya mahal banget! Jadi sebelum tahun 2000-an cuma orang-orang berkantong tebal aja yang sanggup punya komputer buatan Apple seperti iMac G3 atau Power Mac.

Lagipula Apple belum begitu populer di Indonesia. Mungkin mereka yang punya iMac saat itu mesti impor. Jadi kalau kamu kere tapi pengen punya iMac di tahun 1998, mimpi aja terus!

 

 

4. Akhirnya Gawai Apple Pertamamu Kebeli Juga. Walaupun Cuma iPod, Ehehehehe.

iPod Classic

Yes, akhirnya ada juga produk Apple yang sesuai kantongmu: iPod. Masa ngidam-mu pun berakhir sudah.

Bentar, tapi kok ngisi lagunya ribet, ya? Ini pemutar lagu atau toko musik, sih? Kamu yang biasa ngebajak mp3 ‘kan jadi bingung…hehehehe.

Tapi gapapa. Biarpun masih agak norak dikit, kamu kini makin cinta sama Apple.

 

 

4. Lama-Lama, Kamu Rela ‘Kelaparan’ Demi Macbook

Makin kecil tapi gak makin murah

Dari masa ke masa, ukuran komputer makin mengecil berovolusi menjadi laptop akibatnya harga komputer relatif menurun, namun hal itu gak berlaku bagi Apple. Harga laptop bikinan mereka, Macbook dan Macbook Pro, tetap berkisar di atas harga laptop kebanyakan.

Pecinta Apple rela mengencangkan ikat pinggang demi menghemat uang yang nantinya digunakan buat beli Macbook.

Teman: “Makan yuk, Bro”

Kamu: “Gak ah, lagi hemat nih gue”

Teman: “Hemat mulu saban hari. Mau beli apaan sih lo?”

Kamu: “MBP Bro, yang retina display…”

Good luck, ya! Paling sampai nanti keluar model baru lagi MBP retina display baru kebeli. ^.^v

 

 

5. Tapi Nggak Jarang Kamu Juga Diremehin Karena Laptopmu yang ‘Beda’

Ya, udah pakai sendirian aja

“Lho, kok gak ada Windows-nya? Office-nya mana? Beli mahal-mahal, tapi gak bisa ngetik.”

Ingin rasanya menjawab dengan: “Mbak Mas yang terhormat, sekali-kali melompatlah keluar jendela itu, dunia ini lebih luas dari yang kamu kira.”

*giles yang ngejekin satu-satu*

 

 

6. Bukan Cuma Laptop, Pakai Tablet Atau Ponsel Keluaran Apple Juga Sering Bikin Kamu Kena Sindir

Salah gue kalau kabelnya beda?

(temanmu yang pakai HP Android kehabisan baterai)

Teman: “Pinjem kabel data dong, buat nge-charge

Kamu: “Nih, mau?” (ngeluarin charger iPhone)

Teman: “Yaah, Apple sih. Kabelnya gak sama”

Salah gue kalau kabelnya gak sama? Salah gue? Salah temen-temen gue?

 

 

7. Kamu Paham Banget Sama Kata-Kata Ini

Sekali kena Mac, gak akan balik ke Windows deh

Tapi apa mau dikata, pengguna Apple memang minoritas. Kamu pun pasti udah biasa dibilangin kalau kamu beli produk over-priced. Tapi seperti kata pepatah bocah Apple: Once you go Mac, you’ll never go back.

 

 

 

8. Kamu Sering Lupa Dimana Letak Tombol “Ctrl”

Hey, bantalnya bagus, artinya apa?

Bocah Apple suka lupa di mana letak tombol “Ctrl” jika diharuskan menggunakan PC warnet atau laptop temannya. Jangankan posisinya, fungsi Ctrl buat apa aja mereka juga suka lupa.

Bukannya sombong, tapi Apple emang mendidik bocahnya buat menggunakan tombol “Command”.

 

 

9. Ngantri Berhari-Hari? Di Indonesia Ngantri Bulanan!

Jimmy Gunawan, pembeli pertama iPhone 5s

Bocah Apple di negara maju mungkin bisa ngantri sambil seru-seruan, selfie dan mendirikan tenda di depan Apple Store hanya buat beli iPhone rilisan terbaru. Tapi antrian semacam ini jarang ada di Indonesia. Kenapa? Karena produk Apple terbaru selalu telat datang di Indonesia!

iPhone 5S butuh waktu 3-4 bulan sebelum resmi dijual di Indonesia, itupun kamu harus pesan jauh-jauh hari. Mau dapatin iPhone di hari pertama penjualan? Ngantri di Sidney sana kayak mas Jimmy Gunawan.

 

 

10. Selalu Penasaran Sama, “What Would Jobs Do?”

Team Jobs

Kalau kata pecinta Apple, Steve Jobs adalah inspirasi, dia adalah anugerah terbesar bagi umat manusia. Gaya dia bicara, bekerja dan mempresentasikan inovasi udah jadi panutan bagi pengikutnya.

Bahkan gaya dia berpakaian dengan sweater hitam lengan panjang, jins biru dan sepatu New Balance ditiru oleh fanboy di seluruh dunia.

 

 

11. Kamu Khawatir Saat Steve Jobs Berpulang

Nasib Apple kedepannya, gimana?

Takut pengikutnya gak bisa sejenius dia dalam menciptakan produk-produk ciamik.

 

 

12. Cuma Bisa Prihatin Kalau Lihat Blackberry

 

Sabar ya...

Pengguna iPhone yang sopan mungkin cuma bisa nahan ketawa melihat temannya yang marah-marah karena perangkat Blacberry-nya lemot, musti bongkar pasang baterai dan segala macam.

Juga prihatin lihat pengguna Blackberry yang harus cari crack di sana-sini cuma buat nyicip pakai Path dan Instagram. Ironis ya, melihat ponsel pintar yang dilabeli ponsel buat “bekerja” malah gak bisa berbuat apa-apa.

 

 

13. Diam-Diam Prihatin Juga Lihat Teman yang Ribut Update Anti Virus

Apa itu virus?

Virus? Apaan tuh? So last year……

 

 

14. Tapi Kadang Iri Lihat fanboy Android

Rooted

Mereka kok jago banget, ya? Ponsel pintarnya sendiri bisa dibobol dan dibuat macam-macam, ganti tema seenak jidat, upgrade OS seenak perut dan download aplikasi bajakan. Pengguna Android doyan banget mengotak-atik perangkatnya, ribetlah pokoknya.

Tapi bukankah itu alasan orang membeli produk Apple? Simple dan gak ribet.

 

 

15. Sedih Kalau Ada Produk Yang Gak di Produksi Lagi

Sedih, deh...

Apple baru saja mengumumkan bahwa mereka menghentikan produksi dan penjualan sang legenda, iPod Classic. R.I.P. iPod Classic.

Bye pemutar musik yang menemani masa-masa jahiliyahku!

 

 

 16. Tapi, Selalu Gembira Karena Ada Yang Baru

Apple Watch

Dasar Apple. Tahu aja cara memanjakan penggemarnya. Tiap tahun selalu ada inovasi atau produk baru yang mereka umumkan. Kalau hari pengumuman ini udah datang, hari Senin pun berasa hari raya.

 Walaupun duitmu gak cukup juga sih buat beli produk terbaru, harus rela menunggu beberapa tahun lagi sampai harganya terjangkau.

 

 

17. Cinta Itu Buta (Dan Tuli)

Gak mau tahu

Apa aja yang dibilang sama marketing Apple, si fanboy pasti percaya aja. Apapun strategi komunikasinya pasti mengena ke hati fanboy Apple.

Namanya juga udah kepalang cinta, mau sekencang apapun pengguna Android bilang kalau Samsung seri Galaxy lebih bagus mereka tak bergeming. Walaupun infografik menunjukkan Google Nexus lebih canggih, mereka gak mau melirik yang lain.

 

 

18. Tapi Pecinta Apple Juga Gak Bisa Hidup Tanpa Google

Tetep Google

Secinta apapun mereka sama iPhone, iPad dan bermacam “i” yang lain, pecinta Apple hingga saat ini masih bergantung pada Google. Emailnya Gmail. browsernya Chrome, terus simpan data di Google Drive. Google masih dibutuhkan kok, untuk sekarang.

 

 

19. Pengguna Apple Migrain Berat Kalau Gawai-nya Rusak

Pusing kalau udah dibongkar

Lha, ini kenapa? Betulinnya di mana? Mahal gak ya?

Tiga pertanyaan awal pecinta Apple kalau salah satu gadget-nya rusak. Karena iseng utak-atik, perangkatnya jadi ngadat sendiri. Terus tanya sana-sini di mana tempat betulin yang oke selain tempat servis resmi (heh, emang ada servis resmi di Indonesia?). Akhirnya ketemu bengkel yang teknisi lumayan ahli dan (katanya) murah.

Teknisi yang ahli soal perangkat Apple jumlahnya gak sebanyak ahli komputer pada umumnya, dan belum tentu semuanya kerja dengan rapi. Setelah diterawang bentar, si teknisi menekan satu tombol selama 10 detik dan masalahmu terpecahkan. Bahagianya, kalau udah betul walaupun biayanya 300 ribu. Huft…

 

 

20. Pusing Berkepanjangan Waktu Harus “Jajan” Aksesoris

Inilah definisi sakit hati

Kalau charger udah rusak, langsung pusing. Harga aksesoris produk Apple tergolong cukup menguras isi dompet. Ada positifnya sih, jadi kamu lebih teliti dalam menjaga berbagai pritilan gawai yang kamu miliki.

Lebih baik hati-hati daripada harus bangkrut mendadak.

 

 

21. Walaupun Banyak Suka Dukanya, Kamu Udah Ogah Move-On Dari Perangkat Apple-mu

Tak bisa ke lain hati

Tampilannya cantik, simpel, awet dan tentunya anti virus. Udah ogah pindah ke lain hati, deh!

 

 

22. Buat Apple Fanboy, Punya iPhone Doang Belum Cukup. Ketagihan Terus

apple-haircut

Seorang fanboy merasa dirinya harus memiliki hal-hal berikut ini:

  • iPod
  • iPhone
  • iPad
  • Macbook (lengkap dari MBP sampai Macbook Air)
  • iMac
  • Mac Pro (hmmm…yummy)
  • Langganan Apple TV
  • Kabel Connector 3 atau lebih
  • Keanggotaan di MacHeist.com dan Cultofmac.com

Sambil ngarep suatu saat nanti bisa datang ke event bikinan Apple seperti iTunes Festival dan WWDC. Emang sih, produk Apple bikin nagih!

*kemudian lihat dompet* *melengos sedih*

 

Sesulit apapun rintangannya, penggila Apple di Indonesia pasti gak pernah menyesal dengan apa yang mereka punya. Kualitas yang mumpuni, umur produk yang panjang dan simply beautiful.

sumber

Orang Kaya Makin Kaya, Orang Miskin Malah Tambah Melarat: Kenapa?

13 September 2014 7 komentar

Dalam berbagai kesempatan, kita bisa dengan jelas melihat jurang yang memisahkan si miskin dan si kaya di Indonesia. Di belakang perumahan mewah, sangat sering ditemukan perumahan kumuh. Ketika kita bisa makan enak di restoran mahal, ada orang yang harus rela menahan lapar karena tidak punya uang. Pertanyaan klasik ini pun jadi sering bergaung di telinga:

“Kenapa sih orang yang kaya makin kaya tapi mereka yang miskin jadi semakin miskin?”

Dalam artikel ini, Hipwee akan berusaha memaparkan penyebabnya. Selain itu, Hipwee juga akan memberimu cara agar bisa mengadaptasi apa yang orang-orang kaya lakukan. Dengan tujuan kamu bisa mendapatkan kekayaan seperti mereka, tentunya.

 

Seberapa Parahkah Ketimpangan Pendapatan Di Indonesia?

Gambaran ketimpangan pendapatan Indonesia

Perekonomian Indonesia berkembang dengan pesat. Di bawah kepemimpinan Presiden SBY, Indonesia mencapai pertumbuhan ekonomi rata-rata sebesar 5,1% per tahunnya. Sementara presiden baru kita, Joko Widodo, menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 7%.

Tapi kalau ekonomi kita bertumbuh dengan baik, mengapa masih ada dari kita yang miskin?

Indonesia masuk ke 10 besar negara yang koefisien Gin-nya paling besar di 2010

Demi menjawabnya, kita perlu melihat Indeks Koefisien Gini, sebuah mekanisme statistik yang memberikan cara untuk mengukur pemerataan pendapatan di sebuah negara. Indeks Gini memiliki 2 koefisien: 0 hingga 1. Koefisien 0 menunjukkan bahwa sebuah masyarakat memiliki tingkat pemerataan pendapatan sempurna, sedangkan koefisien 1 menunjukkan ada ketimpangan pendapatan yang parah di dalam sebuah masyarakat.

Ternyata, sebagaimana dilaporkan The Jakarta Post disini, ketimpangan pendapatan di Indonesia juga meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonominya. Pada tahun 1999, misalnya, koefisien Gini Indonesia tercatat berada di angka 0,31. Di tahun 2009, angka ini naik sebesar 0,06 ke 0,37. Satu tahun setelahnya, koefisien Gini Indonesia menunjukkan angka 0,38. Tahun 2011 kembali menunjukkan peningkatan koefisien Gini ke angka 0,41.

Padahal, PBB menetapkan angka 0,4 sebagai “batas aman” koefisien Gini. Jika suatu negara melebihi angka tersebut, kondisi ekonominya bisa berakibat buruk bagi stabilitas sosial-politiknya.

 

Pada Tahun 2011, 20% Orang Terkaya Indonesia Menikmati Hampir 50% Pendapatan Nasional Negeri Kita

Orang kaya menikmati hampir 50% dari pendapatan nasional

Ketika pendapatan nasional suatu negara meningkat, ada beberapa manfaat yang dapat dirasakan masyarakatnya. Pertama, daya beli mereka akan meningkat. Contoh: orang yang tadinya hanya bisa membeli motor, sekarang sudah bisa menyicil mobil. Kedua, anggaran belanja negara tersebut pun meningkat. Pemerintah akan lebih giat membangun jalan raya, pembangkit listrik, dan infrastruktur lainnya. Gaji PNS pun jadi bisa dinaikkan.

Di negara dengan kesenjangan ekonomi yang besar, tak semua penduduknya dapat menikmati manfaat-manfaat itu.  Inilah yang terjadi di Indonesia. Pada tahun 1999, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa 20% orang dengan pendapatan tertinggi di Indonesia menikmati 40,57% dari keseluruhan pendapatan nasional. Di tahun 2011, angka ini mencapai 48,42% — alias hampir setengah dari total pendapatan nasional negeri kita.

Sebaliknya, 40% penduduk Indonesia dengan penghasilan terendah justru bernasib semakin buruk. Pada tahun 1999, mereka masih bisa “menikmati” 21,66% dari total pendapatan nasional. Di tahun 2011, mereka hanya bisa merasakan 16,85% dari keseluruhan pendapatan nasional di tahun tersebut.

Orang

Di Indonesia, pengangguran dan angka kemiskinan memang telah menurun. Banyak bandara baru dan jembatan keren yang telah dibangun. Gaji guru, dokter, dan dosen pun semakin oke.

Namun, yang menikmati dampak-dampak ini hanya segelintir dari kita saja. Mereka yang miskin dan membutuhkan masih tetap harus berjuang dengan sepeda motor usang, harga gula yang mencekik, serta infrastruktur sekolah yang menyedihkan. Pendeknya? Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

 

Daripada Tidak Produktif Dan Terus-Terusan Menyalahkan Pemerintah, Lebih Baik Kamu Cek Diri Sendiri. Yakin Udah Siap Kaya?

Kita tentu berhak merasa kecewa pada pemerintah yang belum bisa mengatur pemerataan pendapatan bagi semua kalangan. Namun, terus-terusan menghujat tanpa melakukan apapun juga bukan jadi solusi. Sementara pemerintahan selanjutnya berbenah diri untuk menciptakan perekonomian yang lebih rapi, apa yang bisa kita lakukan?

Ada baiknya kita justru menjadikan hal ini sebagai bahan refleksi. Tentu bukan hanya kesalahan regulasi dong, kenapa mereka yang kaya makin kaya sementara mereka yang miskin tetap miskin. Pasti ada perbedaan mentalitas dan perilaku yang turut menyebabkannya.

1. Orang Kaya punya Visi yang Jelas Soal Hidup yang Ingin Mereka Bangun, Orang Miskin Justru Merasa Tidak Punya Kontrol Terhadap Hidup

Orang kaya berani mengontrol hidup mereka sendiri

Mentalitas siap kaya membuat seseorang tahu benar kehidupan macam apa yang ingin mereka bangun. Mereka tidak ragu-ragu membentuk gambaran tentang hidup impian dengan jelas di kepalanya. Visi yang sejernih kristal ini bisa jadi penyemangat ketika berbagai kesulitan menghampiri.

Mentalitas semacam ini tidak dimiliki oleh mereka yang miskin. Orang-orang miskin tetap miskin karena merasa tidak bisa mengontrol jalannya roda kehidupan mereka. Tidak jelasnya visi dan rasa “tidak punya kontrol” atas hidup membuat orang miskin tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Ibaratnya, visi yang jelas adalah peta yang bisa membawa orang kaya sampai ke tempat tujuan tanpa tersasar. Sementara orang miskin hanya puas dengan membaca arah angin.

 

2. Orang Kaya Berani Bermimpi Besar, Orang Miskin Cuma Omong Besar

Orang miskin hanya bisa omong besar

Orang kaya punya keberanian untuk selalu bermimpi besar. Terkadang impian mereka terlihat tidak masuk akal dan mustahil untuk dicapai. Hanya orang yang siap kaya yang berani berkata lantang:

Aku ingin jadi CEO.”

atau:

 “Aku mau punya pesawat jet pribadi.”

Sementara orang miskin punya kecenderungan untuk menertawakan impian besar tersebut. Tidak jarang mereka mengeluarkan kata-kata meremehkan yang membuat si orang yang siap kaya itu tersudutkan. Barulah saat si kaya terbukti bisa mencapai impiannya, orang-orang miskin akan menutup mulut.

 

3. Orang Dengan Mental Siap Kaya Berpikir Untuk Menang, Sementara Orang Miskin Selalu Takut Kalah

Orang yang siap kaya selalu fokus ke kemenangan

Setiap dihadapkan pada persaingan, orang siap kaya akan memutar otak untuk memenangkannya. Persaingan dipandang sebagai hal yang wajar, menang dan kalah adalah hal yang harus dihadapi. Jika harus kehilangan sesuatu dalam persaingan, orang dengan mental siap kaya sudah siap menghadapi risikonya.

Di lain sisi, orang miskin akan selalu berpikir untuk melindungi apa yang telah mereka miliki. Mereka enggan berjudi nasib, masuk ke dalam persaingan demi mendapatkan pencapaian yang lebih besar. Orang dengan mental “miskin” akan merasa cepat puas terhadap apa yang sudah dimilikinya, meski jumlahnya belum seberapa.

Orang miskin kebanyakan jadi miskin selamanya karena tidak mau mencoba mengorbankan apa yang telah mereka miliki demi pencapaian yang lebih besar.

 

4. Dia yang Siap Kaya Fokus Melihat Peluang, Dia yang Siap Miskin Selamanya Hanya Melihat Rintangan

Orang yang mentalnya miskin selalu takut pada tantangan

Perjalanan menuju sukses menuntut seseorang untuk melakukan banyak hal. Dalam prosesnya, akan banyak rintangan yang harus dilalui. Proses macam ini dipandang secara berbeda oleh orang yang siap untuk makin kaya dan orang yang siap miskin selamanya.

Orang dengan mentalitas siap makin kaya akan fokus memandang peluang. Dia akan melakukan segalanya demi mencapai tujuan akhir, yaitu kesuksesan. Segala permasalahan yang muncul sepanjang usaha mencapai kesuksesan akan dihadapi dan berusaha diselesaikan satu persatu.

Sebaliknya, orang yang mentalitasnya miskin hanya akan terpaku pada rintangan. Sedikit-sedikit ngeluh, sedikit-sedikit takut gagal. Akhirnya, orang dengan mentalitas macam ini akan terjebak dalam ketakutannya sendiri.

 

5. Orang Kaya dan Orang Miskin Dibedakan Dari Komitmen Mereka

Yang membedakan adalah komitmen

Hal mendasar yang bisa menyebabkan perbedaan nasib seseorang adalah konsistensinya untuk menjalankan komitmen. Orang kaya akan menetapkan tujuan, bekerja keras, dan menunjukkan komitmen kuat demi tidak berhenti berusaha sebelum hal yang ingin tercapai ada di tangan.

Orang miskin juga punya impian, tapi mereka tidak berani menetapkan visi dan tujuan jelas yang ingin dicapai. Hasilnya, saat ada rintangan kecil di depan mata, orang miskin cenderung lebih gampang menyerah. Sementara orang miskin sibuk bermimpi, orang kaya sibuk mempertebal komitmen agar tidak menyerah di tengah jalan.

 

6. Orang Kaya Memilih Untuk Mengelilingi Dirinya Dengan Orang-Orang Sukses

Kelilingi dirimu dengan orang-orang sukses

Pernah dengar ‘kan pepatah yang mengatakan bahwa kamu akan menyerupai 5 orang yang paling sering menghabiskan waktu bersamamu? Pengaruh dari lingkungan dan orang-orang terdekat memang cukup besar bagi kesuksesanmu.

Kalau mau kaya dan sukses, cobalah untuk selalu mengelilingi diri dengan rekan-rekan yang (minimal) ingin kamu samai level kesuksesannya. Kalau perlu, cari yang lebih hebat dan bisa kamu jadikan panutan. Bergaul dengan mereka yang sukses akan mengubah pola pikirmu soal pencapaian dan kegagalan.

 

7. Kemauan Belajar, Membedakan Mereka yang Akan Bertambah Kaya dan Mereka yang Akan Tetap Miskin Selamanya

Orang sukses akan terus belajar

Orang dengan semangat “ingin selalu bertambah kaya” tidak akan berhenti belajar hal baru. Dia sadar bahwa kesuksesan adalah kristalisasi dari proses belajar yang panjang. Jika dia penulis, ia akan banyak membaca buku demi memperkaya diksi. Kalau dia seorang pebisnis, dia akan terus mempertajam insting untuk membaca selera pasar.

Orang-orang yang tidak punya mentalitas ini akan merasa dia sudah tahu segalanya. Mereka enggan merendahkan ego dan membuka kepala untuk menerima ide-ide baru dari lingkungan sekitarnya. Nah, orang-orang yang mentalitasnya seperti ini nih yang biasanya gak akan tambah kaya.

 

Jadi kaya dan miskin itu bukan cuma perkara keberuntungan. Dia yang kekayaannya terus bertambah melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh orang-orang yang makin miskin.

Pilihannya ada di tanganmu. Kamu mau meniru kelompok yang mana?

sumber

Ini Dia Alasan Kenapa Gelar Sarjanamu Gak Penting buat Bekerja di Google

13 September 2014 Tinggalkan komentar

Siapa yang nggak mau kerja di Google? Salah satu perusahaan multinasional terbesar ini punya kantor keren di Jakarta yang pernah Hipwee bahas di artikel ini. Hebatnya, perusahaan sebesar ini ternyata tidak terlalu memikirkan gelar sarjanamu, lho!

Salah satu petinggi Google sekaligus kepala rekrutmennya, Laszlo Bock, mengungkapkan bahwa nilai akademik dalam ijazah sarjanamu tidak bisa serta-merta memberikan gambaran potensimu sebagai karyawan. Jadi, IPK 4 sempurna bukan jaminan kamu bisa bergabung ke perusahaan ini.

Lantas, apa saja sih yang dilihat perusahaan sekaliber Google dari kandidatnya selain gelar perguruan tinggi?

 

1. Kamu tidak perlu gelar sarjana untuk menunjukkan bakatmu.

aaaa

“Saat orang yang tidak mengenyam bangku sekolah bisa berhasil dalam hidupnya, berarti dia adalah orang yang istimewa. Kita perlu melakukan yang terbaik untuk bisa menemukan lebih banyak orang-orang seperti ini.”

Tuh, yang paling kamu butuhkan sebenarnya bukan gelar sarjana, melainkan kemauan untuk belajar. Memang sih, masih banyak perusahaan yang memperhitungkan gelar sarjana dalam memilih kandidatnya. Tapi, Google sendiri tidak menganggap itu sebagai sesuatu yang mutlak.

Sekarang sudah banyak kursus mandiri dan pendidikan kejuruan yang bisa kamu ikuti. Beberapa malah gratis dan online, seperti yang pernah Hipwee bahas di artikel ini. Lewat kursus-kursus itulah, mereka yang punya kemauan bisa mempelajari kecakapan yang diperlukan untuk bekerja di sebuah perusahaan. Jadi, nggak kuliah bukan alasan kamu nggak bisa berkembang, ‘kan?

 

 

2. Gelar sarjana tak akan cukup memastikan bahwa kamu memiliki karakter yang diperlukan perusahaan.

Tunjukkan bahwa kamu serbabisa.

“Kami akan memilih pelamar yang memiliki kemampuan kognitif tinggi, rasa ingin tahu yang besar, mau belajar, berjiwa pemimpin, tapi belum memiliki pengetahuan yang memadai, daripada seseorang yang cuma fokus pada satu bidang dan menjadi ahli di bidang tersebut.”

Gelar sarjana hanyalah sebuah sertifikat keahlian. Misalnya, punya gelar di bidang jurnalisme adalah penanda bahwa kamu tahu sedikit-banyak tentang menulis berita dan mewawancarai narasumber. Tapi, itu belum tentu menunjukkan apakah kamu bisa menyajikan ide yang brilian. Belum tentu juga itu menunjukkan kemampuanmu bicara di depan orang banyak. Belum tentu kamu bisa membangun sebuah situs atau berpikir secara antusias terhadap suatu permasalahan.

Lebih lanjut lagi, ijazah sarjana itu belum tentu membuktikan bahwa kamu memang memiliki karakter yang diperlukan perusahaan. Apakah kamu orang yang mau belajar? Apakah kamu orang yang terbuka pada kritik? Apakah kamu luwes dan komunikatif, atau selama ini cuma sukses melalui berbagai tes di bangku kuliah?

 

 

3. Logika itu harus terus dipelajari. Bangku kuliah belum tentu mencukupi.

Berpikir logis dan analitis.

“Secara alami, manusia adalah makhluk yang kreatif, namun bukan makhluk yang logis. Logika dan cara berpikir yang runut adalah dua kemampuan yang harus berusaha dipelajari seseorang.”

Berpikir secara logis tak segampang kelihatannya. Bahkan, orang-orang yang bergulat di bidang komputer dan matematika masih bisa terjebak pada kesesatan logika.

Misalnya, di tahun 2010 Facebook mengklaim bahwa semakin banyak seorang kandidat politik memiliki fans di Facebook pagenya, semakin mungkin dia memenangkan pemilihan umum, Tapi, ini pendapat yang kurang tepat. Mungkin aja calon yang punya banyak fans di Facebook page-nya itu memang sudah terkenal dari dulu. Kandidat politik yang punya fans sedikit di Facebook juga masih mungkin menang kalau konstituennya memang bukan pengguna Facebook yang aktif.

Para karyawan Facebook yang membuat klaim di atas tidak menunjukkan kemampuan berpikir analitis yang baik. Padahal, Facebook adalah salah satu perusahaan Internet multinasional terbesar di Amerika. Seharusnya, yang bekerja disana bukan orang-orang sembarangan, bukan?

Memilah data dan membuat simpulan dari data-data tersebut memerlukan pelatihan teknis yang khusus, demi memahami hubungan sebab-akibat dan mengeksplorasi pola-pola data yang ada. Gelar sarjana saja tak akan cukup memastikan bahwa kamu bisa melakukannya.

 

 

4. Gelar sarjana tak akan cukup untuk membuktikan bahwa kamu orang yang gigih

Buktikan kegigihanmu.

“Hal yang membedakan mahasiswa yang biasa-biasa aja dengan mahasiswa yang sukses itu bukanlah pengetahuan mereka, melainkan kegigihan mereka mengusahakan sesuatu.”

Google lebih tertarik untuk membentuk orang-orang yang punya kegigihan dibandingkan mereka yang cerdas dan punya nilai tinggi tetapi malas. Sementara, kita tidak bisa melihat apakah seseorang itu “sudah pintar dari sananya” atau memang pekerja keras cuma dari gelar sarjana saja. Buat sebagian orang, kuliah itu mudah. Mereka bisa tetap dapat nilai A meskipun sebelum ujian akhir mereka dugem sampai jam 4 pagi. Padahal, yang lain cuma dapat nilai B meskipun sudah susah payah belajar.

 

 

5. Kalau kamu memang tetap mau kuliah, pastikan bahwa waktumu terpakai untuk menempa skill dan karaktermu.

Asah kemampuanmu, jangan cuma berfokus ke satu hal.

“Saya bukannya menyarankan bahwa kamu tidak usah kuliah. Asal, pikirkan juga kenapa kamu harus kuliah, dan apa yang kamu ingin lakukan selepas jadi sarjana.”

Kuliah itu penting, setuju; kalau bisa, memang sebaiknya kamu belajar di perguruan tinggi. Tapi, yang penting itu bukan penguasaanmu terhadap jurusan yang kamu ambil, melainkan keterampilan (termasuk soft skill) serta pengalaman. Tipe kandidat seperti itulah yang lebih dicari oleh Google.

 

Jadi, IPK yang kurang memuaskan atau gelar sarjana yang belum di tangan sama sekali tak perlu membuatmu berkecil hati. Yang penting, kamu gigih dan punya kemauan untuk belajar. Buat kamu yang kuliah, jangan cuma fokus untuk dapat IPK tinggi doang. Gunakan waktu empat tahunmu untuk mempelajari hal lain di luar kelas, dan dapatkanlah pengalaman baru yang akan membangun karaktermu.

sumber

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 308 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: